A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 29: Akhir Pertarungan


__ADS_3

Ezekiel memanggil petir besar untuk menyambar Bestial gagak tahap dua yang masih dilawannya. Manusia-gagak itu sudah terluka parah karena terkena tusukan tombak petir Ezekiel, ia tidak sanggup menghindar dan akhirnya tersambar petir besar itu.


Setelah lawannya jatuh terhuyung ke tanah, Ezekiel yang kehabisan tenaganya pun tidak sanggup mengepakkan sayapnya. Punggungnya jatuh menghantam tanah. Ia berbaring di atas tanah dengan dada naik turun karena sulit bernapas. Ia kelelahan, tidak menyangka kalau tadi akan menjadi pertarungan yang alot melawan Bestial tahap dua lainnya.


Beberapa Bestial gagak yang masih terbang di udara berusaha menyerang Bestial rusa pemanah yang berada di menara. Ezekiel berusaha bangkit, ia harus menolong rusa merah itu sebelum terbunuh. Tangan kanannya menjulur ke depan sementara tangan kirinya berusaha memberi dorongan untuk bangkit.


“Ugh, ayo berdiri! Jangan menyerah sekarang, dasar lemah!” Ezekiel memaki dirinya sendiri.


Tidak bisa. Ia sudah mencapai batasnya. Saat harapan mulai pupus, ia merasakan hawa membunuh yang besar datang dari arah tenggara.


Bestial elang harpy itu melihat sepasang mata emas mengintip dari balik dinding kayu. Lidah merah yang terbelah di ujung menjulur keluar dari moncong ular bersisik hitam raksasa. Di atas kepala mahluk itu, ada sosok yang dikenalinya.


“Kirana?”


Pemuda itu tersneyum tipis, ia lega melihat Kirana masih hidup dan dengan kemunculan Xavier, ia tahu kalau pertempuran di desa akan segera berakhir.


Xavier membuka mulutnya dan mengeluarkan suara mendesis yang menakutkan. Seluruh Bestial yang ada di desa, baik dari Suku Cervid mau pun pasukan Shan dibuat kaget olehnya. Mereka melihat kedatangan ular itu dengan tatapan takut. Hawa mencekam memenuhi dada setiap orang, beberapa terlihat langsung mengambil langkah mundur.


Seperti ada yang merasuki jiwa siapa pun yang menatap mata Xavier, tubuh mereka bergetar dan saraf motorik seperti tidak mau bekerja. Kaki mereka terpahat di tanah, padahal otak mereka sudah memerintahkan untuk lari. Keringat dingin bercucuran di wajah para Bestial yang takluk oleh hawa intimidasi yang disebarkan oleh Xavier.


Xavier membuka mulutnya, seketika bermunculan jarum-jarum hitam yang memelesat cepat ke setiap Bestial gagak yang masih terbang di langit desa.


Mereka terlalu takut sampai tidak bisa bergerak, sehingga terkena serangan jarum-jarum yang mengandung racun tersebut. Setiap jengkal tubuh yang terkena jarum akan memunculkan bercak ungu lalu menghitam. Daging-daging mereka membusuk dan meluruh dengan cepat. Para Bestial gagak di langit berteriak kesakitan dan satu per satu jatuh ke tanah, lalu mati.


Xavier menciptakan lingkaran hitam besar di tanah, lalu bermunculan ratusan ular hitam kecil yang menyebar ke seluruh desa. Ular-ular kecil ini melata dengan cepat, mengincar semua Bestial selain penduduk desa Cervid dan mematuk lawannya.


Satu patukan ular hitam kecil itu seketika membunuh targetnya kurang dari 3 detik. Sisa pasukan Shan yang melihat pembantaian tersebut langsung lari tunggang langgang keluar dari desa. Xavier membiarkan mereka pergi, toh orang-orang itu bisa dimanfaatkan.


Pasukan Shan yang berhasil melarikan diri dari desa tidak sampai sepuluh orang. Mereka akan bercerita ke Bestial lain yang mencoba macam-macam dengan Suku Cervid dan membuat mereka berpikir dua kali untuk menganggu para rusa merah itu.


Kini tersisa para penduduk desa. Xavier melata melalui lubang di dinding dan berjalan ke tengah desa. Para Bestial rusa merah itu awalnya ketakutan, namun, ekspresi di wajah mereka berubah saat melihat Wage meluncur turun dari kepala Xavier.


“Wage!” suara Gigi memecah kesunyian tersebut.

__ADS_1


“Ibu!” Wage berlari cepat dan lompat ke pelukan ibunya, lalu menangis kencang. Gigi langsung memeluk putra satu-satunya itu.


Wagyo hanya sempat mengelus rambut Wage, lalu ia menghampiri Kirana dan Xavier yang berubah kembali ke wujud manusianya. Wagyo lega melihat Xavier baik-baik saja.


“Bagaimana dengan Shan?” tanya pemimpin suku tersebut, ingin memastikan.


“Aku sudah membunuhnya,” jawab Xavier, dingin seperti biasa. “Pertarungan ini sudah selesai.”


Mendengar kalimat tersebut, Wagyo yang sejak tadi berusaha tegar akhirnya meneteskan air mata juga. Pria itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan, berniat menutupi tangisannya.


Suaranya masih serak saat ia berteriak memberitahu ke seluruh penduduk desa. “Kita menang! Shan sudah mati!”


Para penduduk yang masih selamat seketika bersorak sorai. Sebagian ada yang langsung jatuh terduduk dan menangis sambil memeluk rekan seperjuangan mereka.


Hugo yang berada di antara penduduk tersebut tersenyum penuh kelegaan, matanya berkaca-kaca dan perasaanya campur aduk. Ia merasa lega, gembira, dan juga sedih karena tidak sedikit penduduk desa yang gugur. Gogo yang berada di sampingnya seakan bisa membaca isi hatinya, ia menepuk pundak pemuda itu.


“Kita masih hidup, itu yang terpenting.”


“Kau benar,” imbuh Hugo. “Dengan penduduk yang tersisa kita akan bangun ulang desa ini.”


“Ketemu, itu Ezekiel!” ujar Kirana. Gadis itu berlari menghampiri Bestial elang yang masih telentang di atas tanah tersebut.


“Oh syukurlah, dia masih hidup!” pekik Kirana, bahagia. “Ezekiel, kau tidak pingsan kan?”


Ezekiel mengedip. “Aku baik-baik saja, hanya terlalu banyak memakai kekuatan.”


Xavier yang baru tiba di sebelahnya melihat mayat Bestial gagak yang terbujur kaku tidak jauh dari mereka. Ada tiga tombak petir menancap di tubuhnya.


Bestial ular itu tersenyum asimetris, meledek Ezekiel. “Kau sekarat karena bertarung dengan burung gagak?”


“Aku tidak sekarat! Hanya—uooghok–ohok!” Ezekiel tersedak oleh batuk darahnya.


Kirana seketika panik. “Kalau masih terluka parah tidak usah memaksakan diri!” tegur gadis itu.

__ADS_1


Xavier tertawa kecil, tapi Kirana langsung mendelik tajam ke arahnya.


“Kau juga Xavier, Ezekiel sudah berjuang sekuat tenaga, hargailah usahanya sedikit,” kata Kirana, membela Ezekiel.


Xavier bersedekap sambil menjulurkan lidah bercabangnya. “Tidak mau. Bestial lemah ya lemah.”


“Aku tidak lemah!” Ezekiel berseru marah, tapi langsung disusul oleh batuk berdarah lagi.


“Duh, kenapa sih kalian ini!” Kirana yang berada di tengah keduanya malah jadi pusing sendiri.


Kirana seebenarnya ingin memanggil Gigi atau Hugo untuk memberi pertolongan pertama pada Ezekiel, tapi keduanya masih sibuk memberi arahan kepada penduduk desa. Tugas mereka belum selesai walau pertempuran sudah berakhir.


Fajar menyingsing di ufuk Timur, bersamaan dengan itu pertarungan dengan Shan pun selesai. Hugo memerintahkan penduduk desa untuk memisahkan orang yang terluka dengan yang sudah mati. Bestial rusa merah yang sudah mati kemudian di bawa ke tengah hutan.


Penduduk yang terluka dikumpulkan di aula dan sekitarnya. Gigi dan beberapa Bestial yang memiliki kekuatan penyembuhan bekerja ekstra untuk memulihkan setiap orang. Wagyo memberi perintah untuk membangun ulang dinding pagar desa, ia juga merapikan rumah-rumah yang hancur dan membantu agar anak-anak dan orang tua mendapat makanan yang cukup.


Semua masih berduka atas kematian kerabat dan keluarga masing-masing, tapi para Bestial rusa merah itu tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Setelah matahari muncul, mereka langsung mulai bergotong royong membangun desa itu kembali.


Sebelum matahari semakin tinggi, Hugo mengajak seluruh penduduk desa pergi ke tengah hutan—ke tempat seluruh jasad Bestial rusa merah dikumpulkan. Xavier, Kirana dan Ezekiel juga ikut bersama dengan rombongan tersebut.


“Apakah itu sejenis kuil?” tanya Kirana, terkejut melihat sebuah tempat seperti altar persembahan yang terbuat dari tumpukan batu.


Gigi yang berjalan di sampingnya mengangguk. “Ini adalah tempat keramat kami untuk berdoa kepada para leluhur sekaligus mengirim pulang para penduduk yang sudah meninggal.”


“Apakah jasad mereka akan dibakar? Atau dikubur?”


“Tidak keduanya.”


Mereka berdua berdiri dalam barisan bersama penduduk desa lain. Upacara “Pengiriman Penduduk” yang dimaksud oleh Gigi sudah dimulai.


Hugo yang dianggap sebagai Bestial terkuat di desa ditunjuk sebagai pemimpin upacara. Pemuda itu berdiri di depan altar, di belakangnya terdapat tumpukan jasad Bestial rusa merah. Sementara seluruh penduduk desa membentuk barisan melingkar mengelilingi altar tersebut.


Hugo melakukan beberapa gerakan dan ia menciptakan sebuah pohon besar di tengah yang memayungi seluruh altar. Kanopinya yang lebar menutupi seluruh barisan penduduk desa. Pemuda itu mengalirkan kemampuan elemen alamnya, sekujur tubuhnya seketika diselimuti cahaya hijau bersamaan dengan pohon besar tersebut.

__ADS_1


Semua penduduk desa menunduk dengan khidmat, tidak ada satu pun yang bersuara, hanya terdengar suara embusan angin dan gemerisik daun-daun pohon. Jasad para Bestial rusa merah ditumbuhi oleh tunas-tunas hijau kecil yang menyebarkan cahaya hijau. Tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa itu perlahan berubah menjadi partikel kecil dan menghilang diserap oleh setiap tunas dan pohon besar di sana.


Setelah upacara selesai, pohon besar itu menghilang. Sementara tunas-tunas kecil yang baru tumbuh di pindahkan oleh para penduduk dan di tanam ulang di sekitar desa.


__ADS_2