
Pasukan Shan yang berada di belakang lubang jebakan memandang benci Hugo dan para Bestial rusa-merah yang berdiri di balik dinding kayu. Mereka mengangkat perisai ketika hujan anak panah dilontarkan oleh para Bestial rusa tersebut.
Beberapa Bestial trenggiling maju ke depan dan menciptakan perisai dengan kemampuan mereka. Ujung-ujung panah itu memantul begitu mengenai dinding tipis setengah transparan berwarna coklat.
“Para trenggiling itu sepertinya sudah mencapai evolusi tahap dua,” komentar Gogo yang berdiri di sebelah Hugo.
“Bukan hanya mereka, lihat para Bestial tapir disana,” ucap Hugo, menunjuk ke beberapa manusia-tapir dengan ciri khas belang hitam di garis matanya.
Mereka berlari ke tepi lubang begitu hujan anak panah mereda. Tangan-tangan mereka ditekan ke permukaan tanah, seketika muncul sulur-sulur panjang dari tanah, merambat dan menjalin menjadi sebuah jembatan.
“Maju!” perintah Bestial-babi hutan bertubuh besar. Pasukan Shan pun bergerak serempak ke depan, melewati jebakan lubang berkat jembatan sulur yang baru dibuat.
Dari atas langit, pasukan Bestial-gagak juga mulai melancarkan serangan, mereka melemparkan lembing-lembing ke arah para pemanah yang ada di atas dipan dinding.
“Tidak akan kubiarkan!” Ezekiel berseru dari atas langit. Ia menciptakan tombak dari petir dan melemparkannya ke arah para gagak itu. Tombak memelesat, percikan listriknya menyetrum para gagak dan sebagian dari mereka terjatuh ke tanah sebelum sempat melemparkan lembing.
“Aku akan berjaga di atas, kalian urus yang dibawah!” seru Ezekiel kepada Hugo dan Gogo.
“Baiklah!” balas Gogo.
Hugo merentangkan kedua tangannya, cahaya berwarna hijau menyebar dari telapak tangannya. Seiring dengan itu tumbuh akar dan batang tumbuhan dari tanah, menyebar ke bagian atas dinding kayu. Terdapat celah-celah kecil di antara jalinan tumbuhan yang membentuk pagar tersebut.
Bestial rusa yang membawa lembing pun memanfaatkan celah itu untuk menghunuskan ujung senjata mereka, menusuk pasukan Shan yang berhasil memanjat ke atas dinding.
“Bagus, kita bisa mempertahankan formasi ini.” Baik Gogo mau pun Bestial rusa merah lainnya sudah merasa bisa beradapasi dengan kondisi tersebut. Di atas langit, Ezekiel bisa melihat kalau pasukan yang Shan kirim terdiri dari Bestial gagak, babi hutan, kadal kebun, coyote, tapir dan trenggiling.
Bestial kadal kebun paling pertama sampai di atas dinding, tapi akhirnya mereka terjatuh lagi karena tusukan lembing dari Bestial rusa merah. Bestial gagak berhasil Ezekiel atasi. Sebagian Bestial babi hutan sudah tewas. Bestial trenggiling berada di sekeliling pasukan Shan yang tersisa, mereka bertugas sebagai pembuat perisai dan berjaga-jaga kalau ada serangan.
Namun, yang membuat Ezekiel tidak tenang adalah sebagian besar Bestial coyote yang tidak ikut menyerang dinding, ternyata hanya diam berdiri di depan pintu gerbang sejak tadi. Padahal disana ada jalinan akar yang dibuat oleh Bestial tapir untuk melewati lubang jebakan. Mereka seperti menunggu sesuatu di sana.
__ADS_1
“Ini terlalu mudah, seharusnya tidak seperti ini,” gumama Wagyo yang mengawasi dari depan pintu gerbang desa yang tertutup rapat. Ia curiga kalau ini hanyalah pemanasan sebelum bencana sesungguhnya tiba.
“Kepala Suku! Itu.. manusia harimau itu ada di sini!” seorang petugas penjaga menara memberi tahu.
“Apa?” Wagyo terkejut. “Bukankah seharusnya Xavier membawanya pergi menjauhi desa?”
Ezekiel yang sedang bertarung dengan para Bestial gagak tiba-tiba merasakan aura mencekam yang sangat dahsyat. Perasaan mengerikan yang mencabik-cabik kulitnya, dingin dan kejam. Aura intimidasi itu mengingatkannya dengan aura Xavier.
“Ini.. aura milik Shan!” Ezekiel melihat ke arah Barat. Dari jarak 100 meter, tampak Bestial berambut pendek kelabu berlari dengan kecepatan fantastis. Bagian atas tubuhnya terbuka dan memperlihatkan tubuhnya yang besar dengan otot-otot bisep menonjol di lengannya. Ia mengenakan celana panjang kulit hitam. Irisnya yang berwarna kuning tampak berkilat-kilat tertimpa cahaya senja.
“Kita akan berpesta daging rusa malam ini!”
Seruan Shan seketika dibalas oleh lolongan para Bestial coyote yang menantinya di depan gerbang.
Shan melakukan lompatan tinggi di udara. Tubuhnya melayang dan berputar, lalu kaki kirinya jatuh menghunus ke arah gerbang.
“Menjauh dari gerbang!”
Hantaman terdengar di seluruh desa, orang-orang yang tengah bersembunyi di dalam selubung tanah sampai dibuat terkejut, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar. Harap cemas menghiasi wajah para orang tua, anak-anak pun mulai menangis ketakutan dan memeluk kakak serta ibu mereka.
Di bagian depan desa, tendangan dari Shan berhasil menghancurkan gerbang dalam satu serangan. Hantaman yang kuat menyebabkan tanah retak dan berlubang. Serangan itu juga menyebabkan empasan udara panas ke sekeliling area. Bekas pijakan Bestial harimau putih itu meninggalkan aliran api di tanah yang membara.
Para Bestial rusa yang ada di sekitar gerbang terlempar ke berbagai arah. Mereka bangkit kembali dibantu oleh rekan-rekan yang lain. Asap putih yang mengitari Shan seketika menghilang saat manusia harimau itu mengaum.
Suaranya menggelegar dan menakutkan. Para Bestial rusa yang mendengarnya seketika terduduk lemah seakan takluk oleh raungan tersebut.
Gerbang yang terbuka lebar tanpa pengawasan menjadi kesempatan bagi para Bestial coyote yang sejak tadi menunggu kedatangan Shan. Mereka bersorak seraya berlari menyeruak masuk ke dalam desa.
“Bunuh para rusa itu!” seru Bestial coyote yang menjadi pempinan di sana.
__ADS_1
Bestial coyote sebagian besar berada di tahap evolusi pertama, rambut mereka berwarna abu-abu dengan telinga anjing mencuat dari sela-sela rambut. Kaki mereka masih menyerupai tungkai anjing dan masih terdapat ekor lebat kelabu menggantung di tubuh mereka.
Kapak-kapak dan tombak ditebas ke arah Bestial rusa yang terluka dan belum sempat berdiri. Tanpa perlawanan, para manusia-rusa itu tumbang bersimbah darah.
“Bawa yang terluka ke aula!” perintah Wagyo yang masih bersusah payah berdiri. Ia juga terluka akibat empasan angin panas.
Tiba-tiba di depannya maju satu Bestial coyote yang megangkat kapak, tapi, berkat pengalamannya, Wagyo dengan sigap menciptakan jalinan akar yang menjerat kaki Bestial coyote itu sampai tubuhnya terjatuh ke tanah.
Bagian dalam desa seketika berubah menjadi arena pembantaian. Hugo yang menyadari kalau pertahanan desa sudah dijebol langsung turun dan ikut membantu mengalahkan para Bestial coyote yang berhasil menyusup ke dalam. Namun, perginya Hugo ternyata melemahkan pondasi pertahanan di bagian dinding desa lainnya.
Satu per satu Bestial kadal kebun berhasil melompati dinding, mereka menggunakan gigitan yang tajam, menyobek leher para pemanah dan pemegang lembing dari Suku Cervid.
Formasi pertahanan itu seketika menjadi kacau balau. Korban terus berjatuhan, hanya sedikit yang berhasil menyelamatkan diri ke aula. Beberapa manusia-rusa yang bertugas mengantar jemput orang terluka malah turut jadi korban pembantaian Shan. Manusia-harimau itu berdiri di tengah desa, mengayunkan cakar-cakarnya di udara kosong, tapi menghasilkan gelombang tebasan besar yang mengoyak tanah dan rumah-rumah penduduk.
Beberapa Bestial rusa yang kurang beruntung terkena tebasan itu dan terpotong-potong seketika. Pemandangan mengerikan, darah menggenang dimana-mana bersama dengan bau anyir yang membangkitkan rasa lapar para karnivora itu.
Wagyo melihat Shan berjalan ke arah deretan rumah-rumah penduduk yang kosong. Manusia-harimau itu sudah mengangkat cakarnya, siap untuk menebas. Kepala Suku langsung berlari untuk menghalanginya, ia menciptakan beberapa pohon besar di depannya, berharap itu bisa menahan serangan Shan agar gelombang cakarnya tidak sampai ke tempat persembunyian penduduk desa.
Tebasan cakar disertai angin kencang menghempas pohon-pohon yang dibuat oleh Wagyo. Batang-batang besar itu terbelah dan hancur dengan mudah. Namun, serangan itu terpental balik saat menghantam dinding hitam transparan yang tiba-tiba muncul mengelilingi Wagyo.
“Selubung apa ini?” Wagyo keheranan melihat dirinya mendapatkan perlindungan.
Shan berdecih, ia merasakan hawa kehadiran Xavier. Terdengar teriakan dari para Bestial coyote dan kadal kebun. Satu per satu Bestial itu terjatuh ke tanah dengan kepala putus, dibunuh oleh Xavier yang baru tiba di desa.
Langkah kaki tanpa suara membelah asap yang menyelimuti sekeliling Shan. Xavier menepis tangannya dan seketika kepulan debu tersebut menghilang. Mata kuningnya yang tajam memandang Shan penuh kemarahan.
Sebaliknya Shan membalas Xavier dengan senyum mengejek. Bestial harimau itu terkekeh pelan sambil maju beberapa langkah ke depan untuk menyapa kenalan lamanya.
“Lama tidak berjumpa, Xavier.”
__ADS_1