(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
19. Pangeran Negeri Pyralis


__ADS_3

Berdiri berhadapan dengan sosok yang suatu saat nanti bisa saja menyingkirkan dirinya, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Walaupun masih ada berbagai macam kemungkinan yang terjadi. Elthia tentu, jugalah harus bersiap akan kemungkinan terburuk yang bisa saja ditemuinya.


Sebenarnya, jika bisa, Elthia menginginkan akhir dimana dirinya dan Pangeran Luca bisa berteman baik tanpa adanya perselisihan. Namun, mengingat sifat Pangeran Luca yang bisa dibilang lumayan buruk, kemungkinan harapan Elthia dapat terkabulkan sangatlah tipis.


Mau seberapa manisnya pun senyum yang Luca torehkan. Elthia tidak sekalipun menemukan ketulusan dibaliknya. Daripada menemukan kesan ramah, Elthia justru merasakan ancaman secara tidak langsung dari tatapan kedua mata berwarna merah menyala itu.


Netra merah itu, memiliki kesan yang berbanding terbalik dengan kedua netra berbeda warna miliknya. Jika warna kedua mata Elthia memberikan kesan sejuk nan menenangkan. Maka, kesan dari kedua netra merah Luca, bagaikan bara api nan membara.


"Sepertinya, kalian berdua memiliki hubungan yang baik, ya?"


Basa-basi yang Luca lontarkan tepat setelah Elthia memberikan salam itu, terdengar menusuk. Peringatan halus seolah Luca tidak menyukai akan kehadiran sosok tak terduga di belakang Elthia itu, mampu ditangkap dengan baik oleh Elthia maupun Pysche yang ikut mengekori.


"Nona Elthia orang yang menyenangkan. Selama berteman dengannya, aku menemukan banyak hal menarik." Jawab Pysche, disertai senyum tipisnya. Kehadirannya yang datang tanpa diundang ini, tidaklah bisa dipermasalahkan sebab pertemuan yang terjadi di akademi bukanlah suatu pertemuan yang bersifat pribadi. "Selain terlihat sempurna sebagai seorang bangsawan. Kejeniusan Nona Elthia sebagai penyihir jugalah luar biasa."


"Aku senang Nona Lucretia bisa menggunakan anugerah yang didapatkan dengan baik."


"Pujian yang Anda berikan terlalu berlebihan, Yang Mulia."


Menyombongkan diri didepan Luca biarpun itu hanya bercanda, bukanlah hal yang bagus. Mengikuti saran yang Rio berikan, tidaklah akan dilakukannya. Selama ada pilihan lain, Elthia tidaklah akan mengambil tindakan yang memiliki banyak resiko, seperti menjatuhkan harga diri seorang Luca.


"Aku dengar, kalian berdua akan berulang tahun sebentar lagi."


Tidak terasa, sudah hampir satu tahun sejak pindahnya Elthia ke akademi Secilia. Ulang tahun mereka yang tinggal dua bulan lagi, sejujurnya tidaklah begitu dinantikannya. Disaat Elthia dan Evander berusia sepuluh tahun, alur di dalam cerita baru saja bermula. Biarpun kini Elthia sudah memberikan banyak penyimpangan. Alur yang ada saat ini tidaklah begitu memberikan dampak mengejutkan.


Selain mendapatkan kekuatan sihir terlebih dahulu, serta bisa belajar dalam mengendalikannya. Ikatan yang mengekang keluarga Lucretia tidaklah berubah. Selama Elthia belum mendapatkan pasangan. Posisi Elthia sebagai kandidat calon putri mahkota negeri Pyralis yang terkuat, tidaklah bisa dilepaskan begitu saja.


"Itu benar, Yang Mulia."


Sudah hal yang biasa bagi para bangsawan mengadakan pesta besar-besaran disaat ulang tahun mereka. Pesta tempat dimana banyak orang bertemu itu, sebenarnya merupakan ajang dimana orang-orang menunjukkan kelebihan mereka, serta membangun sebuah kelompok yang bisa memberikan keuntungan satu sama lain.


Walaupun pesta ulang tahun Elthia dan Evander bisa dibilang, pesta yang diadakan khusus bagi anak kecil. Setiap orang dewasa yang diundang, tentu jugalah akan hadir. Disaat seperti itu, jelas semua anggota Lucretia menjadi pusat perhatian. Apalagi jika pesta itu dihadiri khusus oleh anggota kerajaan. Semua perhatian yang tertuju, jelas tidak akan berhenti meskipun pesta itu sudah selesai sekalipun.


"Apakah aku boleh menjadi pasangan dansamu, di pesta nanti?"


Tujuan dari permintaan Luca ini, tidak lain adalah ingin menunjukkan secara tidak langsung bahwa ia akan memilih Elthia, karena Elthia merupakan kandidat terkuat untuk menjadi pasangannya nanti. Menyebarkan rumor bahwa ia sudah menetapkan pilihannya di hadapan para bangsawan, akan membawa dampak besar di mana keluarga Lucretia sendiripun tidak akan bisa menolaknya. Elthia akui, rencana itu sejujurnya lumayan memberikan keuntungan yang besar bagi keluarga Lucretia. Tidak akan ada sembarang orang yang bisa mengganggu keluarga Lucretia.


Elthia tidaklah buta. Membiarkan Luca menegaskan pilihannya, adalah hal yang paling tidak ingin dibiarkannya menjadi kenyataan. Menjadi tunangan Luca tidaklah akan memberikannya kebebasan. Sebaliknya, daripada merasa bebas karena tidak ada seorang pun bangsawan bisa mengganggunya, Elthia justru terkekang oleh kuasa mutlak yang mengikat dirinya.


Putri mahkota. Posisi itu tidaklah bisa diberikan begitu saja pada sembarang orang. Untuk mendapatkan posisi itu, ada banyak halang rintangan yang harus dilewati. Sesuai dengan sebutannya. Posisi 'putri mahkota' merupakan pemilik keberadaan tertinggi, dimana semua tindakan yang diambil selalu saja tidak jauh dari pengawasan setiap pasang mata.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa menjadikan Anda sebagai pasangan dansa."


Selain karena kakak tertuanya Sebastian sudah berjanji akan menjadi pasangannya. Alasan Elthia menolak tawaran yang begitu menggiurkan bagi banyak orang ini, jugalah karena tidak bisa membiarkan posisi mereka menjadi terkekang lebih jauh lagi. Elthia ingin mencari perhatian. Namun, tidak dengan cara terkesan mengemis seperti ini. Elthia ingin membangun kepercayaan dengan kekuatan serta usahanya sendiri. Tidak dengan bantuan Luca, ataupun dengan cara menjatuhkan harga dirinya di saat seperti ini.


"Sayang sekali. Sepertinya, aku kalah cepat, ya?"


Lirikan Luca yang mengarah kepada Pysche, Elthia ikuti. Karena sekarang Elthia datang bersama Pysche. Sepertinya Luca salah mengira bahwa sosok yang akan menjadi pendamping Elthia nanti adalah Pysche.


Kesalahpahaman yang luar biasa.


Sekarang, Elthia tahu mengapa Rio menyeringai begitu mengerikan tepat setelah meminta Pysche untuk ikut dengannya. Ternyata, situasi seperti ini yang diincarnya.


Yang benar saja.


Sebagai pemandu Elthia, sekaligus pengawal pribadi Pysche. Rio memiliki banyak sekali campur tangan mengenai kedekatan mereka berdua. Tanpa adanya sikap kurang ajar dari Rio. Elthia serta Pysche tentu tidaklah akan bisa sedekat ini. Berkat beberapa situasi yang Rio buatkan, Elthia dan Pysche menjadi semakin dekat dari waktu ke waktu.


"Mohon maafkan atas penolakan yang saya berikan, Yang Mulia."


Pemaksaan yang Elthia terima secara berat hati dari Pysche serta Rio, tidak disangka akan memiliki dampak luar biasa. Awalnya, Elthia keberatan. Karena menemui Luca seorang diri, jauh lebih nyaman daripada membawa serta orang lain. Namun, karena Pysche juga terlihat menikmati situasi tak terduga yang kini sudah terjadi, Elthia jadi tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


"Karena masih ada banyak pesta yang mungkin saja kita hadiri bersama, aku bisa saja mengajakmu lain kali."


Senyum ramah yang Luca torehkan, tidak sedikit pun memberikan kelegaan bagi Elthia. Semakin ramah Luca, justru semakin terkesan berbahaya pula dirinya di hadapan Elthia.


"Aku harap, kau tidak menolaknya lagi nanti."


Lain kali, aku ingin kau menjadi pasanganku.


Kira-kira, begitulah bahasa tersirat yang mampu Elthia tangkap dari apa yang Luca katakan padanya.


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


"Bisakah kau membiarkan kami berbicara berdua saja?" pinta Luca kepada asistennya, sekaligus mengusir secara halus Pysche. Keberadaan Pysche yang tak terduga itu, jelas terasa sangatlah mengganggu bagi Luca.


"Tolong jangan terlalu lama, ya?"


Tepukan pelan Pysche di kepalanya, berhasil mengejutkan Elthia.


"Karena ada hal yang harus aku diskusikan juga dengannya."


Elthia memperhatikan kedua netra emas yang terlihat berkilauan itu. Pangeran dari negeri Yodea ini selalu saja berhasil mengejutkan Elthia mengenai tindakan yang diambilnya.


"Apakah itu mendesak?"


"Tidak terlalu juga sih." Pysche memperhatikan ekspresi penuh tanda tanya Elthia. Kedua netra indah yang menatapnya penuh rasa penasaran itu, merupakan tatapan yang paling Pysche sukai dari Elthia.


"Aku hanya tidak ingin meninggalkannya terlalu lama."


Sepertinya, Elthia tahu mengapa kedua pangeran yang ada di hadapannya ini terlihat berbanding terbalik satu sama lain. Selain ciri fisik yang begitu kontras, sifat mereka yang sangatlah berbeda itu menjadi penyebab lain mengapa kedua pangeran itu terlihat tidak akur, seolah bersaing.


Kejujuran Pysche merupakan musuh alami bagi seorang pembohong seperti Luca. Maka, hal yang wajar jika mereka saling berselisih paham seperti saat ini.


"Kau sama sekali tidak berubah."


"Apakah menggoda perempuan sekarang menjadi hobi barumu?"


"Waaah... kata-katamu itu kasar sekali, Pangeran Luca."


Daripada tersinggung, Elthia lebih melihat rasa tertantang di dalam nada ucapan Pysche barusan. Sikap santai seolah-olah menikmati, oleh Pysche atas kata-kata hinaan itu, sama sekali tidak bisa Elthia pahami.


Apakah karena terbiasa, ya?


Kebiasaan mendengar hinaan atau kata kasar seringkali membuat orang yang bertelinga tebal menjadi terbiasa. Untuk Pysche yang bersifat tidak suka memasukkan suatu hal yang di dengarnya ke dalam hati. Sebenarnya, kata-kata itu termasuk tidak pantas untuk dibiarkan begitu saja. Terutama dianggap sebagai suatu hiburan seperti kini.


"Setidaknya bukankah aku lebih baik daripada dirimu?"


"Tolong jangan samakan aku dengan dirimu, Pangeran Pysche."


Adu mulut dari kedua pangeran masih saja berlanjut. Elthia yang berada di tengah keduanya, hanya bisa diam memperhatikan. Biarpun Elthia mengetahui inti permasalahannya. Itu tidak berarti Elthia bisa ikut campur begitu saja dengan perdebatan kedua pangeran ini.


"Aku akan mengembalikannya. Jadi, pergilah. Dan, jangan lupa untuk tidak menguping!"


Luca memilih untuk menghentikan perdebatan. Melawan Pysche tidaklah akan berakhir cepat, jika Luca tetap melanjutkannya. Karena pangeran negeri Yodea itu merupakan lawan terumit yang pernah Luca miliki


"Kau sudah berjanji, ya~"


Sikap kelewat santai Pysche, tidak bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan. Karena Pysche tidak terlalu suka mengambil pusing setiap apapun yang orang lain katakan tentangnya, sebagai orang yang suka memprovokasi, Luca hanya bisa membiarkannya saja.


"Dasar menyebalkan."

__ADS_1


Ya, Elthia akui, terkadang Pysche jugalah bisa bersikap menyebalkan dengannya. Beruntungnya, sisi menyebalkannya itu masih berada dalam tahap wajar jika dibandingkan dengan sifat menjengkelkan Rio. Jadi, Elthia bisa memahami kekesalan yang tengah dirasakan oleh Luca kini.


"Maaf karena sudah memperlihatkan sikap yang memalukan, Nona Lucretia."


"Ah, tidak. Maafkan saya karena sudah lancang mengajaknya tanpa persetujuan Anda."


Mau bagaimanapun juga, disini Elthia-lah sebenarnya yang salah. Seharusnya, ia menolak paksaan Rio serta Pysche lebih keras lagi. Jadi, ia tidak akan membuat situasi aneh seperti ini. Seberapa buruknya pun Luca di dalam cerita, yang kini ada di hadapannya. Elthia tetap harus menghormatinya. Mengajak orang lain tanpa adanya persetujuan, tentu itu adalah sikap yang harus ia hindari agar nama keluarganya tetap terjaga dengan baik.


"Mohon maafkan sikap tidak sopan saya ini, Yang Mulia."


"Sejak kapan kalian saling mengenal?"


Elthia mengikuti arah pandang Luca. Kedua netra merah yang memperhatikan secara seksama sosok Pysche yang berdiri mengawasi mereka dari kejauhan itu, terlihat sedikit kesal.


"Tidak terlalu lama setelah saya dan saudara saya masuk ke akademi ini."


Entah ini pengaruh dari alur yang ada, atau karena perubahan yang ia lakukan. Elthia tidak sedikit pun merasa gugup ataupun takut ketika berbicara berdua bersama Luca. Sebaliknya, daripada merasa takut, Elthia justru merasa prihatin. Untuk ukuran anak yang seumuran dengannya. Luca terlihat rapuh biarpun kedua matanya tidak sedikit pun memancarkan binar keraguan.


Sebenarnya, mengapa dia bisa menjadi seperti ini?


Di dalam cerita, masa lalu Luca yang tidak disinggung sedikit pun itu, membuatnya mendapatkan banyak cemooh dari para pembaca. Sikapnya yang tidak suka melihat orang lain jauh lebih unggul darinya sehingga menyingkirkan 'Elthia' sang tokoh utama wanita itu, menjadi terkesan sengaja dibuat seolah-olah agar Luca bisa dibenci begitu cepat, tanpa mendapatkan sedikit pun rasa simpati.


Yah, memang awal mulanya, Elthia membenci Luca yang membawakan kematian datang menemuinya. Namun, setelah melihat langsung sosok sang pangeran itu dari dekat. Kebencian itu langsung menguap, hilang begitu saja.


Mau dilihat darimana pun, Luca tetaplah seorang anak kecil seusia dengannya. Terlepas dari sikap kejamnya yang tidak pilih kasih, fakta bahwa Luca masih anak kecil jugalah tidak bisa ditampik.


"Apakah berteman dengan anak itu menyenangkan?"


"Maaf?" pertanyaan ambigu Luca, sedikit membingungkan. Anak mana yang Luca maksud, Elthia tidak bisa menebaknya.


"Pangeran Yodea, Pysche."


Kilauan dari netra merah yang terkena pantulan cahaya matahari, ternyata tidaklah semenyeramkan yang Elthia kira. Daripada api yang membara, entah mengapa Elthia justru melihat setitik api kecil yang kesepian dibalik kedua netra merah yang kini menatap lekat dirinya itu.


"Apakah Pangeran... juga ingin berteman?" perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Elthia. Sorot terkejut Luca yang didapatkannya sebagai respon, membuatnya tersadar.


"Aku tidak tertarik berteman dengan siapa pun."


Jawaban penuh keangkuhan itu, tidak sekalipun terdengar ragu. Elthia menelisik binar kedua netra merah Luca. Emosi yang tersembunyi di baliknya, coba ia temukan.


"Begitu, ya."


Memaksakan pemikirannya kepada orang lain, bukanlah hal yang baik. Jadi, daripada mencampuri sesuatu hal yang tidak seharusnya, Elthia lebih memilih untuk tidak mengusiknya.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan sihir?"


Haruskah aku menjawab pertanyaan yang satu ini?


Diamnya Elthia, menyebabkan suasana menjadi tidak nyaman. Angin berhembus menerbangkan rambut keduanya. Kedua pasang netra yang memiliki warna saling berlawanan itu, memperhatikan satu sama lain dalam keheningan.


"Apakah Yang Mulia juga menginginkannya?"


"Ya. Aku menginginkannya."


Sepertinya, Elthia akan menarik rasa simpatinya yang sempat muncul barusan. Pangeran negeri Pyralis yang ada di hadapannya ini sudah benar-benar tidak tertolong lagi.


Tidak. Bukan tidak tertolong. Melainkan, tidak dapat diubah lagi. Perkiraan Elthia mengenai sifatnya ini karena pengaruh lingkungan, meleset jauh. Hati milik Pangeran Luca, sudah lama tercemar. Kehilangan satu-satunya titik cahaya kebaikan hati yang ada.


"Jadi, bisakah kau memberikannya padaku?"

__ADS_1


Aku menginginkannya. Karena itu adalah hal pasti, yang aku saja boleh memilikinya.


Bukan salah lingkungan kenapa Luca menjadi menyebalkan. Melainkan, karena sudut pandang yang Luca lihat mengenai dunia itu sendirilah yang membuatnya terjatuh ke jalan yang salah.


__ADS_2