
Seekor burung elang harpy dengan bulu kepala putih dan bagian tubuh berwarna hitam masuk ke lubang pohon yang sebelumnya adalah tempat persembunyian Xavier. Setelah mendarat, burung itu bertransformasi kembali menjadi manusia dengan sayap hitam di punggung dan sepasang kaki yang menyerupai cakar burung.
Ezekiel mengedarkan pandangannya ke sekeliling lubang. Ia juga mencium aroma tubuh Kirana sangat kuat dari dalam tempat tersebut. Tetapi, sepertinya ia sudah terlambat. Dilihat dari kondisinya yang lengang, ia menduga Xavier sudah membawa gadis itu pergi.
“Cih, cepat sekali ular itu kabur,” decihnya kesal. Ia menendang bungkus kulit di dekat pintu, tumpukan daging yang sudah berlendir jatuh dan mengeluarkan aroma busuk. “Dia berniat memberi gadis itu makan, sepertinya memang benar kalau ular itu juga mengincar Kirana untuk dijadikannya pasangan kawin.”
Ezekiel mengetuk-ngetuk ujung jari kakinya yang tajam ke permukaan. Ia tampak berpikir, mencari kemungkinan tempat yang akan dituju Xavier untuk persiapan musim kawin. Saat akan berbalik ke luar, mata Ezekiel menangkap sebuah benda di dekat dinding lubang tersebut. Ia mengangkat benda berwarna hitam dengan tali panjang.
“Apa ini?” Ia membuka penutup benda tersebut, lalu menjatuhkan barang-barang di dalamnya. Aroma tubuh Kirana berbekas di setiap benda tersebut, ia yakin itu adalah barang-barang milik Kirana. Ezekiel bahkan menemukan pisau pemberiannya di dalam sana.
“Sepertinya mereka kabur buru-buru sampai Kirana menjatuhkan barangnya,” duga Ezekiel. Ia memasukkan barang-barang itu kembali, sebersit senyum muncul di wajahnya. Jika ular itu kabur darinya ada kemungkinan ia menghindari pertarungan. Mungkin, ular itu tidak sekuat yang aku bayangkan atau dia sadar aku jauh lebih kuat darinya makanya ia kabur sangat cepat.
“Kita pasti akan bertemu lagi,” Ezekiel mengalungkan tas Kirana, setelah mencoba menangkap bau yang di bawa oleh angin, manusia-burung itu menentukan arah tujuannya dan terbang meninggalkan lubang pohon.
...***...
Langit sudah berwarna kemerahan, tetapi Xavier dan Kirana masih melanjutkan perjalanan mereka. Kirana yang sejak tadi hanya melihat pohon-pohon mulai menguap, ia bosan.
“Apakah masih jauh? Kau sudah berjalan cukup lama,” kata Kirana sambil meraba-raba pinggangnya, mencari tasnya.
“Aku tidak suka bau udara di sekitar sini, kurasa harus berjalan beberapa kilo lagi,” balas Xavier. Ia merasakan gerakan panik Kirana yang duduk di atas ekor ularnya. “Ada apa?” tanyanya sambil menoleh.
“Tasku tidak ada!” Kirana menepuk kedua pipinya. “Pasti tertinggal di lubang pohon itu! Kenapa aku tidak menyadarinya saat sedang berganti baju tadi?” Gadis itu mengusap wajahnya. “Huhu, padahal itu kenang-kenangan terakhirku dari dunia manusia.”
“Apa perlu kuambilkan?”
“Tidak usah, benda di dalamnya juga tidak bisa dipakai di dunia ini,” kata Kirana sambil tertawa getir. Tidak ada charger untuk handphone, make up juga tidak dibutuhkan di dunia ini.
Samar-samar, Kirana mendengar suara tangisan. Kepalanya menoleh ke sumber suara yang ia yakini memang bukan khayalannya belaka.
“Xavier, kau pasti dengar kan?”
“Apa?”
“Suara tangisan!” Kirana melompat turun dari ekor manusia-ular itu. Ia berjalan ke arah sumber suara.
“Lebih baik abaikan, kita seharusnya tidak ikut campur urusan suku lain,” cegah Xavier.
“Sudah kuduga kau mendengarnya! Jangan bilang kalau kau tahu sejak tadi?” Kirana berbalik sambil tolak pinggang. “Kita harus mengeceknya, siapa tahu ada manusia lain yang dikirim ke sini dan sekarang sedang menangis karena ketakutan.”
“Jika itu manusia, aku sudah memberitahumu sejak tadi,” Xavier terdiam sesaat, ia menjulurkan lidahnya sebentar untuk mencari informasi lebih mendetail. “Tidak, lebih baik kita tidak kesana.”
“Bagaimana kau tahu?” wajah Kirana terlihat keberatan.
__ADS_1
“Ada beberapa anak rusa yang dikurung, lebih baik kita tidak mengganggu mangsa Bestial lain.”
“Tapi tadi kau mengganggu Bestial buaya itu untuk menyelamatkanku.”
“Kau pasanganku, tentu saja aku harus menyelamatkan—..”
“Aku bukan pasanganmu!” potong Kirana. “Jangan harap aku mau jadi pasangan mahluk dingin tidak berperasaan sepertimu yang mengabaikan tangisan mahluk lain.”
Xavier mengerutkan dahinya, ia jelas tampak keberatan. Tetapi, akhirnya Bestial ular itu berkata, “Baiklah, kita kesana. Tapi, aku yang menentukan apakah mereka bisa diselamatkan atau tidak.”
Kirana mengangguk, “Itu jauh lebih baik daripada hanya diam saja.”
“Naiklah, beberapa Bestial memiliki pendengaran yang tajam, langkah kakimu mudah terdengar.” Xavier menyodorkan ekor ularnya dan gadis itu langsung melompat naik.
Mereka berjalan menuju sumber tangisan tersebut. Tidak lama, dari balik pepohonan, sedikit menjorok kebawah, terdapat sebuah sangkar dari kayu. Di dalam, terdapat enam Bestial yang berwujud anak kecil. Diatas kepala mereka ada tanduk, persis seperti dua butir kacang berwarna coklat gelap, sementara kedua kaki dan tangan mereka memiliki dua kuku besar dan dua kuku kecil.
Anak-anak itu menangis sambil berusaha mendorong kurungan tersebut, tetapi tindakan mereka tidak berarti banyak. Kirana tak sampai hati melihat situasi tersebut. Ia ingin menolong anak-anak tersebut.
“Xavier,” tatapnya memohon.
Xavier bersedekap. “Mereka anak-anak dari Suku Cervid.”
“Lalu kenapa? Apakah tidak boleh menolong mereka?”
Sepengetahuannya, Suku Carvid—manusia setengah rusa merah—memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Mereka seharusnya mau mengobati Kirana kalau ia membantu menyelamatkan anak-anak dari suku tersebut. Pertukaran yang cukup adil.
“Baiklah, aku akan menyelamatkan mereka,” ucap Xavier. Kalimat itu membuat mata Kirana berbinar bahagia, senyumnya mengembang lebar.
“Nah begitu dong!”
Xavier menarik satu sisik dari ekor ularnya. Sisik itu berwarna hitam, agak transparan dan ujungnya sangat tajam. Ia memberikan benda tersebut ke Kirana. “Kau yang bebaskan mereka, gunakan sisik itu untuk memotong kurungan kayu mereka.”
“Benda sekecil ini?” Kirana tampak meragukan benda tersebut.
“Kau akan terkejut melihat kemampuan sisik itu,” ucap Xavier, percaya diri. “Aku akan berjaga dan melindungimu.”
“Melindungi dari apa?”
“Lihat saja nanti.” Xavier sudah bisa menebak mahluk apa yang memasang jebakan itu hanya dari bau di sekitar mereka.
Xavier dan Kirana mendatangi kurungan tersebut. Anak-anak kecil itu melihat kehadiran Xavier dan menangis semakin kencang.
“Huwaa! Ular! Bestial ular!” teriak mereka.
__ADS_1
“Mama! Aku tidak mau dimakan ular!”
Kirana menahan tawa, “Mereka takut melihatmu, tuh.”
Xavier malah tersenyum bangga, “Tentu saja, sudah seharusnya mereka takut padaku.”
Kirana menepuk jidatnya. Dasar Bestial, ucapnya dalam hati. Ia menjalankan rencana Xavier, ia goreskan ujung sisik itu pada teralis. Bahan kayu tersebut langsung terpotong dengan mudah. Kirana sampai melotot saking kagetnya.
“Mudah sekali!”
Anak-anak itu melihat Kirana berusaha memotong teralis yang mengurung mereka. Satu per satu dari mereka berhenti menangis, melihat secercah harapan.
“Kakak ini baik, mungkin dia mau membebaskan kita,” bisik salah satu dari mereka. Kirana mendengar ucapan polos anak tersebut. Ia tersenyum lembut pada mereka.
“Tunggu sebentar ya, kami akan mengeluarkan kalian dari sini,” ucapnya.
“Eh, paman ular itu juga?”
“Dia temanku, tenang saja, dia tidak akan memakan kalian.”
Xavier yang berdiri membelakangi mereka tampak mengawasi sekeliling dengan waspada. Lidahnya sesekali keluar untuk merasakan perubahan di lingkungan mereka. Ia merasakan getaran di tanah, beberapa langkah mendekat. Ada aroma khas yang dikenalinya, pria itu menyeringai.
“Kirana, apa pun yang terjadi tetap lakukan pekerjaanmu,” pesan Xavier.
“Baik!” Kirana sudah memotong bagian atas teralis, kini tinggal bagian bawahnya. Pekerjaannya seharusnya tidak lama lagi akan selesai.
“”Mereka datang,” himbau Xavier.
Dari balik pohon-pohon, beberapa pria lompat ke arah mereka. Mahluk berwujud manusia itu memiliki ekor lebat berwarna kelabu dan ada telinga runcing berwarna serupa di kepalanya.
Sambil mengarahkan cakar dan gigitan tajam dari taring mereka langsung menyerang Xavier secara membabi buta.
“Jangan ganggu mangsa suku lain!” seru seseorang dari komplotan itu. Suaranya tidak lagi terdengar setelah Xavier menyobek tenggorokannya dengan kukunya yang tajam.
“Ular sialan!” maki rekannya. Xavier langsung menyabetkan ekornya, beberapa dari mereka terlempar ke udara.
“Jangan remehkan Suku Canis!” Mereka menyerang Xavier secara bersamaan, tetapi Bestial ular itu cukup menebaskan jari-jari panjangnya dan para manusia setengah coyote itu langsung terjerembab di tanah dengan darah bersimbah, tak bergerak lagi.
Tidak butuh waktu lama sampai Xavier menghabisi semua Bestial coyote tersebut. Ia memandang kecil lawan-lawannya yang sudah tak bernyawa.
“Dasar menyedikan,” ucapnya. Ia tahu kalau para coyote umumnya tidak menggunakan perangkap seperti ini. Sepertinya, ada yang menyuruh mereka untuk mengumpulkan anak-anak rusa merah itu.
Ada Bestial yang ingin menjadikan wilayah ini teritori pribadinya, batin Xavier. Dilihat dari pengaruhnya sampai bisa memerintah pemburu Suku Canis, kemungkinan besar, Bestial itu memiliki yang kekuatan setara dengan dirinya.
__ADS_1