A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 9: Pertemuan Ayah dan Anak


__ADS_3

Anak-anak rusa itu berhamburan keluar dari kurungan, mereka langsung mengerubuni Kirana, sebagian memeluk betis gadis itu.


“Terima kasih, kakak!”


“Huhu, aku takut sekali!”


“Mamaaa!”


Kirana jadi kebingungan karena anak-anak itu menangis lagi. Ia memberanikan dirinya untuk menyentuh salah satu kepala anak berambut coklat kemerahan disana, sambil mengelus lembut, ia mencoba menenangkan mereka. “Sudah, tidak apa-apa, kalian sudah aman sekarang.”


Anak-anak itu terdiam, mereka menatap wajah Kirana dengan mata bulat besar yang berbinar-binar.


“Menjauh darinya,” tiba-tiba Xavier datang mendekat, anak-anak itu seketika berteriak dan berlari masuk lagi ke dalam kurungan.


Kirana berbalik dengan wajah sebal, “Kamu bikin mereka takut lagi!”


Xavier menjulurkan lidah bercabangnya, beralih dari menatap anak-anak itu lalu ke Kirana. “Aku tidak suka ada Bestial lain yang dekat-dekat dengamu.”


“Kau pikir aku suka dekat denganmu?”


“Setidaknya bauku tercampur olehmu,” Xavier mengulum senyum penuh makna. Kirana seketika merinding.


“Terserah!” sentak Kirana. Ia mendekati anak-anak Suku Cervid tersebut, sambil berjongkok, Kirana tersenyum ramah pada mereka.


“Apakah desa kalian di dekat sini?”


Salah satu anak laki-laki maju ke depan, ia berusaha mengabaikan tatapan tajam dari Xavier yang berdiri di belakang Kirana. Kakinya gemetaran, “Aku tidak tahu arah, tapi rasanya cukup jauh dari sini.”


“Bocah payah,” komentar Xavier.


“Jangan kasar pada anak kecil,” Kirana menegurnya. “Aku tidak suka laki-laki kasar.”


Setelah Kirana berkata seperti itu Xavier langsung memilih diam. Ia melemparkan pandangannya ke arah lain, tidak mau membuat gadis itu semakin membencinya.


“Kita akan cari desa kalian bersama-sama ya,” bujuk Kirana sambil mengulurkan tangannya. “Ayo, kita berangkat sekarang sebelum gelap.”


Anak rusa itu menyambut uluran tangan Kirana. Gadis itu dapat merasakan genggamannya menyentuh kuku besar yang dingin, tetapi bulu-bulu coklat kemerahan di tangan mereka sangat lembut.


Setelah Kirana menuntun anak itu keluar dari kurungan, teman-temannya mengikuti dan mereka semua berjalan ke tempat Xavier. Walau masih tampak ketakutan di wajah anak-anak itu, bahkan ada yang langsung berdiri di belakang kaki Kirana, tetapi mereka mencoba percaya dengan ucapan Kirana, “Paman ular itu tidak jahat kok.”


“Xavier, kamu pasti tahu dimana desa mereka kan?” tanya Kirana.

__ADS_1


Xavier mengangguk, seketika wajah anak-anak itu tampak berseri-seri, beberapa tidak bisa mengontrol rasa senangnya dan melompat-lompat kegirangan.


“Aku juga ada perlu dengan suku tersebut,” ucap Xavier.


“Eh, keperluan apa?” Wajah Kirana berubah muram. “Bukan makanan kan?”


“Bestial memang biasa memakan Bestial lain, tetapi aku tidak,” jawab Xavier. “Ini bukan soal makanan.”


Semburat di langit sudah semakin merah, sebentar lagi matahari akan sepenuhnya tenggelam. Berbahaya jika berkeliaran di hutan saat gelap, terlebih mereka akan membawa anak-anak kecil.


“Hei, anak-anak rusa,” panggil Xavier, dingin. “Cepat naik ke atas ekorku.”


Ia menjulurkan ekornya yang panjang, anak-anak rusa itu tampak ragu untuk naik. Kirana langsung melompat duluan ke atas ekor yang paling dekat dengan tubuh Xavier, “Ayo, naik saja, tidak apa-apa kok.”


Melihat wajah Kirana yang ceria dan penuh senyum, anak-anak itu seperti tersihir dan menurut. Mereka terkejut dengan permukaan kulitnya yang halus dan ternyata cukup empuk. Anak-anak itu dengan cepat beradaptasi dan merasa nyaman duduk di sana.


“Begitu lebih baik,” kata Xavier. Ia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut. Penciumannya menunjukkan arah keberadaan desa terdekat yang dihuni oleh Suku Cervid.


...***...


Di pedalaman hutan tidak jauh dari tempat anak-anak itu dikurung, memang benar, terdapat sebuah desa yang dihuni oleh Suku Cervid. Desa itu biasanya tampak ramai oleh celotehan anak-anak bahkan saat malam hari.


Sementara, Bestial dewasa dari suku itu tengah membentuk kelompok berisi 5-6 orang, mereka berpencar di sekitar desa sambil berteriak memanggil nama anak-anak yang hilang. Tidak ada hasil sejak pencarian tadi pagi, satu per satu kelompok itu kembali ke desa dengan tangan hampa.


Kelompok terkahir yang masih bertahan mencari dipimpin oleh Wagyo, Ketua Suku Cervid. Anaknya juga menghilang dan ia bersikeras untuk melanjutkan pencarian walau anggota kelompoknya sudah menyarankan untuk kembali.


“Ini sudah gelap, kita harus segera kembali,” peringat rekannya.


Kelompok itu hanya membawa sebuah obor yang memberikan penerangan minim, sementara, penglihatan mereka semua sangat buruk saat malam hari. “Kumohon, Wagyo, berada di luar desa saat malam hari itu berbahaya.”


“Bagaimana mungkin aku tidur penuh kehangatan sementara putraku sedang menangis ketakutan entah dimana!” Wagyo keras kepala.


Anggota kelompoknya tidak ada pilihan selain menurut. Mereka semua adalah Bestial yang sudah berevolusi ke tahap kedua, memang, dari segi kemampuan mereka sebenarnya sudah cukup kuat, tetapi kebanyakan dari mereka adalah ahli pengobatan dan meditasi, bukan petarung handal.


Tiba-tiba, seorang rekan mereka yang berada di paling belakang mendengar suara seperti seretan benda berat. Ia berbalik, merasakan tatapan predator dari balik bayangan kegelapan. Atmosfer penuh tekanan memenuhi dirinya sampai tangannya mengeluarkan keringat dingin. Kakinya sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari.


“Paman Gogo!” Pria itu terkejut, namanya disebut oleh suara yang familiar ditelinganya. Pria itu belum sempat berbalik untuk memberi tahu kepala suku, dari bayangan gelap yang tadi diwaspadainya justru muncul anak-anak bertanduk kecil dengan rambut coklat kemerahan.


Teriakan dan isak tangis memecah keheningan dan suasana mencekam disana. Para Bestial dewasa yang tadi di depan mendengar suara keributan dan berbalik. Kaki Wagyo seakan mendapat kekuatan penuh saat melihat putranya ada di sana.


“Wage!” serunya sambil berlari ke putranya.

__ADS_1


Anak bernama Wage dipeluk ayahnya, mereka berdua menangis sambil berpelukan. “Syukurlah! Syukurlah kalian semua baik-baik saja!”


Pertemuan penuh haru dan kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Dari arah yang sama, Xavier muncul dengan tatapan dingin dan hawa membunuh. Bestial dewasa dari Suku Cervid terkejut, tetapi, mereka langsung memasang badan melindungi anak-anak itu.


“Kau yang menculik mereka! Ular laknat!” seru Wagyo sambil mengacungkan obornya.


Kirana langsung berlari menerjang kedua kubu itu, ia berdiri di tengah-tengah keduanya sambil merentangkan tangan. “Tunggu, kumohon jangan saling serang!”


Lagi-lagi mereka dibuat kaget dengan kehadiran sosok dari suku lain. “Bestial dari Suku Pongo?” tanya Wagyo, keheranan.


“Aku buk—, ehm! Betul, aku dari Suku Pongo,“ Kirana mendapat ide, lebih baik ia tidak mengungkap identitasnya sebagai manusia untuk mencegah hal serupa di Suku Falco terjadi kembali.


“Kami yang menyelamatkan mereka,” Kirana berusaha menjelaskan. “Bestial ular itu temanku, dia tidak membahayakan siapa pun dari suku kalian, aku jamin.”


Wagyo sudah membuka mulut untuk protes, tetapi Wage langsung menarik pakaian ayahnya. “Mereka orang baik, Yah.”


Pria itu dapat melihat kejujuran terpancar dari tatapan putranya. Begitu pun anak-anak rusa lain bersuara membela Xavier dan Kirana.


“Kau mengancam mereka untuk berkata seperti itu?” tanya Gogo, jelas ia tidak akan percaya semudah itu.


“Kau boleh melihatnya sendiri jika tidak percaya,” Xavier menyodorkan tangannya yang pucat. “Bukankah ada salah satu dari kalian yang memiliki kemampuan telepati?”


Terkejut karena manusia-ular itu bisa membaca kemampuan mereka, akhirnya, Gogo—orang yang dimaksud oleh Xavier—maju ke depan. Ia menjabat tangan Xavier, saat memejamkan mata muncul simbol kepala rusa di dahinya. Di dalam kepalanya ia melihat kilasan kejadian tadi sore saat Xavier dan Kirana menyelamatkan anak-anak itu dari jebakan kelompok coyote.


“Dia berkata yang sebenarnya,” ucap Gogo sambil melepaskan tangan Xavier. Wagyo tahu kalau rekannya itu tidak pernah berbohong, apalagi menyangkut kekuatan telepatinya. Akhirnya, ia percaya.


Sambil sedikit menundukkan kepalanya ia minta maaf atas sifat kasarnya dan berterima kasih.


“Simpan rasa terima kasihmu,” balas Xavier dingin. “Ini tidak gratis.”


Mendengar perkataan Xavier, tidak hanya Suku Cervid yang terkejut, tetapi juga Kirana. Sebelum Kirana menyela, Xavier langsung melanjutkan. “Aku ingin kalian menyembuhkan luka gadis ini.”


Kekhawatiran di wajah mereka menghilang, berganti perasaan lega. Kirana sekarang yang terheran-heran. Dia melakukan itu semua hanya untuk meminta mereka menyembuhkan lukaku?


“Baiklah, kami bisa melakukannya,” jawab Wagyo. Tetapi ahli pengobatan terbaik kami ada di desa, jika berkenan, kalian boleh datang ke desa kami.”


“Kepala Suku, menyembuhkan gadis itu memang tidak masalah, tetapi sampai harus masuk ke desa rasanya terlalu berisiko,” bisik Gogo, mengingatkan.


Wagyo menyentuh pundak rekannya, “Tidak apa-apa, Hugo sebentar lagi akan kembali, jika sesuatu terjadi, ia pasti akan melindungi kita sebelum ular itu mencabik-cabik seluruh penduduk desa.”


Setelah sesi diskusi yang cukup lama, Wagyo mendatangi Xavier dan Kirana. Sambil menunjukkan arah desa dengan tangan kanannya, ia berkata “Desa kami berada di dekat sini, silakan ikuti kami.”

__ADS_1


__ADS_2