(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
18. Pemandu


__ADS_3

Setelah Luca benar-benar pergi. Keheningan menyelimuti mereka semua. Entah itu memang karena pengaruh keberadaan Luca yang menyesakkan, atau karena mereka memang memiliki masalah pribadi dengannya. Kehadiran Luca sebelumnya, meninggalkan jejak kemarahan di dalam binar mata mereka semua.


"Sepertinya, kalian berdua suka sekali terlibat dengan hal yang merepotkan, ya?"


Begitu Pangeran Luca benar-benar menghilang dari hadapan mereka, Psyche membuka pembicaraan terlebih dahulu. Suasana suram ketika sosok yang memiliki posisi tidak kalah penting darinya itu tinggalkan, sangatlah tidak nyaman untuk dirasakan.


"Padahal kalian berdua masih kecil."


"Karena kami masih seorang anak kecil inilah, kami berdua tidak bisa menghindari hal merepotkan itu." Sahut Evander, tanpa memakai sikap formal. Pemaksaan, serta kedekatan yang terjalin antara Evander dan Pysche beberapa hari terakhir, berhasil mengikis dengan baik jarak di antara mereka.


"Pantas saja kak Sebastian tidak menyukainya."


Sama seperti Elthia. Evander jugalah sering bertukar surat dengan Sebastian, kakak tertua mereka. Sekarang, Evander mampu memahami mengapa Elthia bisa mendapatkan mimpi buruk mengenai Pangeran Luca. Sesuai yang kakaknya katakan, pangeran tunggal negeri Pyralis itu memanglah berbahaya. Dengan kekuasaannya yang mampu melakukan apapun, Pangeran Luca, jelas bisa saja menyeret mereka semua ke dalam bahaya dengan mudahnya.


"Bisakah kita mulai saja diskusinya sekarang?"


Elthia menghentikan pembicaraan Evander dan Psyche. Sebelum rasa lelah benar-benar mendatanginya. Elthia ingin mereka menyusun kembali teka-teki lain dari tulisan kuno, yang mampu mereka temukan.


"Kita tidak akan mengadakan diskusi hari ini."


Ucapan tak terduga dari Rio, membuat mereka semua terdiam. Elthia memperhatikan Rio. Kedua netra merah yang balas menatap serius dirinya itu, mengundang helaan nafas keluar dari mulutnya.


"Aku ingin menemukan kebenaran dibalik semua ini."


"Tidak dalam kondisi mana milikmu sedang tidak stabil." Bantah Rio secara tegas. Sorot matanya yang tajam itu, jelas membuktikan bahwa Rio tidak ingin menerima bantahan.


"Hei, Evander. Bisakah kau membantuku mengambil barang milikku?" peka dengan keadaan, Psyche mengajak Evander untuk pergi menjauh bersamanya. Elthia yang jugalah memahami gelagat seolah ingin memberi mereka waktu yang Pysche perlihatkan, mengerutkan alisnya heran. Tidak biasanya kedua orang mencolok itu bisa akur satu sama lain. Jadi, tentu saja Elthia cukup terkejut akan tindakan kompak yang Psyche serta Rio ambil.


"Nanti kita berkumpul kembali di perpustakaan, ya!" Pysche mengedipkan sebelah matanya. Senyum secerah mentari miliknya, berhasil mengundang lengkungan tipis juga ikut muncul, dan memperindah wajah Elthia.


"Dasar kekanakan."


Tidak seperti Elthia yang ikut terhibur. Rio memasang wajah cemberutnya. Tingkah laku Psyche sangatlah menjijikan untuk dilihat bagi orang yang selalu memasang wajah datar tanpa semangat sepertinya.


Psyche tidak mengambil pusing ejekan yang Rio berikan. "Ayo!" ajaknya, setengah menyeret Evander. Mengabaikan wajah keberatan Evander, Psyche tetap mendorong paksa Evander agar mengikutinya.


"Tapi, Elthia--"


"Duluan saja. Nanti aku akan menyusul kakak."


Paham bahwa dirinya tidak bisa membantah kedua orang itu, Elthia memilih untuk mengikuti saja keinginan mereka.


Elthia tersenyum. Rasa keberatan Evander, sebisa mungkin ia netralkan. "Aku tidak akan lama."


"Dia akan menyusul bersamaku. Jadi, cepatlah pergi." Dengus Rio, seraya mengusir Evander dengan tidak berperasaannya.


"Ayo,'' ajaknya sambil menarik tangan Elthia. Tidak peduli akan ekspresi kesal Evander serta senyum mengejek Psyche. Rio mengajak Elthia  pergi ke arah yang berlawanan dari tempat yang kedua orang itu tuju.


...°·°·°·°·°·°...


Pohon perak tempat pertemuan pertama Elthia dengan Psyche, merupakan tempat yang Rio datangi setelah menyeretnya pergi. Elthia memperhatikan daun yang begitu rimbun dari pohon perak. Salah satu batang yang tak sengaja tertangkap oleh matanya, mengingatkannya akan pertemuannya dengan Psyche ketika pertama kalinya.


"Apakah kau sudah pernah ke sini sebelumnya?"


Elthia memperhatikan Rio yang duduk dengan mudahnya di atas tanah tanpa menggunakan alas. Rio yang bersandar dengan begitu santainya di batang pohon, merupakan pemandangan langka, yang baru kali ini dilihatnya.


Dia bisa memasang ekspresi seperti itu juga rupanya.


Biasanya, jika tidak memasang ekspresi serius, Rio memasang ekspresi bosan. Elthia sendiri pun terkadang merasa heran. Disaat mereka bertiga sedang tertawa bersama, adakalanya keceriaan yang terlihat di wajah Rio tidaklah sampai ke matanya. Seolah menyimpan suatu hal yang besar, Rio yang sesekali terlihat serius tanpa adanya masalah di sekitar, jugalah lumayan membingungkan.


"Ini adalah tempat pertama kalinya kami bertemu dengan Pangeran Psyche."


Elthia juga ikut mendudukan dirinya di samping Rio. Seringai kecil yang mampu ditangkapnya itu, sepertinya dapat ditebak.


"Karena kau berasal dari dunia lain, kau tidak ragu-ragu sekali, ya?"


Pandangan Rio ke arah bagian bawah gaunnya yang terkena tanah, Elthia ikuti. Senyum tipis, Elthia torehkan sebagai respon. "Aku kan, seorang gadis yang langka." Disaat seperti ini, Elthia bisa menyombongkan dirinya. Tidak seperti gadis bangsawan kebanyakan yang takut ujung gaunnya terkena suatu hal yang kotor, Elthia bahkan tanpa ragu menorehkan noda bagi ujung gaunnya itu.


"Duduk seperti ini adalah hal yang biasa aku lakukan di kehidupanku yang dulu."


"Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah di sini terasa menyenangkan?"


Elthia memperhatikan Rio. Pertanyaan yang terkesan seperti pernyataan itu, jujur saja sedikit mengejutkan bisa keluar dari seseorang yang begitu kaku seperti Rio.


"Dibandingkan yang dulu, tentu saja di sini jauh lebih menyenangkan."


Tidak ada sedikit pun kepura-puraan terbesit di dalam kalimatnya. Selama di sini, Elthia sangatlah menikmati segalanya.


"Yah, biarpun aku bisa mati kapan saja, aku tetap akan menikmatinya, kok."

__ADS_1


Elthia menorehkan senyum ceria miliknya. Wajahnya yang memanglah rupawan, terlihat menjadi semakin cantik berkat goresan yang indah itu.


"Apakah kau ingin menemuinya?"


"Aku tidak bisa terus menghindar, bukan?" kenyataan bahwa dirinya terikat dengan Pangeran Luca, tidaklah bisa ditampik. Mau bagaimanapun kejamnya alur yang sudah ditentukan, serta seberapa kerasnya pun usaha yang Elthia kerahkan untuk mengubahnya. Pertemuannya dengan sang pangeran di dalam cerita, tidaklah bisa dihindari.


"Kau ingin menyerah?"


"Aku sudah sampai sejauh ini. Jadi, mana mungkin aku akan menyerah."


Dimulai dari kedatangannya, sihir, familiar, bertemu Rio, sampai bertemu beberapa sosok tak terduga seperti Psyche, serta Tristan. Tidak membutuhkan sedikit waktu bagi Elthia untuk melalui itu semua. Apa yang terjadi selama ini, sudah memberikan begitu banyak hal baginya. Walaupun tidak semua pengalaman yang dilaluinya terasa menyenangkan. Namun, menghabiskan waktu seperti ini bersama sosok yang berharga baginya, tidaklah mungkin mampu tergantikan.


"Tidak terasa, sebentar lagi aku akan ulang tahun."


Elthia menatap Rio. Senyum cemberut yang Rio berikan sebagai respon dari senyuman manisnya, terasa sangatlah menghibur baginya.


"Aku akan menepatinya. Jadi, hentikan tatapan menyebalkan itu."


Elthia tertawa. Raut wajah terganggu yang Rio perlihatkan, memanglah merupakan hiburan pelepas bosan yang menyenangkan.


"Kau merasa risih?"


Rio mendengus. Elthia yang usil seperti ini, tidak begitu disukainya. "Tidak. Tapi, itu sangatlah menyebalkan."


Tawa yang sedari tadi coba ditahan, akhirnya lepas juga. Elthia tidak tahan untuk menertawakan ekspresi Rio yang kini merasa jengkel akan godaan yang ia berikan.


"Berhentilah tertawa. Kau membuat kesan baik milikmu itu memudar."


"Iya. Iya. Terimakasih. Aku memang selalu baik, kok."


Membuat jengkel orang yang selalu memberinya tugas merepotkan ini, merupakan hal terbaik yang mampu Elthia lakukan. Tidak ada kesenangan lain yang lebih menyenangkan daripada ini.


"Ya, kau memang mampu menyembunyikannya dengan baik."


Sahutan tak terduga Rio, membuat Elthia bingung. "Kau betul-betul memujiku? Owaah... " Elthia kira, Rio hanya bercanda saja. Namun, siapa sangka orang pelit pujian sepertinya itu serius memujinya?


"Itu sindiran. Bukan pujian." Rio memutar kedua bola matanya jengah. Rasa percaya diri Elthia yang kadang-kadang muncul ini, selalu saja berhasil membuatnya jengkel.


"Wajahmu memang terlihat tenang. Namun, gejolak yang ada di dalam hatimu terlihat dengan sangat jelas."


"Binar mataku?" karena membaca hati seseorang melalui binar matanya jauh lebih efektif daripada ekspresi. Jadi, mungkinkah emosi Elthia terlihat jelas di sana?


"Kau penipu yang handal. Tentu apa yang kau sembunyikan itu tak bisa terbaca."


"Aliran mana milikmu. Mungkin, kau bisa mengelabui penyihir dengan tingkat yang lebih rendah dari dirimu. Namun, karena aku berada satu tingkat lebih tinggi, semua itu jadi terasa jelas."


Elthia tertawa kaku. Tebakan Rio yang tepat sasaran, membuatnya tidak bisa berkutik.


"Kau tahu segalanya, ya?"


"Itu semua sudah jadi kelebihan seorang pemandu."


Sekarang, gantian Rio yang membanggakan dirinya. "Apa kau takut menemuinya?" tidak ada bayangan lain, yang bisa menggoyahkan Elthia selain Luca, sang tokoh utama di dalam cerita. Pangeran tunggal dari negeri Pyralis itu memanglah terkenal bahkan sebelum pertemuannya dengan Elthia.


Sebagai pemandu, tentu Rio memiliki banyak kelebihan. Selain mampu memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan. Rio jugalah mampu mengetahui warna aura seseorang. Kelebihannya yang mampu membaca 'buku' terlarang, adalah hal yang paling berguna di antara semua kelebihan lainnya yang ia miliki.


Keberadaan Luca akan membawa petaka bagi banyak orang di masa depan kelak. Pangeran satu itu, akan membuat banyak rakyatnya menderita. Bukan karena ketidakmampuan, ia menghancurkannya. Melainkan, karena satu tindakan fatal yang mampu mengundang murka dari makhluk legenda itulah, yang membuatnya bisa membahayakan kehidupan orang banyak. Rasa iri hati yang tak mampu terkendali dengan baik yang dimiliki Luca, adalah faktor utama penyebab segala kekacauan yang terjadi. Sikapnya yang serakah, ingin memiliki suatu hal yang tidak mungkin didapatkannya itu, tidaklah patut dimiliki seorang calon pemimpin seperti dirinya. Tidak hanya membawa dampak buruk bagi dirinya sendiri. Sikapnya itu, tentu jugalah akan menyeret secara tidak langsung semua rakyat yang berada di bawah perlindungannya menuju kehancuran.


"Masa depan akan berubah tergantung dari keputusan yang aku ambil bukan?"


Kecemasan yang Elthia miliki, adalah hal yang sangat wajar. Disaat takdir kehidupan banyak orang bergantung padanya, Elthia tidaklah bisa sembarangan memutuskan sesuatu. Sebagai sosok yang mengancam bagi kedudukan Pangeran Luca, Elthia tentu harus memikirkan dampak yang mungkin akan didapat, sebelum mengambil begitu saja sebuah keputusan. Karena, tidak hanya keluarganya saja, yang bisa merasakan dampaknya. Sedikit banyak, orang lain yang berada di sekitarnya pun tentu memiliki kemungkinan jugalah akan merasakannya.


"Kau hanya perlu yakin akan pilihan yang akan diambil."


"Sebaiknya, apa yang harus aku lakukan?" Elthia meminta pendapat Rio. Ketika Elthia memenuhi permintaan dari Luca untuk bertemu, alur cerita yang sesungguhnya akan berjalan. Biarpun sekarang, alur sesungguhnya sudah lumayan menyimpang. Namun, tidak menutup kemungkinan alur ini akan berjalan kembali seperti cerita aslinya, jika Elthia salah dalam mengambil keputusan.


"Jatuhkan harga dirinya. Dan jangan sampai dia bisa merendahkanmu."


Saran yang diberikan Rio, sangatlah mengejutkan. Elthia tidak percaya, Rio justru ingin menyeretnya menuju kematian secepat ini.


"Tidakkah itu justru akan membuat situasi yang ada semakin memburuk?"


"Sebaliknya. Perhatian yang semakin tertuju padamu, bisa menjadi keberuntungan."


Sisi mananya yang beruntung?


Mau dilihat dari sisi mana pun, Elthia rasa, bukannya memberikan keuntungan, Elthia justru akan menerima banyak kerugian.


"Menjadi fokus perhatian Luca akan membuatmu menjadi sosok incaran utama."

__ADS_1


Elthia tentu juga tahu itu. Akan tetapi, itu akan menjadi berbanding terbalik dengan tujuan awalnya. Elthia tidaklah ingin menarik perhatian raja Istvan lebih jauh. Sebisa mungkin, Elthia bahkan ingin melakukan kontak seminim mungkin dengan anggota keluarga kerajaan.


"Apakah kau bermaksud ingin membuat mereka lengah?"


"Berpura-pura berada dalam genggaman, akan menenangkan mereka."


"Bagaimana jika aku justru terperangkap semakin jauh?" Elthia menghela nafasnya. Saran luar biasa yang bisa Rio katakan dengan mudahnya tanpa memiliki sedikit pun rasa terbebani ini, lumayan memusingkan. "Aku tidak ingin memperbanyak tali kekangan yang melilit leher keluarga Lucretia, Rio."


"Disaat mereka yakin kau berada di bawah kuasa mereka. Keberadaan Pangeran Pysche adalah hal yang akan membuat mereka terjatuh."


"Selain tidak sopan. Kau juga kurang ajar, ya?" memanfaatkan posisi seorang pangeran secara terang-terangan seperti ini... Elthia yakin, tidak ada orang lain, yang bisa seberani Rio.


"Aku tidak percaya kau bisa memberikan ide segila itu padaku."


Elthia menggelengkan pelan kepalanya. Ekspresinya yang seolah mengatakan bahwa ia menyesali telah mempercayai Rio, tentu berhasil menyinggung pemandunya itu.


"Aku tidak ingin mendengar itu darimu." Desis Rio, disertai tatapan tajamnya. Menghela nafas kasar, Rio berdiri dari posisi duduknya.


"Berdiri!" perintahnya tanpa sedikit pun memberikan penjelasan. Tangannya terulur di depan wajah Elthia.


"Sekarang?"


"Kau mau membuat pangeran itu menunggu lebih lama, dan menyebarkan rumor buruk tentangmu?"


Elthia menerima uluran tangan itu. Segaris senyum tipis, terlihat menghiasi bibirnya. "Aku bercanda. Jadi, cobalah tersenyum! Wajahmu itu menakutiku."


Ekspresi menyeramkan Rio dengan kedua netra merahnya yang menyala, berhasil membuatnya bergidik. Satu, dari beberapa hal yang membuat Elthia tidak bisa menentang permintaan Rio secara mudah, adalah karena tekanan dari kedua netra merah menyala itu. Seolah memiliki sihir yang mampu membuat orang merasa tertekan sekaligus merinding disaat yang sama, tatapan Rio disaat-saat seperti ini sialnya terlihat sangatlah serasi dengan warna rambutnya.


Seolah ditakdirkan menjadi satu. Aura selayaknya seorang tokoh jahat di dalam cerita yang mengelilingi tubuh Rio, jugalah menjadi faktor pendukung lain yang membuatnya menjadi terlihat dua kali lipat lebih menyeramkan dari manusia normal lainnya.


"Berbaliklah."


Tidak ingin mendengar ocehan panjang lebar Rio, Elthia memilih untuk menurut. Disaat seperti ini, sama seperti kakaknya Sebastian. Menentang Rio hanyalah akan membawanya kepada situasi nan merepotkan. Elthia yang tidak ingin moodnya juga ikut memburuk, mengalah. Karena sekarang Rio sedang berada dalam kondisi normal. Elthia yakin, Rio tidaklah akan memberikan suatu hal yang mengerikan kepadanya. Selama mereka tidaklah melakukan praktik sihir, tindakan yang Rio ambil masihlah bisa dimaklumi oleh akal sehatnya.


"Hadiah perlindungan dari Psyche."



Elthia memperhatikan kalung yang terpasang di lehernya, ketika Rio sudah mengambil jarak darinya. Permata obsidian mungil, disertai rantai emas yang minimalis, membuat kalung itu terlihat sangatlah sederhana. Jika dibandingkan dengan kalung yang biasa dipakainya, kalung pemberian ini jelas memiliki model yang jauh lebih biasa, dibandingkan kalung yang Elhia pakai sehari-sehari.


"Apakah kau menaruh sihir di dalam permata ini?"


Aliran mana yang bisa Elthia rasakan samar-samar, memberikan perasaan menenangkan.


"Ya. Aku menaruhnya."


Pantas saja.


Mengalirkan mana dalam media bandul kalung, adalah hal yang jarang dilakukan. Di antara semua benda sihir yang pernah Elthia temui. Baru kali ini, Elthia menemukan benda kecil memiliki kekuatan besar dibaliknya.


"Apakah benar ini dari Pangeran Psyche?"


Mengingat hubungan Rio dan Psyche yang hanya bisa akur sesekali, Elthia tidak menyangka jika kedua orang itu bisa bekerja sama satu sama lain dengan kompaknya. Menemukan kalung berhiaskan permata obsidian, tidaklah mudah. Belum lagi, memasukkan sihir ke dalamnya. Diberikan hadiah seperti ini.... entah mengapa, Elthia merasa terharu karenanya.


"Ya. Itu benar."


Rio memperhatikan secara seksama penampilan Elthia. Warna yang berbanding terbalik dengan surai perak yang Elthia miliki dari kalung itu, memberikan kesan kontras yang begitu kentara.


"Sihir yang ada di dalam permata itu memiliki fungsi untuk memberikan pertanda bahaya kepada kami. Jika kau terlibat dalam situasi yang membuatmu tidak bisa menggunakan sihir, dan itu benar-benar membuatmu terdesak. Sihir yang ada di dalam permata itu akan menjadi sinyal, dan secara otomatis akan mengirim kami ke tempat di mana kau berada."


"Bagaimana cara menggunakannya?" diberikan benda semenakjubakan ini, benar-benar mengejutkan. Elthia tidak bisa berhenti merasa takjub, dari sisi istimewa yang terletak pada kalung itu.


"Kau hanya perlu memanggil namaku, atau nama Psyche." Jawab Rio dengan santainya. Seolah baru saja memberikan barang yang tidak terlalu berharga. Ekspresinya yang terlampau santai itu, sama sekali tidak merasa terbebani.


"Hei, Rio."


"Ya?"


Elthia memperhatikan wajah Rio. Kedua netra merah yang dimiliki pemandunya itu, sangatlah cocok dipadukan dengan rambutnya yang berwarna hitam pekat. Mau dilihat dari mana pun, Rio memiliki wajah yang tidak kalah rupawan dari kedua orang pangeran di dalam cerita. Dibandingkan dengan Luca ataupun Pysche, entah mengapa Elthia merasa wajah Rio jauh lebih tampan. Seolah memang dibuat menonjol. Rumor yang tersebar tentang Rio juga semakin memperkuat keberadaannya. Selayaknya seorang tokoh antagonis. Keberadaan Rio yang mencolok, jelas memiliki banyak hal tak terduga di sisinya.


"Terimakasih."


"Sudah merasa lebih baik?"


Tersenyum. Elthia menyambut uluran tangan Rio yang mengajaknya pergi. "Tentu saja."


"Sekarang, kau bisa pergi menemui Pangeran Luca."


Walaupun Rio terkadang menyebalkan. Disaat-saat seperti ini, posisinya sebagai seorang pemandu sangatlah membantunya. Berbicara dengan Rio, berhasil mengurangi rasa cemas di dalam hatinya. Sekarang, karena Elthia sudahlah yakin akan keputusan yang diambilnya nanti. Elthia bisa menemui Pangeran Luca dengan jauh lebih percaya diri.

__ADS_1


"Mari kita ubah alur tragis cerita ini."


Demi keluarganya, demi orang yang berharga, serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Elthia akan mencoba mengubah alur yang sudah tertulis, sebaik mungkin.


__ADS_2