1+1: Useless

1+1: Useless
Chapter 25 - Arc Alexander [Taisetsu na Mono, What Is That?]


__ADS_3

Kepecudangan Manusia di ukur dari seberapa tidak berani ia, dan bahkan mungkin kategori Pecundang tidak cocok untuk Alexander.


Alexander Stuckerkovic-Milenkovic-Mijatovic Stejpan, seperti apa pemandangan dunia dari lensa matamu, dan seberapa mengerikan waktu yang berlalu saat yang lain mati meninggalkanmu, atau bahkan sekarang, bagaimana menurutmu tentang Manusia yang lain yang takut tentang perbedaan?


"Haruskah aku menjadi Monster, agar Monster disebut Monster menjadi begitu sinkron, haruskah begini?"


Flashback.


Tahun 203 CHS


"Paman Arexanderu!!!" gadis kecil yang memperlihatkan panorama senyuman, dan jari jemarinya yang begitu kecil, dia tidak menunjukkan gejala pendosa, hanya kepolosan yang menyelimuti ia dengan segala kedinamisan senyumannya.


Alexander ia menoleh, menangkap panggilan kecil melalui pendengaran telinga-nya.


"Paman Arexanderu!!! Apakah Manusia akan mati?" tanya gadis kecil ini kemudian, berikutnya pun selalu seperti ini, dia begitu penasaran tentang seberapa lama Manusia hidup, dan seberapa lama ia bertahan dari perputaran rotasi waktu yang kejam tanpa memikirkan kesedihan Manusia yang lainnya.


"Mungkin?" jawab Alexander dengan begitu pendek, dia tidak tahu tentang kematian, karena rasa kematian meninggalkannya. Seperti kematian itu membencinya... "Kurasa, kamu akan hidup lebih lama lagi, 50 tahun mendatang.." sambung Alexander.


"Hmmm, kalau begitu, apakah Paman Alexander akan menungguku dewasa?" senyumannya menghiaskan keindahan yang berlebihan.


Jauh itu dekat, dan dekat itu jauh, kadang perputaran rotasi itu terjadi, dan saat inipun, mungkin bagi Alexander, senyum gadis kecil ini terlalu jauh..


"Heh????"


213-CHS


"Paman Alexander!!!" teriak suara yang khas, tetapi mungkin ini melambangkan suara wanita dewasa.......


"Yo.... Alouiseie...."


Alouiseie yang mungkin sudah melambangkan kecantikan, senyuman sedari dulu ada tetap ada dan akan selalu ada menghiasi keindahan.....


"Paman Alexander, apakah Manusia akan mati jika tertabrak oleh sesuatu yang melaju seperti kecepatan cahaya?"


"Huh??"


~ ~ ~ ~


Manusia akan berakhir, mereka begitu rapuh, tubuh kuat hanya bisa menghancurkan sesuatu yang sedikit rapuh, tapi tidak bisa menghancurkan sesuatu yang kuat...


"Seorang pelajar sekolah menegah atas, di-identifikasikan bernama Alouiseie Louimeiy ditemukan terurai-berai di rel kereta..." berita ini datang mendadak di pagi hari yang cerah.


"Paman Alexander, apakah Manusia akan mati jika tertabrak oleh sesuatu yang melaju seperti kecepatan cahaya?"


Kata-kata mempertanyakan ini adalah akhirnya, dan hanyalah "Huh??" apa yang Alexander itu jawab.

__ADS_1


° Aku, akan mencoba mencari jawabannya sendiri....


"Kenapa, tidak kujawab saja?"


Manusia memiliki rasa penasaran yang berlebihan, jika jawaban yang di dapatkan tidak memuaskan, maka mereka mencoba melakukannya sendiri.


205-CHS.


"Paman Alexander melukiskan kesedihan yang berlebihan, aku akan hidup selama mungkin jika paman bisa menjawab pertanyaanku, apakah Alouiseise memiliki senyuman indah, Paman?"


"Ya...."


Hal yang berharga itu ada bermacam-macam, tetapi Alexander tidak memiliki kekuatan yang berlebihan untuk menjaga hal itu, dia hanya bisa termenung, dan melihat satu persatu kenalannya mati.


Flashback End.


"Hal yang berharga itu apa, dan seberapa berharganya Manusia lainnya, jika mereka berharga, kenapa hanya dengan penyakit mereka mati?"


"Atau bahkan, dengan hantaman yang keras?"


"Beberapa hari kemudian disebutkan Alexander mantan veteran buku sejarah masih hidup, dan kini baru kemarin, dia tertangkap CCTV Toko, membunuh beberapa yang menyebutnya monster!!"


"Kenapa bisa begitu, baperan amat udah tua..." komentar narasumber.


"Apakah kau barusan menyebutku Anak-Anak?"


Di samping narasumber, muncul pria dengan wajah yang khas, dan dengan tatapan yang sangat dingin...


"Apakah Manusia akan mati jika terkena peluru?"


"T-tidakkkkkk....A-aku akan mati!!!"


"Jawabannya, tidak..."


Bunyi letusan, dan suara, atau mungkin meringis kemudian yang terdengar, tembakan mengenai kaki.


"Karena tebakanmu salah, kau bagusan mati saja, benar bukan?"


"M-menakutkan!!..." satu reporter mungkin ia ketakutan karena ini mendadak tak diketahui...


"Namamu?"


"Furàncescà..."


"Sampai jumpa lagi, Furàncescà, itu kalau aku bisa mati...."

__ADS_1


Tembakan kemudian, mungkin menembus kepalanya, dan bahkan eksekusi ini sedang live.


"M-monster!!"


"Baiklah... Jadi bagaimana, apakah kalian ingin mati?" dia mendekati kamera, sembari memperlihatkan wajah yang mengerikan.


"Terlalu banyak rasa sakit tidak menyenangkan, tapi terlalu banyak kesenangan itu membosankan, mungkin terlalu banyak ketakutan adalah instrumen musik terindah, kan?"


"Katakan, Apa kabar dunia?"


"Sudah gila...."


Door.....


"Suiko Zaccherini reporter wanita juga tewas, astaga dia tidak pilih-pilih, dia membunuh wanita yang bahkan sexy!!"


"Ini pembunuhan, S-suiko, my idol!!"


Mendadak tubuh Suiko menghilang seperti mengeluarkan asap.


"Eh?"



"Membicarakan Monster hanya akan mengundang Monster, berterima kasihlah kelada klan Midorikawa, karena teknik clone dan penyamaran, mereka bisa menggantikanmu..." ucap suara yang sudah tak asing, Nicki.


"Kurasa dia naik pitam, makanya jadi gini, setiap Manusia di era ini juga kan ada yang mengerikan, seperti Starskovich Fallensky..." sambung Nicko.


"Aku takut..." ucap Suiko.


~


"Jadi, sesuatu yang berharga itu apa?"


Pria ini teramat sangat menyedihkan dengan kisah-kisahnya, terlalu lama hidup hingga akhirnya ingin mencari sesuatu yang berharga baginya sekaligus mempertanyakan hal berharga itu apa, mengapa begitu banyak kepedihan. Apakah dia hanya diciptakan untuk menanggung begitu banyak kepedihan.


Dunia terlalu kejam, beserta dengan konsenkuensi kesalahan sihir yang melewati batas normal, ujian menyedihkan yang kemudian membuat dia takkan bisa mati, takkan bisa berakhir semudah itu, takkan bisa berjumpa dengan orang yang merindukannya di atas sana.


Karena terlalu banyak ejekan, dia memasuki fase menakutkan, sisi bahaya dalam diri Manusia yang seharusnya tidak dikeluarkan.


Mengapa harus ada begitu banyak kepedihan baginya, itulah yang ia pikirkan saat ini, kesalahan satu kali menjadi banyak kemalangan dan kesedihan menyertainya. Dia tertawa saat diperlihatkan dalam livestream, namun sebenarnya dia menangis dalam hatinya, karena dia.. sudah menanggung begitu banyak kesedihan.


"Sudah kuduga, sering-sering memang seperti ini, kehidupan jauh lebih menakutkan daripada kematian.." ucap Alexanders.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2