
Sejauh yang Xavier ingat, suku Serpent tidak hidup dengan gaya nomaden. Mereka dulu tinggal di tebing batu bagian Utara Forest Region. Untuk yang waktu sangat lama, mereka tidak pernah pindah dari tempat tersebut. Entah apa yang membuat Kepala Suku akhirnya memutuskan mereka harus hidup dengan berpindah-pindah seperti ini.
Saat Xavier keluar dari terowongan, ia melihat rumah-rumah sederhana yang dibangun dari kayu dan jerami di atas tanah yang bertingkat-tingkat dan dikelilingi oleh tebing batu. Suku itu masih ramai seperti yang ada di ingatannya. Walau Bestial ular hidup dengan prinsip individualis, tapi mereka masih tinggal dalam koloni, kecuali Xavier.
“Bagaimana? Merasa nostalgia?” tanya Lilith.
Xavier tidak menjawab. Ia memang sedikit merasakan nostalgia, tapi ditepisnya pikiran tersebut. Tidak ada kenangan baik yang Xavier ingat selama tinggal di Suku Serpent. Orang-orang yang berwajah rupawan, baik laki-laki mau pun perempuan yang hidup di desa tersebut, mereka semua adalah mahluk yang menjijikkan bagi Xavier.
“Aku bisa mengantarmu berkeliling, kalau kau mau,” tawar Lilith.
“Tidak perlu,” jawab Xavier, cepat. “Dimana gadis itu dan si elang, aku harus memastikan keduanya dengan mataku, baru setelah itu pergi dari sini.”
“Buru-buru sekali, mereka baru saja jalan-jalan menikmati pemandangan di desa ini.”
“Apa yang bisa dilihat dari tebing batu dan tanah tandus?” ucap Xavier, pedas. “Tunjukkan dimana mereka, tidak usah bertele-tele.”
Lilith mendesah berat. “Kau ini, sangat tidak sabaran ya.”
Wanita itu melenggok berjalan di depan Xavier. Ia lalu menoleh ke belakang, menatap Bestial ular itu. “Kemari, akan kutunjukkan tempatnya.”
Xavier mengikuti Lilith. Mereka melewati jalan menurun dan sampai di pemukiman penduduk. Rumah-rumah yang dibangun tampak mudah dipasang dan dilepas. Jarak antar satu rumah dengan yang lain cukup berdekatan dan tidak ada sekat.
Daging-daging tampak dijemur dan dikeringkan di samping rumah. Ada perapian yang menyala, tapi bukan untuk memasak daging. Suku Serpent lebih suka memakannya mentah. Api itu untuk menghangatkan tubuh mereka.
Tidak banyak anak kecil di suku tersebut. Hanya terlihat tiga sampai empat anak dari setiap sepuluh rumah. Sebagian besar suku itu berisi para ular-ular yang masih tampak muda dan segar. Bahkan Lilith, ibu Xavier yang berusia 20 tahun lebih tua darinya pun masih tampak terlihat seperti dulu. Hampir tidak ada yang berubah, selain aromanya.
Xavier menyadari ada yang berubah dari Lilith. Aromanya berbeda. Pria itu mengendus, tapi penciumannya tidak tajam seperti sedia kala. Ia berhenti melangkah dan melihat ke sekeliling, bertanya-tanya apakah hidungnya yang bermasalah atau memang ada sesuatu yang ganjil di tempat tersebut.
__ADS_1
“Xavier,” panggil Lilith yang sudah jauh di depan. “Kenapa berhenti?”
Xavier tidak menjawab, tapi menatap Lilith tajam. “Apa yang kau sembunyikan dariku?” tuduhnya.
Lilith mengangkat pundaknya. “Tidak ada yang kusembunyikan.”
Wanita itu mencoba membaca dari ekspresi wajah Xavier. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. “Oh, aku paham! Hidungmu tidak berfungsi ya! Hahaha!”
“Ini tidak lucu. Kau pasti merencanakan sesuatu!”
“Tenang, jangan marah begitu,” ucap Lilith. Wanita itu mendekati Xavier dan menjulurkan tangannya yang menggenggam sebuah wadah dari kayu.
“Salah satu saudaramu membuat salep ini.”
“Aku tidak punya saudara.”
“Berhenti bciara soal itu dan cepat jelaskan salep yang kau tunjukkan ini!”
“Kau tahu, hutan yang kau masuki tadi adalah Verdantale? Hutan itu memiliki pohon unik bernama Phyloputus. Jika kau menggores kayunya akan muncul getah hijau yang tidak berbau. Jika kau menghirupnya, kau akan kehilangan sebagian indra penciumanmu.”
Xavier terdiam. Kini ia paham mengapa saat tadi memasuki hutan tidak bisa mendeteksi keberadaan Bestial lain di sekitarnya. Itu bukan hanya karena pengaruh kekuatan Lilith, tapi wanita ini juga mengkombinasikannya dengan salep berbahaya ini.
“Berapa lama efeknya akan berlangsung?”
“Setengah hari,” Lilith menutup kembali wadah salep itu. “Jangan khawatir, kau tidak akan membutuhkan penciumanmu di tempat ini.”
Lilith berbalik dan lanjut memimpn jalan. Xavier, walau masih kesal, akhirnya memilih diam dan mengikuti Lilith. Sesekali ia melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
Bestial ular remaja dan dewasa tampak asyik bermain bersama. Mereka berguling dan bergulat di tanah, ada sebagian yang berlatih dengan panah atau bertarung menggunakan lembing. Namun, tidak ada satu pun Bestial dewasa yang mau peduli dengan Bestial anak-anak.
Anak-anak Bestial ular yang masih berada di tahap evolusi pertama tampak rawan tanpa perlindungan orang dewasa di sekitarnya. Tubuh mereka kecil, kurus dan lemah. Beberapa mengeruk tanah untuk mencari cacing agar bisa makan. Ada yang bermain dengan menumpuk lumpur menjadi seperti makanan, lalu ia memakannya.
Anak-anak ular adalah hal terkahir yang akan dipedulikan oleh suku ini. Jika kau terlahir di Suku Serpent, nasibmu sebagai anak ular hanya ada dua, mati sebagai makanan atau berevolusi dan dikucilkan. Bestial anak dianggap lemah dan tak berdaya, tidak bisa berburu, hanya bisa membuka mulut untuk diberi makan. Para Bestial ular dewasa benci sikap seperti itu, jadi mereka mengabaikan anak-anak mereka.
Suku Serpent tidak pernah khawatir soal kekurangan populasi. Itu karena mereka tahu bagaimana cara menjaga agar umur tetap panjang. Suku ini juga sangat aktif bereproduksi. Terlihat dari beberapa Bestial ular wanita yang hilir mudik dengan perut membuncit, berisi telur-telur anak mereka.
Bertahan hidup, mencari makan dan bereproduksi, lalu menyeleksi mana yang dianggap layak untuk bertahan hidup, mana yang bisa dibunuh untuk dijadikan makanan.
Xavier sudah mengalami semua itu, makanya ia tahu. Pria itu membenci sukunya karena fakta tersebut.
“Kita sampai.” Kalimat Lilith membuyarkan lamunan Xavier. “Gadis itu ada di dalam.”
Xavier seketika melangkah cepat menaiki undakan dari batu. Di depannya ada sebuah rumah sederhana dari jerami. Di beranda ada dipan dari bambu dan Kirana sedang duduk di atasnya.
Gadis itu menoleh saat menyadari kehadiran Xavier.
“Xavier!” serunya senang bercampur lega.
Xavier langsung berlari memeluk gadis itu. Kirana menyambut rangkulan pria itu dan mengalungkan lengannya di pundak Xavier.
“Aku khawatir,” bisik Xavier.
Kirana menggeleng. “Aku baik-baik saja, mereka sudah merawat lukaku.”
Lilith melemparkan sorot mata tajam kepada dua orang tersebut. Bibirnya menyugingkan senyum miring, ia tidak pernah merasa sesenang itu.
__ADS_1
Sejauh ini, rencananya sudah berjalan dengan baik.