(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
8. Akademi Secilia


__ADS_3

Elthia keluar dari kereta kuda. Setelah perjalanan panjang yang menghabiskan waktu selama lima hari dalam perjalanan, serta dua hari menginap di kediaman keluarga Elenio untuk beristirahat. Akhirnya Elthia bisa melihat secara langsung akademi Secilia, tempat di mana anak-anak berbakat sekaligus anak keluarga ternama berada.


Halaman luas nan indah yang tertata rapi di akademi Secilia merupakan pemandangan pertama yang Elthia lihat begitu pintu kereta kuda dibuka. Banyaknya pohon perak yang tumbuh dipinggir jalan utama membuktikan seberapa besarnya kekuatan magis yang dimiliki negeri Yodea. Karena Elthia memasuki akademi sedikit lewat dari waktu pendaftaran yang seharusnya, Elthia juga ikut melewatkan pemandangan berupa daun perak yang berguguran di tahun ajaran baru.


"Apa kau gugup?"


Elthia menyambut uluran tangan pamannya. Karena tuan Darien berkewarganegaraan Yodea, ayah dari Elenio ini akan menjadi wali bagi Evander dan Elthia selama di akademi.


"Lumayan."


Setelah mengetahui bahwa keponakannya bisa menggunakan sihir secara tak terduga. Tuan Darien menyambut dengan sangat baik kedatangan Elthia dan Evander di kediamannya. Padahal tingkah laku tuan Darien sudah sangatlah bersemangat kesehariannya. Begitu Elthia dan Evander berkata bahwa mereka juga sudah terikat kontrak bersama familiar, tuan Darien menjadi orang yang dua kali lipat lebih bersemangat. Rasa antusias yang diperlihatkan pamannya itu, tentu membuat Elthia terkejut. Namun, karena Elthia terbiasa menangani Elenio yang juga memiliki sifat sebelas dua belas dengan ayahnya, Elthia mampu menguasai keterkejutannya dengan cepat serta menyesuaikan dirinya.


"Paman. Apakah setiap jurusan dibedakan berdasarkan warna dasi dan pita mereka?"


Sedari tadi Elthia memperhatikan siswa maupun siswi yang berdatangan. Warna pita maupun dasi yang dikenakan oleh para murid ada beragam. Mulai dari merah, hitam, biru, sampai yang berwarna perak. Elthia dan Evander sendiri memakai warna hitam. Sedangkan Elenio yang juga ikut mendaftarkan dirinya memakai dasi berwarna merah.


"Atau dibagi berdasarkan tingkatan kelas?"


"Warna itu dibedakan berdasarkan jurusan yang terpilih ketika mendaftar."


Elthia mengangguk mengerti. Rasanya menyenangkan bisa memiliki pita dengan warna kebanggaan anak-anak di negeri Yodea ini.


"Elthia~ Bisakah kau cepat turun? Aku dan Evander juga ingin keluar sekarang."


Teguran halus yang diberikan Elenio menyadarkan Elthia dari lamunannya. Tanpa Elthia sadari, karena terlalu asik akan pikirannya, Elthia sedari tadi hanya menyambut uluran tangan dari pamannya saja, tanpa sedikit pun menggerakkan kakinya dari tempatnya berdiri sekarang.


"Maafkan aku." Warna merah muda tipis menghiasi pipi Elthia. Senyuman maklum yang diberikan tuan Darien semakin memperparah rona merah di wajahnya.


"Hal yang wajar jika kau merasa sangat senang sekarang."


Apa yang dikatakan oleh tuan Darien, diakui oleh Elthia. Siapapun anak terpilih yang bisa memiliki sihir seperti dirinya, tentu akan merasa senang karena mampu menginjakkan kaki di tempat para penyihir ternama benua Lucinda berasal. Terlepas dari ancaman kematian di masa depan di dalam cerita. Untuk saat ini, Elthia ingin menikmati setiap waktunya yang berharga. Mengkhawatirkan suatu hal yang berlebihan mengenai ancaman karena memiliki kekuatan sihir memanglah diperlukan. Namun, Elthia tidak ingin hal itu menganggu konsentrasinya. Tidak ada salahnya jika Elthia melepas rasa was-was sekejap atas ancaman yang ada. Karena apa yang terjadi sekarang ini, belum tentu akan terulang kembali di masa mendatang kelak.


Meski hanya sesaat. Setidaknya, aku ingin bersenang-senang.


Elthia mengembangkan senyuman tipis di bibirnya. Dengan langkah yang riang, Elthia turun dari kereta.


Syut...


Eh?


Rasa dingin yang menyengat ketika Elthia sudah menginjak halaman akademi membuat Elthia terdiam. Walaupun Elthia baru saja memiliki sihir, entah mengapa Elthia bisa merasakan bahwa apa yang baru saja ia rasakan tersebut, bukanlah suatu hal yang baik melainkan sesuatu nan janggal.


Firasatku buruk.


Elthia memperhatikan Astrella yang berada di dalam pelukannya. Familiar miliknya yang tengah berada dalam wujud kucingnya itu ikut bergerak gelisah di dalam pelukannya. Kedua mata mereka bertatapan. Untuk sesaat, Elthia dan Astrella bertukar pendapat melalui tatapan.


"Kita perhatikan saja dulu." Bisik Elthia kepada Astrella. Membuat masalah di hari pertama tidaklah termasuk di dalam daftar yang dibuatnya. Selain itu, Elthia juga masih belum terlalu yakin mengenai apa yang baru saja dirasakannya.


"Elthia? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"


Rasa cemas yang diperlihatkan tuan Darien, diperhatikannya secara seksama. Elthia tidak sedikit pun menemukan gelagat aneh dari pamannya. Jadi, bisakah Elthia menganggap bahwa pamannya ini tidak merasakan apapun yang mengancam dirinya?


"Tidak ada, paman. Hanya saja, aku sedikit terkejut."


Elthia tidak berniat memberitahu apa yang baru saja dirasakannya kepada tuan Darien. Tanpa adanya kejelasan serta bukti yang nyata. Untuk sementara, Elthia ingin menyimpan rasa penasarannya ini sendirian.


"Jika kau merasa tidak enak badan, akan lebih baik kau tidak memaksakan dirimu hari ini."


Elthia menggeleng. Tawaran yang diberikan sang paman ditolaknya. "Aku baik-baik saja, paman. Jadi, kita bisa teruskan saja ini." Sebisa mungkin, Elthia meyakinkan Tuan Darien. Seberapa menelisiknya pun tatapan yang pamannya itu berikan, Elthia tidak goyah. Keyakinan yang terpancar dari kedua netra indahnya, tidak mampu dibantah oleh tuan Darien. Jadi, karena tuan Darien tidak sedikit pun mampu mengusiknya, paman Elthia itu hanya mempunyai pilihan mengabulkan saja permintaan sang keponakan.


"Baiklah. Tapi ingat! Jangan terlalu memaksakan dirimu!"


Pesan yang diberikan Sebastian sebelum kembali ke kediamannya terngiang di kepala tuan Darien. Tepat seperti apa yang keponakan tertuanya itu katakan. Adik kecilnya ini sangatlah berkemauan kuat. Keyakinan yang dipegangnya tidak sedikit pun mampu digoyahkan, apalagi dihancurkan.


"Apakah kalian juga sudah siap?"


Paham bahwa Elthia tidaklah akan mengubah kehendaknya, tuan Darien mengalihkan perhatiannya kepada dua orang anak laki-laki yang baru saja turun dari kereta kuda. Melihat putra semata wayangnya serta sang sepupu yang berdiri berdampingan dengan akurnya, mengingatkan tuan Darien akan masa lalu. Rasanya cukup nostalgia melihat momen indah ini.


Mereka sudah besar.


Waktu tanpa terasa begitu cepat berlalu. Setiap hari penuh kenangan yang tersimpan, akan selalu terkenang dalam hatinya. Terutama, khusus hari ini. Entah itu tuan Darien, dua orang kembar Lucretia, ataupun Elenio. Mereka semua memanfaatkan momen yang ada sebaik mungkin. Menikmati apa yang terpampang di depan mata sebaiknya. Menengok orang lain dengan segala kelebihannya tidaklah ada habisnya. Jadi, bukankah akan lebih baik jika mereka bersenang-senang atas waktu yang ada?


Sebab, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Entah itu Elthia, Rio, ataupun sosok misterius Leander sang pelaku kekacauan ini terjadi.


Takdir seperti apa yang akan menanti sang tokoh utama. Tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan bagi sosok laki-laki yang tengah memperhatikan apa yang terjadi di dalam cermin miliknya.


...°·°·°·°·°·°...


Urusan mengenai pendaftaran mereka bertiga. Semua sudah diurus dengan baik oleh tuan Darien. Jadi, tanpa perlu menunggu terlalu lama, Elthia, Evander, maupun Elenio sudah bisa memasuki kelas mereka masing-masing.


"Sampai jumpa di waktu istirahat nanti, ya."


Berbedanya bangunan belajar membuat mereka bertiga harus berpisah satu sama lain. Khusus bagi Elenio yang harus sendirian, terpisah di hari pertama terasa sangatlah menyedihkan.


"Seandainya saja kita sekelas, aku tent---"


"Kau kan akan bertemu dengan kami lagi nanti. Jadi, pergilah! Jangan bersikap berlebihan seolah kau akan pergi ke medan perang saja."


Elenio mendengus. Jawaban sinis dari Evander ini memperparah rasa kehilangannya. Tidak kakak, tidak adiknya. Lucretia bersaudara ini selalu saja memperlakukan kasar dirinya.


"Hei! Di sini kan wilayah yang asing bagi kalian. Sebagai seorang sepupu, aku bisa menjadi penunjuk jalan." Elenio memasang ekspresi cemberut. Ketidakpedulian dari Evander serta Elthia sedikit melukainya. "Setidaknya biarkan aku menemani kalian seharian penuh khusus hari ini."


"Maaf. Tapi, kami bukan bocah berusia lima tahun lagi." Evander dan Elthia menolak secara tegas dengan kompaknya. Untuk ukuran anak-anak yang mendekati masa remaja, kedua bersaudara ini terlihat jauh lebih dewasa daripada anak seumuran mereka. Terkadang, Elenio bahkan merasa ngeri akan sisi Evander dan Elthia ini. Sikap kelewat tenang mereka selalu saja berhasil membuatnya bergidik.


"Tidakkah kalian ingin mengasihaniku?"


Elenio memperlihatkan ekspresi paling memelas yang dimilikinya. Melupakan dengan cepat luka batin yang sudah tertoreh di sudut hatinya. Padahal rasanya lumayan menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya. Namun karena Elenio sudah sangat terbiasa diberikan reaksi yang serupa di setiap kesempatan. Seolah disirami obat penyembuh, rasa menyakitkan yang seharusnya ada itu kini menghilang tanpa sedikit pun menimbulkan bekas.


"Biarkan aku menemani kalian, ya!? Ya!?"

__ADS_1


"Tidak."


Penolakan tegas tanpa perlu menunggu waktu lama itu semakin memperparah ekspresi cemberut Elenio. Kedua netra rembulan miliknya menatap iri kearah Astrella dan Astra yang berada dalam pelukan si kembar. "Hei, bisakah kita bertukar tempat? Aku benci ditinggal sendirian." Elenio yang menyerah membujuk kedua sepupunya, mencoba merayu familiar mereka. Elenio berharap, sama seperti familiar yang dimiliki ayahnya. Astrella ataupun Astra juga memiliki kemampuan yang sama seperti Lias.


"Salah satu dari kalian memakai penampilanku. Jadi, biarkan aku memakai penampilan kalian."


"Melakukan hal yang dilarang, merupakan salah satu bentuk pengkhianatan." Pernyataan tenang Astrella, seketika meruntuhkan segala harapan Elenio. Seolah ada suara petir yang menyambar dalam kepalanya, Elenio tertunduk di hadapan Elthia dan Evander. Racauan penuh keputusasaan yang Elenio keluarkan sangatlah terdengar menyedihkan.


"Seandainya saja aku memiliki sihir...."


Elenio meratapi nasibnya yang menyedihkan. Ketidakberuntungan yang ada padanya ini, begitu disesali olehnya.


"Berhentilah merengek, Elenio..." Elthia cukup prihatin akan nasib Elenio. Menepuk pelan pundak sepupunya itu. Elthia memperlihatkan senyuman paling menawan yang dimilikinya. Elthia tidak bisa membiarkan Elenio membuang waktu mereka lebih jauh lagi.


"Bukankah sepulang sekolah nanti kita akan bertemu? Aku berjanji, sebagai bentuk perayaan kita hari ini, aku akan minum teh bersamamu."


"Kau berjanji?"


"Ya. Aku berjanji."


Elthia mengulurkan tangannya. Tidak seperti Elenio yang masih menatap curiga seolah-olah sedang coba ditipu, Elthia bersikap tenang. Uluran tangannya yang bersambut, mendapatkan respon berupa decakan dari Evander yang berada di belakangnya.


"Mari kita pergi."


Evander menggenggam erat tangan Elthia. Langkah kakinya yang tergesa sedikit menyeret saudari kembarnya itu. Genggaman tangan Elthia terlepas berkat gerakannya yang begitu mengejutkan.


"Guru pengawas menatap tajam kita. Aku tidak ingin mendapat cap buruk di hari pertama ini." Jelas Evander tepat sebelum Elenio dan Elthia sempat bersuara. Kedua netra indah miliknya melirik sosok orang dewasa yang berdiri di dekat pilar penyangga, tidak jauh dari tempat kepala sekolah berada.


Karena jarak diantara mereka lumayan jauh, Evander harus mengeraskan sedikit suaranya. "Kau juga. Cepatlah masuk kelas!" jujur saja, sikap tenang Elenio diàdalam kondisi seperti ini terasa menjengkelkan. Evander tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdecak atas tingkah Elenio. Evander tahu, Elenio jarang sekali bisa bersikap tenang. Tidak paniknya Elenio dalam bersikap adalah suatu hal langka yang begitu sulit didapatkan. Akan tetapi, dalam kondisi seperti ini.... bukannya bersyukur, Evander justru ingin mengutuk sepupunya itu.


"Jangan lupakan janjimu, ya!"


Balasan tak terduga dari Elenio, berhasil meloloskan perkataan kasar dari mulut Evander. Rasanya, Evander ingin memukul kepala itu agar bisa teratur ulang kembali menjadi lebih baik.


"Seperti biasa, dia sangat santai dan tak tahu situasi." Di samping Evander, Elthia yang kini sudah berjalan sendiri tertawa kaku. Perkataan kasar yang sebelumnya Elthia dengar, sedikit mengejutkannya. Elthia tidak menyangka Evander yang terkenal akan kelembutannya ini bisa mengeluarkan umpatan. Dan itu.... dikarenakan Elenio.


"Aku berharap, dia bisa mendapatkan teman yang bisa menuntunnya menjadi lebih baik."


"Dia benar-benar harus dijinakkan."


Rasa kesal Evander yang masih terasa disetiap perkataannya, ditertawakan oleh Elthia. Melihat saudaranya ini lepas kendali seperti ini, rasanya cukup unik. Elthia tidak menyangka jika kakaknya ini bisa bertingkah demikian.


"Jangan terlalu marah. Kakak tahu sendiri kan? Ini memang sudah menjadi ciri khas dari Elenio." Elthia mencoba menenangkan Evander dengan cara mengelus pelan punggung saudaranya itu.


"Kita tidak bisa melakukan apapun atas sikap alaminya itu."


"Dia benar-benar mirip ayahnya." Keluh Evander. Astra yang berjalan lebih dulu di depannya, menjadi objek perhatiannya.


"Dapatkah kita bertahan selama lima tahun di kediaman keluarga mereka?"


"Kita kan mampu bertahan selama sembilan tahun menghadapi kak Sebastian." Jawab Elthia. Tawa halus terdengar darinya. "Jadi, mengapa tidak? Lagipula waktu yang akan kita lewati tidaklah akan terlalu lama jika kita cukup menikmatinya."


"Hm... Kau benar."


"Ngomong-ngomong. Apa yang dilakukan kak Sebastian saat ini, ya?"


"Aku yakin dia disibukkan dengan berbagai macam jenis pekerjaan sekarang." Jawab Evander seraya menghela nafas. Membayangkan betapa sibuknya sang kakak ketika sudah tiba di kediaman mereka tanpa sempat cukup beristirahat, juga ikut membuat Evander merasa lelah.


"Ayah pasti memberinya banyak pekerjaan."


Ayah mereka memang tak kenal ampun. Biarpun akhir-akhir ini hubungan mereka semua terasa lebih ringan daripada sebelumnya, itu tidak berarti ayah mereka juga akan meringankan mereka bertiga dari tugas yang diberikannya.


Elthia tertawa kaku. Apa yang diucapkan Evander juga ikut membayanginya. Kakak tertua mereka itu pastilah memiliki segudang kesibukan yang harus diselesaikan. "Aku harap kak Sebastian dapat cukup beristirahat."


Entah mengapa, Elthia sedikit merasa bersalah mengenai permintaan yang ia ajukan. Seandainya saja ia memiliki koneksi serta kemampuan, Elthia sebisa mungkin tidak ingin menambah beban kakaknya.


"Jangan mengkhawatirkannya."


Tepukan pelan Evander di kepala, membuat Elthia mendongak. Kedua netra yang menatap penuh keyakinan padanya itu, menjadi objek perhatian Elthia sepenuhnya.


"Kau sendiri kan juga mengetahuinya. Kak Sebastian bukanlah orang yang mudah tumbang apalagi menyerah."


"Aku tahu. Kak Sebastian bukanlah orang yang mudah menyerah." Elthia menunjukkan senyuman tipisnya. Tangan Evander yang sebelumnya berada di atas kepalanya, Elthia turunkan. Elthia menatap lekat tangan mereka yang saling bertautan. "Aku hanya berharap, dia juga tidak terlalu memaksakan dirinya."


"Kau khawatir mengenai permintaanmu itu, ya?"


Elthia mengangguk, membenarkan. "Karena itu merupakan permintaan yang sulit. Aku sedikit takut kak Sebastian bekerja lebih keras dari biasanya."


"Ayah tidak mungkin membiarkannya melakukan suatu hal secara berlebihan."


Walaupun ketat dan selalu memberikan tugas. Ayah mereka tetap memperhatikan batas kemampuan mereka. Apa yang diberikannya selama ini merupakan harapan agar kelak mereka semua bisa mandiri, dan tidak melalaikan tanggung jawab. Evander yakin, biarpun terlihat mustahil baginya, ayah mereka sudah mempertimbangkan dengan baik kemampuan miliknya. Jadi, karena Sebastian jauh lebih tangguh dari mereka berdua sekaligus calon penerus keluarga Lucretia, tentu tugas yang diberikan kepada kakak tertuanya lebih banyak dari milik mereka.


"Selama kakak tidak memaksa bertemu kita. Aku yakin, ayah memberikan bantuannya pada kakak."


Elthia membayangkan wajah tersenyum Sebastian ketika berhadapan ayah mereka. Sesuai apa yang dikatakan Evander, selama kakaknya tidak memaksa ingin bertemu mereka berdua. Pertarungan penuh keheningan dari dua orang pemilik senyum mengerikan itu tidaklah mungkin terjadi. Sebaliknya, karena Sebastian mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik, ayah mereka tentu akan memberikan bantuan serta persetujuannya tanpa keberatan.


"Betapa kesepiannya kak Sebastian, sendirian di sana."


Sudah menjadi rutinitas, Sebastian menghabiskan waktu istirahatnya bersama mereka berdua. Elthia tidak dapat membayangkan betapa kesepiannya sang kakak ketika mereka berdua kini jauh dari pandangan mata.


"Kak Sebastian tidak mungkin memaksa ayah agar bisa bertemu kita, kan?"


Evander mengangguk. Bayangan mengenai Sebastian yang sedang mengerjakan tugas dengan serius, muncul dalam benaknya. "Aku yakin kakak sedang bekerja dengan sungguh-sungguh sekarang."


Evander menatap Elthia. Pintu penentu yang akan merubah penuh jalan kehidupan mereka kini sudah ada tepat di depan mata.


"Apa kau siap?"


Elthia mengangguk. Tidak ada sedikit pun keraguan terdapat dalam tatapannya. "Ya, aku siap."

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita masuk bersama."


Mereka berdua mendorong pintu secara bersamaan. Senyum tipis menghiasi bibir keduanya. Dengan satu langkah ini, takdir baru akan terjalin. Kehidupan yang sebelumnya terpencar akan saling melengkapi satu sama lain. Layaknya kepingan puzzle, bagian kosong yang sebelumnya terlihat, kini mulai terisi. Membentuk suatu gambaran akan dua kehidupan yang saling terhubung satu sama lain. Entah itu secara langsung, ataupun tidak.


...°·°·°·°·°·°...


Di dalam ruangan yang luas, duduk seorang lelaki. Tatapan kedua matanya yang sewarna rembulan terlihat menatap fokus gambaran yang tercetak di dalam cermin besar miliknya.


"Kemajuan yang bagus. Aku suka keputusan yang dia ambil." gumamnya seraya menatap lekat sosok yang tergambar di dalam cermin. Kepala bersurai perak sosok itu mengangguk-angguk seolah sedang menilai. Sedangkan senyuman penuh kepuasan tercetak di bibirnya.


"Jadi, sisanya, tergantung bagaimana mereka membuat pilihan nanti."


Kedua netra rembulan miliknya menatap sosok yang baru saja bergabung dengannya. Sosok laki-laki yang juga memiliki surai serupa dengannya itu, juga memiliki rupa yang tidak kalah menawan darinya.


"Tristan. Apakah kau sudah menemui gadismu itu?"


Tristan menggeleng. "Kau sendiri? Perubahan seperti apa yang kau dapatkan, Leander?" Tristan mengambil posisi, berdiri di depan Leander. Tanpa peduli akan tatapan risih sang pemilik cermin. Tristan memperhatikan secara seksama ekspresi dari sosok seorang anak laki-laki yang ada di dalam cermin. Rambut berwarna biru tua dari bocah itu sedikit menarik perhatiannya.


"Istvan, huh?"


"Kau menghalangiku! Setidaknya berikan aku sedikit celah!" Leander yang tidak terima cermin miliknya tertutupi tubuh Tristan, menarik paksa lelaki itu ke samping. "Aku tidak akan menjelaskannya jika kau menghalangi cerminku seperti ini!"


Dengan penuh kekesalan, Leander menyingkirkan Tristan dari depan cerminnya. Sama seperti Tristan, reaksi yang diberikan Leander juga tidak jauh berbeda ketika melihat sosok yang terlihat di dalam cermin.


"Ah... aku benci tatapannya itu."


Leander kembali mendudukan dirinya di bangku miliknya. Wajah serius Tristan yang ada di sampingnya, Leander perhatikan. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya karena merasa terganggu akan ekspresi Tristan yang mengerikan. Kening mengerut tanda sosok itu sedang berpikir keras, sedikit mengusik Leander.


"Wajahmu terlihat kurang baik."


"Tirai mulai terbuka."


Tirai... kah?


Leander tidak menyangka jika tempat dimana makhluk kegelapan berada itu akan terbuka. Akan sangat gawat apabila tirai sampai terbuka. Sebab, tirai itulah yang selama ini menahan makhluk kegelapan mengacau di dunia mereka.


"Apakah kau sudah menutupnya?"


Karena hanya Tristan sajalah yang memiliki kekuasaan untuk membereskan hal itu, Leander yang tidak bisa ikut campur hanya bisa bertanya.


"Berapa banyak yang terbuka, dan di mana saja letaknya?"


"Ada dua. Satu di negeri reruntuhan Ambrogio. Satu di wilayah dekat hutan keluarga Lucretia."


"Hutan wilayah Lucretia?!"


Leander tidak bisa menahan keterkejutannya. Saking terkejutnya ia, Leander bahkan sampai berdiri dari posisi duduknya.


"Kau yakin mengenai itu?"


Seingat Leander, hutan yang berada di dalam wilayah kekuasaan bangsawan Lucretia merupakan tempat dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Jadi, mengapa tirai bisa terbuka di tempat seperti itu? Apa yang menjadi pemicunya?


Leander berpikir keras. Keningnya mengerut, sedangkan kedua matanya menatap lekat dua bayangan yang terlihat di dalam cermin miliknya.


Ah... apakah mungkin...


Setelah diingat-ingat lagi. Bangkitnya kekuatan sihir anak keluarga Lucretia terjadi di hutan itu. Jadi, bisakah Leander menganggap kejadian ini sebagai suatu ancaman? Sangat tidak mungkin jika anak-anak yang baru memiliki kekuatan itu yang melakukannya. Hal yang memungkinkan yang dapat Leander pikirkan adalah, ada sosok yang ingin mencelakakan mereka, namun gagal karena anak-anak itu memiliki sihir tanpa terduga.


"Apakah kau sudah menemukan siapa pelakunya?"


Bahu terangkat yang Tristan berikan sebagai jawaban, membuat Leander menghela nafas pelan. "Sepertinya ini jadi semakin sulit." Gumam Leander sambil meremas poni rambutnya yang panjang. Surai perak sepinggang miliknya jatuh dengan lembut mengikuti gerakannya ketika Leander duduk kembali di tempatnya.


Semoga saja hal ini bisa dikendalikan dengan baik.


Leander menutup rapat mulutnya. Keheningan yang tercipta berkat diamnya itu, tak sedikitpun mengusik Tristan yang sedari tadi memperhatikannya.


"Alur cerita berjalan dengan baik sejauh ini." Paham bahwa tidak ada lagi hal yang ingin Tristan sampaikan. Leander mulai menjelaskan hasil dari pekerjaannya. "Cara gadis itu mengambil tindakan, jauh melebihi harapanku."


"Dia memberikan perubahan drastis?"


Leander mengangguk. "Ya. Dan itupun dalam satu kali tindakan."


"Cukup mengagumkan."


Leander akui. Itu memang mengagumkan. Sama seperti Tristan, Leander cukup merasa puas akan ketegasan gadis itu dalam mengambil tindakan.


Sikap Novella yang hati-hati, dan penuh pertimbangan itu, sangatlah memuaskan. Leander bahkan tak berhenti memuji dirinya sendiri karena telah memilih orang yang tepat bagi mereka semua.


"Apakah kau ingin menemuinya, Tris?"


Leander mengabaikan keterkejutan Tristan ketika ia memanggilnya dengan panggilan akrab. Ekspresi menyeramkan yang Tristan berikan sebagai bentuk penolakan atas panggilan akrabnya, tidak sekalipun mempengaruhi Leander.


"Jika kau ingin menemuinya, akan lebih baik jangan terlalu lama." Leander menyarankan. Baginya yang bisa membuka 'buku' tersebut, tentu Leander bisa mengetahui siapa saja sosok yang akan gadis itu temui. Yah... walaupun Leander tidak bisa menebak alur seperti apa yang akan tercipta. Setidaknya, dengan beberapa nama yang tertulis, itu sudah menjadi bocoran yang cukup baginya. Adanya satu sosok penting lain yang mungkin akan ditemui gadis itu, memiliki pengaruh yang juga sama besarnya akan keberadaan seorang Luca.


"Aku harap. Kau tidak membuatnya menunggu lebih lama lagi."


Apa yang dikatakan Leander, dipikirkan dengan baik oleh Tristan. Memejamkan sejenak kedua matanya, Tristan mencoba merilekskan pikirannya. Pikiran mengenai makhluk kegelapan yang mencoba keluar dari tirai, coba dialihkannya meskipun itu hanya sesaat.


"Akan aku usahakan secepatnya."


Tristan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Apapun yang terjadi, sebisa mungkin ia akan menyelesaikan tugasnya dengan cepat.


"Semoga kau tidak terlambat."


"Semoga saja."


Tidak ada apapun yang diinginkannya selain keselamatan sang gadis. Bagaimanapun caranya, Tristan tidak ingin merasakan rasa sakit kehilangan. Entah itu nanti, ataupun sekarang. Tristan tidak ingin kehilangan sosok yang berharga baginya.... untuk yang kedua kalinya.


pojok penulis :

__ADS_1


maaf ya, kalau gambarnya agak kurang memuaskan. Untuk saat ini, kemampuan gambarku baru bisa sekedar wajahnya saja. Untuk kedepannya, akan aku usahakan agar bisa membuat ilustrasi yang lebih memuaskan. Terimakasih karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini ^-^.



__ADS_2