
Hutan Verdantale adalah salah satu kawasan berbahaya di Forest Region. Pohon-pohonnya tumbuh tebih tinggi dengan daun-daun lebat, cuacanya tidak menentu, dan beberapa areanya memiliki tumbuhan yang beracun. Banyak misteri terpendam di hutan yang memiliki air terjun tertinggi dan kolam terluas tersebut.
Salah satunya adalah keberadaan Suku Caviidae. Banyak Bestial yang berusaha menemukan peradaban suku tersebut, tapi mereka justru hilang atau tersesat di dalam kabut misterius.
Suku ini sebenarnya terletak di bawah air terjun terbesar Forest Region, mereka biasa menyebut air terjun tersebut dengan nama Alvoria.
Hari itu, seperti biasanya para wanita dari Suku Caviidae bersama anak-anak mereka pergi ke kolam untuk mencuci pakaian. Sementara anak-anak mereka akan bermain dan berenang di kolam besar tersebut.
Wanita-wanita dari suku Caviidae mencuci sambil mengobrol di atas batu-batu sungai yang besar. Terdengar suara celoteh dan tawa anak-anak mereka yang berambut coklat. Di belakang, air terjun yang deras menyebarkan kabut dingin yang disukai oleh para penduduk. Orang-orang dewasa pun suka berendam di kolam selama berjam-jam. Tempat yang cocok untuk relaksasi.
“Ibu! Ibu!”
Tiba-tiba aktifitas para wanita Bestial itu terhenti. Seorang anak laki-laki datang dengan ekspresi panik. Ia menunjuk ke arah air terjun.
“Ada Bestial tenggelam!”
Para wanita itu langsung meninggalkan pekerjaan mereka. Seorang Bestial yang paling ahli berenang langsung melompat ke kolam tersebut, ia menemukan tubuh yang anak tadi maksud.
Tidak lama, Bestial itu sudah kembali ke permukaan membawa tubuh seorang gadis. Ia membaringkan tubuh si gadis di atas batu sungai. Tangannya menelusuri tubuh gadis itu, terasa dingin dan tidak ada denyut nadi.
“Dia sudah mati,” ucap wanita itu, sedih.
“Oh, tidak,” timpal ibu-ibu lain dengan ekspresi duka.
“Kita bawa dulu ke kota, mungkin orang itu bisa membantu.” Para wanita itu sepakat. Mereka lalu membawa tubuh si gadis memasuki wilayah yang dianggap oleh penduduk Hutan Verdantale keramat, Whispering Grove.
***
Kirana membuka matanya perlahan. Pandangannya yang samar-samar menjadi jelas, berikut disusul oleh aroma wewangian yang menyerbak di ruangan tersebut. Gadis itu bangkit sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Ini dimana?”
Tangannya meraba permukaan yang lembut, mengingatkannya pada permukaan kasur. Ia melihat di kirinya terdapat gorden terbuat dari kain-kain bermotif, sebelah kanannya terdapat meja dengan berbagai botol-botol dari tanah liat dan ada sebuah gelas berisi air juga.
Kirana tidak menyadari ada orang lain selainnya di tempat tersebut. Ia mendengar suara pria yang berdehem. Lantas kepalanya menoleh ke sosok jakung yang mengenakan topi bundar dan pakaian yang seluruhnya berwarna keemasan.
Wajah pria itu tidak terlihat karena matanya ditutup oleh kain, begitu pun seluruh kulit dikepalanya tampak seperti diperban. Ia mengenakan jubah panjang sampai ke lutut. Kedua tangannya juga diperban dan ia mengenakan sepatu panjang sampai lutut.
__ADS_1
“Akhirnya sadar juga,” ucap pria itu. Suaranya sangat lembut dan menenangkan.
“Anda siapa?”
“Panggil saja Oberon,” kata pria itu memperkenalkan dirinya.
“Namaku Kirana,” balas Kirana.
“Kirana ya,” Oberon manggut-manggut. “Kamu pasti bingung. Sekarang dirimu berada di Whispering Grove.”
Mulut Kirana menggumamkan nama tempat tersebut, tiba-tiba ia teringat dengan Ezekiel. Mereka terkena panah bersama sebelum akhirnya Kirana tidak sadarkan diri.
“Temanku? Kamu melihat temanku? Dia Bestial elang.”
“Oh–dia,” pria itu tampaknya tahu siapa yang Kirana maksud. “Dia masih pingsan, tapi kondisinya sudah lebih baik. Dia ada di bangsal sebelahmu.”
Kirana membuka gorden di sampingnya dan benar, Ezekiel ada di sana. Ia berada di atas tempat tidur, masih tidak sadarkan diri.
“Berapa lama kami pingsan?” tanya Kirana lagi. “Kenapa kamu menolong kami?”
“Berkat obat yang kubuat kalian pingsan tidak terlalu lama, hanya satu malam.” Oberon menghela napas. “Tapi membuat penawar racun di tubuh kalian cukup sulit, umumnya aku akan meminta bayaran yang cukup mahal. Namun, karena kau tampaknya akrab dengan Xavier, akan kugratiskan.”
“Tentu saja,” Oberon berjalan mendekati Kirana. “Kami sama-sama Bestial Tahap Keempat.”
Kirana terdiam. Ia menebak kalau Oberon belum tahu Xavier sudah berevolusi. Namun, ia lega karena sepertinya Oberon bukanlah Bestial Tahap Keempat yang agresif seperti Shan.
“Darimana kamu tahu kalau aku mengenal Xavier?”
“Aku mencium aromanya disekujur tubuhmu.”
Wajah Kirana sontak memerah. “Ma, maksudnya? Aku bau ular?”
Oberon tertawa kecil. “Biasanya aroma apa pun akan menghilang saat terkena air, tapi tidak bagi aroma Bestial yang sudah mengikat dirinya pada pasangannya. Kau pasangan Xavier?”
“Belum, eh bukan!” Kirana refleks beringsut mundur ke tepi kasurnya. “Dia bukan pasanganku, kami hanya teman seperjalanan.”
“Oh, begitukah?”
__ADS_1
Kirana dapat menangkap nada suara yang tidak yakin dari Oberon. Namun, Bestial di hadapannya itu beralih pada pembicaraan lain.
“Nona,” sebutnya sambil mengangkat botol kaca di tangan, terlihat seperti tabung reaksi. “Racun ini berasal dari suku Serpent.”
“Suku yang sama seperti Xavier?”
“Ya, kalian diserang oleh Suku Serpent. Beruntungnya, kalian terjatuh di wilayah Whispering Grove.”
“Kenapa suku Xavier menyerang kami?” tanya Kirana, ingin tahu.
“Bicara soal suku para ular, itu sedikit kompleks,” Oberon berbalik dan menatap ke arah jendela. “Aku akan menceritakan padamu apa yang kutahu soal Suku Serpent, tapi, cuaca di luar sedang bagus, bagaimana kalau sambil jalan-jalan?”
Kirana mengerutkan dahinya, tidak mengerti. “Kau mengajakku keluar?”
“Benar, Whispering Grove adalah kota yang indah, sekalian biar kuantar kau menemui orang-orang yang sudah menyelamatkanmu.”
Kirana menimbang. Ia khawatir dengan Ezekiel, tapi di sisi lain ia juga penasaran dengan kota yang dibicarakan oleh Oberon.
“Jangan khawatir, Nona,” ucap Oberon, seakan bisa membaca isi pikiran Kirana. “Kita akan tinggalkan pesan kepada teman elangmu.”
“Baiklah, itu bisa membuatku sedikit lebih tenang,” Kirana setuju.
Oberon mencipatakan sebuah gelembung dari tangannya, lalu gelembung itu ia letakkan di samping Ezekiel.
“Gelembung itu akan menunjukkan kemana kau pergi, jadi ia bisa segera menemukanmu.”
Kirana turun dari tempat tidur dan berjalan mengikuti Oberon menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum pria itu membuka pintu, ia bertanya.
“Kirana, kau manusia, bukan?”
Kirana menghentikan langkahnya. Ia mundur ke belakang karena takut. Bestial yang tahu kalau dirinya adalah manusia biasanya akan berujung pada hal buruk.
“Jangan takut, aku hanya memastikan saja,” ucap Oberon yang menangkap perubahan di raut wajah Kirana. “Aku akan menganggapmu sebagai penduduk dari Suku Pongo, untuk jaga-jaga.”
Oberon lalu membuka pintu dan berjalan keluar. Kirana terdiam cukup lama di tempatnya. Lagi-lagi, ia bimbang apakah harus percaya dengan pria tersebut atau tidak. Namun, kalau pria itu berniat buruk ia pasti tidak akan menyelamatkannya, termasuk Ezekiel.
“Kirana?”
__ADS_1
Gadis itu mendengar Oberon memanggilnya dari luar. Kirana menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran negatif. Untuk saat ini ia akan melihat situasi di luar dulu.