
Sudah satu minggu berlalu sejak Elthia terbangun dari tidur panjangnya. Dalam masa pemulihan ini, Elthia yang masih dilarang untuk pergi ke akademi mencoba menikmati waktu liburnya.
"Mengapa dia memperingatimu seperti itu?"
Di sore hari ketika Evander sudah berada di rumah. Mereka minum teh bersama. Sembari mengurangi rasa stressnya karena terkurung selama seminggu di kediaman keluarga Antoinette, tanpa melakukan sedikit pun aktivitas yang berarti. Elthia mencoba mendiskusikan mengenai peringatan yang Tristan sampaikan padanya.
"Menurut kakak, kenapa dia mengingatkanku seperti itu?"
Mempertimbangkan apa yang ia bicarakan dengan Tristan, Elthia dapat menyimpulkan bahwa Tristan jugalah termasuk salah satu orang yang mengetahui mengenai kondisi 'jiwanya'. Apa yang kedua sosok berambut perak asing itu katakan. Walaupun tidaklah terlalu kentara. Elthia mampu menangkap bahwa mereka berdua jugalah terlibat dalam perubahan besar 'alur' yang ada saat ini.
"Aku tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas, dia sangatlah terlambat memberikan peringatan itu."
Memberikan peringatan disaat mereka berdua sudah terlibat dengan sosok bermata merah yang menjadi objek peringatan itu, rasanya sedikit aneh. Daripada peringatan, entah mengapa hal itu menjadi lebih terlihat seperti ancaman secara tidak langsung, menurut Evander.
"Dia justru menjadi terlihat jauh lebih mencurigakan, bukan?" sahut Elthia, seraya memotong kue yang disediakan dalam pesta kecil-kecilan mereka berdua.
"Seandainya saja dia memberikan alasan yang jauh lebih masuk akal, peringatan itu tentu akan jauh lebih berguna." Evander menghela nafasnya pelan. Wajah cerah Elthia yang terlihat begitu menikmati kue kesukaannya itu, menjadi objek perhatiannya. "Tapi, yah. Tidak ada salahnya juga untuk kita berdua mengambil tindakan dengan lebih berhati-hati."
"Apakah karena 'kutukan' itu?"
"Tidak. Melainkan karena tindakannya yang menyebalkan itu."
Mengingat betapa gilanya Rio ketika mengajari mereka berdua. Tidak ada salahnya juga, untuk sedikit mengambil jarak. Jujur saja, pelatihan yang Rio berikan sedikit membuat Evander kewalahan dalam mengikutinya. Caranya yang sedikit tidak biasa itu, masuk dalam pertimbangan Evander untuk mengambil langkah jauh lebih hati-hati.
"Pelatihannya yang terkadang berada diluar dugaan itulah, yang harus jauh kita pertimbangkan."
"Ah... Rio memang sedikit berlebihan jika sudah menyangkut latihan." Elthia tidak bisa menampik kenyataan yang satu itu. Rio memanglah menyeramkan mengenai pelatihan mereka. Sikapnya yang terkadang terlihat begitu arogan seolah-olah hanya dirinya yang terbaik itu, jugalah menjengkelkan untuk dilihat.
"Aku tidak menyangka orang seperti itulah yang menj--"
"Jika kalian tidak menyukai caraku. Bukankah seharusnya lebih baik bagi kalian berdua untuk berhenti?"
Suara Rio yang secara tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan mereka berdua, secara refleks membuat Elthia dan Evander terdiam membeku. Selain senyum manis nan palsu, tidak ada lagi ekspresi yang mampu mereka lukiskan sebagai sambutan atas kedatangan tak terduga dari Rio.
"Lama tidak bertemu, Rio." Elthia mencoba berbasa-basi. Tindakan pengalihan yang coba ia lakukan ini, mampu dilakukannya dengan baik tanpa ada sedikit pun getaran di dalam nada suaranya. "Apakah kabarmu baik-baik saja?"
Walaupun tatapan yang Rio berikan berhasil membuatnya merasa takut. Elthia tentu tidaklah akan membiarkan ketakutan itu terlihat jelas. Sebisa mungkin, Elthia mencoba menekan rasa takut yang menghinggapinya, dan menunjukkan senyum terbaik yang ia miliki.
"Aku sangat baik-baik saja."
Jawaban bernada datar yang Rio berikan, tidaklah akan menggoyahkannya. Mengalihkan perhatiannya. Elthia menyapa satu sosok tak terduga lainnya, yang juga ikut dalam kunjungan ini.
"Salam bagi cahaya negeri Yodea, Pangeran Psyche."
Elthia dan Evander menundukkan kepalanya hormat. Secara bersamaan, mereka mengucapkan salam kepada Psyche, sosok tak terduga yang ikut datang bersama Rio.
"Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu menyertai Anda."
"Senang bertemu kalian kembali, Evander, Elthia." Psyche tersenyum tipis. Semangat yang diperlihatkan oleh Evander dan Elthia, ikut menular padanya. "Aku senang kalian baik-baik saja."
"Aku tidak senang kau ada di sini." Sahutan ketus Rio, berhasil merubah suasana sekitar menjadi suram. Tatapan tidak percaya kembar Lucretia, serta senyum Psyche yang mencoba menahan kekesalan, diabaikan olehnya.
"Seharusnya kau tidak usah ikut. Keberadaanmu ini benar-benar merusak suasana saja, Psyche."
Apa yang kau lakukan?! Ingin rasanya Elthia berteriak seperti itu tepat di telinga Rio. Tindakan tidak sopan seniornya ini sudah benar-benar kelewatan!
"Tuan Alterio, apa yang Anda ucapkan sangatlah tidak sopan." Tegur Astrella atas apa yang Rio katakan. Suasana canggung yang memenuhi meja kecil mereka ini, terasa sangatlah menyesakkan.
"Mau setinggi apapun posisi Anda sebagai seorang penyihir, bagaimanapun jug--"
__ADS_1
"Biarkan saja dia."
Astrella menutup mulutnya. Acungan tangan dari Psyche, pertanda bahwa pangeran itu tidak ingin mempermasalahkan hal ini lebih jauh, Astrella turuti.
"Kata-katamu itu masih saja tajam seperti biasanya, ya?"
Sebagai penyelenggara pesta, Evander dan Elthia memilih diam memperhatikan. Perdebatan dua orang tamu mereka yang sangatlah mencolok ini, tidaklah bisa mereka ikut campuri sembarangan.
"Aku senang kau masih memiliki semangat, Alterio."
Entah apa permasalahan yang terjadi di antara kedua orang itu. Sikap permusuhan mereka yang terlihat bagaikan sudah mendarah daging itu, membuat mereka berdua tidak mau mengalah satu sama lain dengan mudahnya.
"Oh, tentu saja. Berkat perhatian darimu, aku bisa begitu bersemangat seperti ini." Jawab Rio, disertai seringai tipisnya. Kedua matanya yang berwarna merah, seolah-olah menjelma bagaikan bara api yang membara di tengah padang rumput nan luas.
"Terimakasih banyak karena sudah peduli, Pangeran."
Netra merah Rio, dan netra emas Psyche. Biarpun ekspresi mereka terlihat tenang. Hal itu tidak berarti, kilat permusuhan tidak terdapat di kedua mata mereka.
Dasar. Mereka ini...
Menghela nafasnya. Elthia yang terjebak di tengah-tengah suasana persaingan tidak jelas itu, jujur saja mulai merasa risih. Kedua tamunya yang berkelahi disaat yang tidak tepat ini, benar-benar berhasil merusak mood baiknya.
"Karena Elenio sudah bergabung dengan kita. Mari kita mulai pestanya." Memanfaatkan kedatangan Elenio yang sebelumnya sempat pergi karena ada beberapa urusan yang harus dikerjakan, Elthia mencoba mengalihkan perhatian, sekaligus menghilangkan suasana suram di sekitar mereka semua dengan mengubah topik pembicaraan.
"Tolong ya? Astrella, Astra."
Melirik Astrella serta Astra yang sedari tadi berdiri di belakang mereka berdua, Elthia memerintahkan kedua familiar itu untuk menyiapkan kembali teh serta kue untuk menemani pesta dadakan ini.
"Apakah aku melewatkan sesuatu?"
Elenio, selaku tuan rumah yang dengan seenaknya menyerahkan kedua tamunya kepada Evander, serta Elthia, merasa risih akan tatapan menusuk dari kedua anak kembar itu. Tatapan yang seolah mengatakan, "Dasar menyebalkan!!" yang diarahkan padanya itu. Entah mengapa sangatlah membebaninya.
Sadar bahwa menyalahkan Elenio tidaklah akan mengubah apapun. Elthia serta Evander hanya bisa menghela nafas lelah. Kedua tamu yang diam-diam masih saling melemparkan tatapan penuh permusuhan satu sama lain itu, coba mereka abaikan, dan sebisa mungkin dianggap bagaikan angin lalu.
"Silahkan duduk."
Evander mempersilahkan Elenio untuk menempati kursi kosong yang ada di sebelah kirinya. Elthia yang duduk di sebelah kanan Evander, memasang senyum formalitas miliknya. Ekspresi kebingungan yang Elenio torehkan, entah mengapa membuatnya merasa prihatin. Jadi, daripada Elenio bingung sendiri, serta tidak tahu harus melakukan apa. Secara khusus, Elthia berbaik hati mencarikan topik yang dimana, ia yakin mereka semua mampu mengikutinya.
"Aku dengar, ada suatu hal menarik yang terjadi di akademi akhir-akhir ini."
Demi menambahkan rasa penasaran bagi teman minum tehnya, Elthia secara sengaja menggantung perkataannya. Ekspresi penasaran yang sukses didapatkannya itu, sangatlah menyenangkan untuk dilihat.
"Ada banyak tulisan kuno yang bermunculan. Dan, bagi siapa pun yang berhasil memecahkannya. Maka, dia akan mendapatkan izin untuk menyebrangi dunia cermin."
Tulisan kuno. Elthia yang memang menyukai suatu hal yang berhubungan dengan tulisan, serta buku, tentu merasa antusias. Walaupun hadiah yang didapatkan ketika berhasil menerjemahkan bahasa kuno terdengar mustahil. Elthia tetaplah merasa tertarik untuk menemukan tulisan rumit itu, lalu menerjemahkannya.
...°·°·°·°·°·°...
Elthia memperhatikan secara seksama seluruh orang yang ada di sana. Wajah serius mereka saat berdiskusi terlihat jauh lebih nyaman dipandang daripada yang sebelumnya.
"Jika yang kalian maksud adalah tulisan berhuruf rumit itu, aku sudah menemukannya satu."
Sahutan Rio di tengah pembicaraan berhasil mengubah suasana. Tidak hanya Elthia, Elenio yang sebelumnya terlihat kurang tertarik pun, juga ikut memperhatikannya.
"Dimana kau menemukannya?"
Pysche selaku pangeran dari negeri Yodea, serta sosok yang mengetahui dengan baik setiap tulisan kuno, merasa penasaran mengenai penemuan yang Rio katakan. Seingatnya tulisan kuno sangatlah sulit untuk ditemukan. Selain karena bisa menyebabkan sebuah malapetaka, bahasa kuno yang disalahgunakan juga bisa menyebabkan kegilaan bagi penggunanya.
"Di belakang tirai yang kami murnikan." Rio melirik Elthia, binar penuh rasa tertarik dari kedua netra berbeda warna itu, sudah dapat ditebaknya. "Tepat setelah Elthia ditemukan tidak sadarkan diri."
__ADS_1
Jawaban bernada datar Rio, lagi-lagi berhasil mengubah suasana sekitar. Tidak cukup memberikan sebuah kejutan, Rio juga mampu mengarahkan perhatian yang sebelumnya tertuju padanya, menjadi terpusat kepada Elthia.
"Eh?"
"Tidak hanya sekali. Dari tiga tirai yang sudah kita sucikan bersama. Tirai yang juga terkena sihir kalian berdua pastilah terdapat tulisan kuno di belakangnya."
Pernyataan yang Rio berikan sangatlah mengejutkan. Seolah memilki hubungan, pernyataan itu menjadi semakin meyakinkan ketika Rio memperlihatkan sebagian tulisan kuno yang sudah diterjemahkannya kepada mereka semua.
"Apa kau tahu, mulai sejak kapan rumor itu terdengar?" Rio memberikan tatapan tajamnya yang menusuk kepada Elthia. "Semua itu menyebar tepat setelah kau menemui dua orang laki-laki misterius itu secara gegabah."
"Itu benar. Dan anehnya lagi, siapa penyebar rumor itu tidak diketahui secara pasti siapa orangnya." Evander menyetujui apa yang Rio katakan. Sebagai saudara kembar Elthia, baru kali ini Evander menyaksikan adiknya itu mengambil tindakan gegabah. Langkah tergesa-gesa Elthia yang seolah-olah sedang dikejar oleh sesuatu itu, baginya sangatlah mencurigakan.
"Aku khawatir rumor ini adalah jebakan."
"Apakah kalian berpikir laki-laki itu sengaja ingin menjebak Elthia?" Psyche yang sudah mengetahui kondisi yang menimpa Elthia dari Alta, ikut memberikan komentarnya.
"Daripada menjebak, aku rasa tindakan itu lebih mengarah ingin menunjukkan sesuatu."
Sahutan dari Elenio yang cukup mengejutkan ini berhasil membungkam mereka semua. Elenio yang biasanya kelihatan seperti orang bodoh, sekarang terlihat seperti seseorang yang luar biasa. Tingkah lakunya yang sangatlah tenang, disertai senyuman tipis nan menawan. Membuat sosoknya terlihat berbanding terbalik sekali dengan dirinya yang biasanya.
"Laki-laki itu juga memiliki rambut perak bukan?"
Elthia membenarkan. "Ya. Mereka juga berambut perak."
"Bagaimana jika tulisan kuno itu merupakan suatu petunjuk yang mereka berikan?" Elenio meletakkan cangkir tehnya secara elegan. Kedua netra serupa rembulan miliknya, berkilauan di tengah sinar senja yang memudar.
"Aku rasa, kunci jawaban semua hal terletak di sana."
Psyche tersenyum. Pendapat Elenio ini juga disetujui olehnya. "Aku juga berpikir begitu."
Sebagai sosok yang tidak bisa mencampuri secara langsung urusan para manusia. Tristan serta kedua orang lainnya, tentu tidak bisa mengatakannya begitu saja. Sebagai alternatif lain, menyebarkan rumor merupakan media yang lumayan untuk memberitahukan suatu hal yang tidak dapat disampaikan. Dengan memanfaatkan rumor, tempat informasi paling cepat menyebar. Mereka bisa menyampaikan pesan secara tersirat, tanpa ada satu orang pun bisa mengganggu gugatnya.
Lumayan juga.
Psyche akui, kegigihan dari Tristan cukup menakjubkan. Ditambah campur tangan Leander. Rencana yang kedua orang laki-laki itu rangkai, semuanya menjadi jauh lebih sempurna. Mereka berdua berhasil menciptakan suatu persimpangan yang tak terduga.
Ini menyenangkan.
Psyche memperhatikan Rio. Wajah merengut yang Rio berikan ketika kedua mata mereka tidak sengaja bertatapan, ditertawakan olehnya.
"Inilah kenapa, akan lebih baik kau tidak ada." Rio mendengus kesal. Tawa kecil Psyche yang terkesan mengejek, sangatlah menjengkelkan.
"Aku tidak menyukai senyuman menyebalkanmu itu."
Mengabaikan desisan Rio di sampingnya, Psyche memfokuskan perhatiannya kepada Elthia. "Bisakah kau membacakan terjemahan kuno itu, Elthia?" meladeni Rio tidaklah akan membuahkan hasil apapun baginya. Jadi, daripada mendapatkan sindiran tajam Rio lebih jauh. Psyche lebih memilih untuk ikut memecahkan teka-teki yang sengaja diberikan kepada mereka.
"Siapa tahu, terjemahan itu memang salah satu kunci yang kita perlukan."
Senyum janggal Psyche diperhatikan secara seksama oleh Elthia. "Baiklah." Karena senyum itu lumayan sukar dibaca, Elthia mencoba untuk mengabaikannya. Apa yang ada di hadapannya ini sekarang, jelas jauh lebih penting daripada apapun baginya.
"*Kepada sang legenda yang memulai segalanya."
Ketika sang fajar mulai menampakkan wujudnya, kelopak bunga yang berjatuhan kini mulai berterbangan."
Angin berhembus yang berbisik, menelan segala sisi kelabu yang tersembunyi. Menjadikan kegelapan itu sebagai suatu keindahan yang kini menyilaukan*."
Elthia membacakan ketiga tulisan kuno yang sudah Rio terjemahkan itu. Pesan tersirat itu, lumayan membingungkannya. Tanpa adanya gambaran jelas, Elthia sedikit kesulitan untuk menemukan titik terangnya.
Sepertinya, ini akan jauh lebih memakan waktu dari dugaannya. Jika memang ini merupakan suatu petunjuk yang bisa membawa kesejahteraan. Itu berarti, mereka harus menemukan tulisan kuno lainnya, agar bisa mendapatkan jawaban yang lebih jelas.
__ADS_1