
Xavier mengerjapkan matanya. Ia bingung karena pemandangan di sekitarnya menjadi berukuran besar. Lagi, ia mengedipkan matanya untuk memastikan. Xavier menunduk dan melihat tubuhnya dalam wujud ular kecil. Ia tidak memiliki tangan dan kaki. Ia tidak memiliki kemampuan berubah wujud menjadi manusia. Dia bukan Bestial. Dia hanya seekor ular biasa.
Xavier mencoba menggerakkan tubuh kecilnya keluar dari cangkang lembut yang telah membungkus dirinya selama kurang lebih dua bulan. Ia merasa familiar dengan tempat di sekitarnya. Tumpukan daun-daun kering yang menjadi alas tempat tidurnya, dinding kokoh yang menjadi pelindung serta lubang kecil di atas—yang merupakan satu-satunya jalan keluar masuk dan memberikan siraman cahaya hangat.
Xavier memandang lubang itu, ia mendengar suara mendesis dan menjulur seorang wanita bertubuh setengah ular. Wanita itu mengeluarkan lidahnya yang panjang dengan ujung terbelah, kedua pupilnya yang lonjong menatap Xavier penuh rasa lapar.
“Kau sudah bangun ternyata,” ucap wanita itu.
Tangannya dengan cepat bergerak ke arah Xavier, tapi Xavier yang merasakan sinyal bahaya berhasil menghindarinya. Xavier berlari dan terus berlari, menjauhi wanita ular tersebut. Ia mendengar suara tawanya yang melengking, Xavier didera ketakutan yang amat sangat. Ia merasa saat itu nyawanya berada di ujung tanduk.
“Xavier…,” suara lembut menyeruak ke alam bawah sadarnya.
“Xavier, kamu tidak apa-apa?” Suara itu terdengar kembali, semakin keras dan jelas.
Xavier membuka kedua matanya perlahan. Wajah pertama yang dilihatnya adalah Kirana. Gadis itu masih berada di atas dadanya dan memandangnya penuh kekhawatiran.
Siraman hangat dari matahari menimpa kulit Xavier yang berkeringat dingin. Pria itu memandang Kirana dengan tatapan bingung.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu,” balas Kirana. “Kamu mimpi buruk? Aku mendengarmu bicara sambil tidur.”
“Mimpi?” ulang Xavier dengan ekspresi bingung.
“Apa Bestial tidak pernah bermimpi?” tanya Kirana balik.
Xavier menggeleng. “Aku belum pernah bermimpi.”
“Begitu,” Kirana menatapnya prihatin. Gadis itu mengusap wajah Xavier, pelan. “Tidak apa-apa, semua itu hanya bunga tidur dan tidak nyata.”
Xavier menyentuh punggung tangan Kirana. “Terima kasih,” ucapnya.
Ia merasa lega karena yang tadi dilihatnya hanya mimpi. Kirana masih ada di sisinya, itu yang terpenting. Semua itu sudah berlalu, Xavier sudah bukan bagian dari masa lalunya. Ia hidup di masa sekarang.
“Kirana,” bisik Xavier sembari menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
“A-ada apa?” Kirana terkejut dengan tindakan Xavier, wajahnya memerah seketika.
“Tidak apa-apa,” ucap Xavier. Ia merasa tenang saat memeluk gadis itu dan mencium aroma tubuhnya dari dekat. Aroma manis yang memabukkan, membuatnya seketika lupa tentang hal-hal yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Suasana itu tidak berlangsung lama, Ezekiel turun dari langit dan mendarat di atas batu tempat keduanya tidur bersama.
“Waktu habis! Menjauh darinya!” seru Ezekiel sambil berusaha memisahkan Xavier dan Kirana.
Xavier mendesis kepada Ezekiel, tapi karena Kirana mendorong pelan tubuhnya, akhirnya ia sedikit memberikan jarak. Bestial ular itu bersedekap, kesal karena Ezekiel mengganggu paginya.
“Tidak usah berwajah masam begitu, aku sudah memberikanmu waktu berdua dengannya semalam penuh,” kata Ezekiel yang bisa membaca mimik wajah Xavier.
“Seharusnya kau pergi lebih lama,” balas Xavier.
“Tidak mau!” Ezekiel menjulurkan lidahnya, meledek Xavier.
“Sudahlah, ini masih pagi,” lerai Kirana. “Kalian ini selalu punya energi buat bertengkar ya.”
“Maaf, Kirana,” ucap Ezekiel sambil tertawa kecil. “Aku bawa beberapa buah, ayo kita sarapan sebelum lanjut berjalan.”
Kirana mengangguk setuju. Mereka menyantap sarapan dan beberapa buruan pagi yang Ezekiel tangkap, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
***
Hutan yang mereka lalui tampak lebih sunyi dari biasanya. Angin terasa tidak berhembus di area tersebut. Hewan-hewan pun jarang ada yang terlihat. Kirana menoleh ke kanan kiri, resah.
“Ada apa?” tanya Ezekiel.
Xavier memperluas pemantauannya, ia memang tidak merasakan adanya kehidupan lain selain mereka di sana. Perasaan Kirana semakin buruk saat ia melihat beberapa tulang binatang di atas tanah, seperti pernah terjadi kematian massal di tempat tersebut.
“Hoi, ular, aku terbang dulu untuk mengecek situasi,” kata Ezekiel.
Xavier mengangguk. Setelah Ezekiel pergi, Xavier menyarankan Kirana untuk istirahat dulu. Mereka lalu berteduh di bawah sebuah pohon. Kirana duduk di atas dahan pohon besar tersebut. Sambil memijit betisnya ia memperhatikan Xavier yang tampak serius.
“Kamu juga merasa ada yang aneh kan?” tanya Kirana.
“Iya,” jawab Xavier. “Aku merasa familiar dengan situasi ini.”
“Apa maksudmu?”
Xavier terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat dari pengalamannya. Ia sempat mengira kalau mereka terjebak dalam kekuatan ilusi seorang Bestial, tapi Xavier yakin kalau mereka tidak masuk ke ilusi apa pun. Ia pasti langsung menyadarinya kalau ada yang menjebak mereka.
Tibat-tiba Bestial ular itu tersentak kaget, ia merasakan sesuatu bergerak dengan cepat dari arah belakang, embusan angin yang tidak terasa sejak tadi tiba-tiba merebak dengan cepat ke arahnya.
__ADS_1
Lengan Xavier bergerak lebih cepat, tangannya menggenggam anak panah yang terlontar dan hampir mengenai Kirana.
“Ada Bestial lain disini,” desis Xavier. Ia ingin mengejar pelaku yang menembakkan anak panah tersebut, tapi di sisi lain, ia tidak mungkin meninggalkan Kirana.
Tepat di saat itu, Ezekiel kembali dari patroli udaranya.
“Ada apa?” tanyanya saat melihat perubahan air muka Xavier.
“Lindungi Kirana, ada Bestial lain di sini!” Setelah berkata seperti itu Xavier langsung melesat dengan cepat, masuk ke dalam hutan melewati pohon-pohon yang menjulang.
Ezekiel langsung bersikap waspada. Ia merentangkan sayapnya dan menggunakannya untuk melindungi tubuh Kirana.
“Aku benar-benar tidak melihat atau merasakan apa pun saat di atas,” kata Ezekiel.
“Bahkan Xavier yang biasanya peka pun tidak dapat meraskan kehadiran Bestial ini,” imbuh Kirana. “Apakah kita sedang berhadapan dengan Bestial yang ahli bersembunyi?”
Bestial yang ahli bersembunyi. Ada banyak Bestial yang memiliki kemampuan kamuflase atau memanipulasi bentuk alam agar mereka bisa bersembunyi di sana, sulit untuk menebak Bestial jenis apa yang sedang berada di hutan itu.
Tiba-tiba, beberapa anak panah memelesat dari dalam hutan, Ezekiel yang menyadari datangnya serangan tersebut langsung mengalirkan lisrik di sayap-sayapnya. Ia berhasil menahan anak-anak panah tersebut.
“Aku tidak bisa menyerang kalau mereka bersembunyi di dalam hutan,” ucap Ezekiel. Ia berpikir, mungkin lebih aman kalau membawa Kirana terbang ke atas.
“Aku akan membawamu!” kata Bestial elang harpy tersebut. Ia langsung menggendong Kirana dan terbang ke langit. Mereka menjauh dari lokasi tersebut dan berputar-putar di udara.
Langit perlahan berubah menjadi mendung, terdengar guntur menyahut-nyahut beriringan dengan kilatan petir. Rintik-rintik air mulai turun membasahi bumi. Ezekiel kesulitan terbang di situasi tersebut. Mau tidak mau, ia harus menurunkan ketinggiannya agar tidak terkena sambaran petir.
“Maaf Kirana, kau jadi kehujanan!” kata Ezekiel.
“Tidak apa-apa!” balas Kirana, setengah berteriak karena suara mereka teredam oleh guruh angin.
Kondisi cuaca yang tiba-tiba berubah ini juga tidak wajar. Ezekiel yakin ini perbuatan Bestial. Namun, ia tidak bisa memikirkan Bestial macam apa yang menyerang mereka.
Mereka terbang cukup rendah. Ezekiel sibuk menghindari pucuk pohon-pohon agar tubuhnya tidak tersangkut oleh dahan. Ia sampai tidak menyadari dari kejauhan ada sepasang mata runcing yang mengawasi.
Ujung anak panah membidik Ezekiel, jaraknya cukup jauh. Ketika tangan pemanah itu melepaskan tembakannya, sebuah panah berwarna hitam memelesat sangat cepat. Ezekiel sedikit terlambat menyadari kedatangan anak panah tersebut, ia mengatupkan kedua sayapnya, berniat membuat sebuah perisai.
Di luar dugaan Ezekiel, anak panah itu mampu menembus pertahanan elemennya. Ezekiel seketika menyadari kalau anak panah itu dibuat dari kekuatan elemen, makanya bisa menembus perisai sayapnya yang dialiri listrik.
Panah hitam itu mengenai sayap Ezekiel, menembusnya dan menancap tepat di dada Kirana. Kirana tersentak kaget, ia melihat batang panah itu menggantung di tubuhnya.
__ADS_1
“Ezekiel..,” ucapnya dengan suara gemetar. Pandangannya menjadi kabur dan ia mulai kesulitan bernapas. Ezekiel yang terkena panah itu juga mengalami hal serupa. Bestial elang itu limbung, kedua otot lengannya menjadi lemas.
Ia tidak sadar kalau tubuh Kirana lepas dari pegangannya. Kirana jatuh ke arus air terjun yang deras, sementara Ezekiel terjatuh ke rimbun pepohonan tidak jauh dari air terjun tersebut.