(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
13. Puzzle


__ADS_3

Siapa?


Tidak sekalipun Elthia pernah menemui sosok asing di depannya ini. Walaupun surai berwarna serupa miliknya itu sangatlah mencolok. Elthia tidaklah pernah mengingat, mengenai pertemuannya dengan sosok itu.


Elthia mengetahui bahwa alur cerita sudah sangatlah berubah sekarang ini. Akan tetapi, kedatangan sosok bersurai perak yang menatapnya penuh luka itu tidaklah sekalipun masuk dalam perkiraannya.


"Apa yang kau inginkan?"


Pertanyaan bernada mengancam yang Astrella berikan kepada sosok asing itu terdengar sangatlah mengerikan. Nada yang terlampau tenang itu, jauh lebih menyeramkan daripada nada ramah Astrella yang biasanya.


"Apakah aku harus menjawabnya?"


Walaupun Elthia tidak bisa melihat seperti apa ekspresi yang Astrella pasang sekarang ini. Dari nada suaranya, Elthia bisa menebaknya. Biarpun nada suara Astrella terdengar tenang, ada sedikit kekesalan di sana. Apa yang dilakukan sosok asing itu benar-benar berhasil memancingnya rupanya. Elthia tidak tahu tindakan yang orang itu ambil akan memberikan dampak sebesar itu bagi familiarnya.


"Astrella." Elthia menyentuh lengan Astrella dengan pelan. Keributan yang tidak perlu, tidaklah begitu diinginkannya. "Dia tidaklah terlihat mengancam. Biarkan dia menyampaikan keinginannya."


Biarpun Elthia masihlah belum mengetahui mengapa ekspresi sosok asing itu terlihat terluka ketika melihatnya. Elthia tidaklah merasakan sesuatu yang berbahaya. Selain binar kesedihan yang terdapat di kedua netra perak itu, tidak ada hal lain yang membahayakan dari orang itu. Elthia sedikit pun tidaklah merasakan adanya ancaman. Sebaliknya, daripada merasa terancam, Elthia justru merasa familier. Bisa saja sosok asing di depannya ini membawa suatu jawaban yang tak terduga dari banyaknya pertanyaan yang selama ini ada di dalam benaknya.


"Tapi, nona. Dia terli--"


"Tidak apa Astrella. Aku akan baik-baik saja." Elthia menolak dengan tegas. Pergelangan tangan Astrella ditepuknya pelan.


"Percayalah padaku."


Membaca emosi seseorang melalui binar matanya adalah hal yang biasa baginya. Selama ini, Elthia jarang sekali salah menebak emosi yang tersimpan dibalik tatapan seseorang. Karena alasan itu jugalah, Elthia sekali lagi mencoba percaya dengan firasatnya ini.


Mari kita gunakan keadaan ini dengan baik, Elthia.


Elthia akan memberikan orang itu kesempatan untuk mengutarakan keinginannya. Sedangkan disisi lain, Elthia mencoba untuk memperoleh informasi yang mungkin saja berhubungan dengan keadaannya ini.


"Jadi, bisakah Anda jelaskan maksud kedatangan Anda yang begitu mengherankan ini, tuan?"


Memulai pertanyaan dengan basa-basi di dalam situasi seperti ini, bukanlah hal yang bagus. Tidak mungkin bagi Astrella memasang sikap waspada apabila ia tidak menyadarinya. Elthia sendiri jelas saja juga merasakannya. Biarpun tipis, ada sesuatu yang kini melingkupi ruangan tempat di mana mereka berdua berada sekarang ini.


Sihir ruangan hening.


Sihir yang bisa memblokir keberadaan seseorang dengan orang lainnya di tempat yang sama ini, Elthia yakini adalah sihir yang sosok itu gunakan kepada mereka berdua. Jika tidak, mana mungkin Rio maupun Evander yang berada satu lantai di atas ruang utama perpustakaan ini tidak menyadari keberadaan mereka. Sebagai orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap suatu kejanggalan, sangatlah mudah bagi kakaknya maupun Rio untuk segera menyadari keanehan yang terjadi.


Aku tidak bisa membuang-buang waktu.


Elthia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Memang ini sedikit nekat, akan tetapi membuang kesempatan emas seperti ini bukanlah hal yang bagus. Jika orang di depannya ini bisa menjadi salah satu kunci yang bisa menghubungkannya dengan sang pangeran serta buramnya masa lalu keluarga Lucretia, Elthia tentu semakin tidak bisa melepaskannya begitu saja.


Surai perak bukanlah warna yang bisa ditemukan secara mudah. Melihat betapa miripnya warna rambut mereka berdua, jelas sosok itu entah secara langsung ataupun tidak, juga memiliki hubungan dengan Elthia.


"Sebelum aku mengatakannya, bisakah kau singkirkan orang itu terlebih dahulu?"


Permintaan bernada datar yang sosok itu ajukan, Elthia respon berupa helaan nafas. Sebelum stok kesabaran Astrella menipis, Elthia memperlihatkan senyum tipisnya. Sebisa mungkin, Elthia mencoba meyakinkan Astrella, yang jelas tidak akan bisa menerima hal itu dengan mudah.


"Percayakan ini padaku. Aku akan menanganinya."


Elthia mendahului Astrella yang hendak mengeluarkan protesnya. Mengabaikan wajah cemas Astrella, Elthia berjalan maju. Senyum tipis, masih tertoreh di bibirnya.


"Aku akan memanggilmu jika dia berani macam-macam."


Selesai Elthia mengatakan itu kepada Astrella. Ruangan tempat mereka berdua berdiri tadi seketika berubah. Perpustakaan tempat di mana mereka berada sebelumnya, kini menjadi tempat yang penuh akan kemilau. Layaknya berada di padang rumput nan luas ketika di malam hari. Bintik-bintik kecil serupa kunang-kunang yang berterbangan, menjadi penerangan di antara Elthia dan sosok itu.


"Aku selalu mengawasimu selama ini."


Suasana hening di antara mereka berdua, dibuyarkan lebih dulu oleh sosok itu. Kedua netra peraknya yang menatap lekat, tak sedikit pun lepas dari kedua netra indah Elthia.


"Aku senang kau melakukannya dengan baik."


Melakukannya dengan baik? Apa maksudnya itu?

__ADS_1


Elthia yang masih tidak dapat mengikuti dengan baik arah pembicaraan, hanya bisa terdiam. Alisnya mengkerut heran atas apa yang sosok itu ucapkan padanya.


"Aku yakin kau merasa bingung mengenai ini, kan?"


Surai perak yang sosok itu mainkan, Elthia perhatikan secara seksama. Raut datar sosok itu yang sangatlah sukar untuk dibaca, menimbulkan sedikit kegelisahan dalam benak Elthia.


"Apakah kita memiliki hubungan darah?"


"Kalian tidak sedikit pun memiliki hubungan darah dengan kami."


Kami. Selain sosok itu, masih ada sosok asing bersurai perak lainnya, yang tidak Elthia ketahui. Jika memang mereka tidaklah memiliki hubungan satu sama lain, mengapa ciri fisik mereka memiliki banyak kemiripan? Selain surai perak mereka yang begitu mencolok, aura yang terkesan mendominasi sosok itu jugalah sangat mirip dengan aura yang dimiliki setiap keturunan keluarga Lucretia.


"Waktu yang kita miliki tidaklah terlalu banyak. Menceritakan asal mula warna rambutmu itu, bukanlah tujuanku membawamu kemari."


Dengusan pelan dari sosok itu, Elthia balas berupa senyum remeh. "Kau bahkan belum memperkenalkan dirimu." Hal yang wajar jika seseorang yang ingin menyampaikan suatu hal, memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Tanpa adanya perkenalan, jelas hal itu justru akan membuatnya semakin buruk. Sudah datang dengan cara tidak sopan, dan sekarang malah tidak memperkenalkan dirinya sendiri. Elthia tidak menyangka jika sosok di depannya ini lebih memilih untuk dicurigai sebagai orang yang berbahaya daripada dianggap rekan yang berharga.


"Tristan. Kau bisa memanggilku begitu."


"Aku yakin kau juga sudah mengetahui tentangku. Jadi, kita bisa persingkat perkenalan ini, kan?"


Di sini, hanya Elthia sajalah yang tidak mengetahui apapun. Mempersingkat waktu yang ada, jelas jauh lebih baik. Elthia tidak bisa membuat Astrella yang sedang menunggunya merasa lebih cemas dari ini.


"Bahkan sikap tidak sopanmu ini mirip sekali dengannya."


"Kau mengatakan sesuatu?" jauhnya jarak di antara mereka berdua, membuat Elthia tidak bisa mendengar gumaman lirih Tristan dengan jelas. Elthia menatap kedua netra perak yang memperhatikannya secara seksama itu. Segaris senyum tipis yang mampu ditangkapnya dari Tristan, Elthia balas berupa senyum datar.


"Berhati-hatilah dengan laki-laki yang memiliki mata berwarna merah."


Peringatan yang diberikan Tristan secara tiba-tiba itu, lumayan membingungkan. Elthia kira, sosok itu ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting. Namun, sepertinya hanya dirinya saja yang terlalu berharap.


"Aku rasa, itu sudah terlambat."


Sangat, sangat terlambat. Elthia bahkan sudah menjadi murid dari sosok bermata merah tersebut.


Ekspresi terkejut yang Tristan perlihatkan sekarang ini, seketika membuyarkan kesan dingin miliknya. Elthia kira, Tristan adalah orang dengan sikap yang cuek dan sulit didekati. Namun, siapa sangka dia justru merupakan sosok yang lumayan konyol?


"Memangnya kenapa jika aku bertemu dengannya?"


"Dia akan merepotkanmu."


Elthia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Jawaban tanpa sedikit pun mengandung keraguan itu, dibenarkan olehnya di dalam hati. Memang benar, Rio merupakan sosok yang pintar dan bertanggung jawab. Namun, selama berada di sisinya, Elthia lumayan direpotkan oleh penjelasannya yang terlampau singkat, serta praktek tak terduga yang seringkali diberikannya.


"Apakah kau sudah mengetahuinya?"


"Mengetahui apa?"


"Mengenai mata merah yang terkutuk."


Menganggukkan kepalanya, Elthia menjawab. "Aku sudah mengetahuinya."


"Karena kau sudah mengetahuinya, ini menjadi jauh lebih mudah."


Tristan melangkah. Jarak di antara mereka berdua, sedikit diperpendek olehnya.


"Berhati-hatilah dengannya. Apa yang disembunyikan olehnya jauh lebih besar dari apa yang kau duga."


Bisikan penuh peringatan itu, mengalun begitu lancarnya di telinga Elthia. Begitu jarak di antara mereka berdua tercipta, tatapan ramah Elthia berubah. Elthia menatap dasar sosok Tristan, yang juga menatap datar dirinya.


"Aku rasa, kau tidak berhak mengatakan itu."


Elthia memperhatikan penampilan Tristan. Rambut perak yang ikal, serta dua netra perak yang memperindahnya. Walaupun Tristan memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Sebastian, kakaknya. Elthia yakin, wajah yang kelihatan muda itu, tidaklah semuda seperti apa yang terlihat.


Aku yakin, dia jauh lebih tua dari ayahku.

__ADS_1


Seorang penyihir memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada manusia yang tidak memiliki sihir. Selain umur mereka sedikit lebih panjang, dalam batas umur tertentu, fisik seorang penyihir tidaklah terlalu cepat menua. Bahkan, dalam hal tertentu, tidak selayaknya manusia normal, pertumbuhan seorang penyihir bisa saja berhenti.


"Kau mendatangiku dengan tatapan seolah kau sudah menantikan kedatanganku sekian lamanya."


Walaupun itu hanya sekilas, ekspresi Tristan yang berubah murung, jelas membuktikan bahwa laki-laki itu mengetahui sesuatu.


Aku harap, informasinya bisa membantuku.


Biarpun informasi itu tidak bisa membawa Elthia kembali ke dunianya. Setidaknya, hal itu bisa membantu Elthia memecahkan teka-teki dari alur cerita yang sudah berubah.


"Katakan padaku. Apa yang sebenarnya kau ketahui."


Tidak mungkin bagi Tristan bisa memperlihatkan ekspresi itu, jika memang benar ia tidak mengetahui sesuatu. Elthia yakin, paling tidak, ada suatu hal yang bisa menjadi pemicu, yang memiliki hubungan dengan Elthia.


"Tidak hanya cerdas, kau juga mampu menekan orang lain."


Suara asing yang tiba-tiba bergabung, membuat Elthia terdiam. Sosok berambut perak lainnya yang muncul dari belakang Tristan, ditatap olehnya.


"Tidak salah aku menjemputmu."


Rambut perak panjang yang sosok itu miliki, bergerak mengikuti hembusan angin nan lembut. Senyum tipis yang sosok itu perlihatkan entah mengapa terasa sangatlah familier dalam penglihatan Elthia.


"Apakah kau yang membawaku kemari?"


Diamnya sosok itu atas pertanyaan yang Elthia ajukan, tidaklah terlalu menyenangkan. Elthia tidak bisa menyimpulkan begitu saja disaat dirinya sendiri masihlah belum terlalu yakin. Tanpa adanya bukti yang kuat, Elthia tidak bisa menebak siapa sosok sebenarnya, yang sudah melibatkannya di dalam cerita ini. Memang sosok di depannya ini sangatlah mencurigakan. Namun, walaupun begitu, apa yang dikatakan sosok itu adalah suatu hal yang terduga. Elthia yakin, apa yang diucapkan sosok itu tadi, hanyalah sebagian kecil dari informasi yang dimilikinya. Gelagat mencurigakan itu, tentu bukanlah sebuah gerakan percuma. Jika sosok itu bisa berdiri di depannya seperti ini dengan penuh percaya dirinya. Bisa disimpulkan, bahwa sosok itu masih memiliki banyak hal yang disembunyikannya dari Elthia.


Namun, tidak menutup kemungkinan jika Rio jugalah orang yang membawaku kemari.


Mempertimbangkan keberadaan Rio yang juga sama mencurigakannya. Sedikit sulit bagi Elthia untuk mencapai kesimpulan. Entah itu Rio, Tristan, maupun sosok berambut perak panjang yang kini berdiri di hadapannya. Ketiga laki-laki ini, memiliki masing-masing kepingan jawaban yang dicarinya. Walaupun setiap informasi yang didapatnya dari ketiga orang itu tidaklah terkesan memiliki hubungan satu sama lain. Tetap saja, kunci jawaban yang mereka bawa lumayan memberikan pengaruh kepada alur cerita yang ada.


"Apakah kau merasa nyaman di sini?"


Jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya sebelumnya, jelas dunia tempatnya berdiri sekarang ini jauh lebih baik. Walaupun banyak juga kenangan indah yang Elthia miliki di tempatnya yang dulu, apa yang Elthia dapatkan di tempat ini tentu juga sangatlah berharga.


"Aku bersyukur, aku terbangun di tempat yang aman." Elthia memperhatikan ekspresi sosok berambut perak panjang itu. Tidak seperti Tristan yang membungkam setelah kedatangannya. Wajahnya yang terlihat ramah justru jauh lebih mencurigakan.


"Hanya saja, ramalan mengenai kematian yang menanti sedikit mengganggu."


"Ah... akhir tragis itu, ya."


Entah ini hanya perasaan Elthia saja, atau memang sosok itu mencoba menghindar. Pembicaraan yang tiba-tiba dialihkan terkesan seolah-olah, sosok itu mencoba menahan Elthia untuk mengorek informasi lebih jauh darinya.


"Senang melihatmu baik-baik saja, nona."


Sosok itu menundukkan sedikit kepalanya. Sikap penghormatan yang ia berikan, sangatlah berbeda dari Tristan. Jika sebelumnya Tristan memperlakukan Elthia seolah sudah menemukan sosok yang begitu dirindukannya, perlakuan yang sosok itu berikan benar-benar menghormati. Tidak ada sedikit pun keraguan Elthia temukan dari kedua matanya yang jugalah berwarna perak.


"Sebenarnya aku ingin berbicara lebih lama denganmu. Tapi..."


Elthia yakin matanya baru saja berkedip. Akan tetapi, sosok yang sebelumnya berjarak lumayan jauh darinya itu, kini berdiri tepat di depannya. Kehadirannya yang begitu mendadak, serta wajah mereka yang terlalu dekat, membuat Elthia tidak bisa berkutik. Tidak mau mengikuti pikirannya, tubuh Elthia terdiam kaku. Gerakannya yang biasanya refleks, terhenti seketika. Elthia yakin, dirinya sedang dimantrai sekarang ini. Jika tidak, tentu Elthia tidak akan membiarkan sosok asing itu mendekatinya dengan wajahnya yang menyebalkan itu.


"Masih terlalu cepat memberitahu segalanya padamu."


Elthia secara refleks menutup matanya ketika kedua jari sosok itu mendekat ke arahnya. Dahinya yang disentil lumayan keras, membuatnya meringis.


"Nah. Sekarang bangunlah."


Ah. Aku lengah.


"Mereka semua sangat mengkhawatirkanmu."


Elthia menatap kesal sosok itu. Senyumnya yang menyebalkan adalah hal terakhir yang mampu ia lihat sebelum kehilangan kesadarannya.


Dia mempermainkanku.

__ADS_1


__ADS_2