
Apa yang diperintahkan oleh ayahnya, sudah dilakukan Elthia. Sekarang, karena Elthia merasa lelah sehabis membereskan beberapa barang keperluan yang mungkin nanti akan dipakai olehnya, Elthia membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.
"Ini melelahkan." Gumamnya, seraya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Di sisinya, terdapat Astrella yang sedang tertidur lelap.
"Hei, Astrella."
Elthia yang bingung ingin melakukan apa, mencolek hidung kucing berbulu oren tersebut. Berkat sentuhannya itu, Astrella terbangun. Kedua matanya yang berwarna kuning keemasan menatap Elthia dengan mengantuk, setengah terbuka.
"Meong."
Suara lucu yang dikeluarkan Astrella, membuat Elthia merasa gemas. Bukannya membiarkan kucingnya itu tidur kembali, Elthia justru menggendongnya. Dengan tubuh Astrella yang berukuran sedang--cukup dalam genggaman tangan kecilnya, Elthia mengangkat tinggi kucing itu di atas wajahnya. Ekspresi mengantuk yang diperlihatkan Astrella ketika ia mengangkat tubuhnya, mengundang tawa untuk keluar dari mulut Elthia.
"Hei, Astrella." Karena sekarang ini tidak ada siapa pun di dalam kamarnya yang bisa diajak bicara selain kucingnya, Elthia berbicara sendiri. Selama ia bisa berbicara sepuasnya, Elthia tidak mempermasalahkan keberadaan Astrella yang hanya diam mendengarkan, maupun menatap bingung dirinya.
"Aku mendengar dari Rio. Katanya, familiar mencari sendiri penyihir yang memiliki kekuatan setara dengannya." Elthia menurunkan Astrella. Jika sebelumnya ia berbaring dalam posisi terlentang, sekarang Elthia memiringkan tubuhnya kearah kanan. Kedua matanya yang berwarna biru dan hijau memperhatikan kedua netra emas Astrella secara seksama. "Karena waktu kedatangan Astrella dan Astra lumayan aneh, apakah mungkin kau ini seorang familiar?"
Elthia mengelus pelan kepala kucing miliknya itu. Tingkah manja yang diperlihatkan Astrella padanya sekarang ini sangatlah menggemaskan.
"Jika kau memang seorang familiar. Maukah kau membuat kontrak denganku?"
Elthia memperhatikan reaksi yang diperlihatkan Astrella. Diamnya sang kucing serta tingkahnya yang terus menerus mendengkur ketika kepalanya dielus ini, membuat Elthia menghela nafasnya.
"Sepertinya bukan, ya?" rasanya sangatlah mengecewakan. Padahal Elthia berharap, Astrella memanglah seorang familiar yang ingin membuat kontrak dengannya. Akan tetapi, melihat reaksi Astrella yang memang biasa diperlihatkan kucing ini....
Entah mengapa, Elthia merasa dirinya seperti sedang dihempaskan dari ketinggian. Harapan tinggi yang melambung dalam hatinya serasa runtuh tanpa ada tersisa sedikit pun.
"Selamat malam, Astrella."
Elthia mengecup pelan pucuk kepala Astrella. Gelengan pelan yang Astrella lakukan pada tangannya, menggelitik. Elthia tertawa kecil. Sambil memejamkan matanya yang terasa berat, Elthia tidak sedikit pun menghentikan gerakan mengelus pada kepala Astrella. Sebelum benar-benar jatuh terlelap, Elthia menyempatkan dirinya untuk menyentuhkan hidungnya dengan hidung mungil Astrella.
"Semoga kau bermimpi indah."
Astrella mengeong. Melihat kedua mata sang tuan mulai tertutup, kucing kecil itu juga ikut memejamkan matanya.
°·°·°·°·°·°
Guncangan pelan di bahunya yang dilakukan oleh seseorang, membangunkan Elthia dari tidurnya. Dengan kedua mata yang masih terasa berat karena mengantuk, Elthia mencoba duduk.
"Bangun, Elthia."
Suara seseorang yang masih terasa samar, membuktikan kesadaran Elthia masih belum terkumpul sepenuhnya. Elthia mengedarkan pandangannya. Dengan wajah yang masih setengah mengantuk, Elthia menatap Evander. Walaupun tidak terlalu jelas, samar-samar Elthia mampu menyaksikan saudara kembarnya yang sedari tadi mencoba membangunkannya sedang bersedekap. Ekspresi wajah Evander terlihat kesal.
"Mau sampai kapan kau tidur? Ayo, bangun sekarang!" kali ini, Evander tidak lagi mengguncang bahu Elthia, ia mencubit pipi saudari kembarnya itu tanpa ampun. "Elthia... cepat bangun."
"H-hiya. Hahu hudah hangun!"
Elthia melepaskan cubitan Evander dari pipinya. Begitu Evander sudah menjauh, Elthia mengelus pelan pipinya. Elthia menatap kesal Evander yang kini tengah tersenyum tipis, serta memasang ekspresi tanpa dosa.
"Akhirnya kau bangun juga," ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Evander menjauh begitu Elthia mencoba membalasnya. "H-hei!" pekiknya seraya terus mengelak dengan terus melangkah mundur ke belakang. Evander kira, Elthia akan menyerah jika ia terus-terusan menghindar. Namun, bukannya berhenti dan menyerah, Elthia justru semakin bersemangat. Saudari kembarnya itu tidak henti-hentinya mengejar Evander dan hendak balas mencubit pipinya.
"Sini kau!!" Elthia berteriak.
Dengan langkah kaki yang dipacu, Elthia berhasil menangkap ujung baju Evander. Tanpa mau melepaskan sedikit pun Evander dari tangkapannya, Elthia menarik tangan Evander yang hendak menepisnya.
"E-Elthia!"
Evander yang tidak ingin mendapatkan serangan balasan, sekuat tenaga melawan tarikan Elthia. Evander mencoba melepaskan tangan Elthia yang kini menggenggamnya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak mau!"
Kedua orang anak kembar itu saling tarik menarik satu sama lain. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.
"Aku salah! Aku mengaku salah!" sadar bahwa Elthia tidak akan melepaskan dirinya begitu saja, Evander meminta maaf. Demi keamanan pipinya! Evander mengaku jera sudah mengerjai saudarinya ini.
"Elthia, Lepaskan aku!"
Elthia menggeleng tegas. Pipinya mengembung karena rasa kesal. "Sini!" menarik Evander lebih keras, Elthia yang hampir berhasil menguasai pipi Evander, kehilangan keseimbangan. Bukannya berhasil memberikan serangan balasan, Elthia justru terjatuh menimpa Evander. Kedua orang anak kembar itu terjatuh ke lantai. Evander yang tertindih di bawah bergerak-gerak gelisah.
"B-berat." Keluh Evander tanpa menyadari raut wajah Elthia berubah menjadi semakin pekat. Ada sebuah aturan tak tertulis mengenai perempuan. Dan mengatakan kalimat 'berat' merupakan salah satu kata tabu yang perlu dihindari. Karena Evander satu kali pun tidak pernah bermain dengan teman perempuan sebaya selain saudari kembarnya. Evander tidak mengetahui aturan tak tertulis itu. Tanpa perlu melihat seperti apa kesalnya wajah Elthia, Evander tentu sudah merasakan ancaman yang begitu besar. Evander meneguk salivanya gugup. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya.
"E-El-Elthia?"
Evander melirik takut-takut. Dengan Elthia yang masih menindih punggungnya, Evander tidak bisa melihat secara jelas bagaimana ekspresi saudari kembarnya itu.
"Kau tida--"
Elthia tidak membiarkan Evander menyelesaikan kalimatnya. Dengan sekuat tenaga, Elthia memberikan serangan balasan. Pipi Evander yang tidak kalah chubby darinya, di cubitnya tanpa ampun.
°·°·°·°·°·°
Baru kali ini, Elthia benar-benar bersyukur memiliki rumah besar nan luas. Karena jarak kamarnya dengan ruang utama serta kakak tertuanya Sebastian lumayan jauh. Elthia tidak perlu mengkhawatirkan teriakan Evander yang mungkin saja terdengar.
"Jadi? Bisakah kau menjelaskan, mengapa kau membangunkanku sepagi ini, kak Evan?" Elthia bersedekap, senyum manis menghiasi wajahnya.
"Aku harap kakak memiliki alasan yang cukup masuk akal."
Setelah aksinya yang bermain kejar-kejaran bersama Evander dimenangkan olehnya, Elthia yang sebelumnya memakai gaun tidur memutuskan untuk membersihkan dirinya. Mengabaikan pelayan pribadinya Marva yang menatap penuh tanya pipi merah Evander, Elthia kembali berkata. "Waktu keberangkatan kita sekitar jam delapan bukan?" dengan nada ramah nan mengancam.
"Maafkan aku." Evander yang menyadari kesalahan yang diperbuatnya, mengelus pipinya yang memerah. Kedua matanya yang berbeda warna nampak melirik kearah Marva, pelayan pribadi dari saudari kembarnya.
"Bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?" pinta Evander dengan tangan yang masih mengelus pipinya. Denyutan yang muncul akibat dari perbuatan Elthia itu, membuatnya meringis.
"Tapi, tuan muda. Pipi Anda--"
"Tinggalkan kami berdua. Ada hal penting yang harus kami katakan." Elthia memotong dengan tegas. Tanpa memberikan sedikit pun pelayan pribadinya kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata, Elthia menyuruh Marva keluar dengan nada yang tidak ingin dibantah.
"Jika kami sudah selesai, aku akan memanggilmu kembali."
Marva menatap heran kedua anak kembar Lucretia itu. Tidak bisa membantah, Marva yang merupakan pelayan pribadi Elthia, menuruti permintaan dari nona mudanya itu.
"Saya mohon undur diri, nona, tuan muda."
Evander dan Elthia mengangguk bersamaan sebagai bentuk persetujuan. Begitu Marva sudah tidak ada lagi, dan kini mereka hanya ditinggal berdua, Elthia menatap heran Evander. "Ada apa?" tanyanya, tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa penasarannya. Karena Evander sangatlah jarang meminta waktu secara khusus untuk berbicara pribadi seperti ini. Jujur saja, Elthia sedikit terkejut.
"Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?" Elthia melirik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dengan sabar, Elthia menunggu Evander membuka suaranya.
"Atau, ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan?"
"Sebelum aku menjawabnya. Bisakah aku memastikan suatu hal terlebih dahulu?"
Elthia mengerutkan alisnya. "Memastikan apa?" tanyanya, seraya memperhatikan Evander secara seksama.
"Apakah kau sudah mengikat kontrak dengan Astrella?"
Pertanyaan yang Evander ajukan berhasil menyentak Elthia. "Kontrak? Astrella seorang familiar?" karena tadi malam Elthia mengajak Astrella berakhir dengan keheningan. Elthia kira, Astrella hanya seekor kucing biasa.
"Benar. Astrella seorang familiar."
"Sejujurnya, aku sudah ada menyinggung hal itu dengan Astrella malam tadi." Elthia menceritakan apa saja yang ia bicarakan bersama Astrella kepada Evander. Tanpa ada yang terlewat satu pun.
"Karena Astrella diam saja dan bertingkah selayaknya kucing normal lainnya. Aku kira, dia hanya seekor kucing biasa."
"Astrella diam saja? Ya ampun, sepertinya dia pelit kata sekali, ya?"
Mendengar tanggapan Evander mengenai ceritanya. Elthia sudah dapat menebak apa yang terjadi kepada saudara kembarnya ini.
"Kakak sudah membuat kontrak dengan Astra?"
Dan anggukan yang didapatkan sebagai bentuk jawaban dari Evander ini, membuat Elthia menggeleng tidak percaya.
"Sejak kapan?" karena Elthia baru mengetahui masalah kontrak dengan familiar ini dari Rio kemarin siang. Elthia cukup merasa penasaran, kapan Evander mengetahui mengenai ini.
Jika dia mengetahui hal ini. Tentu dia sudah lama melakukannya, kan?
Sejujurnya, Elthia merasa sedikit kecewa karena baru diberi tahu sekarang. Akan tetapi, Elthia tidak tega memarahi Evander yang terlihat serius. Binar antusias yang terpancar dari kedua mata berwarna biru dan hijau Evander, sangatlah jarang terlihat. Jadi, Elthia mencoba menahan dirinya.
Khusus kali ini, aku akan mengalah padanya.
Elthia menghela nafasnya. Apa yang dikatakan oleh Evander didengarkan secara seksama olehnya. Selama Evander menjelaskan, Elthia bersikap tenang. Sebisa mungkin, Elthia menahan dirinya untuk tidak menyela ataupun memotong rasa antusias Evander dengan tidak memperlihatkan ekspresi penuh kecewanya.
"Jadi, kakak membuat kontrak satu hari setelah Astrella dan Astra kita beri nama?"
Bukan waktu yang lama. Elthia sejujurnya sudah menduga mengenai ini, akan tetapi Elthia tidak menyangka bahwa waktunya ternyata benar secepat itu.
Hari datangnya Astrella dan Astra adalah satu minggu yang lalu. Dan tepat satu hari setelah Astrella dan Astra berdiam di sini, Elthia dan Evander memberikan nama bagi kedua kucing berbulu oren itu.
Jika satu hari... itu berarti kak Evander mengetahui ini enam hari yang lalu, kan?
Elthia berpikir keras. Daripada dirinya terlalu larut dalam lamunan tidak berkesudahan. Elthia memilih untuk menanyakannya langsung. "Kontrak ini... kakak mengetahuinya dari siapa?"
__ADS_1
Karena sihir telah menghilang selama delapan puluh tahun lamanya dari negeri Pyralis. Tidak banyak orang yang mengetahui mengenai kontrak yang hanya bisa dilakukan oleh penyihir ini, selain penyihir itu sendiri.
"Astra yang mengatakannya langsung padaku."
Jawaban penuh Antusias dari Evander membuat Elthia secara refleks menoleh ke arah kedua ekor kucing yang berdiam di atas ranjangnya. Sepasang netra emas dari kedua kucing itu nampak berkedip begitu Elthia berkata. "Jika benar kalian adalah familiar, bisakah perlihatkan wujud sebenarnya kalian padaku?"
Elthia bertepuk tangan pelan. Senyum manis terlihat menghiasi bibirnya ketika berjalan mendekati Astrella dan Astra.
"Jadi, Astrella. Kenapa kau tidak mengatakan hal itu juga kepadaku?" kekecewaan yang Elthia rasakan sebelumnya, dilampiaskan kepada Astrella. Kucing oren berpita merah di lehernya itu memberontak begitu Elthia mengangkat tubuhnya.
"Berbicaralah."
Rasa kesal akibat terkesan berbicara sendiri malam tadi, memperparah ekspresi wajah Elthia. Tanpa membiarkan Astrella mampu memalingkan pandangannya, Elthia mengunci kucing itu di dalam pelukannya. Senyuman manisnya, berkali-kali lipat lebih mengerikan dari beberapa saat yang lalu, sekarang ini.
"Karena kalian datang secara bersamaan. Aku yakin kau juga sama seperti Astra."
Elthia mengajak Astrella berbicara. Mengabaikan ekspresi cemas Evander serta gelagat takut dari Astra, Elthia membawa Astrella yang ada di pelukannya ke tempatnya duduk sebelumnya.
"Astrella-ku yang manis. Aku mohon. Berbicaralah~"
Diberi tekanan sedemikian rupa membuat Astrella bergerak gelisah di dalam pelukan Elthia. Kucing kecil itu langsung melompat turun begitu Elthia melepaskan pelukannya.
"Rasanya menyesakkan."
Komentar beserta ringisan pelan dari Astrella, membuat senyum penuh kemenangan terbit di bibir Elthia. "Akhirnya kau bicara juga."
Elthia menepuk pelan kepala Astrella. "Jadi, kau benar-benar familiar, ya?" tanyanya sambil melirik Astra yang berada di pangkuan Evander. Seandainya saja Astrella tidak berbicara dalam bahasa manusia. Elthia yakin, dirinya akan tetap menganggap kedua kucing ini sebagai kucing biasa, bukan sosok familiar yang luar biasa.
"Mengapa kau tidak meresponku tadi malam?" Elthia memasang ekspresi penuh rasa kecewa. Tangannya tidak sedikit pun berhenti mengelus kepala Astrella.
"Sebagai seorang familiar. Ada beberapa hal juga yang harus kami sesuaikan, jika ingin menjalin kontrak."
Jawaban yang Astrella berikan, Elthia beri respon berupa anggukan. Elthia yang merasa lucu karena tengah berbicara dengan seekor kucing, menahan dirinya sebaik mungkin agar tidak lepas kendali membawa Astrella kembali ke dalam pelukannya.
"Karena kami harus menyesuaikan kekuatan yang kami miliki dengan penyihir yang ingin mengikat kontrak. Kami para familiar memerlukan waktu paling tidak, setengah hari dalam penyesuaiannya."
"Apakah tidur merupakan salah satu hal yang kau maksud?"
Elthia tertidur sangat lelap malam tadi. Jadi, Elthia tidak mengetahui apakah Astrella tertidur kembali atau tidak ketika berada dalam pelukannya.
"Nona bisa menyebutnya begitu."
Ketenangan yang diperlihatkan Astrella, entah mengapa mengingatkan Elthia kepada sosok Rio yang kemarin ditemuinya. Biarpun ketenangan yang diperlihatkan Rio sedikit berbeda dari pertemuan pertama mereka. Elthia cukup meyakini Rio yang kemarin ditemui olehnya terlihat lebih memukau dari dirinya yang sebelumnya.
Berhenti memikirkannya. Sekarang ada hal yang lebih penting, yang harus kupikirkan.
Elthia menggelengkan kepalanya pelan. Bayangan perbandingan dari Alterio yang menyusup masuk dalam pikiran, coba ia enyahkan.
"Apakah kau bisa merubah wujudmu menjadi seperti manusia?"
Familiar tidaklah lebih dari roh yang tercipta dari kekuatan pohon perak. Itulah yang bisa Elthia simpulkan mengenai familiar ketika ia mendengar bahwa familiar bisa merubah wujud mereka menjadi apapun selama itu bukan benda mati.
"Karena kekuatan sihir kalian lumayan besar. Saya rasa, kami bisa melakukannya."
Jawaban yang diberikan oleh Astrella itu membuat Elthia dan Evander saling berpandangan. Ekspresi wajah mereka sangatlah antusias.
"Lakukan sekarang!" pinta Elthia dan Evander dengan kompaknya. Ketidaksabaran terpancar jelas dari mata berbeda warna keduanya.
Tidak seperti sang tuan yang begitu antusias, Astrella tidak terlihat terlalu bersemangat. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Kedua netra emas miliknya melirik Astra yang kini sudah berada di sisinya, tidak lagi duduk di pangkuan Evander.
"Kau sudah siap?"
Astra mengangguk mantap. "Ya, aku siap."
Astrella dan Astra menutup kedua mata mereka secara bersamaan. Di depan kedua kucing itu, Elthia dan Evander memperhatikan secara seksama sinar berwarna kuning lembut yang menyelimuti tubuh keduanya.
"Wow?!"
Decakan takjub, tak sedikit pun mampu Elthia tahan. Tidak lama setelah tubuh Astrella dan Astra mengeluarkan sinar, perubahan yang terjadi sangatlah mengejutkan.
Tubuh Astrella dan Astra perlahan membesar. Berubah bentuk begitu cahaya yang menyilaukan mata terlihat. Awal mulanya, tidak terlalu jelas. Namun, begitu cahaya menyilaukan tersebut meredup dan memperlihatkan dua sosok manusia yang rupawan. Elthia dan Evander tidak berhenti mengungkapkan kekaguman. Kalimat penuh ungkapan rasa takjub, tak henti-hentinya mereka ucapkan.
"Luar biasa." Elthia memperhatikan Astrella dan Astra dari atas sampai ke bawah. Lalu kembali lagi dari bawah ke atas.
Di sisi Elthia. Evander juga melakukan hal yang sama. Ekspresinya terlihat sangat senang.
"Kalian berdua terlihat sangat mirip."
Di dalam wujud manusia mereka. Astrella dan Astra memiliki surai yang berwarna pirang. Netra emas keduanya jauh lebih berkilau dan memukau dari wujud familiar mereka. Tahi lalat yang terdapat di bawah mata kiri, semakin mempermanis penampilan keduanya.
Seandainya saja pita berwarna merah dan biru yang terikat sebagai penanda di leher Astrella dan Astra tidak ada. Elthia yakin, dirinya sangatlah kesulitan dalam membedakan keduanya.
"Berapa lama wujud ini bisa bertahan?"
Karena kemarin dirinya dikejar oleh waktu. Elthia melupakan satu hal penting untuk ditanyakan kepada Rio mengenai jangka waktu yang dimiliki Alta ketika berada dalam wujud manusianya.
"Tidak terbatas. Selama kami tidak melanggar isi kontrak."
"Setiap familiar memiliki kekuatan sihir yang berbeda. Jika familiar tersebut memiliki kekuatan sihir yang besar, tentu dia akan mencari seorang penyihir yang memiliki kekuatan sama besarnya dengan dirinya."
Ethia ingat, Rio pernah mengatakan hal itu.
"Bagaimana cara membuktikan seorang penyihir dan familiarnya sudah terikat kontrak?"
Tidak begitu banyak informasi mengenai familiar yang tersisa di negeri Pyralis. Selain cara menggunakan benda sihir, serta mengendalikan kekuatan sihir. Catatan mengenai seorang penyihir dan familiar yang mengikat kontrak, tidak lagi disediakan di begeri ini. Kurangnya informasi mengenai familiar serta tidak disebutkannya makhluk berkekuatan magis lainnya di dalam cerita sangatlah disayangkan oleh Elthia. Karena Elthia lumayan kekurangan informasi. Elthia merasa buta sekarang ini.
"Apakah suatu simbol terukir di tubuh keduanya?"
Disebagian besar cerita genre fantasi yang pernah Elthia baca disaat dirinya masih berperan sebagai 'Novella'. Terbentuknya sebuah kontrak biasa digambarkan dengan sebuah simbol terlukis di bagian tubuh sang pengikat kontrak maupun orang yang diikat kontrak. Jadi, jika memang dirinya sudah terikat kontrak dengan Astrella, Elthia harap, simbol miliknya tidaklah berada di tempat yang begitu mencolok.
Akan lebih baik lagi jika simbol itu tidak ada.
Dengan adanya sebuah simbol yang terukir. Akan sangat sulit rasanya bagi mereka berdua dalam menyembunyikan kekuatan sihir mereka. Elthia sebisa mungkin ingin menghindari adanya keributan yang tidak perlu. Terukirnya sebuah simbol sangatlah merepotkan. Dan tentu, sebuah simbol berkemungkinan besar bisa membawa mereka berdua menuju petaka.
Raja Thaddeus tentu tidak akan diam jika sudah mengetahuinya.
Memiliki kekuatan sihir ditambah terikat kontrak bersama familiar. Tidak ada suatu hal yang lebih menguntungkan selain kedua hal itu, jika dibandingkan dengan satu wilayah dengan ribuan permata di dalamnya.
"Tidak ada simbol yang terukir."
Jawaban yang diberikan Astrella sontak membuat Elthia menghela nafas lega. Elthia benar-benar bersyukur jika simbol yang terpikirkan olehnya ternyata tidaklah ada.
Syukurlah.
Tidak adanya simbol menambahkan kemungkinan keselamatan mereka. Setidaknya, dengan tidak adanya simbol yang terukir. Elthia bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tanpa simbol, mereka tetaplah akan terlihat seperti penduduk negeri Pyralis yang biasanya. Jadi, jika berada dalam keramaian mereka hanya perlu berhati-hati dalam mengendalikan kekuatan saja.
"Kalau begitu, bagaimana cara membuktikannya?"
Elthia memperhatikan Evander. Ekspresi meringis yang diperlihatkan oleh saudara kembarnya itu, entah kenapa terasa janggal. Sudah cukup Elthia khawatir mengenai simbol. Ekspresi tidak biasa Evander disaat dirinya tengah berpikir serius sekarang ini, sangatlah mengganggu bagi Elthia.
"Kakak tahu sesuatu?" Elthia memicing curiga. Gerak-gerik dari Evander yang tersentak atas pertanyaannya, tidak luput dari perhatian Elthia.
Aneh sekali reaksinya itu.
"Kakak mengetahui sesuatu, kan?"
Apa yang disembunyikan oleh Evander darinya, Elthia jelas tidak mengetahuinya. Akan tetapi melihat betapa tersentaknya Evander ketika ia bertanya. Elthia yakin, apa yang akan diterima olehnya sebagai pembuktian kontrak yang sudah terjalin akan lumayan mengejutkan baginya.
Ini mencurigakan.
Namun, biarpun begitu. Elthia tetap harus membuktikan kelangsungan kontraknya bersama Astrella.
"Aku juga terkejut waktu pertama kali merasakan efeknya. Jadi, tahan jeritanmu sebaik mungkin, ya? Elthia?"
Rangkulan dari Evander, diabaikan oleh Elthia. Tanpa mengalihkan sedikit pun tangan saudaranya dari pinggangnya, Elthia memusatkan seluruh perhatiannya kepada Astrella.
"Jika nona sudah siap. Saya akan mulai mengikatkan kontraknya."
Walaupun Elthia masih belum mengerti sepenuhnya atas apa yang dikatakan oleh Evander. Elthia mengatakan secara lantang bahwa ia sudah siap untuk mengikat kontrak. Pancaran dalam kedua netra indahnya, tidak sedikitp un memperlihatkan adanya keraguan. Elthia sudah benar-benar siap untuk menerima efek mengejutkan dalam proses pengikatan kontrak mereka.
"Tolong tangannya, nona."
Elthia menuruti permintaan Astrella dan mengulurkan tangan kanannya. Karena wujud manusia Astrella seusia dengan kakak tertuanya, Sebastian. Tangan Elthia terasa begitu mungil ketika sudah berada dalam genggaman tangan Astrella.
Elthia memperhatikan apa yang Astrella lakukan pada tangannya. Nafasnya serasa tercekat begitu menyadari apa yang akan Astrella lakukan.
"Tolong ditahan sebentar."
Di belakang Elthia, Evander memeluk erat tubuh saudarinya itu, guna menahan berontakan yang mungkin saja terjadi. Sebelah tangannya yang bebas, ikut membantu menahan tangan Elthia ketika Astrella mulai mendekatkan telapak tangan nan mungil itu mendekati mulutnya.
Elthia meneguk salivanya gugup. Awal mulanya, Astrella hanya mengecup pelan telapak tangannya sebagaimana layaknya pemberian salam. Namun, begitu Astrella mulai membuka mulutnya dan mengigit di bagian antara jari telunjuk dan jempolnya, Elthia tidak bisa menahan jeritannya.
__ADS_1
"S-SAKIT!!"
Rasanya menyakitkan. Terutama, disaat bagian tajam taring Astrella yang menusuk kulitnya. Seandainya saja tidak ada Evander yang menahan tangan serta tubuhnya, Elthia dengan senang hati akan langsung menarik kembali tangannya.
Rasa menyengat layaknya tersengat listrik yang mengalir melalui jarinya sangatlah menyakitkan. Belum lagi, rasa terbakar yang muncul setelahnya. Elthia tidak bisa menahan aliran airmata yang mengalir keluar dari sudut matanya. Jeritan Elthia terdengar semakin menjadi begitu Astrella sudah menjauhkan dirinya, melepaskan tangan Elthia yang kini mengeluarkan darah daripada genggamannya.
"Maafkan saya, nona. Tanpa adanya darah yang kami minum dari tuan kami, serta luka yang kami berikan. Seorang familiar beserta penyihir tidaklah bisa terikat sepenuhnya."
Astrella menghapus sisa darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Astrella memberikan penjelasan begitu Elthia sudah mulai terlihat tenang. "Rasa sakit yang nona rasakan sebelumnya adalah proses penggabungan kekuatan dari kedua belah pihak. Dengan tercampurnya darah saya dan nona diatas luka tersebut. Mulai sekarang, nona bisa mengetahui apapun yang saya lakukan maupun pikirkan."
"Aku bisa membaca pikiranmu?"
Elthia memperhatikan tangannya yang masih mengeluarkan darah. Keningnya mengerut heran atas apa yang ia saksikan.
Hmm? Apa ini?
Darah yang seharusnya menetes, tidak ada satu tetes pun yang terjatuh ke lantai. Bukannya mengalir jatuh, darah itu terlihat melawan arus ketika Elthia membalikkan posisi tangannya.
"Darah itu akan kembali ke tempatnya semula. Dan luka yang terdapat di tangan Anda akan menghilang dengan sendirinya."
Tepat seperti apa yang Astrella katakan. Darah yang sebelumnya memenuhi sebagian kecil telapak tangan Elthia, bergerak masuk kembali ke dalam luka bekas gigitan Astrella. Begitu darah itu menghilang tanpa sedikit pun meninggalkan sisa. Luka menganga seukuran taring manusia itu juga ikut menghilang seolah keberadaannya tidaklah pernah ada.
"Ini..." Elthia menatap secara seksama Astrella. Perasaan antusias tergambar jelas dalam kedua netra indahnya.
"Benar. Tepat seperti yang nona pikirkan. Kontraknya sudah resmi terjalin."
Elthia menghela nafasnya lega. Seandainya saja Evander tidak menahan tubuhnya. Dapat dipastikan Elthia akan terbaring lemas di lantai.
"Terimakasih."
"Istirahatlah sebentar. Jangan paksakan dirimu."
Nasihat Evander diberi jawaban berupa anggukan oleh Elthia. Senyuman teduh yang Evander torehkan, memberikan kenyamanan bagi Elthia.
"Aku sayang kakak."
Elthia sangat mensyukuri atas tindakan sigap yang Evander lakukan. Tanpa adanya Evander yang membantu menahan dirinya, Elthia yakin dirinya akan menyerah di tengah-tengah prosesnya karena tidak tahan mengenai rasa sakit yang ada.
"Aku juga menyayangimu, Elthia."
Evander mengelus pelan surai perak serupa miliknya yang juga dimiliki Elthia. Dengan kondisi tubuh Elthia yang terlihat begitu lemah akibat menerima guncangan yang begitu mengejutkan dari proses perjalinan kontrak, Evander bisa memberikan elusan sepuasnya tanpa adanya penolakan. Sejujurnya, saat ini Evander merasa sangat cemas. Namun, sebisa mungkin Evander menyembunyikannya. Evander tidak ingin membuat saudarinya ini bertambah resah.
"Apakah nona ingin memastikannya?" Astrella yang merasa kondisi sudah memungkinkan, memberikan pertanyaan. Senyuman tipis terlihat menghiasi bibirnya.
"Tolong perlihatkan." Karena kini kontrak di antara mereka berdua sudah resmi terjalin. Elthia ingin memastikannya secepat mungkin. Akan terasa sia-sia saja, bukan? Jika Elthia melewatkan kesempatan ini begitu saja. Sedangkan Elthia sudah menerima rasa sakit yang begitu menyiksa.
"Seperti yang mona katakan. Saya akan memulainya."
Sesuai perkataan Astrella. Familiar yang kini tengah berada dalam wujud manusianya itu memperlihatkan apa yang berada di dalam penglihatannya, serta menunjukkan perasaan yang terdapat dalam hatinya. Sebagai seorang partner penyihir. Familiar tidak boleh menyembunyikan apa yang mereka rasakan dari sang tuan. Dan sebab karena itu jugalah, mereka tidak sekalipun diperbolehkan berbohong mengenai kebenaran yang mereka lihat, kecuali diizinkan. Dengan tergabungnya darah dari familiar serta penyihir menjadi satu. Kekuatan serta kuasa yang dimiliki familiar tersebut juga mampu digunakan sang penyihir. Dengan kata lain, kontrak yang terjalin itu juga bisa disebut sebagai tali pengekang kasat mata.
Tanpa adanya izin dari penyihir. Familiar yang terikat kontrak tidak bisa menggunakan kekuatan penuh mereka. Jika ingin menggunakan kekuatan mereka sepenuhnya, dampak yang didapat familiar juga terasa bagi sang penyihir. Jadi, familiar yang terikat dalam kontrak tidak bisa sembarangan dalam menggunakan kekuatan. Berani melanggar, apalagi sampai membahayakan nyawa sang penyihir. Maka, apa yang dilakukan familiar tersebut bisa dikatakan sebagai pengkhianatan. Bagi familiar yang berkhianat, mereka hanya memiliki dua pilihan sebagai bentuk penebusan dosa. Mengasingkan diri selama ribuan tahun lamanya. Atau, memilih mati di tangan sang tuan yang sudah dikhianatinya.
"Ini luar biasa. Apakah aku juga bisa mendengar, apa yang Astrella dengarkan?" penjelasan singkat yang Astrella berikan, semakin menambah rasa penasaran Elthia. Bagi Elthia, informasi kekuatan magis dunia ini sangatlah berharga. Bahkan bisa dibilang, kekuatan ini sudah terasa bagaikan denyut nadinya sendiri.
"Apa yang saya lihat. Lakukan, rasakan, maupun dengarkan. Semua itu juga bisa nona ketahui."
"Dengan kata lain. Familiar bagaikan mata kedua bagi seorang penyihir, ya?"
"Itu benar."
"Apakah seorang familiar bisa menghindari kontak dengan penyihir?" karena sebagian besar panca indera dari Astrella juga bisa dirasakan olehnya. Elthia sedikit merasa penasaran mengenai bagaimana caranya seorang familiar bisa menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan dari tuan mereka.
"Kami bisa melakukannya. Hanya saja, itu akan sedikit sulit dilakukan jika tuan kami merupakan orang yang sangat peka."
Jadi begitu rupanya. Selama mereka mampu menjaga emosi serta pikiran dengan baik. Maka, apa yang familiar pikirkan dan rasakan mampu disembunyikan. Jujur saja, Elthia merasa sangat takjub sekarang ini. Rasanya mendebarkan mengetahui bahwa ia memiliki kemampuan yang begitu diimpikannya di masa lampau ini secara nyata.
"Bagaimana dengan sebaliknya? Apakah Astrella juga bisa membaca pikiran, dan juga perasaanku?"
Sebagai seseorang yang sering berpikir mengenai banyak hal, Elthia sedikit khawatir mengenai hal ini. Dengan Astrella yang mampu membaca pikirannya. Elthia takut Astrella suatu saat akan mengetahui bahwa dirinya bukanlah sosok 'Elthia' yang sebenarnya, melainkan hanyalah seorang pengganti saja.
"Selama nona tidak memberikan izin. Saya tidak akan bisa membaca pikiran nona, maupun merasakan apa yang tengah nona rasakan."
Sungguh jawaban yang begitu menggembirakan. Elthia bersyukur kemampuan ini hanya berlaku bagi seorang familiar saja, bukan dirinya.
Ini memang menguntungkan. Akan tetapi...
Elthia merasa ini tidak adil. Akan lebih adil rasanya, jika ia juga membiarkan Astrella mengetahui apa yang dipikirkan olehnya. Walaupun ini terkesan agak gegabah. Tapi Elthia harap, dengan Astrella yang juga bisa membaca pikirannya, mereka berdua bisa saling mengerti satu sama lain. Bukan sebagai penyihir dan familiar. Apalagi seorang atasan dan bawahan. Elthia lebih ingin memperlakukan Astrella sebagai seorang teman. Rekannya, juga sekaligus partnernya, dalam upaya untuk mengenal sihir lebih jauh lagi.
"Jadi, jika aku memberikan izin, Astrella juga bisa merasakan hal yang sama?"
Astrella mengangguk. Segaris senyum tipis terlihat menghiasi bibirnya. "Benar, nona."
"Kalau begitu, aku akan memberikan izin bagi Astrella untuk melakukannya!" mengejutkan memang. Namun, inilah keputusan yang Elthia ambil. Elthia tidak ingin merasa terbebani akan sikap hormat yang Astrella berikan. Sudah cukup baginya dipandang hormat oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Setidaknya, Elthia ingin diperlakukan secara biasa oleh Astrella yang tentu sudah dapat dipastikan akan selalu berada di sisinya. Elthia tidak ingin memberikan tali pengekang yang lebih erat. Sudah cukup dengan kontrak mereka. Elthia mempercayai, Astrella tidak akan mengkhianatinya dengan mudahnya.
"Apakah... nona yakin dengan ini?"
Ekspresi penuh keraguan yang Astrella perlihatkan sebagai reaksi, cukup dimaklumi. Elthia yakin, Astrella tidak menduga akan jawabannya ini. Sebab, sebagian besar orang, tentu akan lebih memilih memprioritaskan privasi mereka ketimbang mengumbarnya. Jadi, ini seperti sebuah kasus langka. Di mana sejuta orang memilih menyimpan rapat sebuah rahasia. Maka, Elthia merupakan satu, dari sekian banyak orang yang dengan santainya membiarkan orang lain mengetahui rahasia terdalamnya.
"Aku sangat yakin mengenai ini. Sebab..." Elthia melirik Evander yang masih betah dalam posisinya. Saudara kembarnya yang masih mengelus kepalanya itu, terlihat menorehkan senyuman cerah. Tanpa perlu berkata sekalipun, Evander sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh Elthia selanjutnya. Jadi, sebagai perantara, Evander meneruskan perkataan Elthia.
"Aku akan memarahi Elthia, jika Elthia berani menyembunyikan sesuatu. Apalagi jika hal itu sangatlah berbahaya."
Tidak seperti Elthia yang mengalihkan pandangannya, Evander mendengus. "Pikiran Elthia sangatlah sukar untuk dibaca. Jadi, akan lebih baik jika Astrella bisa mengawasinya."
"Walaupun hanya berlaku disaat tertentu saja. Sudah menjadi hal yang wajib bagi kami untuk menjadi orang yang berterus terang satu sama lain." Elthia menyahuti. Elthia tidak sedikit pun beranjak dari posisinya. Ia tetap berbaring di atas sofa, dengan kepala berada di atas paha Evander yang dilapisi bantal.
"Elthia sangatlah pandai dalam menyembunyikan ekspresi wajahnya, dan juga emosi."
Sindiran berbungkus pujian yang diberikan Evander, membuat Elthia memutar kedua bola matanya. "Seakan kakak tidak ahli saja," balasnya. Wajah Elthia sedikit tertekuk berkat tatapan mengejek yang Evander perlihatkan.
"Selihai-lihainya aku dalam menyembunyikan ekspresi dan emosi. Aku masih belum bisa menyaingimu kan, Elthia?"
"Ah. Apakah benar begitu?" cemooh Evander, Elthia balas berupa dengusan. Elthia menorehkan segaris senyuman atas jawaban saudaranya itu. "Bukankah kakak juga sangat pandai dalam bersandiwara?"
"Sandiwara ya... yah. Kalau yang satu itu, aku tidak bisa mengelaknya. Aku memang menguasai bidang itu."
Evander menyentil dahi Elthia yang tertutupi poni. Mengabaikan ringisan yang keluar dari mulut Elthia, Evander menangkup kedua pipi Elthia. Tawa kecil terdengar. Evander menertawakan wajah Elthia yang mengembung lucu dalam kuasanya.
"Tapi, Elthia... sepandai-pandainya aku dalam menguasai hal itu. Bakat yang kau miliki dua kali lipat jauh lebih mengerikan." Evander membalas tatapan cerah Elthia dengan senyuman. Jika Elthia lebih memilih memasang tampang polos tanpa dosa. Maka, Evander memilih untuk memasang ekspresi tenangnya yang biasanya. Senyum lembut yang Evander torehkan jelas mengandung ancaman.
"Jangan terlalu mendalami peranmu ketika sedang bersandiwara. Aku takut, kau justru nanti akan kehilangan jati dirimu sendiri dan pada akhirnya terluka."
Membiarkan diri sendiri berbohong terlalu banyak tidaklah bagus. Aku tidak ingin melihatmu terperangkap atas peran yang kau mainkan, kah? Elthia senang diperingatkan seperti ini. Jadi, tentu saja ia sangat menghargainya.
Biarpun hal itu merupakan suatu hal yang mau tidak mau harus mereka kuasai. Evander yang takut Elthia justru terlarut dalam peran 'angkuh' yang harus diperlihatkan di hadapan khalayak ini, sangatlah menggemaskan.
"Aku sudah berjanji akan menjadi diriku sendiri kepada kakak. Jadi, tentu aku hanya melakukannya dalam situasi tertentu saja." Elthia menangkup kedua pipi Evander yang menunduk ke arahnya. Sama seperti Evander, Elthia juga tidak ingin saudaranya ini berubah. Tidak. Tidak sekalipun. Egois memang. Namun, Elthia tidak menginginkan orang yang sekarang begitu disayanginya ini pergi menjauh dari sisinya. Bahkan jika rahasia yang disimpan rapat sekalipun ketahuan.
"Kau berjanji?"
"Tentu. Aku berjanji."
"Termasuk tidak akan menyimpan rahasia apapun dariku?"
"Tentu saja termasuk itu."
Elthia menjauhkan tangannya dari pipi Evander. Senyuman manis terlihat menghiasi bibirnya. "Kakak juga menjanjikan hal yang sama, kan?"
Evander mengangguk mengiyakan. Jari kelingking miliknya, ia tautkan ke jari kelingking Elthia yang teracung di depan wajahnya.
"Sekaran tidurlah. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum kita berangkat."
Elthia yang memang masih merasa mengantuk, menuruti tanpa banyak bertanya. Perjalanan menuju perbatasan diperkirakan bisa memakan waktu lima hari lamanya jika menggunakan kereta kuda. Belum lagi, mereka akan langsung berangkat dari sini. Perjalanan yang akan mereka lakukan dapat dipastikan akan terasa membosankan serta melelahkan. Jadi, daripada dirinya merasa sangat kelelahan diperjalanan nanti, Elthia memilih memanfaatkan waktu yang tersisa untuk tidur.
"Kakak tetap di sini?"
Elthia memperhatikan Evander yang juga berbaring di sampingnya. Sama seperti Elthia, Evander juga terlihat mengantuk.
"Tidak apa bukan, jika aku juga ikut tidur di sini?"
Tentu saja itu bukan masalah. Lagipula, sudah lama sekali mereka tidak tidur bersama seperti ini. Mumpung mereka masih kecil, tidak ada salahnya jika sesekali bertingkah begini.
"Kakak bisa tidur sepuasnya."
Elthia menutup matanya. Rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang, membuatnya tidak bisa menahan kesadarannya lebih lama.
"Selamat... tidur."
Sebenarnya Evander tidak terlalu mengantuk. Namun, begitu ia melihat wajah Elthia yang bisa tertidur secara cepat dengan lelapnya. Evander jadi sedikit tergoda untuk ikut terlelap.
"Tolong bangunkan kami nanti, ya." Pinta Evander kepada Astrella dan Astra yang sudah kembali ke wujud kucing mereka. Tanpa perlu menunggu lama setelah Evander menutup matanya, Evander juga tertidur. Senyuman tipis terlihat menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Aku harap, kami tidak cepat dewasa.