
Tatapan menuntut yang diberikan Evander dan Sebastian sangatlah membebani. Di tempat duduknya, Elthia menunduk pasrah. Nasihat yang diberikan Sebastian panjangnya hampir menyerupai nasihat yang biasa diberikan sang ibu. Tanpa perlu bertanya pun, Elthia sudah mengetahui bahwa kakaknya sangatlah marah sekarang ini.
"Maafkan aku." Permintaan maaf untuk yang ke sekian kalinya diucapkan Elthia. Wajahnya terlihat sangatlah lelah. Ekspresi Sebastian yang sedang marah dua kali lipat lebih menyeramkan dari yang biasanya. Senyuman mematikan sang kakak ketika sedang marah selalu saja berhasil membuatnya merinding. Sekarang, Elthia menyesali mengabaikan panggilan Sebastian saat dirinya sedang mengejar Rio tadi.
"Aku mengaku salah."
"Lain kali jangan diulangi lagi."
Peringatan yang diberikan Sebastian, Elthia angguki. Elthia berharap, senyuman yang dimiliki kakaknya ini berubah menjadi normal kembali. Rasanya mengerikan jika diberi keramahan di saat kondisi seperti ini.
"Maafkan aku."
"Sudahlah kak. Lihatlah wajah Elthia. Kakak tidak ingin membuatnya menangis, kan?" Evander yang sedari tadi diam, menghela nafasnya. Tepukan pelan yang di berikannya pada tangan Sebastian, meluluhkan sedikit rasa marah yang terlihat di wajah sang kakak.
"Dia pasti memiliki alasan mengapa tiba-tiba berlarian seperti itu."
Elthia menatap saudara kembarnya penuh haru. Pembelaan yang Evander berikan ini sungguh sangatlah membantunya.
"Jadi? Apakah kau mau mengatakan pada kami di mana kau mengenal anak laki-laki itu?"
Elthia kira, ia bisa bernafas lega setelah ini. Tapi sayang, rupanya Evander juga memiliki rasa penasaran yang tidak kalah kuat dari Sebastian. Kedua matanya melirik Rio yang sengaja menjauhkan diri. Karena sifat posesif yang kedua saudaranya miliki, Rio sengaja mengalah untuk memberikan penjelasan dan membiarkan dua orang Lucretia bersaudara berbicara dengan satu-satunya saudari mereka. Jujur saja. Elthia sebenarnya sedikit keberatan akan keramahtamahan yang Rio berikan terhadap kedua orang kakaknya. Tindakan yang Rio ambil ini entah mengapa terkesan seolah-olah dirinya sedang mencoba untuk mencermati keadaan saja, bagi Elthia.
"Ah. Itu...."
Di desak oleh dua orang yang begitu di sayanginya ini, tidak sekalipun pernah Elthia sangka bisa menjadi semengerikan ini. Tatapan menuntut yang terpancar dari kedua pasang mata di depannya ini entah mengapa terkesan seolah Elthia tertangkap basah sedang melakukan tindakan kriminal saja.
"A-aku bertemu dengannya di dalam mimpi." Elthia tertawa kaku. Alasannya yang tidak masuk akal ini tentu tidaklah mungkin bisa diterima. Tapi, walaupun begitu. Lebih tidak mungkin lagi, jika ia mengatakan yang sebenarnya bukan?
Maafkan aku, kakak.
Tidak ada penyesalan lain, yang lebih Elthia sesali daripada momen ini. Membohongi kedua orang saudaranya ini, terasa lumayan berat baginya.
"J-jadi, tenang saja. Dia bukan orang yang berbahaya, kok."
"Apa kau yakin? Bagaimanapun juga dia--"
"Yap. Maafkan ketidaksopananku ini tuan-tuan. Tapi, bisakah kalian berikan aku kesempatan untuk berbicara dengannya juga?"
Perkataan Sebastian yang dihentikan oleh Rio, berhasil mengalihkan tiga orang Lucretia bersaudara itu. Elthia menatap Rio penuh rasa terimakasih. Seandainya saja Rio tetap berdiam seperti sebelumnya. Elthia yakin, dirinya hanya akan mendapatkan nasihat yang lebih panjang lagi.
"Bisakah kakak membiarkan kami bicara berdua saja?"
Karena Evander dan Sebastian tidak kunjung beranjak dari sana, Elthia merasa sedikit gelisah. Jika kedua kakaknya ini tetap berada di sisinya, rasa penasaran Elthia tidaklah akan terjawab. Jadi, karena ia tidak ingin membuang kesempatan ini secara sia-sia. Elthia mencoba membujuk. Tatapan paling memelas yang di milikinya, ia kerahkan.
"Jika dia berani macam-macam aku, akan menendangnya. Jadi, biarkan kami bicara berdua dulu, ya?"
Tatapan menelisik Sebastian dengan ekspresi sedatar kertas, terasa sangatlah menusuk bagi siapa pun yang melihatnya. Namun, itu tidaklah terlalu berpengaruh bagi Rio. Ketenangan Rio yang menjadi objek tatapan sang kakak cukup membuat takjub Elthia. Selama ini, tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala secara tegak di depan sisi lain Sebastian ini. Terkecuaki sang ayah, orang-orang yang mendapat tatapan ini pasti selalu menunduk atau mengalihkan pandangan. Jadi, Elthia cukup terkejut akan keberanian yang diperlihatkan oleh Rio sekarang ini. Apalagi, balasan santai yang diberikannya."Tenang saja. Aku tidak akan menyakitinya, kok."
Rio mengusap pelan kepalanya. Sifat permusuhan yang diperlihatkan oleh Sebastian sangatlah menjengkelkan baginya. "Aku bukan tipe orang yang suka merepotkan diri sendiri dengan mencari masalah. Lagipula, waktu yang aku miliki tidaklah begitu luang." Ujarnya seraya melirik Evander yang sedari tadi berdiri di samping Sebastian.
"Jadi, bisakah kau menyingkir sebentar. Kakak?"
Sebastian melirik Evander yang ada di sisinya. Gelengan yang diberikan Evander, isyarat sang adik yang tidak menginginkan adanya keributan lebih jauh berhasil mengurangi sikap keras kepalanya.
"Jika kau berani menyentuhnya, aku akan memotong tanganmu itu!" ancam Sebastian tanpa mengandung candaan sedikit pun. Sebelum pergi meninggalkan Elthia berbicara berdua saja dengan Rio, ia menyempatkan dirinya untuk mengelus surai perak adik perempuannya.
"Kalau bisa, jangan sampai menahan dirimu, ya."
Pesan yang disampaikan Sebastian ini, di balas berupa senyuman cerah oleh Elthia. "Aku tidak akan menahan diri."
Sebastian tersenyum. Jawaban yang diberikan Elthia ini, paling tidak, berhasil mengurangi sedikit rasa khawatirnya. "Adik pintar."
"Jangan memaksakan dirimu, ya, Elthia." Evander juga ikut mengingatkan. Senyuman yang ia torehkan terlihat tidak kalah menyebalkan dari Sebastian.
"Jika kau merasa terancam, jangan ragu memanggil kami."
Pesan yang disampaikan seolah dirinya hendak pergi jauh ini, sangatlah memalukan. Walaupun Elthia tahu kedua kakaknya ini sangatlah protektif terhadap dirinya. Ia tidak menyangka mereka bisa sampai sangat berlebihan seperti ini. "I-iya."
Menjauhnya Sebastian dan Evander darinya memberikan sedikit ruang bagi Elthia untuk bernafas. Melihat langsung permusuhan tak terduga tersebut lumayan menguras tenaganya. Elthia benar-benar merasa tidak enak. Jika bertemu dengan Rio yang jelas sudah dikenalnya saja kedua orang saudaranya bereaksi seperti ini. Bagaimana jika Elthia bertemu, apalagi berteman dengan anak laki-laki lain ketika sudah di akademi nanti? Elthia tidak sanggup membayangkan betapa besarnya permusuhan yang Evander dan Sebastian perlihatkan. Ia hanya mampu berharap, kedua saudaranya ini tidaklah akan bertindak berlebihan. Apalagi sampai mempermalukan diri mereka sendiri.
"Kau ingin mengetahuinya mulai mana?"
Pertanyaan yang Rio ajukan membuyarkan lamunan Elthia. Mengerjap pelan, Elthia menatap lekat Rio yang kini tengah bertopang dagu di depannya.
"Katakan padaku. Mengapa aku bisa menjadi seperti ini."
Rio menghela nafasnya. Wajah serius yang diperlihatkan Elthia ini entah mengapa terasa membebaninya. Rio melirik sosok anak laki-laki berambut kelabu yang berdiri setia di sampingnya. Anggukan yang diberikan sosok itu, semakin menambahkan beban yang di rasakannya.
"Kau terpilih sebagai seseorang yang bisa mengubah takdir." Rio mulai menjelaskan. Kedua netra merah miliknya, ia biarkan menatap langsung kedua netra hijau dan biru milik Elthia. "Demi mengubah goresan yang ada. Kau dikirim ke sini supaya bisa membuat akhir yang berbeda."
"Tapi, bagaimana dengan jiwa Elthia yang asli?" penjelasan yang diberikan Rio mengusik Elthia. "Jika aku berada di dalam tubuhnya, bukankah itu berarti secara tidak langsung dia sama saja sudah mati?"
Rio menggeleng. "Tidak, Novella. Jiwa Elthia tidaklah mati." Rio memainkan jarinya di atas meja. Perkataan Elthia--Novella--barusan terdengar kurang mengenakan baginya. "Dia selalu hidup bersama denganmu, selama ini."
"Apakah maksudmu, jiwanya menyatu dengan jiwaku? Yang merupakan gadis dari dunia lain?"
Rio tersenyum. "Kau bisa menyebutnya begitu." Reaksi tanggapan yang Elthia berikan ini sedikit menghiburnya. Baru kali ini Rio melihat ada seseorang yang bisa bersikap setenang ini walaupun ramalan kematian sudah terlihat di depan mata.
"Hidup Elthia tidaklah sesingkat itu. Namun, juga tidak sepanjang alur yang tertulis." Rio meminum minuman yang ada di hadapannya. Suasana damai dari tempat yang tidak ada seorang pun selain mereka bertiga di sini, memberikan keleluasaan baginya. Rasanya berbicara tanpa adanya banyak orang memperhatikan seperti ini jauh lebih menyenangkan dari pertemuannya dengan Elthia sebelumnya di dunia ini. Rio bersyukur, ia membawa uang yang cukup untuk menyewa seluruh tempat di restoran ini. Jadi, ia tidak perlu mengkhawatirkan adanya seseorang yang memungkinkan untuk menguping pembicaraan 'tidak biasa' mereka kini.
"Apakah kau sudah melakukan 'penyimpangan' dari alur cerita yang sudah kau ketahui?"
"Aku menghindari pertemuan yang memungkinkanku bertemu dengan Pangeran Luca." Elthia menghembuskan nafasnya lelah. Pandangan kedua matanya terlihat menerawang. "Tindakan kecil yang aku ambil ini, tidak aku sangka membawa perubahan yang sangat besar."
"Perubahan besar seperti apa?"
Elthia menatap lekat Rio. Kedua mata hitam Rio yang kini berwarna merah masih terasa sangatlah asing baginya. "Aku dan Evander bisa menggunakan sihir."
Elthia menunjuk sendok kecil yang terletak di piring kue milik Rio. Seiring dengan gerakan tangannya, sendok tersebut juga ikut bergerak. Apa yang Elthia lakukan sekarang ini, tentu tidak luput dari perhatian Rio. "Seperti yang kau lihat. Bangkitnya kekuatan sihir ini merupakan hal yang paling tidak aku sangka."
"Ini lebih cepat dari waktu yang ditentukan." Rio memperhatikan secara seksama sendok yang digerakkan Elthia dengan menggunakan sihir yang ada di hadapannya. "Apakah pihak kerajaan mengetahuinya?"
Elthia menggeleng. "Karena kami membangkitkannya ketika sedang berlatih di dalam hutan dekat kediaman Lucretia. Penyebaran informasi ini bisa dicegah dengan baik."
"Pihak kerajaan belum mengetahuinya, kan?"
"Mereka tidak mengetahuinya."
Rio melirik kembali sosok yang ada di sampingnya. Senyum aneh yang lagi-lagi dibuat sosok itu, terasa menjengkelkan untuk dilihat. "Bagaimana reaksi tuan Terrene?"
Elthia menghela nafasnya. "Ayah memberikan kami dua pilihan."
"Pilihan yang seperti apa?"
Mengingat betapa seriusnya ekspresi sang ayah ketika mengetahui anak kembarnya bisa menggunakan sihir, Elthia yakin pilihan yang diberikan oleh ayahnya ini pastilah sudah dipikirkan dengan sangat matang. "Beliau meminta kami untuk memikirkan apakah kami ingin mendalami sihir di akademi Secilia, ataukah di rumah saja dengan memanggil seorang penyihir handal dari negeri Yodea sebagai guru pribadi kami."
"Diajari seorang penyihir dari negeri Yodea sangatlah berisiko."
Karena masuk ke sebuah negeri perlu mendapatkan izin. Tentu identitas seseorang tidaklah bisa dirahasiakan semudah itu. Setiap nama orang yang berlalu lalang, yang datang maupun keluar memiliki daftar sendiri. Dan daftar tersebut tentu diawasi langsung oleh orang-orang terpercaya kerajaan.
"Aku tahu itu. Meminta seorang penyihir dari negeri tetangga tidaklah begitu aman. Biarpun ayah mampu mengelabui raja. Hal itu tidak berarti raja benar-benar buta."
"Raja Istvan pasti memiliki banyak mata-mata."
Apa yang dikatakan Elthia membuat Rio juga ikut terpengaruh untuk berpikir keras. Menyimpan informasi besar berupa sang anak bisa menggunakan sihir sangatlah berisiko untuk dilakukan. Jika para bangsawan yang membenci keluarga Lucretia mengetahui bahwa tuan Arys Terrene Lucretia menyimpan informasi sebesar itu lebih dulu daripada Raja. Kemungkinan besar keluarga Lucretia bisa dituduh sebagai pengkhianat yang mencoba untuk merebut takhta kerajaan sangatlah tinggi.
"Jadi, kau memilih belajar di akademi Secilia?"
"Belajar di sana memiliki lebih sedikit risiko dibandingkan memanggil seorang penyihir untuk dijadikan guru." Karena keduanya sama-sama memiliki risiko. Elthia memilih mengambil keputusan dirinya mendapatkan lebih sedikit kerugian.
__ADS_1
"Karena letaknya yang dekat perbatasan dua kerajaan. Mata-mata yang terdapat di akademi tidaklah sebanyak di perbatasannya langsung."
"Kalaupun ketahuan, itu pasti akan tersampaikan langsung kepada raja, ya?" gumam Rio begitu sudah menyadari maksud sebenarnya perkataan Elthia. Karena akademi Secilia merupakan tempat yang bukan sembarang orang bisa memasukinya. Kemungkinan bangsawan mana saja yang mampu memasukinya bisa ditebak. Selain sang pangeran, anak dari para petinggi pengurus istana seperti perdana menteri, penasehat serta kepala kesatria empat musim. Anak yang tidak terlahir di bawah posisi penting tersebut tidaklah bisa mendaftar disana. Yang berarti, keluarga di bawah dari posisi kebangsawanan marquess² atau count³ seperti viscount⁴, serta baron⁵, tidaklah masuk dalam daftar orang yang diizinkan untuk menginjakan kaki di sana.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai bangsawan mana saja yang mengirim anaknya ke sana?"
Pertanyaan yang Rio ajukan ini membuat segaris seringai bangga tertoreh di bibir Elthia. "Karena kebanyakan anak-anak bangsawan berposisi tinggi selain Lucretia sudah lulus dari akademi. Hanya dua orang putra dari Marquess Campbell, serta tiga orang putra kembar Marquess Amnytas saja yang tersisa." Elthia cukup bersyukur keberuntungan mau berpihak padanya kali ini. Seandainya saja informasi yang Elenio berikan ini berisi beberapa nama bangsawan yang lain, Elthia tidaklah mungkin akan memilih akademi. Keluarga Campbell serta Amnytas tidaklah memiliki catatan buruk terhadap keluarga Lucretia, dan mereka juga merupakan seseorang yang bisa menyimpan rahasia dengan baik. Jadi, Elthia cukup tenang seandainya saja dirinya memiliki kemungkinan bertemu dengan salah satu dari lima orang tersebut nanti.
"Karena kau sudah memutuskan akan masuk akademi. Aku ingin memastikan apakah kau sudah memiliki familiar⁶ disisimu?" Rio memperhatikan Elthia secara seksama. Reaksi heran bercampur terkejut yang di lihatnya itu, membuatnya menghela nafas lelah. "Kau masih belum memiliki seorang pun familiar, ya?" tanyanya yang dibalas berupa tatapan bingung. Rio menepuk pelan kepalanya. Tepukan ringan di bahu yang diberikan sosok berambut kelabu di sampingnya itu, Rio tepis.
"Karena Elthia yang asli tidaklah diceritakan pernah membuat kontrak dengan familiar. Aku tidak tahu pasti apakah aku yang sekarang akan mendapatkannya atau tidak."
"Bagaimana dengan sesuatu hal baru yang ada di dekat nona?" tanya sosok berambut kelabu tersebut seraya tersenyum tipis. "Setiap familiar pasti akan mencari tuan mereka dengan sendirinya. Karena Nona sekarang merupakan seorang penyihir. Familiar yang cocok dengan sihir yang nona miliki, tentu akan mencari nona agar bisa membuat kontrak bersama."
"Setiap familiar memiliki kekuatan sihir yang berbeda. Jika familiar tersebut memiliki kekuatan sihir yang besar, tentu dia akan mencari seorang penyihir yang memiliki kekuatan sama besarnya dengan dirinya." Jawab Rio seraya menyikut pelan pinggang sosok di sampingnya. Ringisan pelan yang keluar dari sosok itu, Rio abaikan.
"Karena terlalu penasaran aku lupa menanyakan siapa sebenarnya orang yang ada di sampingmu ini." Elthia menunjuk sosok berambut kelabu yang hanya bisa membalas perlakuan kasar Rio dengan senyuman tersebut. Seandainya saja sosok yang juga sama-sama memiliki mata berwarna merah dengan Rio itu tidak ikut bergabung dalam pembicaraan mereka, Elthia tentu tidak akan menyadari keberadaannya karena terlalu asik dengan rasa penasarannya sendiri.
"Dia familiar milikku."
Jawaban yang Rio berikan membuat Elthia mengerjapkan mata tidak percaya. "Jadi, kau memiliki familiar ya?" Yah. Elthia sudah menduga Rio merupakan seorang penyihir yang kuat karena Rio mampu mengirimnya ke dunia ini. Ia hanya tidak menyangka jika sosok yang ia kira sebagai saudara Rio tersebut ternyata adalah seorang familiar yang juga memiliki kekuatan sama besarnya dengan sang tuan.
"Salam kenal nona Elthia. Nama saya Altair. Nona bisa memanggil saya Alta."
Tidak seperti Alta yang merasa senang, Rio justru terlihat kesal ketika mengenalkan Alta. "Nama aslinya adalah Panavela." Ujarnya seraya memberikan tatapan tajam kepada sang familiar.
Entah apa permasalahan yang terjadi antara Rio dan Alta, Elthia tidak berniat untuk ikut campur di dalamnya. "Bagaimana dengan penyebutan nama panjangnya? Apakah disebut Altair Panavela atau Panavela Altair?" karena Altair merupakan nama yang diberikan Rio sebagai bukti kontrak. Elthia sedikit penasaran mengenai pelafalan hasil dari penggabungan kedua nama tersebut.
"Karena nama yang diberikan tuan kami sangatlah berharga. Nama pemberian biasa disebutkan diawal."
Elthia mengangguk mengerti. Penjelasan Alta sangatlah sederhana sehingga bisa dipahami dengan mudah. "Altair Panavela. Sungguh nama yang indah." Puji Elthia tanpa sedikit pun mengandung kebohongan. Kedua matanya yang berbinar cerah, semakin menambahkan semangat Alta yang melihatnya.
"Sama seperti saya. Saya yakin familiar Anda nanti pasti juga memiliki nama yang tidak kalah indah." Alta tersenyum. Tidak seperti seseorang. Aura penuh ketenangan yang memancar dari tubuh Elthia terasa sangatlah menyenangkan baginya. "Sungguh beruntung familiar yang terpilih sebagai pelindung Anda."
Selain memiliki tuan yang cantik lagi jelita. Mereka juga beruntung selalu diperlakukan dengan baik. Iri nya...
Alta melirik Rio yang berwajah cemberut di sampingnya. Ekspresi kesal yang coba ditahan oleh Rio tersebut, sudah menjadi pemandangan yang biasa. Dibandingkan wajah Rio yang biasanya kaku dan sedikit terkesan canggung terhadap orang lain. Alta lebih menyukai ekspresi jengkel tuannya yang sekarang ini. Baginya, tidak ada obat penambah semangat terbaik selain wajah cemberut Rio. Ah. Atau lebih tepatnya El, ya?
"Entah itu menyerupai binatang kesukaan, tanaman favorit, atau mirip seseorang yang berharga."
Rio yang sudah tidak tahan lagi diabaikan, menyela. Dunia serasa milik berdua yang sebelumnya Elthia dan Alta tempati, dihancurkannya dalam sekejap. "Selama itu bisa menarik perhatian orang yang akan mereka lindungi. Familiar bisa merubah bentuk tubuhnya menjadi apapun kecuali benda mati."
Karena Rio tidak ingin ucapannya disela, serta dirinya diabaikan sekali lagi. Rio memerintahkan Alta untuk menyingkir dua puluh langkah ke belakang. Sebagai seorang familiar--makhluk sihir yang tercipta untuk melindungi orang yang terpilih, Alta tidak bisa membantah apa yang Rio perintahkan padanya. Dengan sangat terpaksa Alta menuruti. Gerutuan terdengar jelas dari mulutnya. Sedangkan kedua netra semerah darah miliknya tidak henti-hentinya menatap kesal Rio, sang tuan yang selalu saja memperlakukan secara kasar dirinya.
"Apakah setelah membangkitkan kekuatan sihir, ada binatang, tumbuhan, ataupun seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan kalian tanpa adanya asal usul yang jelas?"
Elthia memainkan pelan poni rambutnya. Ingatan mengenai apa yang sudah terjadi padanya selama ini, di putarnya kembali.
"Ada dua ekor kucing berwarna oren yang mendatangi kami."
Ketika Eltiha dan Evander sudah membangkitkan kekuatan sihir mereka. Tidak ada hal aneh apapun yang terjadi, selain kedatangan Astrella dan Astra yang begitu mengejutkan.
"Kalian berdua sudah memberinya nama?"
"Kedua kucing itu sudah kami berikan nama."
Rio menghela nafas lega. Pengakuan yang Elthia berikan ini menenangkannya. "Kalau begitu, tinggal kau sebut saja persetujuan kontrak di depan kedua kucing tersebut. Jika kau menyebutkannya, kucing itu akan resmi menjadi familiar milik kalian."
"Apakah mereka juga memiliki wujud manusia seperti Alta?" akan lebih baik jika Astrella dan Astra memiliki wujud manusia. Sebab, dengan begitu, Elthia bisa menggunakan mereka sebagai alasan penolakan pengawal tambahan yang mungkin saja akan disediakan Sebastian nanti. Elthia tidak ingin menjadi seseorang yang mencolok di hari pertama belajar. Apalagi menjadi bahan perbincangan hangat orang-orang. Mengantisipasi tindakan protektif Sebastian dengan menjadikan Astrella dan Astra sebagai tameng dirinya, Elthia rasa, itu bukanlah hal yang buruk untuk dicoba.
"Tergantung kekuatan sihir yang dimiliki familiar. Semakin besar kekuatan sihir yang mereka miliki. Maka, semakin bagus juga wujud yang bisa mereka ambil agar bisa berada di sisi tuan mereka." Rio bertopang dagu. Rengekan Alta yang memohon ampun di belakangnya agar diizinkan kembali bergabung, Rio anggap bagaikan angin lalu. "Sejauh ini, adakah hal lain yang ingin kau tanyakan lagi?"
Elthia memikirkan secara seksama hal apalagi yang ingin ia ketahui. Karena sebelumnya Rio mengatakan bahwa dirinya lumayan sibuk saat ini. Elthia harus memilah beberapa pertanyaan yang memungkinkan mendapat jawaban singkat tanpa perlu memakan banyak waktu. "Sebagai satu-satunya orang asing yang aku kenal di sini, bisakah kau menghadiri pesta ulang tahunku yang kesepuluh nanti?"
Pertanyaan tak terduga Elthia sontak membuat Rio mengerjap. Raut tidak percaya yang seolah-olah mengatakan bahwa Elthia sudah menyia-nyiakan kesempatan yang ada itu, tidak sedikit pun ia sembunyikan. "Kau yakin tidak ingin menanyakan hal yang lebih penting dari itu?" tanyanya seraya mengetuk pelan meja. Wajah cantik berekspresi penuh ketenangan Elthia, Rio perhatikan secara seksama. "Aku ini orang yang lumayan sibuk, lho."
Elthia menggeleng. Saran yang diberikan Rio ia tolak secara halus. "Daripada jawaban, aku rasa bantuan yang saat ini paling aku butuhkan."
Elthia tersenyum. Perkataan menantang yang Rio ajukan tidaklah akan mempengaruhinya. "Kau orang yang baik, Rio." Elthia menunjuk mata sebelah kanannya yang berwarna hijau, memberi isyarat kepada Rio seolah-olah ia juga memiliki mata berwarna merah yang sama. "Bukankah orang yang terlahir bermata merah seringkali digambarkan sebagai sosok terkutuk di dalam sebuah cerita?"
Rio tertawa kecil. Perkataan bermakna tersirat yang Elthia katakan barusan, sangatlah tidak terduga baginya. "Tidak semua orang bermata merah di dalam cerita memiliki hati yang baik, Novella."
"Aku yakin, kau menyeretku ke sini bukanlah bermaksud untuk menumbalkan diriku." Elthia mengibaskan pelan tangannya. Cara bicara Sebastian yang mengancam dengan menggunakan senyuman sebagai senjata andalan menular dengan sangat baik padanya. "Karena kebetulan itu adalah dirimu. Aku rasa, tidak ada salahnya jika aku ikut menyeretmu ke dalam kekacauan ini sebagai bentuk tanggung jawabmu atas keberadaanku di sini."
Rio mengacak pelan surai hitamnya. "Walaupun kau seorang kutu buku. Kau tidaklah seculun kelihatannya, ya?" sindirnya seraya melirik dua buku tebal yang bertumpuk di samping Elthia. "Kau menjadi sedikit lebih mengerikan dibanding dirimu yang sebelumnya, Novella." Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kedua netra merah miliknya melirik Alta yang hanya bisa pasrah berdiri memperhatikan dari tempatnya berada.
"Aku harus menyesuaikan diriku dengan baik sebagai 'Elthia' di sini." Karena mempertahankan posisi sekaligus menjaga nama baik sebagai seorang bangsawan sudah menjadi kewajiban yang harus ia lakukan. Elthia tentu menyesuaikan sifat yang dimilikinya sebagai 'Novella' sekaligus 'Elthia' disaat yang sama.
"Jujur saja. Kebetulan adanya beberapa persamaan pada sifat yang kami miliki ini sedikit memudahkanku."
"Elthia yang asli tidak pernah mengancam seseorang dengan senyuman manis nan mengerikan seperti sekarang ini." Komentar Rio. Dengusan pelan keluar dari mulutnya. "Tidak seperti dirimu yang sekarang ini. 'Elthia' merupakan gadis baik hati yang tidak pernah memanfaatkan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri, Novella." Rio memperhatikan kedua netra memukau nan berbeda warna di depannya. Sama seperti Elthia, kini Rio juga memasang senyuman yang tidak kalah manis.
"Sikap yang kau perlihatkan sekarang ini sedikit berlawanan dari karakter aslinya."
"Oh, Rio. Kau ini lucu sekali, sih." Elthia tertawa pelan. Wajahnya yang cantik sudah bawaan dari lahir terlihat semakin manis berkat lengkungan nan indah tersebut. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan kehidupan 'Elthia' lumayan penting bagi akhir bahagia orang lain?" jari telunjuk Elthia mengetuk pelan meja. Senyuman tidak sedikit pun luntur dari wajahnya biarpun Rio menatap terkejut dirinya.
"Jangan bilang kau melupakannya?"
Rio mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku tidak melupakannya." Perkataan yang diucapkannya tepat sebelum mengirim Elthia ke dunia ini berhasil membungkam telak dirinya. "Baiklah. Aku akan bertanggung jawab." Karena Rio tahu berdebat dengan Elthia lebih jauh lagi justru hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Rio memilih untuk mengikuti keinginan Elthia. Selain sebagai bentuk tanggung jawab sebagai satu-satunya sosok asing yang dikenal Elthia di dunia ini. Rio juga harus bertanggung jawab sebagai seseorang yang sudah mengirimnya kemari.
Bagaimanapun juga, aku dijadikan sebagai pemandu jalan tanpa dijelaskan apapun.
Rio melirik Alta. Ia yakin, apa yang ia rasakan kini mampu dirasakan dengan baik oleh familiar menjengkelkannya yang satu itu. Jika tidak, mana mungkin Alta bisa tersenyum selebar itu, menikmati setiap penderitaan yang Rio rasakan.
"Aku hanya perlu datang saja, bukan?"
Elthia mengangguk. "Kau hanya perlu datang sebagai temanku."
"Teman dekat, lebih tepatnya." Rio memberikan penekanan. Ia memutar kedua bola matanya ketika Elthia memberikan respon berupa tepukan tangan pelan.
"Ini hanya sementara. Kau bisa bebas setelah aku berhasil menemukan tokoh saingan untuk Luca." Elthia masih tersenyum ceria. Biarpun ia tahu Rio sedikit tidak menyukai akan kepribadiannya yang satu ini, Elthia tetap saja terus mengusiknya. Rasanya menyenangkan bisa melihat ekspresi jengah dari sosok yang sudah seenak hati mengirimnya ke dunia ini, itu.
"Jadi, sebagai teman. Bisakah mulai sekarang kau panggil aku dengan namaku yang baru?" akan terasa aneh jika Rio menyebutkan nama yang ia miliki sebelumnya. Seberapapun rindunya Elthia akan nama 'Novella' yang pernah dimilikinya. Elthia tidak bisa menggunakannya lagi. Di dunia ini, sosoknya sebagai Novella tidaklah dikenal oleh siapa pun selain Rio. Sebenarnya Elthia ingin dipanggil sebagai 'Novella' lagi seperti sebelumnya. Akan tetapi, keadaan yang dimilikinya ini tidaklah memungkinkan untuknya bersikap lebih egois daripada sekarang ini. Sudah cukup, Elthia menyeret Rio ke dalam masalahnya. Ia tidak ingin keegoisannya ini membawa dampak yang lebih buruk bagi keluarga yang begitu dikasihi 'Elthia'.
"Rea. Apa kau keberatan jika aku memanggilmu begitu?"
Elthia mengerjapkan matanya heran. Nama panggilan yang disebutkan Rio ini tidak sekalipun pernah ia dengar sebelumnya. "Rea?" ulangnya. Entah Elthia salah dengar, atau memang itulah yang Rio katakan. Rasanya, panggilan itu sangatlah asing bagi pendengarannya.
"Aku mengambilnya dari namamu yang sekarang, Sheriane. Serta nama yang dulu kau miliki, Sandrea." Rio menjelaskan. Tatapan heran yang terlihat di kedua netra berbeda warna itu, entah mengapa terasa begitu mengusik baginya.
"Dengan ini, kau tidak akan melupakan jati dirimu yang dulu, maupun yang sekarang, bukan?" menganggap sosok gadis cantik yang ada di hadapannya ini sebagai 'Elthia' sangatlah aneh. Sebab, Rio sudah terbiasa mengenalnya sebagai sosok Novella. Melihat sosok seseorang yang sering dilihat dengan penampilan yang sama sekali berbeda seperti apa yang tengah dialaminya sekarang ini, tentu itu akan terasa sangat membingungkan. Jadi, sebagai alternatif bahwa Rio mengenal sosok 'Elthia', juga Novella disaat bersamaan. Rio memilih panggilan tersebut sebagai bentuk bukti, kalau ia sudah benar-benar mengenal keduanya.
"Rio...."
Panggilan penuh nada terharu itu, membuat Rio tersentak dari lamunannya. Kedua mata berbeda warna Elthia yang berkaca-kaca ketika menatapnya terasa sangatlah mengganggu. Rio meneguk salivanya gugup. Reaksi yang diperlihatkan Elthia sekarang ini, entah mengapa menimbulkan firasat buruk nan berbahaya. Rasanya, Rio seperti akan mendapatkan sesuatu nan mengerikan, seperti kejutan tidak wajar yang biasa diberikan ayahnya untuknya saja.
"Aku kira kau hanyalah sosok penjahat yang tega mengirimku kepada kematian. Tapi, ternyata kau sosok baik hati yang begitu menggemaskan, ya!"
Genggaman erat Elthia yang begitu tiba-tiba pada tangannya membuat wajah Rio seketika memucat. Firasat buruknya terbukti! Rio benar-benar mendapatkan sesuatu yang berbahaya!
"R-Rea..."
Sensasi dingin yang begitu menusuk di belakang punggungnya membuat Rio seketika bergidik. Tidak! Tidak! Bukan senyum Alta yang mengganggunya! Melainkan tatapan membunuh dari dua orang bersurai perak yang berada sedikit lebih jauh dari familiar miliknya itulah yang meresahkannya! Rio tahu kedua orang saudara 'Elthia' sangatlah menyayangi saudari perempuan mereka. Akan tetapi, ia tidak menyangka jika kedua orang itu menyayangi 'Elthia' dalam batas yang tidak normal!
"H-hei. Kau tidak bermaksud menukar nyawamu itu dengan nyawaku bukan?" Rio mencoba mengingatkan. Kedua matanya yang berwarna merah melirik ke arah tempat di mana Alta berdiri, memberi isyarat bahwa sekarang tidak hanya sang familiar saja, yang ikut memperhatikan mereka berdua.
"Maafkan aku. Karena terlalu senang aku---"
"Iya. Iya. Aku tahu itu! Jadi, bisakah kau lepaskan tanganku sekarang juga!?"
__ADS_1
Permintaan maaf tanpa adanya bukti tidaklah akan berguna bagi Rio. Rasanya menjengkelkan disaat ia sedang dalam keadaan bahaya, Elthia justru semakin menggodanya seperti ini.
"Hehe... kau sudah lihat sendiri kan? Kekuatan antar saudara?"
Pertanyaan yang diajukan dengan nada tidak sedikit pun mengandung penyesalan Elthia ini, membuat Rio berdecak. Rio mengacak surai hitamnya pelan. Tawa cekikikan Alta yang sedang mengejeknya, semakin menambahkan kekesalannya yang ada.
"Kau ini... benar-benar.."
Rio tidak melanjutkan kembali ucapannya. Sebaliknya, ia membiarkan kalimatnya itu menggantung begitu saja. Biarlah Elthia penasaran akan lanjutannya. Anggap saja ini sebagai pembalasan karena gadis itu telah berani menggodanya.
"Baiklah, Nona Muda. Sepertinya ini sudah waktunya kita menyudahi pertemuan tak terduga ini."
Rio yang melihat posisi matahari semakin meninggi, melirik Alta. Anggukan yang diberikan familiar miliknya itu sebagai tanda persetujuan, tidak luput dari perhatian Elthia.
"Sebagai anak kecil. Kau ternyata sangat sibuk, ya?" Elthia berdiri dari posisi duduknya. Begitu sudah berdiri, ia memberikan salam sebagai bentuk sopan santun antar sesama keluarga bangsawan. "Terimakasih atas waktu luangnya." Walaupun Elthia tahu salam basa-basi ini tidaklah akan berguna karena ia sudah memaksa Rio untuk menuruti kemauannya, Elthia tetap saja meneruskannya. Ia membungkukkan sedikit kepalanya. Segaris senyuman manis nan palsu Elthia torehkan.
"Saya mohon maaf atas kelancangan saya yang sudah berani menyita waktu Anda, tuan."
Sebagai tanggapan, Rio memberikan anggukan ringan atas salam basa-basi Elthia. Orang yang tidak terlalu menyukai sikap formalitas seperti dirinya ini, menunjukkan secara blak-blakan rasa jengahnya. "Di lain waktu. Jika kita bertemu kembali, aku berharap kita bisa bertemu dengan cara yang lebih baik." Rio mengibaskan pelan tangannya. Alta yang paham akan isyarat itu langsung mendekat dan mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya tanpa banyak bertanya. Familiar berambut kelabu tersebut, menyerahkan kertas tipis berupa undangan itu kepada Elthia.
"Jika nona ingin bertemu kami. Nona bisa menunjukkan ini kepada para pengawal yang berjaga di kediaman kami."
Elthia memperhatikan kertas undangan yang bertuliskan nama lengkap Rio yang diberikan Alta. Alisnya mengerut heran karena tidak mendapati nama keluarga yang sudah menjadi ciri khas bangsawan di dalam nama panjang Rio. "Alterio Lindra. Dimana nama keluargamu?" hal yang wajar jika di pertemuan pertama mereka bertemu Elthia tidak mempermasalahkan nama lengkap Rio. Sebab, di dunia di mana tempatnya sebelumnya berasal itu, nama seseorang sangatlah jarang memakai nama keluarga. Tapi tidak di dunia ini. Karena benua Lucinda terdiri dari susunan sistem kerajaan. Nama keluarga sangatlah penting sebagai tanda pengenal sekaligus penegas identitas. Tidak hanya para bangsawan. Bahkan, rakyat biasa di benua ini pun juga memilikinya. Lantas, mengapa nama Rio hanya terdiri dari dua kata saja? Mengapa nama keluarganya tidak ada?
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang." Rio yang paham akan kebingungan Elthia, menghela nafasnya pelan. Bagaimanapun juga, mereka baru bertemu secara resmi di sini. Rio tidak bisa menceritakan tentang dirinya langsung begitu saja kepada Elthia. "Aku akan memberitahumu di saat yang sudah tepat."
Walaupun perkataan Rio terkesan aneh, Elthia mencoba untuk menghormatinya. Karena ia sudah terlalu banyak bertanya, Elthia cukup memaklumi sikap Rio yang satu ini.
Mungkin ada masalah dalam keluarganya.
Elthia sekali lagi memberikan penghormatan. "Sampai jumpa lagi, Alterio." Kedua mata Elthia menatap Alta yang ada beberapa langkah di belakang Rio. Elthia balas tersenyum, ketika Alta juga memberikan penghormatan padanya.
"Begitu pun denganmu, Alta."
"Senang berkenalan dengan Anda, nona Elthia."
Elthia mengangguk kecil. Begitu di rasanya basa-basi perpisahan ini sudahlah cukup, Elthia memohon undur diri. Punggung mungilnya yang menjauh, Rio perhatikan. Senyuman cerah yang di perlihatkannya ketika sudah bersama kembali dengan kedua orang Lucretia bersaudara lainnya, tidak luput dari perhatian Rio dan Alta.
"Bagaimana menurutmu?"
Pertanyaan yang Alta ajukan kepadanya ketika ketiga orang Lucretia sudah pergi itu, Rio balas dengan tatapan datar. Wajah penuh persahabatan yang sebelumnya ia perlihatkan kepada Elthia, menghilang entah kemana. Layaknya topeng kepalsuan yang sudah dilepaskan, ekspresi wajah Rio berubah drastis. Senyuman tidak sedikit pun terlihat menghiasi wajah rupawan yang dimilikinya.
"Merepotkan." Komentarnya. Tidak hanya tatapan matanya saja yang berubah. Bahkan, nada ceria penuh keringanan itupun juga ikut lenyap. Seolah-olah kehangatan yang ia miliki sebelumnya hanyalah sebatas cahaya api di tengah malam. Tidak adanya sosok Elthia yang menjadi cahaya tersebut, membuat Rio kembali ke dalam kepekatan. Alta yang sudah terbiasa akan perubahan drastis sikap tuannya ini, tersenyum. Sifat seenak hatinya tidak berubah sedikit pun biarpun Elthia sudah tidak terlihat lagi oleh matanya.
"Jangan seperti itu, El. Aku sudah susah payah lho, membawanya kemari." Alta berputar pelan di depan Rio. Seberapa menusuknya pun tatapan yang diberikan Rio padanya kini, Alta tidak menanggapinya. Selama desisan belum terdengar keluar dari mulut Rio, alarm bahaya yang bisa membahayakan hidupnya belumlah berbunyi.
"Setidaknya hargailah usahaku ini."
"Kau tidak melakukannya." Keluhan Alta yang berlebihan ditanggapi dengan dingin. Rio mendudukan dirinya kembali. Makanannya yang masih tersisa sedikit, ia perhatikan.
"Ini semua ulah Leander, bukan?"
Tebakan yang tepat sasaran itu membungkam Alta. Rasa bangga yang dimilikinya langsung menguap begitu saja. "Tidak bisakah kau berpura-pura tidak mengetahui apapun walaupun itu cuma sebentar saja?" Alta mendudukkan dirinya di tempat di mana Elthia duduk sebelumnya. Ia menautkan kedua tangannya. Kedua netra merah darahnya yang berwarna tidak kalah pekat itu balas menatap Rio datar.
"Jujur saja. Aku mulai merasa muak akan sikapmu yang satu ini."
"Salahmu sendiri terlalu lemah." Rio menyeringai. Senyum kecut Alta yang merasa tertohok akan kenyataan, menghiburnya. "Hatimu terbaca dengan mudah."
"Sialan." Tidak bisa membantah, Alta berdecak. Memiliki tuan super kejam seperti Rio lumayan menyiksa kesehatan batinnya. "Kalau kau sudah mengetahuinya, mengapa kau menerimanya begitu saja?" Alta tahu, permintaan Elthia yang disetujui oleh Rio pastilah memiliki alasan yang kuat. Tanpa adanya keuntungan yang didapatkan, Tuannya yang satu ini tidaklah mungkin menyetujuinya begitu saja. "Kau tahu, mempermainkan orang lain terutama seorang gadis, bukanlah tindakan yang baik, lho."
"Aku tidak mempermainkannya." Apa yang dikatakan Alta sedikit menyinggung Rio. "Sebaliknya, aku justru membantu." Kedua mata Rio menyorot tajam Alta. Dengusan pelan dari familiarnya yang menyebalkan terkesan begitu merendahkan.
"Apa kau yakin?"
"Sebagai salah seorang yang menyesatkannya, kau sangat berani."
"Ini tidak seperti bayanganmu, kok."
"Apa tujuan kalian?" tanggapan santai Alta sangatlah mencurigakan. Dijadikannya dirinya sebagai seorang pemandu tanpa adanya diberi penjelasan seperti ini, sudah menyalakan simbol bahaya yang ada milik Rio. "Apakah ini lagi-lagi merupakan sebuah 'kejutan'?" Rio menggeram. Netra semerah darah miliknya mengkilat murka.
Alta mengelus pelan surai kelabu miliknya. "Tidak mudah menyimpan rahasia dari orang sepertimu." Padahal Alta sudah berusaha sebaik mungkin menyimpan emosinya dari Rio. Namun sayang, karena kemampuan menyembunyikan emosi miliknya masih kalah jauh dari Rio, apa yang coba Alta simpan dari sang tuan masih mampu dibaca dengan baik.
"Kami tidak memiliki tujuan selain apa yang sudah kau ketahui." Mengakui segalanya dan jujur mengenai permasalahan Elthia, merupakan tindakan terbaik yang Alta miliki. Membuat murka Rio lebih jauh lagi, tidak termasuk di dalam daftarnya. Alta tidak ingin Rio melampiaskan kekesalannya atas perbuatan Leander, kepada dirinya seperti ini.
"Kau bisa menyebut kejadian ini sebagai kejutan." Alta melirik ke sembarang arah. Tatapan menuntut Rio yang diarahkan padanya terasa sangatlah menyesakkan. Di bawah tatapan nan mengerikan itu, Alta menarik nafasnya. Sebelum memberikan jawabannya, ia memastikan dirinya benar-benar bernafas terlebih dahulu. "Sekaligus kebetulan tak terduga disaat yang bersamaan."
"Ini menjengkelkan."
Desisan yang keluar dari mulut Rio membuat Alta bergidik. Alta akui, ia memang terbiasa akan perubahan sikap Rio yang tiba-tiba. Akan tetapi, ia masih belum terbiasa akan umpatan kasar tuannya ketika sedang murka.
Hei. Aku baru dua bulan menjadi familiar miliknya. Tidak bisakah dia memperlakukanku dengan lebih lembut walaupun itu cuma sedikit?
"Kau tidak bisa menarik perkataanmu kembali." Alta mengingatkan. Membutuhkan keberanian yang besar hanya demi mengucapkan perkataan singkat itu. Di dalam hatinya, Alta mengutuk Leander. Seandainya saja Alta bisa mengetahui hal ini akan terjadi, Alta akan dengan senang hati memberikan penolakan. Rekan sesama familiarnya ini menjengkelkan. Sifat semena-mena yang dimilikinya sebagai seorang familiar senior itu, jujur saja, sangatlah merepotkan Alta.
"Leander mengatakan padaku. Jika kau menjadi seorang pemandu yang baik dan membiarkan gadis bernama asli 'Novella' itu mengubah goresan takdir kejam yang ada." Alta menarik nafasnya. Entah ini karena ia merasa terlalu gugup atau ketakutan karena hidupnya sedang terancam. Aura menusuk yang menguar dari tubuh Rio terasa lebih mencekam dari yang biasanya. Di bawah tekanan rasa murka Rio atas Leander. Alta menyadari beberapa hal. Pantas saja seniornya itu selalu menghindari pertemuan dengan Rio. Tuan berwajah bak malaikat yang menjalin kontrak dengannya ini ternyata tidaklah seindah penampilannya. Rumor yang mengatakan bahwa Rio adalah sesosok jelmaan malaikat yang memberikan kedamaian, kenyataannya sangatlah menyalahi. Daripada mirip seorang malaikat yang dikenal sebagai sosok yang selalu melakukan perbuatan mulia, Rio lebih mirip sosok iblis yang selalu memperdaya manusia dengan sisi memukau layaknya malaikat yang dimilikinya.
"Leander akan berdiri kembali di sisimu. Dan dia mengatakan, bahwa dia akan memberikan sumpah setianya."
Alta melirik Rio. Ia berharap, pesan mengandung penawaran yang menggiurkan ini mampu meredakan kemarahan Rio. Alta tahu, sosok Leander bukanlah familiar yang biasa. Tidak seperti dirinya, mendapatkan sumpah setia dari familiar kuno seperti Leander jelas jauh lebih bernilai.
"Dia berjanji, bukan?"
Alta mengangguk. Janji penting seperti itu sangatlah tidak mungkin ia karang. Sumpah setia seorang familiar terhadap seorang penyihir tidaklah bisa dipermainkan. Sebab, dibalik sumpah itu, ada ikatan kasat mata yang kuat, yang tidak bisa dianggap remeh. Selain itu, kesetiaan mereka sebagai familiar terhadap sang tuan bisa diartikan sebagai bentuk harga diri. Jadi, jika seorang familiar berani mengkhianati tuannya, maka disaat itu pula ia akan kehilangan kehormatannya. Sekali ternoda, janji yang sudah dilanggar tidaklah bisa dikembalikan lagi. Bagi para familiar yang nekat mengkhianati tuan mereka. Mereka hanya mempunyai dua pilihan. Mengasingkan diri selama ribuan tahun lamanya atau dibunuh langsung oleh mantan tuan yang dikhianatinya.
"Baiklah. Khusus kali ini aku akan menerimanya."
Meredanya amarah Rio sedikit memberikan Alta ruang untuk bernafas. Ia bersyukur, Rio selalu memikirkan sesuatu hal dengan kepala yang dingin di situasi apapun sebelum mengambil keputusan. Jadi, Alta terselamatkan. Secuil bentuk tanggung jawab Leander juga disyukurinya. Tanpa adanya janji yang Leander tawarkan, Alta yakin Rio pasti akan memberikan penolakan untuk yang kesekian kalinya atas 'kejutan' pemberian mereka tanpa perlu banyak berpikir.
Marquess (Marchionnes) \= Gelar kebangsawanan ini berada di bawah duke, dan diatas count (earl). Letak tanah kekuasaan marquess terdapat di perbatasan kerajaan. Karena itu, seorang marquess dipercaya untuk mempertahankan dan membentengi kerajaan, terhadap kerajaan tetangga yang menjadi musuh kerajaan. Istri dari seorang marquess, biasa disebut sebagai marchionnes.
Count (Countess) \= Menempati peringkat ketiga dalam gelar kebangsawanan. Count (earl) pada awalnya berfungsi sebagai gubernur kerajaan. Mereka mengumpulkan denda pajak. Sebagai imbalanya, mereka akan menerima sepertiga dari uang yang mereka kumpulkan. Dalam masa perang, mereka juga akan memimpin tentara raja. Earl memiliki gelar "earl of..." ketika gelar tersebut berasal dari nama tempat, atau "earl of..." ketika berasal dari nama keluarga. Bagi seorang wanita yang memiliki gelar countess juga menggunakan sebutan lady, tetapi suaminya tidak memiliki gelar kecuali ia mempunyai gelarnya tersendiri.
Viscount (viscountes) \= Gelar ini berasal dari masa kekaisaran Romawi, yang merujuk pada kepala polisi daerah. Penggunaan gelar viscount juga sebagai gelar kehormatan bagi ahli waris dari earl (count) atau marquess.
Baron (Baroness) \= Berada dalam peringkat terakhir gelar kebangsawanan kata baron dalam bahasa latin 'Baro' yang berarti 'orang bebas'. Gelar ini dianugerahkan oleh ratu kepada mereka yang dianggap berjasa. Gelar baron hanya digunakan dalam dokumen-dokumen hukum atau formal.
Familiar \= Makhluk yang terlahir dari sihir. Familiar merupakan 'tangan kanan', sekaligus 'mata' bagi seorang penyihir. Makhluk yang tercipta dari aliran mana antara pohon perak dan pohon dunia ini, bisa juga disebut sebagai 'bayangan' para penyihir, atau seorang penjaga yang membantu penyihir untuk mengelola dengan baik kapasitas sihir seorang penyihir.
__ADS_1