(Tidak Dilanjutkan Lagi)

(Tidak Dilanjutkan Lagi)
4. Bertemu kembali


__ADS_3

Elthia pergi ke kota bersama kedua saudaranya. Karena sebentar lagi dirinya dan Evander berulang tahun yang kesembilan, kakak tertuanya Sebastian meluangkan waktunya secara khusus demi mengajak keluar mereka berdua.


Binar-binar ceria yang terlihat di kedua netra berbeda warna miliknya, membuat senyuman menghiasi wajah kedua orang saudaranya. Semangat yang diperlihatkan olehnya kini, juga ikut mempengaruhi kedua orang yang begitu dikasihi olehnya itu. Sebastian dan Evander saling melemparkan pandangan. Senyum yang mereka perlihatkan juga tidak kalah cerah dari apa yang Elthia torehkan.


"Ayo! Kita pergi bermain!"


Uluran tangan yang diberikan Sebastian, Elthia sambut. Tidak seperti Evander yang mulai merasa malu bergandengan tangan. Elthia tidak merasakan hal itu sama sekali. Dengan percaya dirinya, dia mengayunkan pelan tangannya dan sang kakak yang saling bertautan.


"Kemana kita akan pergi?" ia bertanya. Karena ini merupakan kali pertama Elthia pergi keluar serta jauh dari kediaman mewah keluarganya. Ia cukup bertenaga kalau misalkan diajak ke berbagai tempat yang menarik.


"Apakah kakak ingin mengajak kami makan yang manis-manis?"


Selain buku. Elthia juga sangatlah menyukai sesuatu yang manis. Kue yang selalu ia makan sebagai makanan ringan di kediaman Lucretia, sangat disukai olehnya. Sensasi lembut dan manis yang di rasakannya ketika memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya, merupakan hal terindah kedua yang ia masukkan ke dalam daftar favorit miliknya selama di sini.


"Kita akan menikmati kue. Tapi, untuk saat ini masih ada tempat penting yang harus kita datangi terlebih dahulu."


"Tempat penting?"


Sebastian mengangguk. Senyuman lembut yang ia torehkan, sangatlah nyaman untuk dipandang mata. "Ya, tempat yang penting."


"Apakah kakak ingin mengajak kami membeli pakaian?" Evander yang berjalan di sisi kanan Sebastian membuka suaranya. Karena sebelum mereka bertiga pergi keluar seperti ini, Evander selalu berada di sisi Sebastian. Secara tidak sengaja, Evander jadi mengetahui alasan dari acara jalan-jalan mereka yang begitu mendadak ini.


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan kakak dengan ayah di ruang kerja."


"Jadi? Apakah kau tidak keberatan dengan keputusan ayah?"


Senyuman yang diperlihatkan Sebastian kepada Evander tidak luput dari perhatian Elthia. Karena Elthia satu-satunya orang yang masih belum mengerti ke mana pembicaraan ini diarahkan, Elthia menunggu dengan sabar Evander memberikan jawaban.


"Jika Elthia juga menginginkannya. Aku akan menyetujuinya."


Namanya yang disebut, sontak membuat Elthia memperhatikan Evander. "Apakah ini mengenai akademi seperti yang Elenio katakan?" sebelum mengatakan persetujuannya, Ethia mencoba untuk memastikan terlebih dahulu. Akan sangat memalukan jika ia menjawab langsung tanpa menyambung dengan topik yang sedang dibicarakan.


Evander mengiyakan. "Ayah menyerahkan keputusan kepada kita." Melirik Elthia yang berada di samping kiri sang kakak. Kedua mata berbeda warna Evander yang tidak kalah memukau dari saudari kembarnya itu, walaupun tidak terlalu nampak, sekilas, terlihat berbinar. "Apa kau juga merasa tertarik untuk belajar di sana?"


"Aku sangat ingin belajar di sana~"


Jawaban yang sudah diduga itu mengundang tawa untuk terdengar dari Sebastian. "Tidak mungkin seorang pecinta buku seperti Elthia melewatkan kesempatan ini," ujarnya seraya mengelus pelan surai perak Elthia dan Evander bersamaan. Sebagai seorang kakak. Sebastian sangatlah mengetahui seberapa besar rasa cinta adik perempuannya terhadap bacaan. Jadi, karena akademi Secilia merupakan tempat yang memiliki perpustakaan terbesar kedua setelah kerajaan Istvan di negeri ini. Sebastian sangatlah yakin Elthia tidaklah mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas yang satu ini.


"Aku akan kesepian di rumah seorang diri."


"Jika kakak kesepian. Kakak bisa berteman dengan Astrella dan Astra." Keluhan Sebastian ditanggapi dengan sadis oleh Evander. Tidak peduli akan wajah meringis sang kakak yang merasa tertohok akan ucapannya. Evander kembali berkata, "Aku yakin kakak bisa berteman baik dengan mereka."


Senyuman tanpa dosa Evander dibalas dengan senyum palsu. Sebastian mengacak-acak surai perak Evander. "Itu tidak mungkin," ujarnya. Dengusan kesal keluar dari mulutnya. "Tidak seperti kalian berdua. Astrella dan Astra tidak terlalu menyukaiku. Dua kucing itu hanya bersifat bar-bar di depanku saja."


Elthia paham mengapa kakaknya berkata seperti itu. Kucing berbulu lebat warna oren yang tiba-tiba muncul setelah ia dan Evander bisa menggunakan sihir itu, tidaklah terlalu menyukai Sebastian. Entah apa yang tidak disukai kedua kucing itu dari Sebastian. Tapi yang jelas, permusuhan yang diperlihatkan Astrella dan Astra kepada kakak tertuanya ini sangatlah tidak biasa. Seolah-olah kucing tersebut takut dirinya dan Evander diambil dari sisinya saja.


"Iya, itu benar. Astrella dan Astra tidaklah terlalu menyukai kak Sebastian." Jika mengingat betapa kerepotannya Sebastian yang biasa dikenal dengan sifat setenang air ketika berhadapan dengan Astrella dan Astra, Elthia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Setiap kali Astrella, Astra, dan kak Sebastian berkumpul. Kakak selalu saja dicakar tanpa adanya alasan yang jelas."


"Padahal aku tidak pernah mengusik mereka. Astrella dan Astra benar-benar merepotkan."


"Itukan, hanya berlaku untuk kakak saja."


Apa yang dikatakan Elthia disetujui oleh Evander. "Mereka adalah kucing yang imut," gumamnya dengan pipi yang merona. Untuk ukuran anak lelaki seumurannya, Evander jauh lebih kalem dari kebanyakan anak laki-laki lainnya. Sisinya yang satu ini jelas memperlihatkan betapa penyayang sekaligus lembutnya hati yang dimilikinya.


"Kau benar, mereka sangat imut. Bahkan Elenio saja kalah jinak dari Astrella." Jika membandingkan Elenio dan Astrella. Kucing oren kesayangan Elthia ini tentu jauh lebih unggul dalam hal keimutan dan ketenangan. Tidak seperti Elenio yang selalu saja mengoceh seolah tidak akan pernah kehabisan kata. Astrella hanya mengeong jika ada yang diinginkannya.


"Kau tidak boleh membandingkan mereka seperti itu. Bagaimanapun juga, tingkah serampangan serta mulut yang cerewet memang merupakan ciri khas yang dimiliki Elenio."


"Seperti kakak yang selalu tersenyum menyeramkan ketika sedang marah?"


"Aku selalu tersenyum setiap saat." Jawab Sebastian atas pertanyaan Elthia. Kepekaan yang diperlihatkan Elthia sekarang ini sangatlah membuatnya merasa bangga. "Jadi, jangan mengartikan senyumanku ini dengan kejam begitu."


Elthia tertawa pelan. "Aku hanya jujur apa adanya, kok." Karena toko yang mereka tuju sudah di depan mata, Elthia melepaskan tautan tangannya dengan Sebastian. Senyum cerah yang di perlihatkannya ketika membelakangi toko, membuat Elthia terlihat begitu mencolok dengan warna gelap yang di belakanginya.


"Benar begitu? Kak Evan?"


Evander melirik saudarinya yang memiliki wajah sangat mirip dengannya itu. Karena mereka berdua merupakan anak kembar identik. Wajah, warna mata, maupun warna rambut mereka sangatlah terlihat mirip satu sama lain. Tak terkecuali, sifat mereka yang satu ini. Walaupun Elthia dan Evander tidaklah terlalu suka merepotkan orang lain. Hal itu tidaklah berlaku jika orang itu adalah sang kakak maupun sepupu mereka Elenio. Jika sudah di depan kedua orang itu, Elthia dan Evander seolah-olah menjadi orang yang berbeda. Hanya dengan sang kakak serta sang sepupu Antoinette itulah mereka bisa berekspresi sebebas sekarang ini.


Di hadapan sang kakak yang begitu tulus menyayangi dan menemani. Elthia dan Evander bisa bertingkah sesuai umur mereka. Biarpun sang ayah juga merupakan sosok yang tidak kalah pengasih. Elthia dan Evander tetaplah tidak bisa merasa sebebas sekarang. Karena posisi sang ayah yang begitu tinggi, Elthia dan Evander sedikit merasa enggan bertingkah kekanakkan. Di hadapan orang dewasa, mereka bersikap layaknya anak bangsawan terhormat sebagaimana yang telah diajarkan. Elegan, tenang dan bijaksana. Menjadi pribadi yang angkuh, tak tersentuh dan tak berperasaan di saat yang sama.


Memperlihatkan emosi kepada anggota bangsawan lain sangatlah patut dihindari. Karena ketika berdiri di puncak, teman ataupun lawan sangatlah sukar untuk ditebak maupun diketahui. Jadi, sebagai anak yang terlahir di keluarga Lucretia. Secara tidak langsung, mereka bertiga hanya mempunyai dua pilihan. Menyembunyikan perasaan dengan segaris senyuman, atau menghilangkan perasaan tersebut dari hati. Tidak ada pilihan lain, sebab ancaman bisa saja datang dari seseorang yang tak terduga. Tak terkecuali dari orang yang sebelumnya paling dipercayai.


"Apa yang Elthia katakan adalah benar."


Tidak seperti Elthia yang masih menghadap langsung Sebastian, Evander berdiri membelakangi. Sebelah tangannya sudah memegang gagang pintu toko.


"Setidaknya saat sedang bersama kami. Jika kakak memang merasa marah terhadap suatu hal, kakak bisa memasang wajah merengut."


Evander membuka pelan pintu toko. Sebelum benar-benar masuk ke dalam, ia melirik wajah tercengang sang kakak. Evander memperlihatkan segaris senyuman yang tidak kalah menawan dari Elthia. Sebuah senyuman tulus yang begitu murni darinya itu, menjadi ketenangan dalam hati Sebastian.

__ADS_1


"Sama seperti kakak yang membiarkan kami menjadi diri sendiri. Kami juga berharap kakak bisa menjadi diri kakak sendiri."


"Selama kakak tidak mencubit kami, kami tidak akan mengeluh ataupun merasa takut, kok!"


Elthia menggengam tangan yang diulurkan Evander. "Jadi, jangan terlalu memaksakan diri, ya kak." Membalikkan tubuhnya, Elthia berjalan mengikuti langkah Evander. Bunyi gemerincing lonceng pertanda kedatangan tamu di toko tersebut terdengar ketika pintu di buka sepenuhnya. Evander dan Elthia memasuki toko secara bersamaan dengan keadaan tangan yang saling bertautan satu sama lain. Tawa halus yang mereka keluarkan serta punggung kecil mereka yang terlihat dari sudut pandang Sebastian, terasa begitu menentramkan.


"Dasar kalian ini. Selalu saja memberikanku kejutan."


Sebastian menatap lekat tempat di mana bayangan kedua adiknya terlihat sebelumnya. Nasehat yang diberikan oleh kedua adik kesayangannya itu benar-benar membuatnya tersentuh. Ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Elthia dan Evander barusan, sejujurnya Sebastian cukup tercengang. Ia tidak menyangka jika kedua adik kecilnya yang menggemaskan bisa bersifat begitu bijaksana seperti ini. Rasanya, seperti beban kasat mata yang membelenggunya selama ini telah menghilang.


"Padahal aku berniat mengejutkan kalian. Tapi, tidak kusangka malah kalian yang akan lebih dulu memberikanku hadiah tidak terduga."


Sebastian yang sedari tadi berdiri diam di depan toko, melanjutkan langkahnya. Sama seperti Elthia dan Evander. Senyuman juga terlihat menghiasi wajahnya. Meluangkan waktu bersama kedua adik kesayangannya ini memanglah tidak sia-sia. Tidak salah Sebastian memilih waktu beristirahat bersama Evander dan Elthia. Setiap melihat wajah cerah kedua anak kembar itu, Sebastian selalu mendapatkan rasa tenang yang begitu sulit dijelaskan. Hatinya selalu mendapatkan ketentraman setiap kali mendengarkan sepatah dua patah kata dari kedua adiknya.


°·°·°·°·°·°


Terlalu lama berbelanja ternyata tidaklah semenyenangkan yang Elthia kira. Sifat anti belanja terlalu lama yang biasa dimiliki oleh kebanyakan kaum laki-laki, tidak disangka, ternyata tidaklah berlaku untuk Sebastian. Di dalam toko pakaian. Kakak tertuanya itu sangatlah bersemangat dalam memberikannya pilihan beberapa set pakaian yang sekiranya akan diperlukan ketika mereka sudah berada di akademi.


Berulang kali Elthia maupun Evander disuruh untuk mencoba apa yang dipilihkan olehnya. Ketika sudah berada di set kesepuluh, gaun musim dingin berwarna biru muda di coba, Elthia memilih untuk menyerah. Energinya serasa terkuras habis hanya dengan memakai pakaian-pakaian untuk berbagai musim itu.


"Kak. Aku keluar lebih dulu ya."


Elthia meminta izin. Tanpa menunggu jawaban Sebastian, Elthia keluar toko begitu saja dengan cepat. Entah mengapa, ia merasa menyesal karena telah membuat kakaknya bahagia. Seandainya saja ia tahu kata-kata mereka akan berakhir seperti ini, Elthia lebih memilih untuk mengatakannya ketika sudah dalam perjalanan pulang saja. Semangat Sebastian ketika hatinya merasa senang sangatlah mengerikan. Elthia tidak menduga jika kakak tertuanya itu akan menikmati sesi berbelanja ini dengan wajah yang berbunga-bunga.


"Ini melelahkan," gumamnya seraya menyandarkan punggungnya di pintu toko. Helaan nafas lelah keluar dari mulutnya. "Mau itu senang ataupun marah. Kak Sebastian sangatlah mengerikan."


Suara gemerincing lonceng pertanda pintu toko di buka, mengejutkan Elthia. Seandainya saja sosok sang pelaku yang membuka pintu itu tidak menangkapnya, Elthia yakin, ia pastilah akan jatuh terduduk di lantai.


"Jangan berdiri didepan pintu seperti ini, Elthia."


Teguran halus dari sosok yang begitu dikenalnya itu terdengar. Elthia meminta maaf begitu tubuhnya sudah dilepaskan. "Kak Evan."


"Sudah lama menunggu?"


Elthia menggeleng. Begitu sudah menyingkir dari depan pintu, kedua mata Elthia memperhatikan Evander dari atas sampai ke bawah. Pakaian berwarna hitam bercampur perak yang dipakai Evander saat ini bukanlah pakaian yang dipakainya sebelum masuk toko. "Kenapa pakaian kakak berbeda?"


"Kak Sebastian memaksaku memakainya."


"Ah. Aku paham." Elthia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meringis. Bagaimanapun juga, di dunia ini keluarganya sangatlah kaya. Tentu bukan hal yang mengejutkan jika Sebastian memborong isi toko sekalian demi mereka berdua.


"Apakah urusan di dalam sudah selesai?"


"Aku lelah." Gumamnya disertai helaan nafas lelah yang dihembuskan setelahnya. Di sebelahnya, Elthia juga melakukan hal yang sama.


"Kak Sebastian sudah seperti anak perempuan saja."


"Dia sudah melebihi anak perempuan." Diingatkan kembali mengenai hobi luar biasa sang kakak, Evander mendengus. "Kau yang jelas seorang perempuan saja, tidak berbelanja sesemangat dia."


Itu karena ini hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.


Khusus untuk ini, Elthia tidak mampu membalasnya. Ia hanya memberikan tawa kecil sebagai jawaban. Sebab, jika mengingat kembali betapa menyedihkannya kehidupan Elthia di kehidupannya yang lalu. Kenyamanan yang Elthia dapat sebagai dirinya yang baru sangatlah luar biasa. Apa yang kini di dapatkannya, ketika dirinya masih merupakan sosok gadis bernama 'Novella', membayangkannya saja sangatlah sulit baginya. Apalagi mewujudkannya menjadi nyata.


Karena untuk saat ini mereka berdua sama-sama merasa lelah. Elthia dan Evander memilih untuk menghentikan percakapan mereka. Kedua anak kembar itu berdiri dalam keheningan. Membiarkan kedua mata mereka terpaku kearah jalanan kota yang kini sedang senggang.


Elthia memperhatikan orang yang berlalu lalang di depannya. Karena sekarang kebanyakan orang sibuk bekerja di dalam ruangan, tidak terlalu banyak orang yang mampu di dapatinya di jalanan kota. Tidak seperti ibu kota kerajaan. Kota yang berada di wilayah pengawasan keluarga Lucretia masih kalah padat dan ramai. Tidak seperti ibukota kerajaan Itsvan yang dipenuhi oleh berbagai macam kesibukan orang-orang, di sini hal itu lumayan jarang terjadi. Kebanyakan orang yang tinggal di sini memiliki status rakyat biasa. Tidak seperti sebagian besar kaum bangsawan yang sangat menyukai akan kemewahan, rakyat biasa lebih menyukai kehidupan damai yang penuh kesederhanaan. Selama itu terhindar dari terlibat masalah nan merepotkan, mereka lebih memilih untuk mensyukuri apa yang sudah ada di depan mata.


Suasana damai dan tenang tanpa adanya suara bising kendaraan yang berlalu lalang seperti dunia ini sangatlah nyaman untuk di nikmati. Banyaknya pohon yang tumbuh di sepinggir jalan membuat udara yang dihirup terasa lebih ringan, serta menyehatkan. Elthia memperhatikan secara seksama segerombolan anak kecil yang tertawa riang tidak terlalu jauh di depannya. Biarpun anak-anak tersebut bukanlah anak yang terlahir dari kalangan bangsawan. Elthia cukup menikmati kebahagiaan yang anak-anak itu perlihatkan.


"Aku suka senyuman mereka." Gumam Elthia tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Tawa yang dikeluarkan oleh anak-anak tersebut, menular padanya. Senyuman tidak sedikit pun luntur dari bibirnya.


"Kebahagiaan seseorang tidak tergantung dari mana tempatnya berasal."


Jawaban yang diberikan Evander diangguki oleh Elthia. "Karena kebahagiaan bisa tercipta di mana pun kita berada, bukan?" walaupun berbicara tanpa menatap langsung mata lawan bicara merupakan hal yang tidak sopan. Elthia tetap membiarkan fokusnya terhadap anak-anak itu. Saking terhanyutnya Elthia dalam pemandangan itu, ia jadi tidak menyadari bahwa dirinya yang sekarang jugalah seorang anak kecil. Dilihat dari tinggi badan, umurnya dengan anak-anak itu tidaklah berselisih terlalu jauh.


"Kalau kau hidup bertujuan mencari kebahagiaan, berhentilah. Sebab bukannya merasa bahagia, kau justru hanya akan membuat dirimu sendiri menderita."


"Terlalu fokus mencari, sering kali bisa membuat seseorang melewatkannya."


Jawaban yang diberikan Evander membuat Elthia tertawa. Memiliki pemikiran yang sama seperti ini, sangatlah menyenangkan baginya. "Sayang sekali, ya? Sebagian besar kaum bangsawan tidak menyadarinya."


"Terlalu berpikir rumit terkadang bisa membuat kita lupa akan suatu hal yang bersifat sederhana." Evander melirik Elthia yang ada di sampingnya. Melihat wajah bahagia saudarinya, segaris senyuman juga ikut terlukis di bibir Evander. "Aku bersyukur kita bisa menyadari hal itu." Evander menggenggam tangan Elthia. Kedua matanya yang berbeda warna menyorot serius dua netra Elthia yang juga memiliki warna serupa.


"Mari kita bentuk kebahagiaan bersama."


Elthia tersenyum. Ia membalas genggaman tangan Evander. "Tentu. Ayo bentuk kebahagiaan bersama."


Mereka berdua tertawa. Rasanya menyenangkan bisa bersenda gurau seperti ini dengan orang yang begitu di kasihinya. Elthia benar-benar menyukai kondisi hangat ketika bersama orang-orang yang di sayanginya seperti ini.


°·°·°·°·°·°

__ADS_1


Urusan membeli pakaian sudah selesai. Karena waktu yang mereka miliki masih banyak. Sesuai janji yang diucapkan Sebastian, nereka menuju tempat di mana makanan manis tersedia.


Elthia berjalan dengan riang. Kedua matanya tidak henti-hentinya berbinar cerah. Bayangan dari lembutnya tekstur kue yang nanti akan masuk ke dalam mulutnya terus membayanginya.


"Kak. Nanti aku boleh makan sepuasnya, kan?" tanyanya seraya menatap Sebastian penuh pengharapan. Ujung baju yang dipakai oleh kakaknya itu, di tarik-tariknya pelan.


"Aku sudah lama tidak makan yang manis-manis. Jadi, karena sekarang tidak ada Marva. Aku boleh makan sebanyak yang aku mau, kan?"


"Tentu saja boleh."


Izin yang diberikan Sebastian membuat kedua mata Elthia semakin berbinar ceria. Senyuman lebar tercetak jelas di bibirnya.


"Tapi, dengan syarat kau harus mengurangi jumlah bacaanmu hari ini."


Persyaratan yang Sebastian ajukan menurunkan semangat Elthia secara drastis. "Karena aku akan masuk akademi. Aku harus banyak belajar." Elthia beralasan. Senyuman yang diperlihatkan Sebastian sangatlah membebaninya. "Jadi, aku tidak bisa menguranginya."


Elusan pelan yang diberikan Sebastian di kepalanya membuat Elthia mendongak. "Kalau begitu, kau juga harus menahan diri agar tidak banyak makan kue hari ini."


Elthia menatap kakaknya tidak percaya. Persyaratan yang diberikan Sebastian ini sangatlah berat untuk dikabulkan. "Jika kakak tidak ingin berdekatan dengan Astrella dan Astra, aku akan dengan senang hati melakukannya." Elthia mencoba membujuk. Karena Sebastian sangatlah bermasalah dengan kucing miliknya maupun Evander, Elthia mencoba ini sebagai alternatif yang lain.


"Jadi, biarkan aku makan kue yang banyak, ya?"


Elthia mengerahkan tatapan paling imut yang di milikinya. Ia berharap, kakaknya ini bisa luluh dengan ini.


"Maaf, Elthia. Khusus kali ini, kakak tidak bisa mengabulkannya."


Penolakan yang diberikan Sebastian beserta senyuman, terkesan kuat menolak bantahan. Dengan wajah ramah yang diperlihatkan Sebastian sekarang ini. Elthia cukup yakin, kakaknya ini tidaklah akan mendengarkan bujukannya lagi.


Pasti Marva yang memberitahunya.


Tidak ada orang lain, yang memungkinkan untuk memberitahu perihal giginya selain pelayan pribadinya yang satu itu.


Aku ingin kue...


Karena Elthia tidak memiliki kuasa untuk membantah, Elthia memilih menyerah. Berdebat dengan Sebastian tidaklah akan berguna. Bukannya mendapatkan izin. Elthia yakin, ia hanya akan mendapatkan nasihat panjang lebar jika tetap nekat membujuk kakaknya itu.


Aku ingin kue....


Seandainya saja persyaratan yang Sebastian ajukan bukanlah pertukaran dengan buku, benda kesukaannya. Elthia dengan senang hati menuruti.


"Hei, Rio. Apakah masih ada barang lain yang perlu dibeli?"


Suara yang samar-samar ditangkap oleh telinganya membuat Elthia yang sedari tadi menunduk, mendongak. Elthia tahu nama seseorang yang begitu dicarinya tersebut pastilah lumayan banyak. Tapi, tidak ada salahnya kan, jika ia sedikit berharap nama yang tidak sengaja di dengarnya barusan merupakan milik sosok yang ia cari selama ini?


Rio...


Elthia memperhatikan secara seksama surai hitam sosok yang berada tidak terlalu jauh di depannya. Ia yakin orang yang di lihatnya kini merupakan orang yang sama dengan yang ada di benaknya. Hanya saja, mata berwarna merah itu sedikit mengusiknya.


Rio memiliki mata berwarna hitam. Apakah benar itu memang dia?


Jika dunia lain yang dipenuhi berbagai macam warna unik ini juga ikut mempengaruhinya. Elthia bisa memakluminya. Lagipula, wajah di depannya ini tidaklah terasa asing. Biarpun warna mata yang terakhir kali di lihatnya berbeda. Elthia tidak mungkin salah mengenali wajah maupun suara Rio dari pertemuan terakhir mereka.


Jika itu memang dia...


Elthia melepaskan tautan tangannya dengan Sebastian. Sosok anak lelaki berambut hitam yang sudah berjalan membelakanginya itu, ia kejar.


"Rio!!"


Dia harus menjelaskan apa yang sudah terjadi!


Tidak peduli akan ekspresi terkejut Sebastian maupun Evander dengan tingkahnya ini, Elthia terus berlari mengejar. Bisikan orang-orang yang sedikit terganggu dengan teriakannya, Elthia anggap bagaikan angin lalu saat ini. Selama ia bisa mendapatkan penjelasan. Selama ia bisa mengetahui alasan mengapa dirinya bisa menjadi seorang tokoh utama dalam dunia cerita. Cemoohan orang-orang tidaklah akan mempengaruhinya. Elthia tidak peduli akan pandangan orang-orang mengenai tindakan tidak sopannya sekarang ini. Kakinya yang mungil terus melangkah. Sedangkan bibirnya terus menerus memanggil nama sosok tersebut.


"Rio!!"


Gaun yang sekarang di pakainya ini sedikit mengganggunya. Elthia mencoba menjangkau tangan dari sosok yang begitu di carinya selama ini, itu. Begitu sudah terjangkau, Elthia menyentaknya dengan kuat sehingga berhasil membuat orang yang bersangkutan terkejut. Kedua matanya yang berbeda warna menatap tajam kedua netra semerah darah di depannya.


"ALTERIO LINDRA!!" teriak Elthia seraya mencengkeram erat tangan sosok di depannya. Mengabaikan wajah terkejut sosok itu akan kehadirannya yang tidak disangka, Elthia kembali berkata, "INI AKU!! NOVELLA. NOVELLA SANDREA!!"


Netra merah yang membulat tidak percaya sosok itu, Elthia abaikan. Karena sosok menyerupai 'Rio' ini memanggil namanya dengan tidak kalah terkejut. Elthia menjadi semakin yakin bahwa ia tidaklah salah mengenali. Sama seperti Elthia. Rio juga sangat tidak mempercayai apa yang kini ada di hadapannya.


"N-Novella?!"


Entah apa maksud dari dengusan menahan tawa sosok di samping Rio, Elthia tidak akan mengurusinya. Yang lebih penting baginya sekarang ini adalah mendapatkan penjelasan! Elthia ingin mengetahui mengapa dirinya bisa terjebak di dalam tubuh 'Elthia' sang tokoh utama yang sesungguhnya.


"Jelaskan padaku. Apa maksud sebenarnya dari perbuatanmu di perpustakaan waktu itu."


Sebelum memberikan jawabannya, Rio melirik sosok yang ada di sampingnya. Laki-laki berambut kelabu yang tersenyum aneh itu, sangatlah tenang. Melihat betapa mencurigakannya senyumannya itu. Entah mengapa, Elthia merasa senyuman itu seperti terkesan sudah menduga akan pertemuan yang begitu heboh ini. Matanya yang juga berwarna merah sukar dibaca. Tapi, Elthia yakin. Walaupun sekilas, ia mampu melihat kilatan penuh kesenangan di sana.


Rio memperhatikan suasana sekitar. Perhatian yang tertuju kepada mereka berkat keributan ini membuatnya menghela nafas pelan. "Mari kita bicara di tempat yang lebih tertutup." Ujarnya, seraya berjalan lebih dulu. Tanpa menunggu kedua orang saudara Elthia yang masih tertinggal lumayan jauh. Rio menarik pelan tangan Elthia agar mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2