(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
17. Pertemuan


__ADS_3

Langit malam terlihat sangatlah gelap sekarang ini. Bintang yang biasanya bersinar, meredup seolah kehilangan cahayanya. Di bawah naungan sang malam yang tampak berduka. Ada sesosok manusia berdiri dengan pakaian serba hitam miliknya. Angin yang berhembus menerbangkan jubah yang tersampir di bahu kirinya. Sedangkan surainya yang segelap gulita, terlihat berkilauan di tengah tangisan pilu sang awan.


Kepalanya menengadah menatap pilu ke arah sang rembulan yang tertutup badai. Tidak peduli sepedih apapun hasil dari tetesan hujan yang menghujaminya, ekspresinya tetaplah datar. Kulit putih yang kini memucat itu, memberikan warna yang begitu kontras. Seolah menyatu dalam kegelapan, kedua matanya yang berbinar sayu menambahkan kesan yang menyeramkan.


Bibirnya yang kini berwarna pucat, menggoreskan senyum hampa. Menatap jauh ke arah sang rembulan, pikirannya yang menerawang membawanya berkelana jauh entah ke mana.


"Aku akan menyelamatkanmu."


Angin yang berhembus, menerbangkan segalanya. Seolah bertindak sebagai pengantar pesan, angin yang mengelilingi tubuh itu memberikannya sebuah bisikan. Tenang, hangat, juga sekaligus mengancam disaat yang sama. Tepat disaat kedua netra menyala itu menatap ke arahnya, sensasi menyengat terasa di belakang lehernya.


"Jadi, jangan kau pergi dari tempatmu itu berdiri."


Bisikan sedingin salju yang kini berjatuhan itu, serasa sangatlah menusuk. Bagaikan menembus tepat ke jantungnya, tikaman tajam itu tak sekalipun mampu ia hentikan.


Membeku bersamaan memudarnya sosok itu. Pandangannya yang sebelumnya sangatlah jelas, perlahan meredup. Latar berwarna hitam pekat, adalah hal terakhir yang menjadi penutup segalanya.


...°·°·°·°·°·°...


Hari ini adalah hari pertama di mana ia menginjakkan kaki di akademi Secilia. Selama terkurung di dalam istananya yang luas, tak pernah sekalipun ia bisa memperhatikan ekspresi tulus orang-orang ketika berlalu lalang di hadapannya. Wajah ceria disertai tatapan penuh harapan yang ditemuinya, jujur saja membuatnya cukup takjub. Ia tidak menyangka mereka semua bisa bersikap lengah, sedangkan bahaya apa saja bisa menanti dari segala arah.


Benar-benar ceroboh.


Berbeda sekali dengan sosok yang terakhir kali ditemuinya. Anak tertua dari keluarga yang begitu membuatnya iri itu, bahkan tidak sedikit pun memudarkan tatapan tajamnya yang menusuk itu di hadapannya. Seolah mampu membaca hatinya, pandangan dari kedua netra sewarna padang rumput nan luas itu tidak sedikit pun mengandung keraguan.


Seandainya saja, leher sosok itu tidak terbelenggu. Ia yakin sosok itu akan menerkamnya tanpa berpikir panjang. Tanpa sedikit pun memiliki keraguan, sosok itu akan melenyapkannya dari tempatnya berdiri detik itu juga.


"Yang Mulia, apakah Anda ingin menemuinya sekarang juga?"


Asistennya yang baru saja menyelesaikan segala urusan mengenai masuknya ia ke akademi ini, itu, menawarkan sesuatu yang menggiyurkan.


"Haruskah aku menemuinya?"


Tanpa adanya pemberitahuan seperti ini terlebih dahulu, ia yakin gadis itu akan terkejut mengenai kedatangannya.


"Semua tergantung keputusan Pangeran. Saya akan mengikuti apapun kehendak Anda."


Melihat wajah takut salah satu kandidat calon tunangannya itu, sepertinya terasa lumayan menyenangkan. Jadi, ia rasa, ia akan memberikannya kejutan kecil sekarang juga.

__ADS_1


"Tolong tunjukkan jalannya."


Menemukan kedua anak kembar itu di antara banyaknya murid yang ada di akademi ini, tidaklah terlalu sulit. Selama ia sudah mengetahui di mana tempat mereka berada biasanya, menemukan keberadaan dari dua orang pemilik surai mencolok itu sangatlah mudah baginya.


Mirip sekali dengan kakaknya.


Binar keberanian serta tidak sedikit pun mengandung keraguan yang memancar dari kedua netra unik itu, tidaklah bisa dibohongi. Sesuai dugaannya, kedua bersaudara yang memiliki tatapan penuh tekad ini, sangatlah mirip dengan kakaknya.


"Selamat siang, tuan dan nona muda Lucretia."


Evander Kairos Lucretia, serta saudari kembarnya Elthia Sherianne Lucretia. Kedua orang pemilik keberadaan terbesar, serta memiliki pengaruh yang kuat ini, merupakan ancaman terbesar yang bisa melenyapkan eksistensinya.


"Salam hormat bagi bintang negeri Pyralis, Pangeran Luca Alcander Istvan."


Jawaban lantang, serta tatapan tenang yang sedikit pun tidak merasa terancam itu, membuatnya semakin merasa tertarik saja. Kedua anak kecil yang lebih muda beberapa bulan darinya ini, tidaklah bisa dianggap remeh. Cara mereka bersikap, mengatur ekspresi, serta melontarkan kata-kata. Tanpa adanya pelatihan, juga pemahaman yang baik, semua itu tidaklah akan berguna.


Dalam sekali lihat, pun. Luca mampu mengetahuinya. Kedua bersaudara ini memiliki tanda keberadaan yang berbahaya. Sisi mengerikan kedua bersaudara itu tersembunyi dengan baik, dibalik wajah polos keduanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian."


"Jadi, bisakah kalian mengizinkanku bergabung bersama kalian?"


Yah, yang manapun itu. Luca tidak peduli. Tujuannya kesini bukanlah ingin menjatuhkan mereka. Melainkan menikmati kebebasannya, sembari bersenang-senang sekalian mengawasi.


...°·°·°·°·°·°...


"Jadi, bisakah kalian mengizinkanku bergabung bersama kalian?"


Permintaan bernada ramah itu, tidak sedikit pun membuatnya tersanjung. Seberapa sempurnanya pun senyum ramah yang Luca goreskan, Elthia yang sudah mengetahui sebagian dari sifat aslinya, tentu tidak akan tertipu.


"Mohon maafkan kelancangan saya, Pangeran Istvan."


Psyche selaku tokoh utama yang mengadakan pertemuan, menolak secara halus permintaan dari Luca. Senyuman yang Psyche torehkan, tidak kalah menyebalkan dari seringai tipis Rio yang sedang mengejeknya.


"Karena ada hal penting yang harus kami diskusikan bersama, kami tidak bisa mengizinkan Anda bergabung."


Orang luar yang tidak mengetahui apapun seperti dirimu, tidak akan bisa mengikuti kami. Kira-kira, seperti itulah bahasa tersirat yang mampu Elthia tangkap dari senyuman manis nan menipu Pangeran Pysche. Tanpa kedua orang pangeran itu mengeluarkan kata-kata sekalipun, aura persaingan di antara keduanya sudah sangatlah terasa.

__ADS_1


"Baiklah."


Sangat tidak mungkin bagi Luca yang berharga diri tinggi menerima begitu saja penghinaan ini. Dilihat dari lirikan matanya, Elthia yakin pangeran satu itu pastilah sedang merancanakan sesuatu.


"Kalau begitu, bolehkah saya berbicara dengan nona Lucretia ketika kalian sudah selesai?"


Seperti yang sudah Elthia duga. Pangeran yang satu ini, tidaklah akan mengalah begitu saja. Sepertinya, peringatan yang Sebastian berikan padanya melalui surat dua hari yang lalu kepadanya itu, memang benar adanya.


"Karena keluarga kita sudah memberikan sumpah setia kepada yang mulia Raja. Aku yakin, pangeran Luca akan menggunakan segala macam cara untuk mengencangkan belenggunya."


Tidak hanya itu, kakak tertuanya itu bahkan mengingatkan Elthia untuk tidak menurunkan sikap waspadanya. Elthia yakin, Sebastian sudah memperhitungkan ini. Jadi, Elthia yang memang juga tidak bisa menghindar dari suatu hal, yang memang harus ditemuinya. Elthia memilih untuk mengikuti permintaan dari Sebastian, kakaknya. Serta mempercayai informasi yang tidak bisa ditemukan di mana pun, yang tersimpan dengan baik dalam kepalanya.


"Jika dia menginginkan pertemuan secara pribadi denganmu, terimalah. Akan tetapi, jangan sampai kau membiarkannya mengikatmu semakin jauh dalam genggaman seorang Istvan."


Elthia menghela nafasnya pelan. Lirikan dari Rio yang mempertanyakan apa keputusannya itu, ia berikan anggukan.


Aku tidak menyangka hari ini akhirnya akan datang juga.


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


Geraman tertahan dari kedua familiar miliknya, serta saudara kembarnya itu, menambahkan suasana mencekam. Sepertinya, tidak hanya para manusia saja yang bisa merasakan adanya ancaman dari Pangeran Luca. Astrella, serta Astra pun, juga merasa tidak nyaman akan hawa keberadaannya.


"Mohon maafkan saya, karena telah lancang membuat Anda menunggu."


Elthia memperlihatkan ekspresi bersalah yang sangatlah sempurna. Sengaja menundukkan kepalanya, agar kedua matanya terhalang oleh poni panjangnya. Elthia yang mau tidak mau harus menuruti kehendak dari Pangeran Luca, memberikan tatapan tajam, meskipun itu hanya sekilas.


"Tidak masalah, nona."


"Terimakasih banyak atas kemurahan hati Anda, Pangeran."


Elthia memberikan penghormatannya. Kedua mata berbeda warna miliknya, tidak sengaja bertatapan dengan kedua netra merah Luca, ketika pangeran itu hendak meninggalkan mereka.


"Nona bisa menemui kami dengan ini."


Elthia menerima undangan kecil yang asisten Luca berikan. Undangan dengan cap api berbentuk mahkota itu, memanglah benar merupakan lambang milik kerajaan Istvan.


Dia datang di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


__ADS_2