(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
9. Undangan


__ADS_3

Sebastian berjalan di lorong nan panjang. Dalam dekapannya terdapat banyak berkas.


"Ayah. Ini aku, Sebastian."


Sudah setengah bulan berlalu semenjak kepulangannya dari mengantar kedua adiknya. Sebastian yang memang memiliki segudang kesibukan, tak henti-hentinya membantu sang ayah dalam menangani pekerjaannya. Tak terkecuali pekerjaan yang tidak terduga ini. Demi mendapatkan kepercayaan sang ayah sepenuhnya, Sebastian menerima tantangan yang diberikan sang ayah tanpa sedikitpun merasa ragu.


"Silahkan, tuan muda."


Dibukakannya pintu ruang kerja oleh Zale, kepala pelayan terpercaya keluarga Lucretia, sudah cukup menjadi bukti bahwa apa yang akan mereka tangani tidaklah semudah kelihatannya. Pandangan sang ayah yang terfokus ke arah berkas dengan wajah yang merengut menahan kesal menjadi pusat perhatian Sebastian begitu ia sudah berdiri di depan sosok tersebut.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Karena sang ayah merupakan sosok yang biasa mengontrol ekspresinya dengan sangat baik, Sebastian jadi merasa penasaran mengenai apa yang bisa memancing emosi ayahnya ini.


"Letakkan berkas itu di atas meja."


Perintah dari sang ayah Sebastian turuti. Dengan patuh, Sebastian meletakkan setiap lembaran kertas yang bertumpuk itu di atas meja sang ayah. Sedangkan mulutnya, menjelaskan segalanya tanpa perlu diberi perintah dua kali.


"Sesuai perkataan Elthia. Gerakan yang dilakukan oleh paman Eneas akhir-akhir ini memang mencurigakan."


Kedua netra hijau Sebastian sesekali melirik ke arah sang ayah. Rasanya, ia baru sekali ini melihat ayahnya bersikap sangat serius. Yah. Sebastian akui, ayahnya setiap hari memang serius. Tapi, khusus hari ini, entah mengapa atmosfer di sekitar terasa tiga kali lipat lebih mencekam dari biasanya.


"Aku masih belum mengetahui apa yang akan direncanakan olehnya. Akan tetapi, jika melihat dari sembarangnya dia membersihkan barang bukti. Aku yakin, ada sesuatu yang mengancamnya sehingga membuatnya harus terburu-buru meninggalkan rencana awalnya."


"Jadi, mimpi yang didapat Elthia adalah benar?"


Sebastian mengangguk. "Iya, ayah. Itu benar."


"Barang bukti seperti apa yang dengan ceroboh ditinggalkannya?"


Sebastian diam, ia sedikit ragu mengenai hal ini. Awal mulanya, Sebastian hanya menganggap bahwa apa yang diceritakan oleh adiknya hanyalah ketakutan dari rasa cemasnya karena terlalu sering bermimpi buruk. Namun, setelah turun tangan dan menyelidikinya langsung. Sebastian sadar, permintaan yang disampaikan Elthia tidaklah bisa dianggap remeh. Apa yang ditakutkan adiknya itu ternyata benar-benar terjadi. Dan Sebastian, bahkan sampai gemetar ketika melihat dengan sendiri barang bukti tersebut.


"Aku menemukan ini di sekitar tempat kejadian."


Sebastian menyerahkan sebuah pin dengan motif pohon perak di tengah lingkaran. Bahan perak murni yang digunakan untuk pin tersebut terlihat berkilau ketika terkena pantulan cahaya matahari yang masuk melalui jendela.


"Barang ini aku temukan tidak terlalu jauh dari tempat kami berlatih."


"Jadi, monster yang menyerang kalian hari itu..."


Menghela nafasnya guna menetralisir rasa gelisahnya. Sebastian membenarkan tebakan sang ayah. "Seperti yang ayah duga. Makhluk aneh tersebut memanglah makhluk kegelapan."


Sebastian memperhatikan sang ayah. Diamnya sang ayah serta berkas yang kini dilepaskannya, menandakan bahwa ayahnya kini mendengarkan apa yang disampaikannya secara seksama.


"Apakah tirai terbuka di tempat itu?"


"Tidak terlalu besar. Namun, jika manusia tanpa kekuatan sihir berada di dekatnya, tirai tersebut tentu sangatlah mengancam."


Kejadian dimana Sebastian menyaksikan langsung tempat makhluk kegelapan bisa menyeberang tersebut masih tersimpan jelas dalam ingatan. Jujur saja, ketika melihat betapa mengerikannya warna hitam pekat dibalik tirai yang terbuka, Sebastian selalu saja bergidik. Tubuhnya secara alami merinding dan merasakan rasa menyengat nan menyesakkan. Terkadang, Sebastian bahkan bisa merasakan nafasnya terasa memberat dengan sendirinya ketika tidak sengaja teringat mereka bertiga juga hampir terbunuh di tempat itu.


"Karena kau kembali tanpa terluka sedikitpun. Bisakah ayah katakan bahwa sesuatu terjadi pada tirai tersebut?"

__ADS_1


"Aku tidak terlalu yakin mengenai ini.... tapi, aku rasa tirai tersebut langsung termurnikan bersamaan kemunculan kekuatan Elthia dan Evander hari itu."


Walaupun tirai tidak tertutup. Cahaya putih yang berada di sekitarnya sedikit menarik perhatiannya. Selain mereka bertiga, sosok sang guru bukanlah seorang penyihir. Dan karena kekuatan yang dimiliki Sebastian jauh lebih lemah dari kedua adiknya, tentu Sebastian tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memurnikannya. Selain kedua adiknya, tidak ada lagi penyihir berkekuatan besar di sekitar mereka di hari itu.


"Berkat kekuatan Elthia dan Evander, tirai bisa ditahan untuk sementara. Selain satu makhluk aneh yang menyerang kami, tidak ada makhluk kegelapan lain yang berhasil keluar dari sana." ucap Sebastian seraya menatap yakin sang ayah. Senyum tipis yang diperlihatkan ayahnya, berhasil mengurangi sedikit dari rasa tegang yang Sebastian rasakan.


"Kerja bagus. Terimakasih karena sudah mau bekerja keras."


Sebastian menutup sebelah matanya. Tepukan ringan yang diberikan sang ayah di kepalanya membuatnya terkejut.


"Ayah tahu masih ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Katakanlah. Selama itu tidak berbahaya, ayah akan mempertimbangkannya."


"Benarkah?" Sebastian menatap tidak percaya ayahnya. "Apakah ayah berani berjanji akan memenuhinya?" tanyanya seraya mengambil jarak dari sang ayah. Sebastian berdiri siaga dengan pandangan yang waspada ketika senyuman terlihat di bibir ayahnya.


"Ayah janji."


"Serius?"


"Ya. Serius."


Sekali lagi, Sebastian menelisik ekspresi sang ayah. Kejujuran yang terpantul dari kedua netra biru sang ayah membuatnya menghela nafas. "Ada seseorang yang menghancurkan tirai itu. Dan orang tersebut, ingin bertemu langsung dengan ayah."


"Menghancurkan tirai? Jadi, kau bertemu orang lain juga?"


Perkataan tanpa basa-basi yang Sebastian sampaikan sedikit menarik perhatian. Tuan Arys tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.


Sebastian menghindari tatapan ayahnya. "Seorang laki-laki berambut perak. Jika dilihat dari wajahnya, usia kami tidak terlalu jauh."


"Rambut perak?"


"Apakah ayah ingin menemuinya?"


Sebastian balas bertanya. Dengan sabar ia menunggu sang ayah memberikan jawaban.


"Siapa nama orang itu?"


"Tristan."


"Tidak ada nama keluarga?"


Sebastian mengangguk. "Ya. Nama berkat pun juga tidak dimilikinya."


Keheningan menyelimuti mereka berdua. Sebastian yang memahami kebingungan ayahnya menghela nafas. "Aku tahu dia mencurigakan. Tapi, ayah. Bukankah warna rambut yang dimiliki Tristan patut diselidiki?"


Karena surai perak sangatlah langka. Sebastian pikir tidak ada salahnya mencari tahu kebenaran mengenai Tristan. Khusus mengenai hal ini, entah mengapa Sebastian merasakan sebuah firasat. Jika memang Tristan juga mewarisi darah yang sama dengannya, apakah itu berarti ada sosok keturunan Lucretia yang disembunyikan? Dan jika memang demikian, alasan apa sehingga keberadaannya baru diperlihatkan sekarang ini?


Buramnya sejarah mengenai keluarga Lucretia, jujur saja sedikit mengusik Sebastian. Walaupun mereka merupakan bangsawan berkedudukan tinggi yang paling tua. Ketidakberdayaan yang mereka miliki terhadap pihak kerajaan sangatlah mengherankan.


Sedikit berisiko memang. Namun, jika kepingan yang terlihat hilang itu bisa tersusun kembali. Sebastian rasa, itu bukanlah pertaruhan yang buruk.


"Ayah ingin menemuinya. Tapi, sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat."

__ADS_1


Sebastian memperhatikan surat yang ada di tangan sang ayah. Stempel dengan pola kobaran api berbentuk mahkota nan familier yang tertangkap oleh netra hijaunya, berhasil merusak mood baiknya dalam sekejap.


"Bersiap-siaplah. Karena kita harus memenuhi undangan ini secepatnya."


Sebastian tidak bisa membantah. Walaupun ia sudah merasa lelah, apa yang diperintahkan oleh sang ayah sama sekali tidak bisa ditolak. Dengan penuh keberatan Sebastian keluar dari ruangan sang ayah. Undangan sialan yang diterima oleh ayahnya itu benar-benar menjengkelkan untuk dilihat.


"Aku rindu adik kecilku...." gumam Sebastian dengan ekspresi menerawang. Terpisah jauh dari kedua adik kesayangannya terasa sangatlah menyiksa. Sebastian benar-benar membutuhkan pelukan hangat kedua adiknya. Wajah lucu keduanya sudah menjadi penawar lelah paling mujarab yang dimilikinya.


...°·°·°·°·°·°...


Di depan orang yang paling tinggi di negeri Pyralis, Sebastian serta tuan Arys menundukkan kepala hormat. Mereka berdua memberikan salam kepada Raja Taddeus sang penguasa kerajaan Istvan yang ke-5 ini.


"Kau tentu mengetahui apa alasanku memanggilmu kemari, bukan?"


Perkataan tanpa basa-basi yang diajukan sang raja, diangguki dengan patuh oleh tuan Arys. Sebagai seorang kepala keluarga yang dipercaya, tentu tuan Arys memahami dengan sangat baik maksud dibalik undangan sang raja terhadap dirinya ini.


"Saya meminta maaf karena telah menyembunyikannya dari Anda, Yang Mulia."


Di belakang tuan Arys, Sebastian berdiri diam memperhatikan. Percakapan antara ayahnya dan sang raja, didengarkannya secara seksama.


"Aku bisa memahami alasanmu." Ekspresi maklum yang diberikan raja sedikit melegakan. Sebastian yang sebelumnya sedikit tegang, membuat ekspresinya terlihat setenang mungkin.


"Berat rasanya memiliki banyak musuh yang mengawasi. Sedikit saja kau lengah, mereka tanpa basa-basi pasti akan langsung menerkam."


"Itu benar, Yang Mulia."


"Bagaimana kabar mereka berdua?"


"Kabar kedua anak kembar saya baik, Yang Mulia. Elthia dan Evander belajar secara giat agar bisa menjadi penyihir yang hebat demi kerajaan ini."


Apa yang dikatakan oleh tuan Arys tidaklah salah. Kedua saudara kembar itu memang gigih dalam belajar. Keteguhan tekad yang dimiliki keduanya, bahkan bisa dibilang jauh melebihi Sebastian yang merupakan penerus sah posisi kepala keluarga.


"Sebagai kepala keluarga sekaligus ayah mereka berdua, saya menjamin kesetiaan kami semua kepada kerajaan."


Mendapatkan sumpah setia merupakan hal yang paling diinginkan raja mereka saat ini. Tanpa perlu bertanya kepada ayahnya pun, Sebastian sudah mengetahuinya.


Raja ketakutan.


Tentu saja. Biarpun tidak terlihat jelas. Ketakutan akan adanya sosok yang lebih berkuasa dibanding dirinya, adalah hal yang biasa bagi sebagian anggota kerajaan. Mereka tidak suka jika ada sosok lain yang memiliki kekuatan lebih dibanding mereka.


Tidak terkecuali, pangeran yang satu ini.


Di samping raja, berdiri pangeran Mahkota negeri Pyralis. Ekspresinya yang setenang air, sangatlah sukar untuk dibaca. Sebastian akui, pangeran yang satu ini cukup piawai dalam mengatur ekspresinya. Namun, dibalik tatapan matanya yang berwarna merah menyala, gejolak yang terlihat tidak sekalipun bisa disembunyikan. Walaupun itu hanya terlihat sekilas, Sebastian yang sudah menguasai seluruh pembelajaran mengenai teknik membaca pikiran lawan, tidak sekalipun terkecoh akan ekspresi datar sang pangeran.


Ada terbersit sedikit kecemburuan di sana.


Sungguh meresahkan. Seandainya saja saat ini Sebastian tidak berada dihadapan sosok pemilik posisi tertinggi negeri Pyralis, Sebastian akan dengan senang hati memberikan peringatan kepada pangeran yang satu itu. Memperjelas bahwa dirinya tidak suka jika ada yang berniat mengancam kedua adiknya yang berharga. Tapi, sayang. Hal itu hanya bisa berdasarkan perandaiannya saja. Sebastian tidak mungkin melakukan hal mengancam tersebut secara terang-terangan. Karena jika Sebastian melakukan kesalahan. Anggota keluarganya yang lain dapat dipastikan juga akan merasakan dampaknya.


"Saya berterimakasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia."


Diizinkannya kedua adik kembarnya belajar sihir, menjadi berita paling melegakan yang hari ini didengar oleh Sebastian. Mengabaikan kecemburuan sang pangeran. Sebastian bersyukur kedua adiknya tetap di izinkan belajar sihir, yang mana, semua orang di negeri ini juga pasti menginginkannya.

__ADS_1


Jadi, yang sekarang harus dipikirkan adalah, bagaimana caranya Sebastian membatalkan pertunangan yang mungkin terjadi antara sang pangeran dengan Elthia.


Biarpun sedikit tidak rela, Sebastian berharap Elthia mendapatkan sosok yang lebih menakjubkan daripada sang pangeran. Sebelum acara pemilihan putri mahkota dilaksanakan, Sebastian berharap adiknya itu sudah menemukan sosok sang pelindung yang selama ini diceritakannya.


__ADS_2