(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
3. Kejadian tak terduga


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu tanpa terasa. Novella yang sekarang sudah berubah menjadi sosok Elthia, memanfaatkan tiap waktu yang berlalu dengan baik. Karena keluarga Lucretia merupakan bangsawan yang memiliki posisi tinggi. Tidak sulit baginya untuk mendapatkan informasi dalam waktu satu bulan belakangan ini.


Tempat yang begitu disukai olehnya itu tidaklah bisa dibandingkan dengan apapun yang pernah dia miliki di kehidupannya yang dulu. Tempat yang terasa bagaikan kenikmatan surgawi ini sudah menjadi tempat favorit yang begitu digemari olehnya untuk selalu didatangi. Sebagai seseorang yang sangat menyukai buku. Ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat perpustakaan pribadi yang dimiliki oleh keluarga Lucretia.


Banyaknya buku yang tersusun rapi di dalam setiap rak di ruangan yang super besar itu, tidak sedikit pun membuatnya merasa bosan untuk selalu mendatanginya. Setiap kali melihat buku yang tersusun di dalam perpustakaan. Elthia--Novella--tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdecak penuh kegirangan. Rasanya menyenangkan ketika dirinya bisa merasakan kenikmatan tiada tara yang selalu diidamkan dirinya sedari dulu ini.


Aroma harum yang menguar dari kertas setiap buku yang dibaca olehnya, tidak sedikit pun membuatnya merasa jengah. Sebaliknya, setiap kali dirinya membaca, aroma nan harum itu justru menjadi candu baginya. Elthia merasa begitu ketagihan untuk membaca lebih banyak lagi. Rasanya, seperti buku itu sendiri yang memintanya untuk terus berada di sisinya.


"Kakak tahu, kau itu sangat suka membaca. Tapi, tidakkah akhir-akhir ini kau terlalu berlebihan, dan terlalu memaksakan diri?"


Komentar penuh rasa cemas yang ditujukan baginya itu membuat Elthia mengalihkan perhatiannya. Ia menunjukkan senyum kecil begitu matanya sudah menatap langsung kedua netra hijau sosok di sampingnya.


"Kakak tenang saja. Aku beristirahat dengan cukup, kok."


"Jangan berbohong, Elthia." Jawab sosok tersebut seraya mengambil buku yang kini tengah dibaca Elthia. Buku itu ia simpan dibawah lipatan tangannya ketika Elthia mencoba merebutnya kembali.


"Lihatlah wajah lelah berkantong mata ini."


Tangan besar yang menangkup pipinya, tidak Elthia tepis. Wajahnya yang dielus pelan, sudah menjadi hal yang biasa baginya.


"Apa kau kesulitan tidur akhir-akhir ini?"


Elthia menghela nafasnya. Kedua tangan yang sedari tadi menempel di pipinya itu ia turunkan. "Aku selalu bermimpi buruk," ujarnya menjawab dengan jujur. Wajah yang sebelumnya terasa asing namun sekarang adalah hal yang biasa baginya itu, Elthia perhatikan. Semenjak ia memutuskan untuk menjadi dirinya yang baru seutuhnya. Ia memilih untuk menjadi sosok yang selalu dia bayangkan seandainya memiliki keluarga. Jadi, karena Elthia di dalam cerita jugalah termasuk orang yang jujur terhadap perasaannya sendiri. Ia bisa membuka hatinya tanpa ragu terhadap orang-orang yang kini menjadi sangat berarti baginya.


"Di suatu tempat yang gelap. Aku disiksa seorang laki-laki."


Kenangan yang terputar sebelum dirinya terlempar ke dunia ini, terasa begitu menyesakkan. Namun, semua itu masih lah belum sebanding dengan mimpi buruk dari alur cerita yang menghantuinya akhir-akhir ini. Dengan diamnya sang kakak tanda ia mendengarkan, itu menjadi dorongan semangat secara tidak langsung bagi Elthia. Ia suka dengan perhatian yang diberikan oleh kakak tertuanya. Rasanya menyenangkan karena memiliki orang yang begitu menyayanginya setulus hati dan selalu berada di sisinya seperti Sebastian, Evander, serta seluruh penghuni kediaman Lucretia ini.


"Semua orang terbaring dengan tubuh yang bersimbah darah. Menyisakan diriku seorang yang hanya mampu menatap ngeri segalanya."


Genggaman lembut yang diberikan Sebastian sebagai bentuk penguatan, dibalas olehnya. Segala keresahan yang dipendam olehnya sebagai Elthia selama ini, ditumpahkannya melalui cerita. "Tidak ada yang bisa aku lakukan. Sebagai satu-satunya orang yang tersisa, aku dituduh melakukan pemberontakan dan dijatuhi hukuman mati."


"Apakah laki-laki itu yang melakukannya?"


"Iya. Dia yang melakukannya."


Sebuah pelukan yang tiba-tiba diberikan Sebastian cukup mengejutkannya. Elthia mencoba melepaskan dirinya. Namun, bukannya melonggarkan pelukannya, Sebastian justru semakin mengeratkannya begitu Elthia memberontak karena tidak terbiasa dengan kelakuannya ini.


"Biarkan saja seperti ini," bisiknya. Kepala bersurai perak miliknya yang dibenamkan di bahu, membuat Elthia berjengit. Sensasi menggelitik ketika surai perak itu menyentuh kulitnya, entah mengapa tidak terasa mengusik.


"Kakak mendengarkanmu. Kau bisa melanjutkan ceritanya."


Elthia terdiam. Ia tidak langsung menuruti. Aroma citrus yang menguar dari rambut serta tubuh Sebastian, memberikan sensasi menenangkan yang menakjubkan. Elthia memejamkan matanya. Sebelum melanjutkan kembali ceritanya, ia mengambil nafasnya terlebih dahulu, lalu menghembuskannya secara perlahan. Setelah merasa sedikit baikan, dia kembali berkata. "Laki-laki itu melemparkan segala kesalahan yang diperbuatnya kepadaku. Sebagai ganti dirinya, aku menanggung setiap hasil perbuatannya yang sama sekali tidak pernah aku lakukan."


Entah ini pengaruh dari pelukan Sebastian yang begitu hangat dan nyaman. Atau karena ia sudah tidak mampu menahan segala kegelisahannya lagi. Elthia tidak bisa menahan luapan airmatanya begitu elusan menenangkan terasa dibalik punggungnya.


"Senyumanya ketika kepalaku hendak dipenggal sangatlah mengerikan. Ketika melihat itu, aku..."


"Sssstttt.... tenanglah, kakak ada disini."


Paham akan apa yang menahannya. Sebastian tidak memintanya untuk meneruskan ceritanya lagi. Sebagai gantinya, Sebastian membiarkannya menangis. Menumpahkan setiap beban yang terasa menggerogoti hati. Meluapkan segala ketakutan yang selalu menghantuinya belakangan ini.


"Kakak ada disini. Jadi, jangan takut lagi, ya?"


Elthia menganggukkan kepalanya. Apa yang menjadi beban pikirannya selama ini, ia curahkan. Elthia membiarkan semua hal itu mengalir dengan sendirinya. Layaknya air sungai, ia membiarkan segalanya bergerak secara alami.


Terimakasih... kakak.


°·°·°·°·°·°


Karena di dalam cerita tidak dijabarkan mengenai negara tetangga. Elthia mencari tahu sendiri dengan membaca begitu banyak buku. Dan ia mengetahui bahwa ternyata, tidak hanya Kerajaan Istvan saja yang ada di benua ini.


Benua Lucinda tempat para kaum manusia berkekuatan magis tinggal. Memiliki tiga negeri, dengan masing-masing dari mereka dipimpin oleh seorang Raja. Kerajaan Istvan memimpin sebuah negeri yang bernama Pyralis. Negeri ini terletak di bagian selatan benua. Sedangkan dua kerajaan lainnya, berada di daerah timur serta barat.


Di daerah timur, ada sebuah negeri yang bernama Antares. Negeri kaum manusia yang terkenal akan kekuatan sihir gelapnya itu, dimiliki oleh kerajaan Ambrogio. Kerajaan Eleftharia memimpin di bagian barat benua ini. Negeri tempat mereka tinggal bernama Yodea.


Sebagai satu-satunya negeri yang tidak terkena kabut gelap seratus tahun yang lalu. Kerajaan Eleftharia tidak kehilangan kekuatan magis mereka. Sebagai satu-satunya negara yang memiliki kekuatan dahsyat, tentu kerajaan Elefthria menjadi lebih mengancam bagi kedua kerajaan lainnya.


Hubungan ketiga pemimpin sebelum tradegi kabut gelap terjadi, sebenarnya sangatlah baik. Tidak ada permusuhan di antara mereka. Bahkan, untuk hal yang sepele sekalipun.


Namun, tidak seperti kerajaan Istvan yang memilih untuk tetap menjaga perdamaian dan menerima dengan lapang dada mengenai apa yang sudah terjadi. Raja kerajaan Ambrogio yang tidak terima karena telah kehilangan kekuatannya, mencabut simbol perdamaian yang sudah berusia lima ratus tahun lamanya.


Menjadikan dua kerajaan sekaligus sebagai musuh sebenarnya sangatlah buruk. Tapi, karena raja Ambrogio sudah buta terhadap kekuatan, ia tidaklah begitu memperdulikan dampak dari keputusan gegabahnya. Banyak dari pasukan raja Ambrogio gugur ketika perang sudah tercetus. Pada akhirnya, keinginan egois sang raja tidaklah menghasilkan apa-apa. Bukannya meraih kembali kehormatan, dan kekuatan negerinya. Sang Raja justru semakin membuat istananya serta seluruh rakyatnya jatuh dalam kehancuran.


Negeri Antares hancur delapan puluh tahun yang lalu. Luluh lantak di bawah kekuatan raja Istvan serta Eleftharia yang sudah memberikan penawaran kedamaian baginya.


"Elthia. Kau ini berniat bersantai atau mau belajar sih?"


Decakan kesal dari seseorang berhasil mengacaukan konsentrasi Elthia. Racauannya yang tidak berhenti walaupun Elthia sudah melepaskan perhatiannya dari buku, terasa mengganggu bagi pendengarannya.


"Saat ini aku sedang bersantai, Elenio." Elthia menjawab dengan nada yang tidak kalah ketus. Kedua mata berwarna serupa rembulan sepupunya itu, ia tatap dengan tajam. "Jadi, jangan menggangguku."


"Sedang bersantai katamu? Yang aku lihat, daripada bersantai, kau malah terlihat berkelana dalam dunia bacaan semakin jauh."


Pandangan menelisik yang diberikan Elenio tidak sedikit pun mampu mengusik Elthia. Sebaliknya, semakin Elenio mengganggunya, semakin jauh pula Elthia tenggelam dalam dunia imajinasi dari buku yang di bacanya. Padahal ini pesta teh yang biasa diadakan anak-anak bangsawan pada umumnya. Tapi, Elthia tidak sekalipun terlihat menikmatinya. Sebagai seseorang yang menyukai suasana nan damai. Minum teh bersama seorang Elenio Illaron Antoinette sangatlah tidak menyenangkan baginya. Elenio yang selalu mengoceh seolah tidak akan pernah kehabisan topik ini bahkan jauh lebih buruk dari Astrella, kucing oren kesayangannya di dunia ini.


"Hei, Elthia! Jangan mengabaikanku!"


Suara berisik nan mengganggu itu, berlalu layaknya hembusan angin di telinga Elthia. Sosok dari seseorang yang tidak begitu ia harapkan kedatangannya ini, dianggapnya bagaikan makhluk kasat mata.


Elenio tidak ada disini. Suara berisik ini hanyalah suara lalat yang sedang memasuki musim kawin.


Saking tidak sukanya Elthia akan kehadiran Elenio. Perandaian yang di bayangkannya supaya mengenyahkan sosok sang sepupu dari pikiran, bisa dibilang lumayan keterlaluan.


"Kak Sebastian!! Elthia mengabaikan peringatan kakak!!" tidak tahan diabaikan terus menerus oleh Elthia. Elenio yang tidak sengaja menangkap sosok Sebastian yang lewat di taman, meneriakkan namanya. Begitu perhatian Sebastian yang sebelumnya terfokus kepada Evander yang ada di sisinya teralihkan padanya, Elenio berlari menuju kakak kandung dari Elthia yang memiliki usia lima tahun lebih tua darinya itu.


"Lihatlah itu kak! Dia sama sekali tidak memperhatikanku, dan malah sibuk sendiri dengan buku bacaannya!!"


Aduan Elenio yang menggema di taman keluarga Lucretia itu, tidak sekalipun memberikan kesan nan mengancam. Biarpun Elenio sudah menyeret sang kakak agar bergabung bersamanya, Elthia tetaplah berada di posisinya. Kedua netra berbeda warna miliknya yang indah itu, tidak sedikit pun lepas dari buku yang ada di hadapannya.


"Elthia."


Walaupun kini kedua mata Elthia terlihat begitu fokus terhadap bacaan. Itu tidak berarti Elthia tidak memperhatikan suasana sekitar. Panggilan dari Sebastian itu, dapat di dengarnya secara jelas. "Ya. Ada apa, kak?" tanyanya. Buku yang sedari tadi menjadi fokus utamanya, ia abaikan.


"Apakah kakak ingin meminta bantuan?"


Sebastian menggeleng. Senyum meneduhkan yang di perlihatkannya tidak sedikit pun memudar. "Tolong nikmatilah pesta yang diadakan Elenio khusus untukmu ini." Kedua netra hijau Sebastian yang melirik kearah Elenio itu, Elthia ikuti. Helaan nafas Elthia keluarkan begitu wajah merengut sepupunya itu terlihat di pandangannya.


"Hargailah usahanya ini walaupun itu cuma pura-pura," nasehat Sebastian disertai senyum tanpa dosa. Seolah apa yang dikatakannya barusan tidaklah didengar oleh orang yang bersangkutan, Sebastian menepuk pelan bahu adiknya itu.

__ADS_1


"Tolong, ya? Elthia?"


Sebelum memberikan jawabannya, Elthia melirik kearah Elenio. Ekspresi tersakiti yang terlukis di wajah sang sepupu yang berusia dua tahun lebih tua darinya dan Evander itu, entah mengapa terasa begitu menyedihkan. Tidak mempunyai pilihan lain, Elthia menyanggupi permintaan kakaknya ini.


"Baiklah," jawabnya. Tumpukan buku yang sedari tadi memenuhi sebagian meja bundar mereka, di serahkannya kepada dua orang pelayan yang dipanggilkan Evander.


"Kakak harap kau tidak terlalu memaksakan diri."


Elthia mengangguk. "Iya."


"Jika kau menginginkan sesuatu, katakan padaku." Evander berujar, tak mau kalah. Ia juga mengikuti gerakan Sebastian yang mengelus pelan kepala Elthia.


"Kami pergi dulu." Evander dan Sebastian yang sudah merasa puas akan aktivitas mereka, mengangguk sekilas kearah Elenio. Mengabaikan ekspresi Elenio yang terkesan tidak rela dengan kepergian mereka, Sebastian dan Evander pergi berlalu setelah berkata.


"Sampai bertemu kembali."


Elthia memperhatikan punggung Sebastian yang menjauh. Disisi sang kakak yang sudah memasuki masa remaja, Evander yang masih berusia delapan tahun terlihat mungil ketika berjalan berdampingan dengannya.


Aku akan melindungi kalian.


Demi menghindari akhir tragis yang mengancam keluarganya. Elthia akan berjuang keras. Senyuman, serta perlakuan hangat orang-orang sekitarnya, untuk kali ini tidak akan ia biarkan menghilang.


Tidak peduli, bahkan jika aku harus menghadapi bahaya sekalipun. Selama kalian semua selamat. Aku akan memperjuangkannya.


"Kak Sebastian kejam sekali."


Mendengar ringisan Elenio yang begitu menyedihkan, Elthia memutar kedua matanya bosan. Karena kedua orang saudaranya sudah menghilang dari pandangan, Elthia duduk di tempatnya. Elenio yang juga sudah kembali pada posisinya, ia perhatikan.


"Kau kan sudah tahu kakakku itu orang yang seperti apa. Jadi, berhentilah merengek. Dan, katakan apa maumu!" ujarnya, mendesak Elenio. Kedua matanya yang berbeda warna menatap netra rembulan Elenio penuh tuntutan.


"Kau juga kenapa kejam sekali, sih?" Bukannya berhenti merengek. Elenio justru semakin mengeluh. Sikap sadis kedua orang bersaudara Lucretia, tidaklah biasa Elenio terima ketika ia berada di kediamannya.


"Aku kan, sepupumu. Setidaknya perlakuanlah aku dengan baik."


"Nanti kau juga akan terbiasa."


Jawaban acuh tak acuh Elthia membuat Elenio menghela nafasnya. Kedua netra serupa rembulan miliknya memperhatikan Elthia yang kini tengah meminum teh miliknya.


"Baiklah, nona muda. Aku akan mengingatnya."


Paham bahwa keluhannya tidaklah akan didengar. Elenio memilih menyerah. Ia menuruti perintah Elthia yang memintanya untuk mengatakan apa maksud sebenarnya mengapa ia berada di kediaman duke Lucretia.


"Sebentar lagi kalian berdua akan berulang tahun, kan?"


Elthia memperhatikan wajah serius Elenio secara seksama. Ia tahu, sepupunya ini juga termasuk dalam daftar orang yang sangat perhatian terhadap 'dirinya'. Akan tetapi, entah mengapa ia merasakan adanya kejanggalan dibalik pertanyaan yang Elenio ajukan ini. Rasanya, seperti keluarga Antoinette sedang merencanakan sesuatu yang mencurigakan saja.


"Iya, benar. Memangnya kenapa?"


Tidak terbiasa diperhatikan orang lain dengan wajah yang terkesan serius, Elenio meneguk salivanya gugup. Pandangan tajam Elthia yang mengarah padanya, terasa berbeda dari yang biasanya baginya. Seolah-olah, sepupunya itu sudah mengetahui pikiran apa saja yang terlintas di benaknya.


"K-karena kalian bisa membangkitkan sihir. Ibuku menanyakan apakah kau ingin belajar di akademi Secilia atau tidak?"


Ah. Jadi, karena itu ya?


Sebenarnya, Elthia juga tidak menyangka jika dirinya dan Evander bisa membangkitkan kekuatan sihir secepat ini. Kejadian awal mula dari semua hal itu terjadi pun, Elthia juga sangat tidak menduganya.


Setengah bulan yang lalu, Elthia mengajak kedua orang saudaranya untuk berlatih bersama. Karena ia sudah mengetahui bahwa akan ada pertemuan tidak disengaja dengan Pangeran Luca jika ia ikut sang ayah ke kota. Elthia memilih untuk menghindarinya dengan beralasan berlatih bersama Sebastian dan Evander. Izin yang diberikan sang ayah mengenai permintaannya yang ingin belajar berpedang awal mulanya sebenarnya mendapat tolakan yang keras. Tapi, begitu Elthia mengatakan bahwa ia ingin paling tidak, bisa melindungi dirinya sendiri dari kondisi yang tak terduga. Dengan mempertimbangkan keuntungan apa saja yang mampu didapat sang anak. Pada akhirnya, ayahnya mau memberikan izinnya. Dengan syarat, putrinya tersebut harus mengganti pedang dengan panah.


Jadi, ketika hari kedua pelatihan. Atau tepatnya, setengah bulan yang lalu. Mereka bertiga diajak berburu ke dalam sebuah hutan. Hutan apa itu namanya, Elthia juga tidak mengetahuinya. Tapi yang jelas, hutan tersebut tidaklah berbahaya dan juga terletak tidak terlalu jauh dari kediaman Lucretia.


Awal mulanya semua berjalan dengan lancar. Sang guru menerangkan serta mempraktekkan beberapa contoh yang harus dilakukan mereka bertiga. Karena kedua orang kakaknya berlatih pedang. Sebastian dan Evander mengasah kemampuan mereka dengan saling berhadapan satu sama lain. Serta saling berkompetisi mengenai siapa yang mengumpulkan makhluk buruan terbanyak.


Memperhatikan dari buku serta mengalami suatu kejadian secara langsung, tentu sangatlah berbeda. Sebelum memberanikan dirinya untuk mengajukan permintaan agar diajari berpedang kepada sang ayah. Elthia sudah membaca begitu banyak buku mengenai pedang, panah dan sejenisnya sebagai bentuk penambah wawasan. Tindakan yang diambilnya ini sangatlah bermanfaat ketika sudah berada di lapangan. Dengan informasi yang terkumpul di kepalanya, Elthia bisa memahami penjelasan sang guru lebih akurat.


Saat itu, Elthia berlatih membidik rusa yang ditunjuk oleh gurunya. Berkat perbekalan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, Elthia yang memang memiliki otak cerdas tentu bisa menguasainya dengan mudah. Ia bisa melepaskan anak panahnya menuju inti kehidupan sang rusa tanpa meleset.


Memiliki seorang murid yang jenius dan cepat tanggap tentu merupakan hal yang membanggakan bagi seorang guru. Sama seperti guru yang lainnya. Guru yang ditunjuk khusus oleh sang kepala keluarga Lucretia itu tidak henti-hentinya memuji dan membanggakan Elthia.


Pujian dan kalimat pengagungan seseorang, tidaklah terdengar asing lagi bagi Elthia. Karena ia sudah berada di dunia lain setengah bulan lamanya ketika itu, sebagai satu-satunya putri dari keluarga duke itu sudah menjadi hal yang biasa, seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.


Asiknya Elthia dan sang guru dalam proses belajar mengajar. Membuat mereka lambat menyadari adanya ancaman yang mendekat. Sebastian dan Evander yang sedari tadi sibuk menjelajah berdua tidak sengaja mengusik seekor beruang nan besar. Karena negeri Pyralis merupakan dunia yang tercipta dari sebuah imajinasi yang ditulis seseorang. Tentu, beruang yang tidak sengaja diusik oleh Sebastian dan Evander sedikit berbeda dari beruang yang biasa ditemui Elthia di kehidupannya yang sebelumnya.


Bulu berwarna hitam kecoklatan yang seharusnya terlihat lembut milik beruang itu, berdiri tegak layaknya duri landak. Ujung-ujungnya yang lancip mengeluarkan cairan aneh berwarna nila. Matanya berwarna merah, sedangkan kedua taringnya yang lancip, menyerupai taring yang biasa dimiliki seekor serigala.


Beruang menyeramkan yang lebih terlihat seperti makhluk penggabungan karena sang penulis kehabisan akal untuk mengimajinasikannya ini, tidak sekalipun pernah Elthia temukan deskripsinya ketika ia masih berada di kehidupannya yang lain. Karena alur cerita yang seharusnya mempertemukan dirinya dan sang pangeran ia ubah. Elthia tidak sedikit pun menyangka akan mendapatkan kejutan berupa seekor beruang aneh tidak diketahui jenis dan namanya seperti ini, dalam kondisi begini.


Serangan dari seekor beruang yang murka karena terganggu tidurnya, tentu merupakan suatu hal yang buruk untuk dihadapi oleh ketiga orang Lucretia bersaudara. Satu orang dewasa yang hanya bisa berpedang tanpa adanya kekuatan magis, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkannya.


Ketika itu, sang guru dikalahkan. Karena satu-satunya sosok yang memiliki kemampuan diatas rata-rata tersebut tumbang. Pada akhirnya, Elthia, Sebastian, dan Evander yang kemampuannya masihlah belum terasah, terpojokkan.


Elthia ingat betapa gemetarnya tubuhnya, serta kedua orang saudaranya ketika beruang mengerikan itu mendekati mereka bertiga. Karena tidak ada satu pun hal bisa ia lakukan demi menyingkirkan beruang itu, Elthia hanya mampu menutup matanya ketika sang beruang mengayunkan cakarnya.


Entah ini keisengan sang penulis kurang ajar demi mengujinya, atau menghukumnya karena mencoba mengubah alur cerita yang ada. Elthia tidak bisa menebak secara pasti di antara keduanya. Namun, rasa hangat serta cahaya lembut yang memancar keluar dari tubuhnya ketika itu, membuat Elthia langsung mengurungkan niatnya untuk memberikan sumpah serapah kepada sang penulis lebih jauh lagi.


Begitu Elthia membuka kedua matanya. Beruang mengerikan itu sudah menghilang dari pandangannya. Bukannya mendapati sang beruang yang melukai salah satu dari mereka bertiga. Elthia justru melihat suatu hal yang tidak sekalipun ia sangka kejadiannya.


Saat itu, di depan tubuhnya. Berdiri kedua orang saudaranya dengan gagah berani. Walaupun tubuh mereka berdua terlihat masih gemetaran karena mencoba melawan rasa takut, keberanian yang menguar dari kedua orang putra kebanggaan keluarga Lucretia tersebut juga tidak kalah kuat.


Melihat pemandangan di mana Sebastian dan Evander yang mencoba melindunginya, tentu bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Elthia sudah menduga kedua orang saudaranya ini pasti akan menjadikan diri mereka sebagai tameng manusia jika dirinya terancam dalam bahaya.


Hanya saja, ada satu hal yang mengganggunya. Tubuh Evander yang memancarkan sinar lembut berwarna kebiruan, mengingatkan Elthia akan alur cerita dimana kekuatan saudara kembar Lucretia terbangkitkan berkat rencana licik sang paman dalam menyingkirkan ayah mereka.


Dengan umur mereka yang masih delapan tahun, masih ada waktu dua tahun lagi sebelum membangkitkan kekuatan sihir mereka. Jadi, apa yang tersaji di hadapannya saat itu, sangatlah tidak terduga.


Evander membangkitkan kekuatannya. Begitu pun dengan Elthia. Walaupun cahaya yang menguar dari tubuh Sebastian sangatlah tipis. Elthia juga mengetahui bahwa kakak tertuanya itu, tidak terduga juga memiliki kemungkinan besar dalam membangkitkan kekuatan yang telah menghilang di negeri Pyralis selama seratus tahun lamanya.


Ketiga orang Lucretia bersaudara mampu membangkitkan sihir disaat yang bersamaan?


Elthia tidak mengetahui rencana seperti apa yang sudah disiapkan sang penulis untuknya. Tapi, jika memang masih ada beberapa kejutan yang lainnya. Elthia ingin mengakui, bahwa kejadian setengah bulan lalu itu saja sudah sangat membuatnya jantungan. Apalagi, jika masih ada kejutan yang lainnya. Elthia tidak menjamin dirinya akan terbunuh karena kekejaman Pangeran Luca. Biarpun mati di tangan Luca ataupun mati di tangan orang lainnya juga merupakan kebebasan sang penulis terhadap dirinya. Entah mengapa, Elthia merasa ia mati karena keisengan sang penulis jauh lebih lebih besar.


Dirinya hanya berharap, ia bisa menemukan tokoh pihak ketiga secepatnya. Sebab, hanya tokoh itulah satu-satunya yang mampu memberikannya perlindungan. Hidup di dalam cerita berakhir tragis apalagi menjadi seorang tokoh utama yang sudah diramalkan kematiannya, sangatlah tidak mengenakan. Selama belum menemukan sosok yang memiliki posisi setara dengan Pangeran Luca. Elthia tidak bisa menganggap dirinya aman dari ancaman kematian. Mengingat betapa kejamnya sang penulis dalam membuat alur kehidupan 'Elthia' di dalam cerita. Ia harus berjuang keras agar mampu mewujudkan akhir yang bahagia.


"Jadi, apakah ayah kalian sudah memutuskan untuk memasukkan kalian kesana?"


Pertanyaan yang Elenio ajukan, membuat Elthia tersadar dari sesi nostalgianya. Kejadian setengah bulan lalu di mana kehidupannya mulai berubah tersebut, entah mengapa selalu menimbulkan rasa was-was di dalam hatinya, di setiap kali Elthia tidak sengaja mengingatnya.


"Ayah belum memberikan keputusannya."


Karena sihir Elthia dan Evander bangkit di tempat yang tidak banyak pasang mata memperhatikan. Berita mengenai mereka berdua mampu dicegah untuk menyebar lebih luas secara cepat. Selain guru yang mengajari mereka, dan Sebastian yang ada di tempat kejadian. Tidak ada lagi orang lain yang mengetahui kejadian yang mampu mengguncang negeri Pyralis tersebut jika tidak diberitahukan.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? Apa kau berniat untuk bersekolah di sana?"


Elthia memperhatikan wajah Elenio. Pancaran ketidakrelaan yang terpantul dari kedua netra serupa rembulan miliknya, terlihat dengan sangat jelas.


"Akan sangat menyenangkan jika aku bisa mengetahui tentang sihir lebih banyak."


Selain bisa mengetahui lebih banyak mengenai sihir. Akademi juga memiliki kemungkinan besar mampu mempertemukannnya dengan tokoh orang ketiga. Di tempat di mana banyak anak-anak kaum bangsawan kalangan atas, dua negeri belajar bersama-sama seperti Akademi Secilia ini tidaklah mungkin Elthia lewatkan.


"Aku sangat berharap, ayah mengizinkan kami belajar disana."


Akan sangat bagus jika Elthia mampu membujuk ayahnya agar memberikan izin bagi dirinya dan Evander untuk belajar di sana.


"Akademi Secilia tidak mengajarkan sihir saja bukan? Apa kau juga tertarik untuk belajar di sana?" tanya Elthia kepada Elenio. Walaupun sepupunya ini sangatlah berisik, dan ia tidaklah terlalu menyukai akan suara cemprengnya. Itu tidak berarti Elthia membenci Elenio. Terlepas dari pertanyaan yang di ajukannya terkesan aneh dan memiliki maksud lain di baliknya. Secara pribadi, Elthia lumayan menyukai Elenio yang terkenal berisik dan selalu blak-blakan dalam bicara ini.


"Ibu mengatakan jika kau masuk ke sana, aku juga diperbolehkan ikut belajar di sana."


Wajah gugup yang dipalingkan, serta pipi Elenio yang memerah membuat Elthia mengurangi sedikit kecurigaannya.


"Kalau tidak salah, ayahmu seorang duke berkewarganegaraan Yodea, bukan?"


Karena ibu dari Elenio merupakan adik dari ayah Elthia. Nama Lucretia yang menjadi nama belakangnya, berubah menjadi nama keluarga suaminya. Di benua Lucinda sudah merupakan hal yang wajar jika nama belakang seorang wanita berubah ketika sudah menikah. Kebanyakan wanita dari kalangan bangsawan akan memiliki nama belakang suami yang di ikutinya. Contohnya seperti ibu dari Elenio ini. Nama Athalita Eudocia Lucretia yang di milikinya sebelum menikah, berubah menjadi Athalita Eudocia Antoinette setelah dia mengucapkan sumpah suci dengan Darien, paman Elthia.


Paman Elthia yang bernama lengkap Darien Tadzio Antoinette ini merupakan seorang duke dari negeri Yodea. Walaupun sudah tidak terlalu kental. Darah anggota kerajaan Eleftharia masihlah mengalir di dalam nadinya.


"Apakah ayahmu bisa sihir?"


Pertanyaan tak terduga yang diajukan Elthia ini sedikit menyentak Elenio. "Dia bisa melakukannya," jawabnya dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.


"Walaupun aku mewarisi sedikit darah anggota kerajaan Eleftharia. Aku tidak bisa membangkitkan kekuatan sihir seperti ayah."


Ungkapan mengejutkan dari Elenio ini, menyusupkan rasa bersalah dalam hati Elthia. "Jangan menyerah, ya. Suatu hari nanti, aku yakin kau juga akan bisa." Ucapnya seraya meremas pelan tangan Elenio yang terletak di atas meja.


Elenio balas tersenyum. Kedua mata berbeda warna Elthia di perhatikannya secara seksama. "Terimakasih, Elthia," ujarnya seraya meletakkan sebelah tangannya yang bebas keatas tangan Elthia yang berukuran lebih mungil darinya.


"Jadi, kalau ayahmu sudah mengizinkan. Tolong beritahu aku, ya!"


Kesedihan yang sebelumnya terlihat menghiasi wajah Elenio menghilang dalam sekejap. Karena Elenio memang merupakan sosok berkepribadian terlewat ceria, Elthia tidak terlalu terkejut akan perubahan sikap sang sepupu yang di lihatnya ini.


"Memangnya kau ingin apa, jika aku sudah belajar di sana? Apakah kau ingin menjadi salah satu pengawalku yang lain?"


Mumpung suasana hatinya sedang bagus. Elthia mencoba menggoda Elenio. Teh yang ada di dalam cangkirnya, sudah lama ia habiskan. Walaupun Elthia seorang kutu buku. Urusan dalam bertutur kata, bungsu keluarga Lucretia tidaklah bisa dianggap remeh. Karena Elthia merupakan anak yang cerdas. Membalas perkataan orang lain tidaklah terlalu susah baginya.


"Sebenarnya ibuku hanya menyuruhku untuk menemanimu karena Akademi Secilia berdekatan dengan perbatasan dua kerajaan dan kediaman duke Antoinette." Elenio menopangkan dagunya. Karena Elenio orangnya terlampau positif, godaan Elthia terasa bagaikan kalimat akrab yang biasa dilemparkan kepada teman sebaya saja.


"Tapi, sepertinya akan menyenangkan jika kita bisa terus bersama seperti ini."


Jawaban polos yang diberikan Elenio membuat Elthia tertawa. Sudah ia duga. Menggoda Elenio tidaklah berguna. Sepupunya yang sangatlah polos ini tidaklah menyadari bahwa Elthia sedang mencoba menggodanya.


"Baguslah. Dengan begini, aku tidak perlu susah payah mencari teman baru."


"Jadi, kau tidak keberatan untuk minum teh denganku lagi, kan!"


Penafsiran salah Elenio, Elthia beri respon berupa helaan nafas. "Dengan syarat, jangan terlalu berisik ketika aku sedang membaca." Karena Elenio hanya bermasalah dengan mulutnya yang berisik, tidak ada hal lain lagi yang perlu Elthia berikan sebagai syarat pengakraban mereka sebagai teman selain satu hal itu.


"Heee.... tapikan kalau kau sibuk membaca, aku tidak akan punya teman yang bisa di ajak bicara."


"Kau bisa terus mengoceh sesukamu. Biar pun aku sedang membaca, aku tetap mendengarkannya, kok." Elthia tersenyum tanpa dosa. Dengan senyumannya yang tersungging sekarang ini, kemiripan yang di milikinya dengan kakak tertuanya sedikit bisa dilihat. Wajah Sebastian dan Elthia yang sedang tersenyum, terkadang memang bisa membuat seseorang merasa jengkel tanpa alasan yang jelas.


"Jadi, kau ingin membuatku terlihat seperti orang yang tidak waras begitu?"


"Hmmm.... bisa dibilang begitu?"


Jawaban yang diberikan Elthia membuat Elenio terdiam. Kedua matanya yang menelisik, seolah-olah sedang menatap curiga Elthia ini sangatlah tidak cocok untuknya.


"Seperti biasa, kau jahat sekali, ya?"


"Terimakasih atas sanjungannya."


Elthia tertawa. Elenio yang melihat ekspresi santai Elthia juga ikut mengeluarkan tawanya.


"Nona Elthia. Tuan Elenio."


Kedatangan seorang pelayan, menghentikan tawa mereka berdua. Elthia dan Elenio berpandangan. Biarpun tawa mereka sudah mereda, mereka tetap melemparkan senyuman kepada satu sama lain.


Elthia yang memutuskan kontak mereka terlebih dahulu, mengajukan pertanyaan. "Apakah ada yang memanggilku?"


"Kakak Anda, Tuan muda Sebastian. Meminta saya untuk menjemput Anda agar ikut bersamanya."


"Kakak ingin pergi keluar?"


Elthia melirik Elenio yang juga ikut menyimak pembicaraannya dengan sang pelayan. Kedua matanya yang berbinar cerah ketika mendengar kata 'pergi keluar' yang dimaksudkan sebagai jalan-jalan, entah mengapa membuatnya menjadi terlihat semakin mirip dengan Astrella, kucing oren jantan berbulu lebat miliknya.


"Karena beliau sedang memiliki banyak waktu luang. Tuan muda Sebastian mengatakan bahwa beliau ingin meluangkan waktu bersama Anda dengan berjalan-jalan di kota."


Elthia mengangguk. "Baiklah. Aku akan pergi," ujarnya seraya bangkit dari posisi duduknya. Tindakannya ini tentu tidak luput dari perhatian Elenio.


"Bagaimana denganku? Apakah aku juga diajak?" Elenio menunjuk dirinya sendiri. Karena ia biasa di ajak berkeliling oleh Sebastian setiap kali berkunjung ke kediaman Lucretia. Elenio sedikit berharap, ia juga bisa ikut acara jalan-jalan bersama dengan Elthia serta Evander juga.


"Maaf, Tuan Elenio. Tuan muda Sebastian mengatakan bahwa Anda tidak boleh ikut, karena Anda hanya akan mengganggu."


Pesan yang disampaikan sang pelayan ini membuat wajah cerah Elenio berubah menjadi suram dalam sekejap. Tolakan kejam khas Sebastian ini, memang tidaklah begitu bagus untuk di dengarnya.


"Tapi, Tuan muda juga berpesan, bahwa jika beliau memiliki waktu luang lain kali, dan kebetulan Anda berkunjung kesini. Anda boleh ikut serta mereka bertiga."


"Seperti biasa, kakak memang suka mengejutkan seseorang, ya?" komentar Elthia mengenai pesan Sebastian yang disampaikan sang pelayan. Seandainya saja pelayan ini tidak berekspresi datar, melainkan tersenyum ketika menyampaikan pesan tersebut. Elthia yakin, apa yang disampaikan kakaknya itu akan terasa lebih hidup dan terdengar lebih menyebalkan.


"Jangan mentertawakanku!" Elenio yang baru saja menyadari bahwa dirinya sedang dikerjai, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Biar pun Elenio menutupi wajah merahnya, hal itu sudah tidaklah berguna. Elthia sudah terlanjur melihat rona merah di pipinya itu.


"Terimakasih atas perjamuannya, Tuan." Karena membuat sang kakak menunggu terlalu lama bukanlah hal yang bagus. Elthia menyudahi pembicaraan mereka. Ia mengangkat sedikit kedua sisi gaun berwarna biru miliknya. Gerakannya yang begitu anggun dan luwes berhasil menghipnotis Elenio.


"Senang rasanya mengetahui Anda menikmati pertemuan ini, Nona." Terbawa suasana, Elenio juga ikut memberikan penghormatan. Karena salam yang dilakukan bangsawan wanita dan bangsawan pria tidaklah sama, Elenio menundukkan sedikit kepalanya. Tangan kanannya, ia letakkan tepat diatas dada.


"Jika Anda berkenan. Bisakah Anda memenuhi undangan saya di pertemuan berikutnya?"


Senyum sopan yang terlukis di bibir Elenio, membuat Elthia tertawa. Sikap formalitas yang Elenio perlihatkan sekarang ini dengan tingkahnya yang biasa, sangatlah berlawanan. Melihat betapa elegannya Elenio yang lebih biasa dikenal dengan sikap serampangannya seperti ini, Elthia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Baginya, sisi lain Elenio yang satu ini sangatlah manis. Dan dirinya, lumayan menyukainya.


"Akan aku pertimbangkan," ujarnya seraya berlalu. Elthia yang masih merasakan pandangan Elenio tertuju padanya, mengangguk. Senyum manis yang lagi-lagi tersungging di bibirnya. Memberikan sensasi aneh bagi Elenio yang kini menyaksikan punggungnya.


perasaan apa ini?

__ADS_1


Elenio menyentuh dadanya. Suara berdesir yang sekilas terdengar, menyusupkan perasaan asing dalam dirinya.


__ADS_2