
Ratusan meter dari Desa Cervid, terdapat wilayah di Forest Region yang berisi pecahan batu-batu besar yang berundak, membentuk wilayah yang tampak seperti gundukan bersela-sela dan cocok dijadikan sebagai markas. Lokasinya dekat dengan salah satu anak sungai juga tertutup oleh rimbun pohon. Konturnya yang cukup ekstrem membuat Bestial-bestial lemah pasti enggan mendekati tempat tersebut.
Berbeda dengan Shan, ia menganggap lokasi tersebut ideal dijadikan markas dan rencananya akan ia jadikan sebagai pusat pemukiman di teritorinya, tentu setelah ia berhasil mendapatkan jumlah bawahan yang cukup. Ia tengah tiduran di atas sebuah batu sambil menyilangkan kakinya, sambil menikmati suara aliran air sungai ia membayangkan beberapa hari lagi akan pesta daging bestial rusa.
Ia sudah berencana akan menjadi wilayah itu sebagai miliknya, sementara bestial rusa anak-anak akan dikurungnya di tempat ini untuk dijadikan santapan. Air liur menetes dari ujung bibirnya, ia sangat menantikan hari-hari tersebut. Tidak lupa, manusia yang ia temukan di Suku Cervid. Ia menjadikan gadis itu pasangannya saat musim kawin. Setelah gadis itu melahirkan keturunannya, ia akan memakan gadis itu.
“Manusia ya,” Shan menarik napas dalam-dalam. “Aromanya enak sekali, pasti dagingnya juga sangat lezat.”
Khyalannya rusak oleh suara cempreng dari Bestial trenggiling yang beberapa jam lalu ia utus pergi menemui suku Cervid. Kalau firasatnya mengatakan itu bukan sesuatu yang penting, ia pasti sudah memotong-motong bestial lemah satu itu karena mengganggu fantasi kecilnya.
“Shan!” Bestil trenggiling itu tiba di depan tumpukan batu berlumut yang menjulang tinggi. Ia tersengal-sengal, sementara di belakangnya, Bestial tapir baru sampai, sama capainya. Mereka berlari tanpa henti sejak tadi.
“Ada apa?” tanya Shan. “Aku harap kalian tidak menganggu waktu santaiku untuk sesuatu yang menyebalkan.”
Keduanya tercekat, entah bagaimana nasib mereka saat menyampaikan berita dari Suku Cervid, tetapi kalau berbohong pun percuma.
“Tunggu, bukankah aku mengutus tiga orang?” Shan baru menyadarinya. Hidungnya juga mencium aroma amis dari tubuh kedua Bestial itu. “Apa yang kalian sembunyikan?”
Bestial trenggiling mengeluarkan kepala rekannya yang tadi disembunyikan di balik bungkus daun teratai. Shan langsung menggertakan giginya.
“Ada bestial lain di desa itu, dia yang membunuh Sebastian,” lapor manusia-trenggiling itu, suaranya gemetaran. “Dia juga bilang akan membuatmu bernasib sama seperti— .”
Kalimat bestial itu terputus karena Shan merobek tenggorokannya dengan cepat, bahkan rekannya tidak melihat Shan turun dari batu dan melancarkan serangan.
“Hii!” Bestial tapir itu mengembik ketakutan, tubuhnya lemas dan ia jatuh terduduk sementara jasad temannya roboh di dekat kakinya. Kepala bestial gagak yang sudah dikerubuni lalat itu menggelinding entah kemana.
Shan berdiri di depannya dengan darah menetes dari ujung cakarnya. Ia tampak dipenuhi amarah.
“Beraninya ular itu menghinaku,” gumamnya pelan.
__ADS_1
Ia melihat ke sekitar pohon-pohon tinggi di sekelilingnya, mendeteksi keberadaan pelayan setianya. “Awol!” seru pria itu lantang. Suaranya terdengar mencekam dan mendominasi seperti auman harimau di tengah hutan yang memperingati mahluk lain agar tidak berurusan dengannya.
Bestial berwarna Awol itu terbang dari salah satu dahan dan mendarat di hadapan Shan, rambutnya kelabu, terlihat seperti pria berusia tiga puluhan dengan mata bulat besar dan kantong tidur hitam. Wajahnya pun terlihat mengantuk. Ia memang selalu mengantuk. Begitulah kelakuan Bestial burung hantu pada umumnya.
“Kumpulkan semua bawahan, kita akan menyerang para rusa itu besok saat matahari terbenam.”
“Menyerang? Bagaimana kabar dari para utusan?”
Shan tidak menjawab, ia hanya mengedikkan kepalanya ke bawah. Awol mengikuti arah tersebut dan melihat kepala Sebastian. Ia langsung mengatupkan tangan ke mulutnya.
“Ini perbuatan Xavier,” kata Shan. “Ia adalah halangan terbesar.”
“Setahuku, bestial ular itu selalu bergerak sendiri dan tidak peduli dengan mahluk apa pun, tetapi kenapa ia mau repot-repot melindungi Suku Cervid?”
Shan terdiam sesaat, mencoba menghubungkan semua informasi yang telah ia kumpulkan. Kepalanya dengan cepat mengolah informasi tersebut dan mendapatkan kesimpulan.
“Manusia itu,” jawab Shan. “Xavier pasti punya semacam hubungan dengan manusia itu, dan manusia itu sendiri lama tinggal di Suku Cervid, ia pasti memiliki semacam simpati untuk melindungi para rusa itu.”
“Begitulah manusia,” ucap Shan, seakan ia pernah bertemu dengan manusia lain sebelumnya. “Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu.”
“Aku mengerti,” Awol menunduk sedikit lalu mengembangkan sayapnya. Ia pun terbang dan pergi memberitahukan perintah Shan kepada bawahannya yang lain.
...***...
Matahari sudah lama tenggelam. Api unggun besar di tengah desa menari-nari mengikuti tiupan angin. Seluruh penduduk tampak mulai berkumpul di sekitar api unggun, bersiap untuk makan malam bersama. Wagyo duduk bersebalahan dengan Gigi, beberapa anak-anak rusa berlarian di sekitar mereka. Semua tampak asik mengobrol dan sesekali terlihat tertawa riang.
Pemandangan yang damai dan menghangatkan hati. Xavier bersandar di dinding kayu, memandangi para Bestial rusa itu dengan keprihatinan. Ia memikirkan Shan, Bestial tahap keempat yang sama sepertinya. Manusia-harimau itu sangat kuat. Bahkan jika seluruh penduduk desa dibantu dengan suku-suku lain pun belum tentu bisa menumbangkannya.
Xavier tidak menyangka dirinya akan bertemu lagi dengan salah satu Bestial tahap empat. Padahal, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindari mereka dan tidak mencari masalah apa pun. Xavier hanya ingin bertahan hidup sebagai puncak rantai makanan, tidak lebih. Ambisi menjadi Bestial Legendaris bukanlah salah satu tujuannya.
__ADS_1
Bestial Legendaris, sebutan bagi Bestial yang berhasil mencapai evolusi tahap keenam. Mereka adalah wujud yang benar-benar sudah berubah menjadi manusia. Figur yang dianggap ‘keramat’ oleh para manusia-setengah hewan di Kerajaan Animal.
Hanya boleh ada satu Bestial Legendaris yang berkuasa, itu sebabnya, perjalanan untuk mencapai puncak akan selalu dipenuhi oleh darah. Membunuh temanmu sendiri, mengorbankan keluargamu, memakan sesama kenalan bestial agar bisa cepat berevolusi, seperti Shan.
Pikiran Xavier melayang, kembali ke 100 tahun yang lalu di Istana Zoophara. Istana Zoophara adalah kediaman Bestial Legendaris sekaligus tempat pertemuan dan diadakannya acara-acara penting para Bestial.
Istana Zoophara terletak di tempat yang istimewa. Bangunan megah tersebut berdiri di tengah seluruh region, menjadikannya sebagai titik pusat semua ekosistem. Xavier saat itu diundang oleh Sang Bestial Legendaris, bersama dengan Bestial tahap kelima dan tahap keempat lainnya.
Di aula besar dengan deretan pilar dan lampu-lampu chandelier, tiga Bestial tahap keempat dan dua Bestial tahap kelima duduk di meja panjang besar beralaskan taplak merah. Berbagai hidangan disajikan di meja tersebut. Paling ujung, Bestial Legendaris yang mengenakan jubah merah tua dan tudung kepala mempersilakan para tamunya menikmati jamuan tersebut.
“Makanlah, ini hidangan yang tidak akan bisa kalian rasakan setiap hari,” ucap sang Bestial Legendaris.
Suaranya yang berat dan berwibawa melewati rongga telinga Xavier. Tidak menakutkan, tapi ada kekuatan aneh yang seperti menyihirnya untuk tunduk dan tidak berbuat macam-macam.
Para manusia setengah hewan yang hadir mengenakan jubah putih dan tudung kepala, tidak ada yang diperbolehkan membuka tudung itu tanpa diperintah oleh sang Bestial Legendaris. Mereka menikmati makan malam dengan tenang, kecuali Shan. Pria itu tidak ada rasa takutnya sama sekali, ia mengunyah dua potong paha kalkun panggang sambil buru-buru menegak anggur ke dalam mulutnya.
“Shan.” Tiba-tiba Bestial Legendaris menyebut namanya.
“Ada apa?” tanya Shan, tak acuh. “Aku tidak akan diam seperti orang-orang membosankan disini, kau sudah menyajikan makanan yang enak, tidak akan kusia-siakan.”
Bestial Legendaris itu tersenyum, Xavier bisa melihat garis bibirnya melengkung dibawah bayangan tudung jubahnya.
“Kalau begitu, kau harus menjadi Bestial Legendaris, agar bisa menikmati semua makanan itu setiap hari.”
“Hahaha! Kau benar!” balas Shan sambil menepuk lutut kirinya. Lalu ia menunjuk Bestial Legendaris dengan ujung tulang kalkun di tangannya.
“Suatu hari akan kurebut posisimu itu, Pak Tua!” Shan menantang. Jelas, selain Bestial Legendaris yang hanya menanggapi dengan senyum kecil penuh arti, tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan berkata seperti itu. Terlalu terburu-buru, terlalu arogan. Begitulah yang Xavier pikirkan.
Saat akan berpisah dengan Shan dan Bestial tahap ketiga satunya, Xavier masih berpikir kalau manusia-harimau itu hanya omong besar. Ia akan berakhir seperti Bestial arogan lainnya yang mati di tengah perjalanan menuju puncak evolusi, tapi sepertinya, dugaannya meleset.
__ADS_1
Hari ini, Xavier melihat sendiri Shan mulai menepati omongannya. Ia akan membangun teritori sendiri, memakan lebih banyak Bestial, apa pun akan dilakukannya untuk mencapai evolusi tahap keenam.
“Tidak ada ambisi yang lebih kuat dari seorang Bestial, selain berdiri sebagai puncak evolusi,” Xavier bergumam. Mengulangi ucapan yang pernah didengarnya dari Sang Bestial Legendaris.