A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 15: Pertolongan yang Tak Diduga


__ADS_3

Selepas kepergian Shan, Hugo langsung berteriak melampiaskan semua emosinya. Kemarahan bercampur dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya seakan menyiksa seluruh inderanya.


Belum pernah pria itu merasakan kekalahan memalukan seperti tadi. Sungguh, ia kira dirinya sudah cukup kuat, tetapi nyatanya di hadapan Bestial setingkat Shan, kemampuannya menjadi seperti kutu.


Aku harus memperingatkan seluruh suku, batin Hugo. Tetapi dirinya sendiri kesulitan untuk bangkit. Luka di tubuhnya sangat parah, entah butuh berapa hari untuk menyembuhkan lukanya. Hugo memiliki kemampuan self healing yang akan aktif saat dirinya mendapat luka, tetapi proses penyembuhannya lambat kalau ia tidak mendapat cukup energi alam.


Entah aku akan berhasil sembuh atau justru akan ada Bestial predator yang menemukanku duluan dan membunuhku. Hugo tersenyum miris. Ia tahu dirinya sedang bertarung dengan segala kemungkinan. Tidak ada yang bisa menjamin jawabannya, bahkan ia sendiri tidak yakin bisa kembali sebelum Shan menyerang desanya.


Malam pun tiba. Api yang ada di sekeliling Hugo untungnya sudah padam. Tetapi, tubuh pria itu masih terkapar di pinggir sungai dengan luka bakar yang basah dan mulai mengeluarkan aroma tidak sedap. Bagian wajah, leher dan dadanya sudah berhasil melewati proses penyembuhan sehingga kulitnya kembali utuh seperti semula, tetapi, sisa badannya yang lain belum.


Hugo berniat memejamkan matanya untuk istirahat, tetapi matanya menangkap siluet dari kejauhan yang berjalan mendekat. Hugo langsung tertawa kecil saat melihat sosok itu dengan jelas di bawah cahaya bulan. Ah, sialnya diriku. Kenapa aku harus bertemu dengan dua Bestial Langka dalam waktu berdekatan?


Xavier menghentikan langkahnya tepat di depan wajah Hugo. Dari kejauhan ia memang sudah mencium aroma darah dan daging yang gosong. Ia hanya tidak menyangka kalau itu berasal dari Bestial rusa merah, yang ia duga, adalah Hugo dari Suku Cervid.


“Kau Hugo dari suku Cervid?” tanyanya dengan suara dingin.


Hugo sedikit merasa aneh karena tidak merasakan hawa penuh tekanan atau aura membunuh dari Xavier. Ia sedikit menggerakan kepalanya agar bisa memandang wajah manusia ular itu. “Benar. Kenapa? Apa kau juga ingin menguasai wilayah suku Cervid dan menantangku untuk bertarung?”


Mendengar kalimat Hugo, Xavier semakin yakin dengan dugaannya selama ini. “Jadi benar ada Bestial yang ingin memperluas teritorinya disini?”


Hugo terkejut dengan ucapan Xavier, ia langsung menjawab. “Benar.”


“Siapa Bestial itu? Aku tebak kau habis bertarung dengannya, tidak mungkin Bestial tahap ketiga sepertimu dikalahkan oleh mahluk lemah.”


Hugo tersenyum miris. “Dia adalah Shan.”


Xavier tidak terlalu terkejut, Bestial ular itu hanya terdiam beberapa saat seperti sedang menggali ingatan masa lalunya. “Tentu saja, tidak mengherankan kalau itu Shan.” Xavier mengenal Shan sejak lama, mereka tidak akrab dan tidak akan pernah. Tidak ada satu pun Bestial tahap keempat yang mau akrab satu sama lain.


Bestial rusa itu batuk disertai darah, Xavier pun mengalihkan prioritasnya dari mencari Shan menjadi menyelamatkan Hugo terlebih dulu. Ia tahu Hugo bisa menyembuhkan Ezekiel, dan kalau Bestial elang itu sembuh, Kirana mungkin mau memaafkannya.


“Aku akan urus Shan nanti,” ucapnya. Ia menarik lepas kulit ularnya dan membentangkan di tanah. “Aku akan membawamu kembali ke desa.”


Seakan kejadian yang menimpanya hari ini belum cukup mengejutkan, Hugo makin terkaget-kaget mendengar perkataan Xavier. “Aku tidak salah dengar? Kau mau apakan aku?”

__ADS_1


“Membawamu kembali ke desa.”


“Apa aku benar-benar masih hidup? Tidak mungkin ada Bestial ular yang mau menolong mahluk lain,” perkataan Hugo ada benarnya.


Tapi pada kenyataannya, saat ini ia melihat sendiri Xavier tengah mengangkatnya ke atas alas dari kulit. Lalu ia bungkus tubuh Hugo dengan kulit itu agar tidak terkena gesekan saat Xavier membawanya nanti.


“Ini tidak gratis,” kata Xavier. “Aku ingin kau menyembuhkan seseorang yang sedang dirawat di desa.”


Kepala Hugo terasa berputar. Ia baru pergi beberapa hari dan sudah banyak hal aneh terjadi di sekitarnya. Ia hanya berharap tidak menemukan hal-hal ganjil lainnya saat tiba di desa.


...***...


Kirana menyampirkan gorden rumah, ia keluar dengan mata menyipit karena silau oleh matahari yang sudah tinggi. Ia jadi tidak enak dengan Gigi dan yang lainnya karena bangun kesiangan. Semalam ia terjaga sampai larut, ia sedikit takut dengan harimau putih misterius itu dan khawatir kalau ada serangan tiba-tiba.


“Kirana!” suara Gigi memanggilnya dari kejauhan. Gigi datang menghampirinya bersama dengan Wagyo. “Kabar baik, Hugo sudah kembali ke desa.”


Kedua mata Kirana membulat, bahagia. “Sungguh? Ah syukurlah!”


“Tetapi, pengobatan Ezekiel harus ditunda untuk sementara,” sela Wagyo, seketika mengubah raut wajah Kirana menjadi kecewa. Sebelum gadis itu bertanya kenapa, Wagyo melanjutkan. “Hugo kembali dengan keadaan terluka jadi ia harus menyembuhkan dirinya sendiri dulu.”


“Iya, Hugo bilang ada yang menyerangnya saat perjalanan kembali ke desa, untunglah, Xavier menemukannya dan membawanya ke desa dini hari tadi.”


“Xavier?” Kirana kaget, tapi lebih ke tidak percaya Bestial itu tiba-tiba mau menolong mahluk lain. “Kau yakin bukan Xavier yang menyerangnya?” tanya Kirana, takut bercampur cemas. Ia sedikit menunduk saat menanyakan hal tersebut.


“Hugo yang bilang kalau Xavier menyelamatkannya, dia tidak mungkin berbohong,” Wagyo mengonfirmasi.


Gigi seakan bisa membaca keraguan Kirana, wanita itu mengurut pelan punggungnya sembari berkata, “Kirana, percayalah pada Xavier. Aku yakin ia tidak seburuk seperti yang kamu pikirkan.”


“Kurasa, kau benar,” Kirana sepakat dengan Gigi. Mungkin karena dipengaruhi rasa takut, Kirana jadi sulit mempercayai Xavier. Ia akan mencoba memberi kesempatan untuk manusia ular itu lagi.


“Dimana Xavier?” tanyanya.


“Dia sedang menemani Hugo di hutan,” jawab Wagyo.

__ADS_1


Akhirnya, Kepala Suku mengantar Kirana ke tempat Xavier dan Hugo berada. Mereka sampai di sebuah area hutan yang banyak mendapat siraman cahaya matahari.


“Hugo dan Xavier ada di sana,” Wagyo menunjuk ke lokasi yang dimaksud. “Aku akan kembali ke desa duluan.”


“Terima kasih.” Sepeninggal Wagyo, Kirana mencoba mendekat ke area hutan yang dikelilingi pohon dengan tajuk-tajuk kecil tersebut. Cahaya matahari merembes dan menerangi rumput di bawahnya.


Tampak Hugo sedang duduk di atas batu. Akar-akar panjang terjalin di sekitarnya dan terhubung kepada Hugo. Tubuh besar dan kekar pria itu diselubungi aura berwarna hijau. Angin yang segar dan lembut berputar di sekitar mereka, efek dari energi alam yang sedang berpusat pada diri Hugo.


Tubuh Hugo sudah hampir sembuh total. Setelah tadi pagi Xavier membawanya kembali ke desa, ia langsung menemui Wagyo dan beberapa pengurus desa. Ia belum sempat menceritakan soal Shan karena Kepala Suku memaksanya untuk menyembuhkan diri terlebih dulu.


Hugo dapat meningkatkan kemampuan penyembuhannya dengan bersinergi pada alam. Itu sebabnya, luka bakar di sekujur tubuhnya saat ini sudah menghilang, kulitnya tumbuh kembali, tidak ada bekas luka sama sekali di sana.


“Xavier,” panggil Kirana lembut pada manusia ular itu. Xavier tengah bersandar di salah satu pohon, beberapa meter dari Hugo.


Bestial ular itu menoleh dengan antusias saat mendengar suara Kirana. Seketika jantungnya berdegup kencang saat melihat Kirana mau tersenyum lagi padanya. Perasaan aneh menyebar di dadanya dengan cepat saat itu dan memberinya dorongan yang sangat kuat.


Xavier tiba di depan gadis itu sebelum ia sempat berkata sepatah kata pun. Pria itu langsung menarik tubuh Kirana ke dalam pelukan yang erat. Ia dapat merasakan hembusan nafas Kirana di dadanya, gadis itu pun dapat mendengar detak jantung Xavier yang cepat.


“Aa..aku..,” seluruh kalimat di kepala Kirana hilang seketika. Ia terkejut dengan tindakan Xavier. Pikiran dan hatinya tidak siap.


“Maaf,” ucap Xavier tiba-tiba. Pria itu pun tidak menyangka bisa mengeluarkan permintaan maaf dari mulutnya. Mahluk egois sepertinya yang tidak pernah menundukkan kepala pada siapa pun selain kepada Dewa, kini meruntuhkan segala ego dan harga dirinya untuk gadis yang ia inginkan.


Xavier melepaskan tubuh Kirana dengan hati-hati, matanya beradu dengan gadis tersebut. “Aku tidak akan membuatmu marah seperti kemarin lagi, jadi, kumohon, jangan membenciku.”


Kirana mengulum senyum, ia akui ada perasaan kesal kemarin, tetapi itu tidak serta membuatnya membenci Xavier. Gadis itu pun menggeleng, “Aku tidak pernah membencimu Xavier.”


Xavier tersenyum, lega mendengar kalimat tersebut. Jemarinya yang ramping membelai rambut Kirana yang hitam dan lebat, membuat gadis itu jadi salah tingkah sendiri.


“Ehm, anu, soal Hugo,” potong Kirana mengalihkan topik, sebelum Xavier bertindak lebih jauh. “Mereka bilang ia terluka?”


Xavier sedikit kecewa karena Kirana tiba-tiba membahas soal Hugo, tetapi ia tetap menjawab pertanyaan gadis itu. “Dia baik-baik saja, kondisinya sudah membaik saat ini.”


Matanya beralih pada pria rusa merah yang baru menyelesaikan proses pengobatannya. Kirana ikut melihat ke arah itu, Hugo bangkit dari duduk bersilanya. Ia berbalik dan langsung bertemu dengan Kirana dan Xavier disana.

__ADS_1


Hugo terbelalak, ia berjalan cepat ke arah Kirana karena ingin memastikan penglihatannya tidak salah.


Ia memperhatikan Kirana dari atas kepala sampai ujung kaki, sambil geleng-geleng tidak percaya ia menoleh kepada Xavier. “Kenapa bisa ada manusia disini?”


__ADS_2