
Kirana terbangun saat cahaya matahari yang menembus celah-celah dinding anyaman menerpa wajahnya. Ia berusaha mengumpulkan nyawa sambil beranjak bangun. Sudah lama ia tidak tidur senyenyak itu. Tumpukan daun yang dijahit menyerupai kasur yang dibuat oleh Suku Cervid benar-benar nyaman.
Semalam, Ketua Suku meminta mereka menginap di desa. Sepertinya Ketua Suku dan rekannya, Gogo sudah menaruh kepercayaan kepada mereka. Terlebih karena Xavier mau menekan hawa membunuhnya sehingga orang-orang di desa tidak merasa ketakutan. Gogo juga bilang hutan sangat berbahaya di malam hari.
Xavier berniat menolak tapi Kirana langsung menyetujui permintaan itu. Akhirnya, ia menginap di rumah Kepala Suku. Ia tidur bersama dengan Gigi dan Wage, sementara Wagyo tidur bersama beberapa Bestial dewasa di pondok kayu terbuka yang desainnya mengingatkan Kirana dengan aula pertunjukkan di dunianya. Xavier juga memilih tidur di luar walau Kirana yakin pria itu berjaga di sekitar desa sepanjang malam.
“Ah, selamat pagi,” sapa Gigi sambil menyampirkan gorden daun yang dijadikan sebagai pintu rumah.
“Selamat pagi, Gigi,” balas Kirana, sumringrah. Gadis itu melihat Gigi mengambil keranjang dari anyaman bambu.
“Apakah kalian akan mengumpulkan makanan?” tebak Kirana.
“Benar, kau mau ikut?”
“Tentu saja! Aku mau!” Kirana merasa bersemangat bisa melakukan aktivitas baru. Sebelumnya, ia hanya menghabiskan hari-hari di dalam kurungan atau terjebak di lubang pohon raksasa. Selama itu, ia tidak bisa berbuat apa pun selain memandangi langit.
Makanya saat ini ia begitu girang mengikuti para Bestial dewasa menuju ke sebuah anak sungai di dekat desa.
Bestial wanita biasanya memiliki pekerjaan di sekitar desa, seperti memetik sayuran dan buah, menampung air minum ke dalam kendi-kendi, sampai merawat anak-anak kecil. Sementara Bestial pria akan pergi mencari sayuran yang lokasinya lebih jauh, menebang pohon dan menganyam, ada juga yang membuat perkakas dari bahan tanah liat.
Beberapa Bestial pria dan wanita bersama-sama dalam menyiapkan makanan, ada yang mengumpulkan kayu bakar, mencuci sayur, menghitung dan membagi jumlah makanan. Semuanya bekerja dengan giat dan kompak. Kirana senang melihat mereka semua bergerak dengan sibuk tetapi saling terkoordinasi dengan baik.
Kirana sendiri mencoba membantu memetik sayuran. Setelah diajari Gigi jenis sayuran yang biasa dimakan, ia mulai memetik beberapa kembang kol liar dan pucuk pakis muda. Gadis itu membayangkan andai ada bumbu dapur ia pasti bisa memasak sesuatu yang enak.
“Gigi, aku mau tanya, apakah kalian punya garam?” tanya Kirana, penasaran.
“Garam?” Gigi tampak terkejut. “Sayangnya tidak ada, garam batu adalah bahan yang cukup sulit ditemukan di dalam hutan ini.”
“Jadi kalian tahu fungsi garam?”
Gigi tersenyum simpul. “Tentu saja, walau sebagian Bestial tidak peduli dengan memasak, tetapi kami, suku Cervid mengetahui metode memasak.” Bestial itu memandang Kirana penuh arti. “Kamu ingin sayuran yang matang?”
__ADS_1
“Ah tidak, aku cukup dengan buah,” kata Kirana sambil menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa kok, aku dengar Suku Pongo memang suka memasak makanan mereka, tidak heran jika dirimu menginginkan sesuatu yang dimasak juga.”
Kirana hampir membalas dengan pertanyaan tentang Suku Pongo, tetapi ia buru-buru menutup mulutnya karena teringat saat ini sedang pura-pura menjadi bagian dari suku primata tersebut.
“Lalu kenapa kalian tidak masak seperti Suku Pongo?”
Gigi tampak berpikir. “Hmm, mungkin karena kami memang masih menyukai rasa dari sayur mentah, tetapi kuakui, memakan sesuatu yang dimasak memang membuatnya menjadi lebih lezat.”
Kirana sepakat. Ia sendiri tidak benar-benar bisa makan sayuran mentah, kecuali memberinya dressing seperti salad. Salad sangat enak, tetapi tidak mungkin ia mendapatkan mayonaise atau wijen sangrai di dunia ini.
“Kirana, kami menemukan pohon apel disana,” panggil Gigi tiba-tiba. Gadis itu melamun sampai tidak sadar kalau rombongan Bestial wanita sudah berada jauh di depan. Ia langsung berlari kecil mengejar mereka. “Baik, biar aku yang mengambil buahnya!” Gadis itu melangkah dengan riang, ia sangat bersyukur bertemu dengan Suku Cervid.
...***...
Xavier tengah duduk bersandar di atas sebuah dahan pohon yang besar. Matanya terpejam, namun ia masih bisa mendengar seluruh keramaian di desa Cervid. Hidungnya mengikuti aroma tubuh Kirana yang berada jauh di seberang anak sungai, sekitar 150 meter dari desa. Selama gadis itu bersama dengan rombongan Bestial wanita, ia tidak terlalu khawatir.
“Ah, maaf kalau mengganggu,” sambungnya, ia bisa memahami tatapan mengusir Xavier. “Kami menemukan lubang kelinci, tetapi tidak ada satu pun dari kami yang bisa memancing mereka keluar, apakah kau keberatan kalau membantu kami menangkapnya?”
Xavier lompat dari pohon, mendarat tepat di depan Gogo. Tubuhnya yang tinggi menjulang tampak sangat besar di hadapan Gogo, bahkan dengan ranggah rusa bercabang di atas kepalanya pun tidak bisa menutupi gestur mendominasi dari Xavier.
“Tidak perlu repot-repot berburu untukku,” kata Xavier. “Aku bisa mendapatkan makan siangku lebih cepat dengan mencari sendiri.”
“Maaf,” entah mengapa Gogo jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak perlu merasa seperti itu. Atau mungkin setelah melihat wajah bahagia anak-anak di desa mereka telah kembali, pagi ini ia jadi menyadari besarnya jasa yang sudah dilakukan oleh Xavier dan Kirana, sehingga ia merasa ada hutang budi.
“Selain itu, aku ingin bertanya,” kata Xavier, mengejutkan Gogo. Tatapannya tajam menusuk seperti sedang menyelidiki sesuatu. “Apakah ada sesuatu yang aneh di sekitar sini?”
“Aneh bagaimana?”
“Predator yang bergerak seorang diri, seperti aku.”
__ADS_1
“Tapi Anda bersama dengan Kirana?”
“Kau tahu apa maksud pertanyaaku kan? Bestial dengan aura mendominasi, berkeliling sendiri tanpa kelompok, menguasai suatu teritori?”
Gogo menggeleng. “Tidak ada, tidak ada yang pernah seperti itu di sini,” Ia terdiam dulu selama beberapa saat. Sambil melirik Xavier dengan takut, ia berbisik, “Selain dirimu, jika tidak ada Kirana disampingmu malam itu. Kami pikir, kau adalah—,” Gogo tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya terdorong oleh tenaga yang kuat dari lengan Xavier.
Pria itu terlempar sampai ke tengah lapangan kosong, para penduduk yang ada di sekitar langsung menoleh dengan kaget.
Gogo berdiri saat matanya melihat sosok bersayap hitam melesat dengan cepat dari langit, menukik ke bawah, tepat ke arah Xavier. Ia mendengar Bestial burung itu berseru, “Kembalikan Kirana, brengsek!”
Dentuman besar terjadi, merusak tanah dan menghancurkan pohon-pohon disekitar. Para penduduk desa langsung membawa anak-anak berlindung ke dalam rumah, sementara Bestial pria berdiri di tengah lapangan, berkumpul bersama dengan Gogo sambil berharap-harap cemas.
Ratusan meter dari desa, Wagyo bisa merasakan hawa membunuh Xavier menguar ke udara. Perasaan mencekam terasa seperti mencekik leher mereka semua. “Telah terjadi sesuatu di desa,” ucap Wagyo dengan suara gemetar, wajahnya pucat membayangkan kemungkinan terburuk.
Ia melihat ke arah desa, dari langit tampak partikel debu bertebangan di udara, ia dapat menciumnya, aroma pertempuran.
“Semuanya, kita kembali ke desa sekarang!” perintah Wagyo, para Bestial yang sudah berevolusi ke tahap kedua juga bisa merasakan tekanan dari kekuatan Xavier. Mereka pun bergegas untuk pulang.
Sementara itu, Xavier berhasil menghindari serangan cakar dari udara yang tadi mengincarnya. Ia menatap dingin Bestial burung yang ada di hadapannya. Ezekiel tersenyum miring, “Akhirnya, kutemukan juga, dasar penculik!”
Xavier memiringkan kepalanya. “Menculik siapa?”
“Kirana! Kau mengambilnya dariku! Dia pasangan kawinku!”
Xavier tersenyum mengejek. “Bestial payah sepertimu tidak pantas kawin dengannya.” Aura hitam menyelubungi tubuh pria ular itu. Benda-benda seperti batu, ranting dan bongkahan tanah melayang di udara seiring dengan semakin besarnya tekanan yang Xavier ciptakan dari auranya yang mengintimidasi.
Ezekiel sebenarnya merasakan hal tersebut, dadanya seperti terasa mencelos saat tekanan yang begitu besar menghimpit dirinya. Keringat dingin bercucuran didahinya tanpa ia sadari, batinnya meronta-ronta memberi peringatan agar tidak mencari masalah dengan Xavier.
Tetapi, egonya sangat tinggi, keinginannya untuk memiliki Kirana sudah diputuskan dan tidak ada seorang pun yang boleh menghalanginya. Dia hanya menggertak! Aku pasti bisa mengalahkannya dan membawa Kirana pergi dari sini!
Teriakan keluar dari mulut Ezekiel, bersamaan dengan itu ia melesat ke depan sambil mengayunkan cakarnya yang memiliki aliran listrik. Xavier hanya diam di tempat, memandang Ezekiel sebagaimana biasanya ia memandang Bestial lain, mahluk lemah tak tahu diri.
__ADS_1