(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
12. Perpustakaan dan sihir


__ADS_3

Elthia duduk dengan tenang di tempatnya. Buku super tebal yang dipinjamnya di perpustakaan, menjadi pusat perhatiannya.


Saat ini, mereka bertiga sedang mencoba untuk saling menyelaraskan gelombang sihir yang mereka miliki. Walaupun tidak semaniak Elthia, Evander yang lumayan suka membaca juga ikut mencari ketenangan dengan berdiam di perpustakaan. Di tempat yang penuh keheningan ini, mereka bertiga fokus terhadap bacaan masing-masing. Karena proses menyamakan gelombang sihir antar orang itu tidaklah mudah serta memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi. Maka, perpustakaan merupakan tempat pilihan yang cocok bagi mereka yang menginginkan ketenangan.


Dengan suasana nan tenang, konsentrasi lebih mudah untuk didapatkan. Suasana hening yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, bisa membuat mereka jauh lebih fokus terhadap apa yang mereka lakukan sekarang ini.


Ya. Setidaknya memang harus begitu. Namun, entah mengapa bukannya merasakan ketenangan, Elthia justru merasa resah. Tatapan yang selalu tertuju kepada mereka bertiga ini sangatlah menyebalkan. Elthia yang tidak tahan lagi akan tatapan menusuk itu menghela nafasnya. Elthia menghentikan aktivitas membacanya dan menatap datar Rio yang terlihat tenang, tidak terusik sedikit pun.


"Jadi begini rasanya perhatian yang ditujukan orang lain bagimu." Melirik lima orang yang berada tidak terlalu jauh dari mereka, Elthia memperlihatkan senyuman termanis yang dimilikinya ketika matanya tidak sengaja bertatapan dengan salah seorang murid yang duduk di sana.


"Aku tidak menyangka kau sangat menarik perhatian seperti ini."


"Aku rasa kau tidak pantas mengatakan itu padaku." Rio juga ikut menghentikan aktivitas membacanya. Seringai kecil terlihat menghiasi bibirnya. "Bukankah kalian berdua juga begitu mencolok untuk diperhatikan?"


Elthia mengikuti arah fokus kedua netra merah Rio. "Oh, ini." Rambut berwarna perak yang mereka berdua warisi dari ayah mereka ini, sangatlah sulit untuk disembunyikan. "Aku bisa memaklumi kekaguman mereka ketika melihat warna ini."


Tingkat kelangkaan surai perak di benua Lucinda sangatlah besar. Dari begitu banyaknya orang yang tinggal di ketiga negeri, hanya para keturunan murni dari keluarga Lucretia sajalah yang memiliki warna yang begitu indah ini. Jadi, tidak heran jika kemana pun mereka pergi tatapan orang-orang selalu terfokus kepada mereka berdua.


"Jadi aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian."


"Kalau begitu, apa yang kau permasalahkan?" Rio menopang dagunya. Senyum remeh Rio perlihatkan. Ocehan tidak masuk akal yang Elthia berikan, entah mengapa menjadi sebuah kesenangan tersendiri baginya. Jujur saja, bertukar pendapat dengan Elthia tidak pernah sekalipun membuatnya merasa bosan.


"Karena kau sudah terbiasa. Bukankah menambah sedikit perhatian tertuju padamu, tidaklah begitu berarti?"


"Ya. Itu memang tidak berarti." Elthia memainkan sebagian kecil rambutnya. Mengingat betapa banyaknya perhatian yang mereka berdua dapatkan selama ini, tentu secara tidak langsung Elthia juga menjadi bisa menilainya. Entah itu kekaguman, iri, benci, maupun permusuhan serta kebaikan sebatas formalitas. Tatapan yang diberikan setiap orang sudah bagaikan cermin tempat memperoleh informasi baginya. Membaca apa yang terdapat di dalam hati seseorang melalui binar matanya merupakan rutinitas sehari-hari yang harus Elthia lakukan. Jika hal sekecil itu tidak bisa dilakukannya, mana mungkin Elthia serta Evander bisa mendapatkan izin dari ayah mereka, dan bisa belajar di akademi Secilia ini.


"Hanya saja, perhatian yang kami dapatkan setelah bersamamu terasa jauh berbeda."


Oh.. ini menarik.


Rio tersenyum kecil. Binar penuh rasa tertarik terlihat jelas di kedua matanya. "Apakah kalian bisa menebak emosi seperti apa yang terkandung di dalam tatapan mereka?" tanyanya, disertai nada yang menantang. Melihat seberapa jeli sekaligus pekanya kedua orang anak kembar di depannya ini, Rio jelas merasa penasaran sebesar apa kemampuan mereka dalam menerka pikiran seseorang.


"Berada di dekatnya hanya akan membawamu kepada kesialan. Mengapa dia belum pergi dari sini? Bukankah seharusnya anak terkutuk seperti dirinya akan lebih baik jika dia mati?"


Satu persatu cacian itu, ditirukan dengan penuh penjiwaan oleh Evander. Nada merendahkan yang Evander gunakan benar-benar terasa. Belum lagi, tatapan menghina yang Evander layangkan. Sorotan tajam seolah Evander merasa jijik akan keberadaan sosok Rio, sangatlah luar biasa. Sebagai penonton, Elthia serta Rio berdecak kagum. Peran yang begitu menjiwai dari Evander ini terlihat sangatlah alami. Saking alaminya, Elthia serta Rio menjadi ragu. Mereka bertanya-tanya, apakah Evander sedang mengatakan hal itu dengan maksud bercanda hanya demi memberikan contoh, atau benar-benar mengungkapkannya secara langsung.


"L-luar biasa." Elthia memberikan respon yang paling pertama. Binar takjub tidak sedikit pun pudar dari kedua matanya. "Aku tidak menyangka kakak bisa memperlihatkannya begitu sempurna seperti itu."


Selama ini, mereka berdua memang sudah belajar salah satu seni bertahan hidup di lingkungan sosial yang diajarkan Sebastian yang satu itu. Akan tetapi, mereka hanya menggunakan sewajarnya saja, dan itu pun jika memang benar-benar diperlukan.


Melihat Evander bisa begitu sempurna dalam menirukannya... jujur saja, Elthia merasa sedikit terkalahkan. Elthia tidak menyangka kemampuan Evander dalam mengendalikan emosi bisa meningkat sehebat ini dalam waktu singkat.


"Kau membuatku takjub." Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Rio memberikan komentar. Raut wajahnya terlihat begitu puas ketika tatapan datar Evander sudah kembali.


"Padahal aku yakin kau bukanlah tipe orang yang mudah terusik akan perbedaan. Namun, setelah melihat caramu mencontohkannya tadi, sepertinya aku harus memikirkan ulang penilaianku terhadapmu."


"Apakah itu pujian? Jika iya, maka aku sangat berterimakasih."


Rio tertawa kecil. Jawaban singkat bernada enggan yang Evander berikan sama sekali tidak memberikan pengaruh. Rio tidak akan terpancing jika hanya karena hal sekecil itu.


"Ya. Itu pujian. Kemampuan kalian berdua jauh melebihi ekspetasiku."


Elthia tertawa kecil. "Kalau tidak begitu, mana mungkin kami bertahan di sisimu." Sindiran yang terbungkus manis itu, Elthia tujukan khusus bagi Rio. Wajah merengut yang Rio berikan sebagai balasan, hanya Elthia respon berupa senyuman tanpa dosa.


"Apakah kalian merasakan sesuatu yang aneh?" Rio yang sudah menyadari bahwa ia tidak akan menang apabila terus berdebat dengan Elthia, mengalihkan pembicaraan mereka. Rio mengabaikan senyum kemenangan Elthia, serta tawa yang coba ditahan Alta atas kekalahannya kali ini.


"Jika yang kau maksud adalah suasana ruangan ini. Aku sudah merasakannya sejak kelima orang di sana pergi." Evander menunjuk tempat di mana para pengintai mereka duduk sebelumnya. Kelima orang pengganggu yang berhasil merusak suasana hatinya itu, jelas memiliki keberadaan yang mencolok. Jadi, tentu Evander juga bisa menyadari kepergian mereka, yang disebabkan tidak tahan akan senyuman mematikan Rio disela-sela pembicaraannya dengan saudari kembarnya.


"Apakah kau mengetahui apa penyebabnya?"


Tidak mungkin bagi Rio menyinggung hal tersebut, jika ia tidak mengetahuinya. Satu minggu bersama Rio sudahlah cukup bagi Lucretia bersaudara untuk menyadari sebagian dari kebiasaannya. Biarpun mereka berdua masih berusia sembilan tahun, kemampuan yang mereka miliki tidaklah bisa dianggap remeh. Kepekaan mengerikan yang mereka miliki ini sangatlah luar biasa. Dan inilah, salah satu alasan mengapa mereka selalu diwaspadai oleh orang lain biarpun mereka masihlah belum dewasa secara fisik.


"Pengaturan aliran mana kalian sangatlah bagus. Belum lagi, kalian juga mampu mewujudkan sebagian besar imajinasi kalian melalui sihir."


Rio menatap serius kedua anak kembar di depannya. Wajah polos selayaknya anak-anak berumur sembilan tahun dari Lucretia bersaudara di depannya ini tidaklah akan membuatnya tertipu. Biarpun terlihat seakan tidak mengetahui apapun, Elthia maupun Evander termasuk ke dalam golongan anak yang memiliki banyak pengetahuan.


Sebagai anak yang terlahir di keluarga ternama, posisi yang dimiliki Evander serta Elthia tidaklah bisa dianggap remeh. Pengetahuan, kemampuan, kedudukan. Mereka berdua sudah hampir memiliki segalanya. Belum lagi, kini terdapat kekuatan yang sudah menghilang, bahkan dianggap musnah di dalam diri mereka. Hal itu menjadi semakin menambah pengaruh bagi kuatnya keberadaan kembar Lucretia.


Ini gawat.


Sebagai orang yang menjadi pembimbing mereka, Rio tidaklah bisa mengambil tindakan secara gegabah. Keberadaan kedua anak di depannya ini hampir setara dengan keberadaan sebuah negeri itu sendiri. Layaknya harta nasional negeri Pyralis. Elthia serta Evander haruslah dijaga dengan baik. Rio tidak akan membiarkan mereka berdua jatuh ke tangan orang yang salah. Sebab, jika Rio membiarkan hal itu sampai terjadi, bencana dapat dipastikan akan menemui mereka semua.


Tidak hanya mereka bertiga, Rio yakin skala dampak yang akan didapat bahkan bisa melebihi luasnya akademi Secilia ini. Kemungkinan terburuknya, jika keberadaan kedua bersaudara ini diketahui pihak kerajaan Istvan dan disalahgunakan, perang antara dua negeri bisa terjadi sangatlah tinggi. Kerajaan Eleftharia tidaklah mungkin membiarkan seorang penyihir berkekuatan besar seperti mereka berdua diperalat. Sebaliknya, Kerajaan Istvan yang sempat membuat sejarah kelam, tentu akan menggunakan segala cara agar bisa memanfaatkan mereka berdua.


"Karena sudah menguasai kedua hal dasar itu, aku rasa kalian bisa turun tangan secara langsung."


Raut wajah bingung dari Elthia serta Evander atas perkataannya, Rio abaikan. Melihat sekeliling mereka yang sudah sepi karena jam belajar sudah dimulai, Rio mengambil kesempatan ini untuk mengembangkan kekuatan kembar Lucretia secara langsung.


"Kalian akan membolos kelas teori hari ini. Bersiap-siaplah, aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik kepada kalian berdua."


Tanpa menanyakan kesiapan maupun persetujuan dari Elthia dan Evander, Rio berjalan lebih dulu. Di belakangnya, sama seperti Astrella dan Astra yang secara sigap langsung mengikuti tuan mereka, Alta juga melakukan hal yang sama. Familiar yang selalu memakai wujud manusianya itu, mengikuti dengan patuh tanpa mengeluarkan sedikit pun protes. Ekspresi tenangnya yang tidak biasa ini, tentu semakin mengundang tanda tanya. Sebagai orang yang terbiasa mendengar ocehan Alta, Elthia dan Evander merasakan perasaan tidak menyenangkan memenuhi hati. Mereka berharap, itu hanyalah kecemasan sekejap saja. Sebab, sudah cukup bagi mereka melihat ekspresi menakjubkan Alta, Elthia dan Evander tidak ingin sesuatu yang buruk nan merepotkan ikut menimpa mereka berdua.


°·°·°·°·°·°


"Apakah kalian bisa merasakannya?"


Rio mengajukan pertanyaan begitu mereka sampai tepat di ruang utama perpustakaan. Raut wajahnya terlihat sangatlah serius sekarang ini.


Evander serta Elthia mengangguk secara bersamaan. "Ya. Dan ini terasa lebih kuat dibanding sebelumnya." Ujar mereka dengan kompaknya.


Perasaan aneh yang sedari tadi mengganggu mereka bertiga terasa semakin menjadi ketika mereka berada di ruangan ini. Ruang utama perpustakaan di mana terdapat banyak tempat duduk khusus membaca ini, kalau dilihat sekilas, tidaklah memiliki kejanggalan sedikit pun. Bagi mereka yang memiliki kekuatan paling lemah, tentu hal itu tidaklah akan begitu terasa. Namun, karena Elthia, Evander maupun Rio termasuk penyihir berkuatan besar. Mereka bisa merasakannya dengan jelas rasa sesak sekaligus suram yang tersebar di ruangan ini.


"Aku tahu ini bukanlah pertanda baik. Tapi, bisakah kau beritahu apa yang akan muncul dari suasana mencekam ini?" Elthia memperhatikan Rio secara serius. Senyuman manis menyebalkan yang biasa Elthia torehkan untuk mengejek laki-laki itu, sekarang tidaklah terlihat. "Akan lebih baik bagi kami untuk berjaga-jaga. Dengan begitu, kita bisa menghindari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi."


"Sebuah tirai⁸ akan muncul di tempat ini."


Jawaban tanpa basa-basi yang Rio berikan, berhasil membuat Elthia serta Evander terkejut. Mereka berdua tidak menyangka, jika masalah yang mereka dapatkan akan begitu serius seperti ini.

__ADS_1


"Mengapa tirai bisa muncul di tempat ini?! Bukankah seharusnya pelindung sihir tidaklah bisa dihancurkan semudah itu?!"


Rio melirik Elthia. "Aku juga tidak mengetahui apa penyebabnya."


Menyuruh kedua orang anak kembar itu untuk sedikit menjaga jarak darinya, Rio berdiri mantap di posisinya. Lingkaran sihir berwarna putih terlihat bersinar terang di bawah kakinya. "Akan tetapi, ini adalah kesempatan yang bagus. Perhatikanlah dengan baik."


Entah Rio terlalu nekat, ataupun sudah kehilangan kewarasannya. Tindakan yang diambilnya ini, jelas melenceng jauh dari perkiraan. Elthia dan Evander tidak menyangka, jika praktik secara langsung yang mereka dapatkan akan serumit ini.


"Kau gila."


Bukannya tidak percaya akan kemampuan mereka. Elthia maupun Evander hanya tidak menyangka jika praktik mereka akan diadakan begitu mendadak seperti ini. Beruntung mereka berdua ini termasuk anak yang cerdas, serta lumayan pemberani. Seandainya saja mereka tidaklah memiliki keyakinan yang tinggi, mereka berdua sudah menyerah dari dulu.


Memiliki senior seperti Rio ini bisa mengundang kegilaan. Jika mereka tidak memiliki stok kewarasan yang tinggi, tentu mereka berdua tidaklah bisa mengimbangi rencana tak terduga Rio seperti sekarang ini.


"Apa yang harus kami lakukan?"


"Perhatikan dengan baik. Apabila ada makhluk kegelepan yang muncul dan keluar dari tirai, musnahkan mereka."


Rio melirik kedua anak kembar di belakangnya. Senyum tipis, terlukis indah di bibirnya. "Kalian bisa melakukannya, kan?"


"Karena kami pernah sekali melakukannya, aku rasa, kami bisa." Evander menggenggam tangan Elthia. Ia semakin mengambil jarak, ketika Rio memberikan isyarat agar mereka berdiri sedikit lebih jauh di belakang.


"Baguslah."


Memperbesar lingkup lingkaran sihir miliknya, Rio menyuruh Alta untuk berdiri di sampingnya. Rio memberikan perintah bagi Alta untuk mengambil tindakan antisipasi lainnya.


"Karena tirai yang satu ini cukup besar."


Tepat setelah Rio mengatakan hal itu, suasana sekitar langsung berubah drastis. Suhu ruangan menurun, dan secara perlahan lantai perpustakaan mulai membeku.


Sebuah lingkaran hitam beraura suram muncul tepat di atas lingkaran sihir yang Rio buat. Beruntung Elthia dan Evander sudah memasang sihir pelindung di seluruh area perpustakaan ini. Jadi, angin kencang yang berhembus ketika makhluk kegelapan mulai keluar, tidak menyebar secara sembarangan dari lingkup pertahanan mereka semua.


"Alta! Bantu aku memurnikan tirainya!"


Menuruti perintah Rio, Alta juga mengerahkan kekuatannya terhadap tirai. Sebelum makhluk kegelapan bisa keluar sepenuhnya, mereka berdua harus memurnikannya agar makhluk itu tidak bisa menyebrang dengan seenaknya.


Memurnikan tirai sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Jika mereka bisa melakukannya secara cepat dan diwaktu yang tepat, tirai bisa termurnikan dengan baik tanpa perlu membiarkan makhluk kegelapan menyebrang terlebih dahulu, baru menutupnya.


Cahaya putih yang memancar dari tubuh Rio semakin lama, semakin bertambah menyilaukan. Seiring bertambah terangnya cahaya itu, sisi berwarna hitam pekat dari tirai yang terbuka juga perlahan berubah warna menjadi putih.


"Sudah selesai."


Begitu sisi dari tirai berubah warna seluruhnya, Rio menghilangkan lingkaran sihir miliknya. Rio menghela nafas lelah. Di sisinya, Alta dengan sigap langsung memotong  kaki makhluk kegelapan yang ingin menyebrang, yang masih tersangkut di dalam tirai.


"Musnahkan itu." Perintah Rio kepada Evander dan Elthia.


"Baiklah."


Elthia dan Evander menatap lekat bagian potongan dari makhluk kegelapan itu. Mengangkat tangan mereka, kedua anak kembar itu memusatkan kekuatan mereka begitu tangan mereka menggenggam.


Pyassh.


Elthia menatap takjub butiran kecil yang mendarat di atas telapak tangannya.


Kegelapan yang termurnikan oleh sihir.


Elthia tidak menyangka jika sesuatu yang terlihat menakutkan dari makhluk itu, bisa berubah menjadi butiran cahaya yang indah seperti ini.


"Kalian bisa melepaskan sihir pelindung kalian."


Menuruti perkataan Rio. Elthia dan Evander menghilangkan sihir perlindungan yang mereka buat untuk berjaga-jaga tadi. Setelah sihir itu dilepaskan, penglihatan mereka kini menjadi sedikit lebih jelas. Sekarang, tidak ada lagi dinding kasat mata yang menghalangi. Perpustakaan sudah bisa dimasuki oleh siapa pun yang ingin berkunjung.


"Apa yang akan kita lakukan untuk menghilangkan ini?" Elthia menunjuk tirai yang terpampang di hadapan matanya. Warna hitam pekat dari tirai yang masih terlihat biarpun sudah dimurnikan ini, masih saja menyeramkan seperti sebelumnya.


"Kita tidak bisa menghilangkannya."


Rio tahu membiarkan tirai seperti ini lumayan meresahkan. Akan tetapi, seberapa pun kuatnya mereka, ini adalah batas bagi seorang penyihir untuk membereskannya. Selain memurnikan, mereka tidak bisa menghancurkan tirai ini dengan kekuatan mereka.


Ada batasan yang tidak bisa dilanggar oleh penyihir dalam hal tertentu. Dan membereskan sesuatu yang berhubungan dengan ruang dan waktu, termasuk di dalamnya. Tentu, tak terkecuali menghancurkan tirai yang satu ini.


"Karena begitu dimurnikan, tirai akan menghilang dengan sendirinya.


Tempat di mana makhluk kegelapan tinggal adalah dimensi yang berbeda dengan mereka, kaum manusia. Sebesar apapun kekuatan seorang penyihir. Mereka tidaklah memiliki wewenang untuk ikut campur dalam hal ini.


"Jadi, kita laporkan ini kepada para guru. Biarkan mereka mengambil keputusan untuk menutup perpustakaan ini atau tidak."


Elthia menatap kepergian Rio yang begitu acuh. "Tirai yang sudah dimurnikan tidak akan bisa terbuka kembali, kan?"


Rio menghentikan langkahnya. Kedua netra merahnya menatap lekat kedua mata berbeda warna Elthia. Mau bagaimanapun, untuk urusan rasa penasaran mengenai sesuatu, Elthia tidak terlalu pandai dalam menyembunyikannya. Binar penuh semangat yang terlihat jelas di kedua matanya itu membuat Rio menghela nafas.


Sepertinya, dia harus belajar lebih banyak lagi.


"Jangan terlalu lama. Masih ada banyak hal yang perlu kau pelajari."


Yah, tidak ada salahnya juga memberikan izin bagi Elthia untuk menambah wawasannya. Selain bisa mengurangi sedikit bebannya, Rio sendiri juga lebih menyukai anak yang antusias terhadap pengetahuan. Rio tidaklah terlalu menyukai anak-anak sombong yang bodoh, yang hanya bisa mengucapkan omong kosong. Jadi, rasa antusias Elthia dalam hal ini bisa diterimanya dengan baik. Menurut Rio, anak bermulut tajam seperti Elthia ini sangatlah cocok dijejalkan berbagai macam pengetahuan. Selain kemampuannya dalam berdebat bisa meningkat. Ucapan apa yang akan keluar dari mulut itu juga bisa terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan berkat pengetahuan yang diterimanya.


Aku tidak sabar lagi.


Seberapa berkembangnya Elthia, jujur saja membuat Rio sedikit penasaran. Disaat mereka tidak bertemu kurang lebih dua bulan saja, Elthia bisa menjadi semengerikan ini. Bagaimana jika kedepannya? Bersandiwara, memanfaatkan, lalu menekan orang lain. Seberapa banyak kemampuan lain yang kedepannya bisa dikuasainya? Seberapa besar tenaga yang Elthia kerahkan sehingga dia terlihat bagaikan anak yang sempurna?


Sebagai orang yang mengetahui rahasia terbesar Elthia, Rio merasakan begitu banyak pertanyaan terputar di kepalanya. Jika Rio melepaskan Elthia, akan terlalu banyak hal menarik yang dilewatkannya. Karena baru kali ini Rio menemukan sosok semenarik gadis berambut perak ini. Rio jadi menantikan tingkahnya yang diluar dugaan. Kira-kira, seberapa besar pengaruh gadis ini dalam merubah alur cerita yang ada?


Besar, sangat besar.


Di awal pertemuan mereka saja, Elthia sudah bisa membuat perubahan sebesar itu. Tentu, kedepannya Rio yakin akan ada banyak hal mengejutkan yang mungkin saja terjadi.


"Berhati-hatilah dalam mengendalikan kekuatanmu. Biarpun tadi kau berhasil melakukannya dengan baik, akan lebih bijak jika kau berlatih lebih giat lagi."

__ADS_1


Elthia melirik Rio yang mulai berjalan kembali. "Ya. Aku akan menahan diriku." Karena Elthia juga mengetahui seberapa besar batas kemampuannya, Elthia menuruti peringatan Rio dengan patuh. Memang, Elthia sudah bisa menstabilkan aliran mana yang ada di dalam tubuhnya, serta mampu mewujudkan sihir dengan baik. Akan tetapi, sebagai pemula masih ada banyak kekurangan yang dimilikinya. Elthia belum terbiasa mengenai rasa lelah sehabis menggunakan sihir. Berkurangnya mana secara drastis di dalam tubuh ketika sihir diwujudkan, masihlah belum bisa disesuaikannya dengan baik. Karena Elthia tidak ingin pingsan lagi seperti sebelumnya. Elthia lebih memilih memfokuskan diri untuk meneliti sesuatu yang sekiranya membantu dalam pengendaliannya.


"Elthia, aku mau kembali membaca. Kau tidak apa ditinggalkan di sini sendirian?"


Rasa antusias Evander dalam menemukan jenis sihir baru, sama besarnya dengan Elthia. Jadi, karena Elthia juga mengetahui seberapa besar rasa tertarik yang dimiliki Evander dalam hal itu. Elthia tentu tidaklah akan melarang kakaknya untuk membaca buku di tempat mereka tadi, dan meninggalkannya sendirian di ruang utama.


"Ya. Kakak bisa pergi lebih dulu." Elthia melirik Astrella yang kini berada dalam wujud manusianya. Senyum tipis yang diperlihatkannya sebagai tanda bahwa ia akan tetap berada di sisi Elthia, dipahami Elthia dengan sangat baik.


Dalam wujud apapun dia. Astrella tetaplah menggemaskan.


"Di sini ada Astrella. Kakak fokus saja terhadap sihir kuno itu."


"Tuan tidak usah khawatir. Saya yang akan menemani nona Elthia di sini." Astrella yang mengerti kecemasan Evander, menawarkan diri. Sudah menjadi tugasnya sebagai seorang familiar menemani ke mana pun Elthia pergi, dan selalu setia berada di sisinya.


"Apabila ada sesuatu hal yang terjadi disini, saya akan mengirimkan tanda bahaya melalui Astra."


Sebagai familiar yang juga sama-sama bersaudara. Astrella dan Astra memiliki kelebihan lain daripada familiar tunggal. Seberapa jauhnya jarak di antara mereka berdua, Astrella dan Astra masihlah bisa berkomunikasi satu sama lain melalui pikiran mereka.


"Aku percayakan Elthia padamu."


Astrella mengangguk patuh. Di sisinya, Elthia tersenyum tipis.


"Katakan padaku jika kakak menemukan sesuatu yang menarik, ya!" pinta Elthia ketika Evander sudah mulai berjalan menjauh.


"Ya. Nanti aku akan menunjukannya padamu."


Elthia memperhatikan bayangan Evander yang kini sudah mulai menjauh. Begitu Evander sudah bergabung kembali dengan Rio dan membaca bersama, Elthia mengalihkan perhatiannya kepada tirai yang ada di hadapannya. Binar penuh rasa antusias yang terpancar dari kedua matanya, tidaklah bisa disembunyikan lagi sekarang ini.


"Ini menakjubkan!"


Mau seberapa menyeramkannya pun warna hitam dari tengah portal yang ada pada tirai, Elthia tidaklah bisa melawan rasa penasarannya. Rasa takut yang sebelumnya sempat memenuhi dirinya, kini telah menghilang. Terhisap habis oleh rasa penasarannya yang begitu menggebu.


"Tirai adalah tempat penyebrangan makhluk kegelapan. Awal mulanya, mereka tidaklah bisa menyebrang seperti ini. Akan tetapi, karena kejadian kabut gelap yang menimpa benua ini, sepertinya sihir yang melindungi benua ini menipis."


Di sisi Elthia, Astrella menjelaskan tanpa diminta. Senyum tipis terlihat menghiasi bibirnya. "Berkurangnya pohon perak semakin memperparah kondisi yang ada. Karena, selain menjadi sumber kekuatan bagi para familiar. Pohon perak jugalah berfungsi sebagai pelindung yang menopang benua ini dari kehancuran."


"Apakah kehancuran yang kau maksud adalah benua ini dikuasai oleh makhluk kegelapan?"


Astrella mengangguk. Tebakan nonanya ini tidaklah salah.


"Apabila sihir benar-benar lenyap dari benua ini. Saya yakin, itu akan menjadi akhir tidak hanya bagi para penyihir, melainkan juga para kaum manusia."


"Bagaimana dengan kekuatan suci? Bukankah masih ada kekuatan itu untuk menjaga kestabilan ketika sihir tidak ada lagi?"


Memang benar sebagian kekuatan sihir telah menghilang dari benua ini. Namun, seingat Elthia masih ada kekuatan suci. Memang tidak sembarang orang bisa memilikinya. Akan tetapi, jika orang itu menjadi orang yang terpilih untuk memilikinya, orang itu akan memiliki posisi yang setara dengan para penyihir.


"Meskipun mereka semua bersatu untuk membuat segel. Segelintir orang yang terpilih itu tidaklah akan bisa menopang benua ini."


Seburuk itu?


Elthia tidak mengira bahwa menghilangnya sihir akan berdampak seburuk ini. Elthia kira, menghilangnya sihir hanya mempengaruhi aktivitas sehari-hari saja. Siapa sangka bahwa kabut gelap yang terjadi ratusan tahun lalu itu, akan memberikan dampak sebesar ini?


Tapi, hal itu juga secara tidak langsung menjadi jawaban mengapa para penyihir diperlakukan secara istimewa sekaligus buruk disaat yang bersamaan.


Disatu sisi, orang-orang yang kehilangan kekuatan mereka, membutuhkan bantuan para penyihir. Sedangkan di sisi lain, apabila ada penyihir yang berkhianat hal itu justru akan semakin membawa benua ini kepada kehancuran.


Seperti pedang bermata dua.


Demi menghindari kemungkinan terburuk. Jelas melindungi para penyihir adalah pilihan yang terbaik. Akan tetapi, bagi penguasa yang mengalami kejatuhan seperti raja Istvan... keberadaan penyihir jelas bisa mengancam keamanan sekaligus kedamaian hidup mereka.


Itu menjadi jelas mengapa Luca dideskripsikan segila itu di dalam cerita.


Sekarang, sepertinya Elthia bisa memahami mengapa kecemburuan yang dimiliki pangeran Luca bisa sebesar itu.


Mau seberapa kerasnya pun pangeran tunggal itu berusaha. Dirinya yang tidaklah terpilih, tentu mustahil bisa mendapatkannya.


Keluarga Lucretia sudahlah ada sebelum raja Istvan memimpin. Jelas kekuatan yang mereka miliki sangatlah besar. Dan sekarang? Ditambah dengan keberadaan Elthia dan Evander yang memiliki kekuatan yang telah dianggap hilang di negeri Pyralis. Hal yang wajar jika mereka merasa terancam. Khususnya sang putra mahkota. Luca Alcander Istvan. Tidak seperti Raja Thaddeus Alister Istvan yang memilih memakai cara halus untuk mengekang keluarga Lucretia, dengan menggunakan alasan penyatuan dua keluarga serta membangun kekuatan. Cara yang dipilih oleh Luca sangatlah brutal. Namun, walaupun begitu, Luca mampu mengubur segala kebenaran yang ada dengan rapinya. Rencana yang disusun pangeran satu itu tentu tidaklah bisa dianggap remeh. Sebagai orang yang kemungkinan besar menjadi target, Elthia hanya bisa berharap serta mengambil langkah dengan hati-hati.


Sebisa mungkin, Elthia akan mencari jalan keluar yang terbaik. Karena pangeran yang satu itu sangatlah licik. Elthia tentu tidak bisa mengambil langkah secara sembarang. Biarpun kini sang pangeran satu itu tidaklah berada di dekatnya, tetap saja Elthia merasa khawatir. Elthia yakin, keluarga mereka pastilah disuruh melakukan sumpah setia kepada sang raja sekarang ini. Jika tidak, mana mungkin situasi mereka bisa terasa setenang ini. Seberapa kerasnya pun raja berusaha untuk menyeretnya menuju tali pengekang. Elthia tentu tidak akan membiarkannya. Sebelum kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi, Elthia akan memastikan tali itu sudah terputus tanpa mampu menjeratnya seujung jari sekalipun.


"Karena pada dasarnya kekuatan itu hanya bisa digunakan untuk memberikan berkat serta penyembuhan kepada orang lain. Tentu kekuatan perlindungan yang dimiliki oleh kekuatan suci tidaklah akan mampu melindungi benua ini."


Penjelasan dari Astrella, menyentak Elthia dari lamunannya. Karena terlalu asik akan dirinya sendiri. Elthia tidak mendengarkan dengan baik apa yang baru saja Astrella ucapkan padanya.


"Bisakah kau mengulanginya?"


"Maaf?" karena permintaan Elthia yang begitu mendadak. Astrella sedikit kebingungan. Familiar itu bingung mau memulai dari mana ia harus kembali menjelaskan.


"Alasan mengapa kekuatan suci tidaklah bisa melindungi benua Lucinda dari kehancuran."


Elthia yang memahami kebingungan Astrella, memberikan petunjuk. Walaupun begitu, Elthia tidaklah begitu menyesali karena telah membuat Astrella merasa bingung. Ekspresi kebingungan yang Astrella perlihatkan, mengingatkan Elthia akan sepupunya Elenio. Astrella, maupun Elenio. Mereka berdua sama-sama memiliki ekspresi yang menggemaskan ketika sedang kebingungan.


"Karena pada dasarnya kekuatan it--"


"NONA!!" penjelasan Astrella yang terpotong, mengejutkan Elthia. Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh Elthia serasa melayang. Sudut pandangnya yang tiba-tiba terhalang punggung Astrella lumayan mengejutkannya.


"A-Astrella? Ada apa?" Elthia yang mampu merasakan ketegangan Astrella, mencoba untuk menengok dari balik punggung Astrella. Kedua netranya membulat tidak percaya ketika tidak sengaja menangkap sosok berambut perak yang tiba-tiba muncul dibalik tirai yang sudah dimurnikan oleh Rio.


"Akhirnya. Aku menemukanmu."


Ucapan ambigu sosok itu, membuat Astrella semakin bersikap waspada. Dibalik punggung Astrella, Elthia hanya bisa diam membeku. Kedua netra perak sosok berambut perak itu ketika menatapnya entah mengapa memberikan sensasi yang sulit dijabarkan.


Elthia menggenggam erat seragamnya. Rasa rindu sekaligus sesak yang muncul bersamaan sosok tersebut benar-benar membingungkan. Elthia yakin ini adalah pertamakalinya ia melihat sosok tersebut. Lantas, mengapa airmata mengalir tanpa disadarinya?


"Gadisku yang berharga."


__ADS_1


Tirai \= Gerbang yang biasa digunakan para mahkluk kegelapan untuk menyeberang.



__ADS_2