
Satu hari sudah berlalu. Sekarang, hari Elthia dan Evander akan memberikan keputusan mereka mengenai pilihan yang diberikan sang ayah akhirnya tiba juga. Elthia menghela nafasnya pelan. Kedua tangan mungilnya terkepal di depan dada. Padahal Elthia hanya perlu memberikan jawabannya saja. Tapi, entah mengapa Elthia merasa sangatlah gugup sekarang ini. Rasanya, ia seperti ingin meminta restu dari ayahnya untuk menikah saja. Rasa gugupnya ini bahkan jauh melebih rasa gugup yang dirasakannya ketika pertama kali terbangun di dunia ini. Elthi berharap, ayahnya--tuan Arys--bisa melepaskan mereka secara mudah. Bagaimanapun juga, mengirim anak kecil baru berusia sembilan tahun ke tempat yang jauh seperti mereka berdua, pastilah lumayan berat. Sebagai seorang anak, sedikit banyak Elthia juga memahami perasaan tidak rela untuk berpisah. Waktu yang sudah dilaluinya serta kenangan yang terbentuk selama ini menjadi bukti betapa indahnya kehidupan yang dimilikinya.
"Jangan gugup, Elthia. Pilihan yang kita ambil ini kan, tidak akan memisahkan kita semua selamanya."
Nasihat yang diberikan Evander diangguki oleh Elthia. Menenangkan rasanya bisa memiliki saudara seperti Evander ini. Walaupun awal mulanya ia sedikit terkejut, secara perlahan-lahan Elthia mulai bisa menerima kondisi yang menimpanya. Dengan adanya orang-orang yang mendukungnya selama di sini, pikiran mengenai berbagai macam cara agar ia bisa lari akhirnya teralihkan. Daripada lari dari takdir serta tugas yang sudah diembankan padanya, Elthia lebih memilih untuk menerimanya. Demi mengubah alur kematian yang sudah terbaca di depan mata, Elthia berusaha memberikan penyimpangan sedrastis mungkin dari alur cerita yang ada. Demi menyelamatkan orang-orang yang sekarang begitu di kasihinya, Elthia akan berjuang keras. Ia tidak akan membiarkan alur hidupnya yang ada sekarang ini hanya terpaku pada alur cerita yang asli, yang tentunya sudah pasti akan berakhir menyedihkan.
"Ayo."
Elthia mengikuti ajakan Evander. Mereka berdua mendorong secara bersamaan pintu berwarna coklat tempat di mana sang ayah sudah menunggu. Begitu pintu sudah terbuka sepenuhnya, kedua matanya langsung menangkap dua orang sosok yang begitu dikenal. Di sisi kiri Sebastian yang tengah berdiri, terdapat seorang pria paruh baya yang juga memiliki surai perak serupa. Wajahnya yang masih awet muda, hampir terlihat mirip dengan Sebastian yang ada di sisinya kanannya. Sosok yang merupakan ayah dari Elthia dan Evander sekaligus kepala keluarga dari bangsawan Lucretia itu tersenyum tipis. Raut dewasa yang ada padanya, semakin menambahkan kesan rupawan bagi wajahnya yang tampan.
"Jadi, apa keputusan kalian?"
Pertanyaan tanpa basa-basi yang diajukan sang ayah membuat Elthia meneguk salivanya gugup. Elthia melirik Evander yang berada di sisi kirinya. Anggukan yang diberikan Evander memberikannya kekuatan.
"Kami ingin belajar di akademi Secilia!" mereka berdua berujar secara lantang. Kesungguhan yang terpancar dari mata mereka yang berbeda warna dilihat secara jelas oleh sang ayah.
"Baiklah jika itu keputusan kalian." Persetujuan sang ayah tanpa adanya banyak bertanya membuat Elthia sedikit merasa lega. Sebagai ganti rasa cemasnya, Elthia melirik Sebastian yang ada di samping sang ayah. Karena sedari tadi Sebastian tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Elthia sedikit khawatir mengenai pendapat kakak tertuanya ini.
Aku harap dia juga menyetujuinya.
Kecemasan yang terlukis di wajah Elthia ketika sedang menatap Sebastian, membuat tawa halus terdengar. Sang ayah yang sedari tadi memperhatikan kedua orang anak kembarnya, menyikut pelan pinggang putra tertuanya yang membungkam.
"Jangan berekspresi seolah kau akan ditinggalkan selamanya saja. Lihatlah ekspresi kedua adikmu itu. Kau membuat mereka merasa cemas."
Sebastian yang menyadari kesalahannya mengerjapkan kedua matanya pelan. Gurat kemerahan tipis terlihat menghiasi kulit wajahnya yang putih. "Aku tidak ingin berpisah dengan mereka," gumamnya nyaris sepelan bisikan seraya berjalan menjauh dari sisi sang ayah. Sebastian berjalan menuju ke arah kedua orang adiknya yang sedang menunggu. Sebersit rasa sesal muncul di hatinya ketika melihat ekspresi kecemasan Evander dan Elthia yang diarahkan padanya.
Aku tahu ini adalah pilihan terbaik bagi mereka. Hanya saja, aku... Sebastian tidak berani lagi meneruskan pikirannya.
Elthia dan Evander memang tidak mendengar apa yang Sebastian ucapkan. Akan tetapi, bagi ayahnya yang memiliki pendengaran tajam, gumaman itu terdengar dengan sangat jelas.
"Aku akan mengizinkanmu bergabung dengan mereka."
Sebastian menatap ayahnya terkejut. Apa yang ayahnya ucapkan sangatlah tidak terduga. "B-benarkah?" tanyanya yang mendapat jawaban berupa anggukan.
"Tapi dengan syarat, kau harus menyelesaikan semua tugasmu selama dua tahun di sini."
"Aku bisa belajar di perguruan tinggi di sana?"
Tuan Arys tersenyum. "Iya. Kau bisa belajar di sana."
Keputusan yang diberikan sang ayah juga ikut didengar oleh Elthia dan Evander. Kedua anak kembar itu saling berpandangan. Senyuman lebar terlukis indah di bibir keduanya.
"Hore!! Kak Sebastian ikut menemani kami!!" Elthia dan Evander menghambur ke dalam pelukan sang kakak. Awal mulanya, Sebastian sedikit terkejut akan pelukan yang tiba-tiba ia dapatkan ini. Akan tetapi, begitu ia sudah bisa menguasai dirinya, Sebastian balas memeluk kedua adik kesayangannya. Karena tinggi Elthia dan Evander masih sebatas dadanya, Sebastian berjongkok. Kepala bersurai perak yang juga diwarisi kedua adiknya itu di kecupnya pelan.
"Terimakasih atas semangatnya. Kakak berjanji, kakak juga akan berjuang keras agar tidak kalah dari kalian berdua."
"Aku akan mengalahkan kakak!"
Seruan penuh semangat Elthia diangguki Sebastian.
"Kakak harus mentraktir kami banyak makanan, jika kami yang menang."
Sebastian tertawa, pemerasan yang coba Evander lakukan padanya ini sangatlah menggemaskan. "Iya, iya. Kalian bisa makan kue sepuasnya." Ujarnya seraya mencubit gemas pipi chubby kedua adik kembarnya itu. Tidak peduli akan rengekan Elthia dan Evander yang mulai kesakitan, Sebastian tersenyum. Kedua matanya yang berwarna hijau terlihat sangat menikmati apa yang di perbuatnya sekarang ini.
"Ha-hakit!"
"H-hehaskan inhi!"
Gumaman tidak jelas keduanya Sebastian tertawakan. Sebagai seorang kakak yang terbiasa menahan segalanya hanya dengan sebatas tersenyum, Sebastian cukup menikmati hal baru yang ia lakukan ini. Seandainya saja kedua adiknya ini tidak mengucapkan kata-kata yang menakjubkan. Sebastian yakin dirinya tetaplah tidak akan berubah. Menjadi diri sendiri ternyata jauh lebih menyenangkan. Tanpa senyuman yang dipaksakan, Sebastian merasa jauh lebih bebas. Layaknya burung yang tidak lagi terkurung di dalam sangkarnya, Sebastian merasakan begitu banyak kelegaan.
Sebastian melepaskan cubitannya. Senyuman tulus yang tercetak di bibirnya terlihat jauh lebih bagus dari senyuman yang ia perlihatkan selama ini. "Selama aku tidak ada. Jaga diri kalian baik-baik." Sebastian mengusap pelan surai perak kedua adiknya.
"Jangan sampai melakukan hal yang bisa membahayakan diri sendiri, mengerti?"
Elthia dan Evander yang diberikan peringatan memalingkan wajah mereka dari Sebastian. Kedua pipi mereka yang mengembung sudah menjadi cukup bukti bahwa sekarang ini mereka berdua tengah merasa kesal. Pipi mereka yang dicubit masihlah terasa panas. Biarpun mereka berdua tahu apa yang Sebastian lakukan sebelumnya merupakan bentuk dari rasa peduli sebagai seorang saudara, Elthia dan Evander tetap saja merasa kesal.
"Kakak jahat." Elthia mengelus pipi kirinya yang berdenyut. Kedua matanya tidak sedikit pun memperhatikan wajah Sebastian.
"Ini sakit sekali."
Evander yang berada di sisi kirinya juga ikut melakukan hal yang sama. "Sakit sekali." Gumamnya tanpa menghentikan gerakan mengelus pipi kanannya yang memerah. Sama seperti apa yang Elthia lakukan, Evander juga memalingkan wajahnya dari Sebastian. "Pipiku pasti berwarna merah sekarang."
Kedua anak kembar itu meringis. Dalam keadaan apapun mereka sangatlah kompak satu sama lain.
"Kalian sangat menggemaskan." Sebastian berujar dengan wajah tenang disertai senyum tanpa dosa. Seolah ringisan kedua adiknya itu tidaklah terdengar, Sebastian memeluk kedua tubuh mungil itu dengan erat. "Aku akan kesepian tanpa kalian di sini."
"Maafkan ayah karena sudah merusak momen berharga kalian. Tapi adakah yang kalian inginkan sebelum berpisah jauh dari rumah?" sebagai satu-satunya orang yang diabaikan, tuan Arys mencoba menarik perhatian kembali. Kedua netra serupa langit siang miliknya melirik kedua orang anak kembarnya yang masih mengeluarkan ringisan kecil. "Selama permintaan itu tidaklah mustahil, ayah akan berusaha mengabulkannya."
Elthia dan Evander saling berpandangan. Diberi penawaran secara tiba-tiba seperti ini berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua dari pipi mereka yang masih berdenyut sakit.
"Aku tidak menginginkan apapun." Evander memperhatikan Elthia. Raut berpikir keras dari saudari kembarnya itu, mengundang tawa halus untuk keluar dari mulutnya.
Serius sekali, sih.
"Aku rasa, ada hal serius yang diinginkan Elthia saat ini." ucap Evander seraya menepuk pelan pundak saudarinya itu. Elthia yang sedari larut dalam lamunan sontak saja, sangat terkejut akan perbuatannya.
"O-oh. I-itu...." Elthia melirik ke sembarang arah. Seluruh perhatian yang sekarang tertuju padanya ini sangatlah meresahkan. Jujur saja, Elthia sedikit merasa tidak nyaman akan tatapan penuh rasa penasaran yang mereka layangkan padanya.
"Kau bisa mengatakannya, Elthia. Jadi, janganlah membuat ekspresi tidak mengenakan seperti itu."
__ADS_1
Elthia menggigit bibirnya pelan. Berbagai macam jenis pertimbangan terputar di dalam kepalanya.
Apakah sebaiknya aku katakan saja, ya?
Sebenarnya, Elthia tidak terlalu yakin akan permintaannya yang satu ini. Akan tetapi, jika ia tetap menyimpan semuanya sendiri.... hal itu justru bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan. Elthia tidak bisa terus berdiam diri. Sebagai seorang anak kecil, Elthia tidak bisa melakukan segalanya sendiri. Namun, jika itu ayahnya...
Ada kemungkinan keluarga Lucretia bisa diselamatkan.
Dengan kekuasan yang dimiliki ayahnya, Elthia bisa mendapatkan bukti yang lebih. Selain itu, Elthia juga bisa menuntun ayahnya menuju kecurigaan yang dimilikinya ini. Elthia sangatlah mengakui kehebatan yang dimiliki ayahnya dalam mengumpulkan informasi. Hanya saja, ada satu hal yang masih terasa mengganjal. Yang menjadi masalahnya, apakah ayahnya ini mau menyelidiki saudaranya sendiri? Sebagai seorang anak yang juga memiliki saudara, Elthia sangat mengetahui seberapa besar rasa hormat yang dimiliki ayahnya terhadap saudaranya yang lain. Belum lagi, kepercayaan yang diberikannya. Setelah apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini, Elthia cukup yakin pamannya yang satu itu akan bergerak lebih hati-hati. Dan bukti yang sebelumnya sudah terlihat pun, tentu akan di samarkannya. Akan sedikit sulit bagi Elthia untuk mengajukan permintaan agar ayahnya mau menyelidiki saudaranya sendiri. Tanpa adanya alasan yang kuat. Elthia yakin, permintaannya ini pastilah akan dianggap remeh.
"Tidak perlu ragu, Elthia. Jika memungkinkan, kakak juga akan membantu seandainya permintaanmu ini lumayan berat dilakukan."
Elthia menatap penuh keraguan Sebastian. Biarpun senyuman teduh kakaknya ini biasanya sangatlah ampuh dalam menenangkannya. Entah mengapa, Elthia tidak merasa cukup tenang sekarang ini. Elthia benar-benar perlu pertimbangan yang bagus, jika ingin keinginannya ini tidak dianggap remeh. Apalagi, dianggap sebagai suatu hal yang mengada-ngada.
"Elthia..."
Remasan pelan Evander di tangannya membuat Elthia menoleh. Senyum penuh keyakinan yang terlihat menghiasi bibir Evander, terasa mengandung suatu kekuatan yang tak mampu Elthia jabarkan.
"Apakah permintaan ini sangat sulit untuk kau katakan?"
Elthia mengangguk. Keraguan yang terpancar dari kedua matanya yang berbeda warna tidak sedikit pun mampu disembunyikan.
"Aku tidak terlalu yakin dengan ini. Tapi..." Elthia menatap ayahnya. Sebelum benar-benar mengajukan permintaan, Elthia menarik nafasnya terlebih dahulu. Rasa berat yang terdapat dalam hatinya, coba ia tekan sebaik mungkin. "Bisakah ayah mengawasi gerak gerik paman Eneas sekaligus menyelidikinya?"
Diamnya ketiga orang laki-laki yang berada di ruangan yang sama dengannya, menimbulkan suasana mencekam. Di dalam keheningan nan janggal itu, Elthia menggigit pelan bibirnya. Reaksi yang diperlihatkan oleh ketiga orang anggota keluarganya ini sebenarnya sudah mampu Elthia tebak. Akan tetapi, begitu Elthia melihat langsung reaksi yang mereka semua berikan ini, rasanya, Elthia seperti sudah melakukan sebuah kejahatan yang besar saja.
"Apakah ada alasan khusus di balik permintaanmu ini, Elthia?
Tidak ada alasan khusus yang mampu Elthia pikirkan selain keselamatan keluarganya. Elthia tahu, apa yang akan ia katakan setelah ini mungkin akan terdengar mustahil. Akan tetapi, jika Elthia ingin semua anggota keluarganya selamat, Elthia tidak mempunyai pilihan lain selain mengatakannya.
"Setelah memiliki sihir, aku sering bermimpi buruk."
Keraguan yang coba menggerogoti hatinya, Elthia singkirkan. Karena semua sudah terlanjur ia ucapkan, Elthia katakan saja semuanya. Lagipula sekarang seseorang yang bisa menggunakan sihir di negeri Pyralis selain mereka tidaklah ada. Karena keberadaan sihir sangatlah dinilai berharga. Elthia harap, ayahnya ini menganggap mimpi--karangan--yang terjadi padanya sebagai suatu bentuk ramalan.
"Dan pengkhianatan paman Eneas di keluarga ini termasuk salah satunya."
Kejujuran bercampur beberapa karangan itu, terucap dengan lancar dari mulutnya. Karena berkata bahwa ia mengetahui semua alur yang sudah tertulis sangatlah mustahil untuk diberitahukan. Elthia sedikit mengutak-atik ingatannya menjadi terdengar sedikit lebih masuk di akal ketika diucap. Walaupun sebenarnya apa yang ia katakan ini lumayan bertentangan. Elthia tetap melanjutkan perkataannya. "Di dalam mimpiku. Paman Eneas mencoba segala cara untuk mengambil posisi ayah. Entah itu memasukkan racun ke dalam minuman. Kecelakaan yang disengaja. Ataupun kontrak dengan makhluk kegelapan."
Di dalam alur cerita yang asli. Kekuatan sihir Elthia dan Evander bangkit ketika makhluk kegelapan mencoba menerkam sang ayah. Berkat rasa melindungi yang kuat dari kedua orang anak kembar itu, ayah mereka selamat. Namun, sebagai ganti dari keselamatan nyawa sang ayah. Kebebasan Elthia dan Evander terenggut secara tidak langsung ketika sudah berkunjung ke kerajaan Istvan. Permintaan yang diajukan Raja Thaddeus Alister Istvan memberikan pengekang kasat mata bagi keluarga Lucretia. Di dalam cerita yang sebenarnya. Sebagai satu-satunya keluarga bangsawan tertinggi sekaligus tertua yang ada di negeri Pyralis, keluarga Lucretia tidaklah mungkin menolaknya. Walaupun sudah mengetahui bahwa keluarga Lucretia bisa saja semakin tercekik di bawah kuasa pihak kerajaan, mereka tidak mempunyai pilihan lain selain mengabulkan permintaan sang raja.
"Keserakahan yang terdapat di dalam diri paman Eneas membuatnya terjatuh dalam kegelapan." Elthia memberanikan dirinya. Dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh, Elthia membiarkan kepalanya menatap tegak lurus ke depan. "Rasa hausnya akan harta kekayaan sudah membutakan dirinya dari orang terdekatnya sendiri."
Kedua matanya yang kini menatap lurus tepat ke arah kedua mata sang ayah, Elthia buat terlihat semeyakinkan mungkin. Bermodalkan tekad serta keberanian yang terkumpul. Elthia berhasil menunjukkan kesungguhannya melalui pancaran kedua matanya yang berbeda warna di hadapan sang ayah. "Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Tapi, bisakah ayah mempercayaiku untuk kali ini?"
Elthia harap, ayahnya ini memberikan kepercayaan padanya. Sebab, hanya itu sajalah inti dari permintaan yang begitu ia inginkan ini. Tanpa adanya kepercayaan sang ayah pada dirinya, Elthia tidak mungkin mampu mewujudkan keinginannya dalam keadaan nyata.
Paling tidak, tolong percayai ceritaku sebagai ramalan.
Persetujuan yang diberikan sang ayah, memberikan sedikit ketenangan dalam hatinya. Elthia yang sedari tadi menunggu penuh kecemasan menghela nafas lega.
"Tapi, jika memang Eneas tidak terbukti bersalah. Kau tidak akan keberatan jika ayah berikan hukuman bukan?"
Elthia mengangguk. Konsekuensi dari permintaannya ini sudah siap ia terima seandainya saja pamannya terbukti tidak bersalah.
"Ayah. Apakah ayah yakin?" di sisi Elthia, Sebastian menatap ragu sang ayah. Apa yang dikatakan sang ayah, tidak terlalu disetujui olehnya. "Tidakkah hukuman terla--"
"Percayalah pada adikmu, Sebastian."
"Tapika--"
"Jika kau memang mengkhawatirkannya. Kau bisa membantunya."
Sebastian mendengus. Perkataannya yang dipotong sebanyak dua kali secara sengaja, terasa menjengkelkan. "Ayah. Tidakkah ayah ingin mendengarkan pendapatku juga?" tanya Sebastian disertai senyuman manis miliknya. Wajahnya yang merupakan hasil cetakan sempurna dari sang ayah dalam versi lebih muda, terlihat memerah karena menahan amarah.
"Ayah juga tahu bagaimana rasanya diabaikan bukan?"
Sebagai respon, tuan Arys tersenyum. Sekarang, sepertinya Elthia mengetahui siapa sosok guru dari pengontrol emosi terbaik Sebastian. Wajah ayahnya yang sedang tersenyum dengan Sebastian sebagai lawannya, sungguh terlihat meyakinkan.
"Menurut sifatmu yang begitu perhatian. Ayah sudah mampu menebak apa yang kau pikirkan, Sebastian." Tuan Arys berujar dengan tenangnya. Biarpun anak tertuanya kini tengah merasa jengkel akan sikapnya, tuan Arys melanjutkan perkataannya. "Kau tidak mungkin melewatkan kesempatan ini, kan?"
"Jika aku menolak, ayah pada akhirnya tetap memaksaku, bukan?"
"Tentu saja."
Biarpun sang ayah memberikan jawaban setenang air kepada Sebastian. Sebagai sosok lain yang juga berada di dalam ruangan yang sama, Elthia dan Evander mampu merasakan hawa menusuk yang menguarĀ dari keduanya. Dengan sifat sang ayah yang tegas, disertai kakak yang berhasil mengerjakan segala sesuatunya secara sempurna. Suasana di dalam ruangan yang mereka tempati kini, terasa berubah menjadi mencekam dalam sekejap. Entah ini hanya imajinasi Elthia yang terlalu berlebihan, atau karena senyuman kedua orang itu yang terlampau mengerikan. Sekilas, Elthia melihat ada aliran listrik yang beradu di depan wajah ayahnya dan kakaknya.
"Ehem... Jadi, ayah. Apakah kami nanti akan menginap di kediaman keluarga Antoinette, atau tinggal di asrama?" Evander yang tidak tahan lagi dengan suasana tidak mengenakan itu, menyela. Butuh keberanian yang besar baginya untuk mengalihkan perhatian dari kedua orang yang terkenal akan beberapa kengeriannya ini.
"Kalian akan menginap di kediaman keluarga Athalita."
Elthia menghela nafasnya lega. Ia benar-benar bersyukur mereka tidak dibiarkan tinggal di dalam asrama. Orang seperti dirinya ini, tidak cocok dengan suasana asrama. Bukan karena harus berbagi kamar atau takut mendapatkan teman yang menjengkelkan. Elthia hanya tidak sanggup jika ia harus merelakan benda berharga yang di bawanya dari rumah, disita pihak sekolah.
"Apakah kami akan tinggal dengan bibi Athalita sampai lulus?"
Jika mereka berdua harus tinggal di kediaman keluarga Elenio sampai lulus. Itu berarti, mereka berdua harus tinggal selama sembilan tahun lamanya di sana. Dengan waktu yang selama itu, Elthia yakin rumah Elenio secara tidak langsung akan terasa seperti rumah kedua bagi mereka.
"Kalian ayah izinkan bersekolah di sana hanya selama lima tahun saja."
Eh? Lima tahun saja? Elthia kira, ayahnya ini akan membiarkan mereka sampai lulus di sana.
__ADS_1
"Kami harus kembali ketika acara debut ya?"
Debutante ball. Sebuah acara dimana kebanyakan anak bangsawan memulai debut pertama mereka. Di acara itu, anak-anak kaum bangsawan dikenalkan secara resmi kepada khalayak. Tanpa melewati debutante, seorang bangsawan tidak akan pernah diakui. Pada acara itu, semua ditentukan. Jika beruntung, anak-anak itu bisa mendapatkan undangan ke banyak acara pergaulan kelas atas. Namun, jika tidak beruntung karena dia tidak sengaja mengacaukannya. Hal itu bisa mempengaruhi posisi kedudukannya sebagai anak keluarga ternama.
Cara hidup kalangan bangsawan tidaklah seindah kelihatannya. Sekali memperlihatkan sisi cacat, pandangan yang sebelumnya terlihat menyanjung, bisa berubah menjadi cemooh dalam sekejap. Di kalangan bangsawan, tidak peduli seberapa tinggi posisi seseorang, hal itu tidaklah menjadi sebuah jaminan bagi keselamatan. Sebagian besar dari mereka selalu mencari celah. Salah dalam mengambil langkah, itu berarti harus siap menerima segala macam cacian. Tidak terkecuali, sebuah tuduhan tak berdasar.
Rumor yang biasa tersebar di kalangan bangsawan sangat merepotkan.
Elthia akui, menjalani hidup sebagai seorang anak bangsawan tidaklah terlalu mengenakan. Biarpun dirinya bisa berpakaian indah, selalu makan enak, serta dilayani setiap saat. Dengan segala ancaman dibalik banyaknya kenikmatan yang mampu dirasakan, konsekuensi yang didapatkan ketika melakukan sebuah kesalahan jauh lebih mengerikan daripada ancaman kematian.
"Jika kalian terlalu lama di akademi, itu akan menimbulkan kecurigaan."
Ah. Elthia cukup memahami alasan ayahnya ini. Dengan dirinya yang belum memiiki pasangan. Kemungkinan dirinya diikutsertakan dalam ajang pemilihan calon putri mahkota tidaklah dapat dihindari. Memiliki pendidikan tinggi bagi seorang perempuan di negeri ini tidak dilarang. Hanya saja, tersebarnya rumor jika ia tetap melanjutkan pendidikan sedangkan dirinya mendapatkan undangan dari pihak kerajaan, hal itu bisa menarik perhatian kaum bangsawan lain. Keluarga Lucretia memiliki banyak musuh. Entah itu yang secara terang-terangan maupun terselubung. Biarpun ayahnya ini ingin memperlakukan istimewa anak-anaknya. Bukan berarti, ayah mereka bisa mengabaikan tanggung jawab begitu saja. Sebagai seorang kepala keluarga Lucretia, tuan Arys Terrene Lucretia memiiki banyak orang yang harus dijaga. Tidak hanya keluarganya, para pekerja yang berada di kediaman Lucretia pun juga termasuk di bawah perlindungannya. Tidak terkecuali rakyat biasa yang berada di bawah pengawasan mereka.
"Ayah. Apakah ayah nanti akan mencarikan seseorang untuk dijadikan tunanganku?"
Pertanyaan aneh yang diajukan Elthia, sontak saja merubah suasana sekitar menjadi suram. Ruangan yang sebelumnya sudah terasa normal, kini menjadi dingin kembali.
"Eh, ada apa?"
Tatapan aneh Sebastian, serta wajah mengerut Evander memperparah keadaan. Elthia yang merasa pertanyaan yang diajukannya merupakan sebuah hal yang wajar, merasa heran akan reaksi yang diperlihatkan kedua saudaranya.
"Apakah ada yang aneh dari pertanyaanku?"
"Aneh. Sangat aneh."
Jawaban kompak yang tanpa perlu menunggu waktu lama dari kedua saudaranya membuat Elthia mengerutkan alisnya. Binar penuh kebingungan terpancar jelas dari kedua matanya.
"Tidakkah ini hal yang wajar untuk dicari tahu?"
Sebastian menggeleng. Kedua matanya yang berwarna hijau menatap serius Elthia. "Kau masih terlalu kecil untuk menanyakan hal itu, Elthia." Jawabnya dengan nada tegas. Dengan kedua tangannya yang menepuk-nepuk pelan kedua bahu Elthia, Sebastian kembali berkata. "Usiamu saja masih belum sampai lima belas tahun."
"Jadi, aku harus sudah berusia lima belas tahun dulu, baru boleh bertanya, begitu?" Elthia menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tapi, tidak ada salahnya kan, aku memastikannya sedikit lebih awal?"
"Kau menyukai seseorang?"
Elthia refleks menggeleng. "Tidak. Aku tidak menyukai siapapun." Pertanyaan yang diajukan oleh Evander itu, entah mengapa terasa seperti sebuah interogasi baginya.
"Kalau begitu, apakah ada seseorang yang menyukaimu?"
Pertanyaan yang diubah namun tetap memiliki maksud yang sama ini, membuat Elthia mengerutkan alisnya. Elthia bertanya-tanya apakah memang harus serumit ini baru ia bisa mendapatkan jawaban. "Untuk yang satu itu, aku juga tidak mengetahuinya. Tapi menurutku, tidak ada orang yang menyukaiku sebagai perempuan saat ini."
"Kau yakin?"
Elthia mengangguk mantap. "Yakin sekali."
Evander dan Sebastian saling berpandangan. Entah apa yang mereka sampaikan melalui tatapan, Elthia juga tidak mengetahuinya. Akan tetapi, begitu mereka berdua mengangguk dengan kompaknya, lalu menatap lekat dirinya, Elthia merasakan suatu perasaan yang tidak mengenakan.
Ah... aku merasakan firasat buruk.
"Ayah!! Tolong aku!!" Elthia berlari ke tempat ayahnya berada dan bersembunyi dibalik punggungnya. Tidak ada pilihan lain. Jika ingin selamat, Elthia harus memiliki tempat perlindungan.
"Kak Sebastian dan Kak Evan mengerikan." Keluhnya sehingga mengundang tawa keluar dari mulut ayahnya. Dengan wajah sang ayah yang selalu tersenyum palsu, baru kali ini Elthia melihat ayahnya tertawa begitu tulus.
"Ayah?"
Tidak hanya Elthia saja yang merasa terkejut. Evander dan Sebastian pun juga demikian. Kedua orang putra kebanggaan keluarga Lucretia itu terlihat heran sekaligus takjub akan apa yang mereka saksikan.
"Baru kali ini ayah melihat kalian bertingkah kekanakan."
Komentar yang diberikan Tuan Arys sangatlah tidak terduga. Ketiga orang Lucretia bersaudara itu tertegun. Ekspresi penuh keheranan mereka bertiga mengundang tawa untuk sekali lagi keluar dari mulut sang ayah. "Padahal ayah tidak melarang kalian bertingkah seenaknya. Tapi, ternyata kalian menahan diri dengan baik, ya?"
Tuan Arys mengelus pelan kepala Elthia yang kini sudah berdiri di sampingnya. Surai perak yang diwariskannya kepada putra-putrinya itu entah mengapa terasa begitu memukau dalam pandangannya. Tuan Arys tersenyum tipis. Kepala Elthia di tepuknya dengan pelan sebanyak dua kali. "Terimakasih atas kerjasamanya. Sekarang, kalian bertiga beristirahatlah."
Tuan Arys mendorong pelan bahu Elthia ke arah Sebastian. Mengabaikan wajah melongo nan menggemaskan kedua anak kembarnya, tuan Arys memperhatikan secara seksama Sebastian. Di antara ketiga orang anaknya, Sebastian bisa mengendalikan dirinya lebih cepat. Tidak seperti kedua adiknya yang masih terlarut dalam rasa takjub, Sebastian mengerutkan alisnya. Sikap janggal sang ayah yang baru kali ini dilihatnya ini, berhasil membuatnya merinding. "Apakah benar ini adalah ayah yang aku kenal?"
Tanpa Sebastian sadari, ia mengajukan sebuah pertanyaan aneh. Apa yang Sebastian katakan itu, tentu saja mengundang dengusan terdengar dari sang ayah. "Jadi, ayah seperti apa yang selama ini terlihat di matamu?"
"Seperti.... penyihir jahat?" Sebastian menjawab penuh keraguan. Kedua matanya menghindari dari menatap langsung kedua mata biru ayahnya.
"Begitu rupanya."
Respon santai yang lagi-lagi tak terduga dari sang ayah, kembali mengejutkan Sebastian.
"Sekarang kemasi barang-barang kalian. Besok pagi kalian harus berangkat." Ucap tuan Arys sebelum Sebastian sempat membuka mulutnya. Tuan Arys mengelus surai perak kedua anak kembarnya.
"Ayah yakin Athalita pasti sudah menyiapkan semua keperluan kalian. Jadi, bawa barang seperlunya saja, ya."
Elthia dan Evander saling berpandangan untuk sesaat. Keduanya mengangguk kompak begitu Sebastian berkata, "Aku juga ikut menemani kalian."
"Selamat malam ayah." Karena pembatas kasat mata di antara mereka sekarang sudah menghilang, Elthia memberanikan dirinya untuk mengecup pipi sang ayah. "Semoga ayah bermimpi indah."
Tuan Arys tersenyum. "Selamat malam kembali, Elthia."
Di sisi Sebastian, Evander juga ikut memberanikan dirinya. "S-selamat malam, ayah." Tidak seperti Elthia yang bersikap biasa saja, Evander terlihat malu. Rona merah muda tipis menghiasi pipinya.
"S-semoga mimpi indah."
"Jangan terlalu memaksakan dirimu nanti ya, Evan."
__ADS_1
Evander mengangguk mengiyakan. Rasanya memalukan mendapatkan pesan seperti itu dari ayahnya. Seolah-olah, ayahnya sudah mengetahui apa saja yang nanti akan mereka lakukan sesudah jauh dari jangkauannya.