A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 22: Serangan Pertama


__ADS_3

Hari menjelang sore, para penduduk yang akan ikut pertempuran sudah mengisi tempat-tempat pertahanan yang direncanakan. Walau sejauh ini belum ada tanda-tanda kemunculan Shan dan pasukannya, mereka tetap bersiaga.


Xavier berdiri di atas atap salah satu menara. Lidahnya menjulur beberapa kali, ia dapat merasakan seluruh komponen yang dibawa oleh angin disekelilingnya. Aroma dari berbagai mahluk dapat dicium olehnya. Pria itu tiba-tiba mengernyit, sensornya mendeteksi pergerakan Bestial yang tidak wajar dari arah Barat.


Ezekiel yang sejak tadi soaring di atas langit pun merasakan hal yang sama. Ketajaman matanya yang di atas rata-rata dapat melihat gerombolan Bestial datang mendekat. Namun, ia tetap kesulitan memperkirakan jumlah mereka berapa.


Pohon-pohon bergoyang dari kejauhan, burung-burung yang hinggap di sana beterbangan. Melihat fenomena alam tersebut, Xavier makin yakin kalau pasukan Shan sudah mendekat. Dari tempatnya berdiri, ia memberi sinyal pada Wagyo kalau pasukan Shan sudah terlihat.


“Mereka sudah tiba!” seru Wagyo, memperingati penduduknya. “Bawa anak-anak, orang tua, dan mereka yang tidak bisa bertarung ke dalam kubah!”


“Tim pertahanan, bersiap di posisi kalian!” Hugo ikut memberi instruki. Pasukan yang membawa senjata lembing bersiaga di atas dipan yang diletakkan di atas dinding kayu.


“Pemanah, bersiap untuk menyerang sesuai aba-aba dariku!” Pasukan yang membawa panah bersiap di belakang dinding kayu, tapi, sebagian ada yang berdiri di atas menara dan di barisan belakang tim pertahanan.


Pasukan yang bisa mengendalikan elemen juga sebagian berada di atas dinding kayu, termasuk Hugo dan Gogo. Sementara Wagyo akan berjaga di lapangan dekat dengan pintu gerbang desa yang sudah ditutup rapat.


“Kirana!” Xavier mencari-cari Kirana di sekitar aula. Gadis itu muncul dari sebuah bilik, berjalan ke arah Xavier sambil memasukkan handphone-nya ke dalam tas.


“Ada apa Xavier? Aku sedang membantu Gigi menyiapkan tandu tadi.”


“Kau harus memakai ini,” Xavier mengeluarkan wadah dari tanah liat, di dalamnya ada cairan merah kental yang menguarkan bau anyir.


“Itu darah?”


Tidak menjawab pertanyaan Kirana, Xavier mengoleskan darah itu di atas kulit wajah, leher, dan pergelangan tangannya.


“Tunggu, hentikan! Kenapa kau mengolesiku dengan darah? Ini darah apa?” Kirana menepis tangan Xavier, lalu berjalan menuju ke salah satu gentong berisi air, berniat membersihkan dirinya.


“Jangan dicuci, itu darah untuk menyamarkan bau manusia-mu,” sergah Xavier, cepat.


Kirana menghentikan langkahnya dan memperhatikan cairan merah yang menetes-netes di tangannya. Ia terlihat seperti korban perang yang bergelimang darah.


“Itu darah rusa liar, tadi siang aku memburunya, jauh dari desa,” jelas Xavier.

__ADS_1


“Bukankah seharusnya aku yang memancing Shan?” Kirana ingat kalau kemarin ia bilang soal strategi tersebut pada Xavier. “Bagaimana dia bisa tahu aku ada disini kalau aku tidak berbau manusia?”


“Aku tidak pernah setuju dengan rencana itu, kau tetap di dalam desa dan jangan pernah jauh dari Gigi,” perintah Xavier, tegas.


“Lalu Shan akan masuk desa dan menghancurkan semuanya? Aku seharusnya bisa membawa dia pergi menjauhi tempat ini.”


“Itu tugasku, kau harus tetap disini,” Xavier mencengkram kedua lengan Kirana, pria itu menurunkan lututnya agar matanya dapat memandang Kirana dengan sejajar.


“Dengarkan aku,” tekannya. “Kau harus tetap di dalam desa.”


Kirana menatap balik manik emas beriris hitam runcing di depannya. Ia tahu Xavier sangat mengkhawatirkan dirinya. Ia pun tidak ingin menjadi beban bagi Xavier.


“Padahal aku kira bisa membantumu,” ucap gadis itu, lemah.


Xavier tersenyum tipis. “Kau bisa menjaga dirimu tetap aman pun sudah cukup bagiku, Kirana.” Pria itu tiba-tiba menarik tubuh Kirana dan memeluknya. “Jaga dirimu, kumohon.”


Kirana terdiam dalam pelukan Xavier. Ia dapat mendengar degup jantung pria itu dan kepalanya bergerak perlahan bersandar di dadanya yang bidang.


“Kamu juga,” bisik Kirana. “Jangan mati.”


“Aku tidak akan mati.” Xavier melepaskan pelukannya, memandang sepasang mata coklat indah milik Kirana dengan penuh keyakinan. “Sampai jumpa, Kirana.”


Xavier berbalik dan tubuhnya menghilang di dalam asap hitam. Entah kemana ia berpindah, tetapi yang pasti, sudah tidak ada di sekitarnya. Kirana meremas ujung roknya, ia merasa tidak boleh lemah di saat seperti ini. Ia juga harus berjuang sesuai dengan kapasitasnya. Gadis itu pun kembali ke aula, membantu Gigi dan tim medis.


Ezekiel yang berotasi di udara terbang menukik ke arah Wagyo, tubuhnya bertranformasi menjadi wujud manusia.


“Ada Bestial apa saja?” tanya Wagyo.


“Belum terlihat semua, tapi ada pasukan manusia-gagak di langit, yang berada di formasi depan mereka ada manusia-babi hutan dan manusia-coyote,” lapor Ezekiel.


“Babi hutan..,” pria itu tampak berpikir sebentar. “Mereka akan menabrak dengan kekuatan penuh.”


Ezekiel mengangguk.

__ADS_1


“Perangkap kita mungkin akan berhasil.” Wagyo naik ke atas dipan dinding kayu dan memberitahu Hugo tentang formasi serangan dari pasukan Shan.


“Aku paham,” kata Hugo disertai anggukan. Bestial rusa berbadan besar itu kembali menatap ke arah Barat. Debu kecoklatan terbang bersama dengan derap langkah dari pasukan manusia-manusia berbulu hitam. Dilihat dari ciri fisiknya, kemungkinan para babi hutan itu berada pada evolusi tahap satu.


Bestial yang berevolusi tahap satu memang memiliki postur manusia, tetapi masih banyak ciri fisik binatang yang terlihat di tubuh mereka. Manusia-babi hutan itu memiliki dua taring besar yang mencuat dari sela bibir, berhidung lemper dan rambutnya hitam panjang dengan ujung yang runcing. Kedua kaki mereka pun masih berbentuk seperti tungkai babi hutan, hanya saja lebih besar.


Di belakang para babi hutan itu ada pasukan coyote yang juga masih berada di evolusi tahap satu. Tubuh mereka yang berbulu kecoklatan hanya ditutup kain sederhana dari kulit. Setiap orang dari pasukan itu membawa sebuah senjata sederhana berupa tombak dari kayu dengan batu gamping yang diukir tajam, kapak sederhana atau pentung kayu besar.


“Bunuh para rusa itu!” komando terdengar dari Bestial Babi Hutan yang berukuran paling besar. Suaranya dibalas dengan teriakan semangat seluruh pasukan yang ada di belakangnya.


“Pemanah! Bersiap!” Hugo memberi instruksi. Bestial rusa yang bertugas untuk memanah di belakang dinding kayu langsung mengambil ancang-ancang. Tubuh para pemanah itu melengkung ke belakang. Busur ditarik dan anak panahnya mengacung 90 derajat ke langit.


100 meter.. 75 meter… 50 meter… 30 meter…


Jarak antara pasukan Shan dan dinding desa semakin dekat. Seruan dan pekikan histeris dari pasukan Shan terdengar sampai ke dalam desa, mereka begitu semangat dan tidak sabar membantai para herbivora yang bersembunyi di balik dinding kayu tersebut.


Kepala babi hutan sangat keras, mereka bisa menjebol dinding kayu itu dengan satu tubrukan penuh. Namun, benturan yang diharapkan tidak pernah terjadi. Alih-alih kepalanya menghantam dinding kayu, tanah yang mereka pijak tiba-tiba amblas. Kaget, mereka tidak sempat berputar atau menghindar. Retakan dari lubang pertama menyebar luas, permukaan tanah runtuh dan para babi hutan itu jatuh ke dalam lubang yang dalam.


Sebagian pasukan coyote yang sempat berhenti tepat di depan lubang malah ikut jatuh akibat terdorong pasukan di belakangnya yang terlambat menghentikan larinya. Sebagian besar Bestial babi hutan dan Bestial coyote akhirnya masuk ke dalam jebakan lubang yang dibuat oleh Suku Cervid.


“Berhenti! Ada jebakan!”


Teriakan-teriakan panik dari barisan depan pasukan Shan menghentikan laju sisa pasukan di belakang mereka. Semua buru-buru mengulurkan tangan untuk membantu para pasukan yang terjebak pada lubang sedalam 20 meter tersebut.


“Pemanah! Tembak!”


Terdengar suara Hugo memberi komando. Lecutan anak-anak panah tampak memelesat ke langit, lalu turun melewati dinding kayu dan jatuh tepat ke dalam lubang.


Hujan anak panah itu berisi getah-getah superlengket yang Gogo temukan. Ketika anak panah jatuh, penutupnya pecah dan getah tersebar ke berbagai arah. Cairan putih lengket menempel ke setiap tubuh yang ada di dalam lubang.


“Pemanah racun! Tembak!”


Hugo memberi perintah kedua. Pasukan pemanah lain yang berada di balik dinding kayu melesatkan anak-anak panah yang sudah diolesi racun dari Xavier. Anak-anak panah itu jatuh dari langit seperti hujan yang mengenai semua target. Para Bestial yang berada di lubang seketika terkena panah beracun, tubuh mereka berubah menjadi ungu, lalu menghitam dan mati dalam waktu singkat.

__ADS_1


“Berhasil!” Beberapa Bestial rusa merah di atas dinding kayu yang menyaksikan hal tersebut berdecak kagum, masih tidak percaya mereka berhasil menghalau serangan pertama dari pasukan Shan.


“Jangan lengah,” peringat Hugo. “Pasukan mereka masih tersisa banyak. Serangan kedua akan segera tiba.”


__ADS_2