A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 37: Orang dari Masa Lalu


__ADS_3

Seorang pria berambut putih dengan tubuh bersisik tengah membidik anak panahnya. Ia tampak serius menatap satu titik sampai tidak berkedip. Dadanya naik turun secara perlahan, mengatur napas agar tidak menggoyahkan bagian atas tubuhnya yang mencoba tetap stabil menarik busur.


Ia terlalu berkonsentrasi sampai tidak menyadari kehadiran Xavier di belakangnya. Pandangan pria itu tiba-tiba berputar dan terbalik, seiring dengan kepalanya yang terpenggal dari tubuh. Xavier mengibaskan cakarnya yang berlumur darah. Ia menatap Bestial yang sudah mati di hadapannya, kedua alisnya bertaut.


Hidungnya menangkap aroma yang familiar, pakaian halus dengan motif sisik yang dikenakan pria itu tampak tidak asing baginya.


“Tidak mungkin, seharusnya mereka tidak ada di tempat ini,” gumam Xavier. Ia sontak menoleh ke arah Barat karena merasakan kehadiran Bestial lainnya.


“Ada lebih dari satu.” Xavier merasakan keberadaan Bestial lain. Ia memfokuskan semua indranya. “Ada dua.. Tiga…,” Xavier bergumam seraya memprediksi lokasi keberadaan Bestial-Bestial tersebut.


Beberapa saat lalu, tidak terasa hawa keberadaan mahluk selain dirinya, Kirana dan Ezekiel. Namun, saat ini ia bisa dengan jelas meraskan keberadaan mahluk-mahluk lainnya. Seperti ada yang menutup dan membuka indranya atau sebaliknya, menghalangi indra Xavier untuk mendeteksi keberadaan mahluk-mahluk tersebut.


“Ada sebelas Bestial di hutan ini,” ucap Xavier, sudah selesai mendeteksi keberadaan semua lokasi mereka.


Xaviel menutup kedua matanya, kabut hitam menyelimutinya lalu menyebar ke berbagai arah. Kabut itu berubah dan menjelma menjadi ular hitam raksasa. Mereka adalah kloning yang Xavier ciptakan dan bergerak sesuai perintah darinya.


Ular-ular itu memiliki kemampuan yang kurang lebih sama seperti Xavier. Mereka merayap dengan cepat dan sampai ke lokasi setiap Bestial di hutan itu. Beberapa ada yang menyadari kedatangan ular itu, tapi tidak sedikit yang langsung mati ditikam oleh taring berbisa ular tersebut.


Bestial-bestial itu semuanya mengenakan pakaian halus bersisik. Setiap kloningan Xavier menghilang kembali menjadi partikel hitam setelah menyelesaikan tugasnya, sementara Xavier akan menerima informasi yang dilihat oleh ular tersebut.


Xavier tidak merasakan hawa keberadaan Bestial-Bestial itu lagi. Ia yakin semua ularnya sudah membunuh sepuluh dari sebelas targetnya. Tinggal satu yang tersisa dan Xavier memutuskan untuk membunuh dengan tangannya sendiri.


Bestial ular itu berlari dan melompat di antara pohon-pohon dengan gesit. Dalam waktu singkat, ia sudah tiba di lokasi target yang diincarnya.


Xavier melangkah tanpa suara, ia semakin dekat dengan Bestial tersebut. Tubuhnya ramping terutup oleh rambut hitam lebat berkilau. Kulitnya pucat, kontras dengan pakaian bersisik hitam yang dikenakannya. Beberapa langkah lagi Xavier siap menebas dengan cakar beracunnya, tiba-tiba Bestial itu mengeluarkan suara.


“Lama tidak berjumpa.” Nada suaranya halus dan lembut, tapi disaat bersamaan terasa dingin dan tidak seperti memiliki kehidupan.


Xavier tercekat saat mendengar suara tersebut. Ia menatap tidak percaya Bestial yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Kenapa dia bisa ada di sini? Tanya Xavier di dalam hati.


Bestial itu berbalik, tampak seorang wanita berwajah tirus tersenyum pada Xavier. Kedua bola matanya berwarna emas dengan iris runcing, alisnya tipis dan panjang, hidungnya mancung dengan batang tulang menonjol. Rambut hitamnya berkibar saat ia memutar tubuhnya.


“Kenapa terkejut begitu, Xavier?” tanya wanita itu. “Apa kau sudah lupa dengan wajah ibumu sendiri?”


Xavier tidak mungkin lupa. Itu adalah wajah pertama yang dilihatnya saat keluar dari cangkang telur. Wanita yang berusaha memakannya di hari pertama saat ia lahir ke dunia.


“Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah Suku Serpent jauh berada di Barat Daya?” tanya Xavier, menghiraukan perkataan wanita itu sebelumnya.


“Kami memutuskan gaya hidup baru,” jawab wanita itu. “Nomaden jauh lebih menguntungkan.”


Tidak mengherankan kalau di sekitar hutan ini tidak terdapat satu hewan pun, ditambah tulang belulang binatang yang berserakan. Itu pasti ulah Suku Serpant yang dipimpin oleh ibunya.


Lilith, ibu Xavier memiliki kemampuan untuk memanipulasi hawa keberadaan, itu sebabnya mereka bisa bersembunyi dan menyerang tanpa terdeteksi. Seingat Xavier, wanita itu juga adalah Bestial tahap kedua. Namun, itu ingatan 300 tahun yang lalu. Di lihat dari ciri fisiknya, Xavier menebak kalau saat ini Lilith sudah berevolusi ke tahap ketiga.


“Aku tidak punya saudara,” jawab Xavier, dingin.


“Jangan begitu, kalian beda ayah tapi tetap satu Ibu.”


Jawaban Lilith membuat Xavier muak.


“Aku tidak ingat kalau punya seorang Ibu,” balas Xavier, tajam.


Lilith tertawa dramatis sambil memegang keningnya. “Astaga, kau benar-benar tidak berubah ya. Kau berteman dengan elang dan manusia tapi begitu angkuh pada ibumu sendiri.”


Xavier terkejut saat Lilith menyebut “soal” manusia. Itu artinya ia sudah tahu kalau Kirana adalah manusia. Wanita kejam itu pasti mengincar Kirana. Xavier tidak akan membiarkan ia menyentuh seujung pun tubuh Kirana. Bestial ular itu bergerak sangat cepat, lengan kekarnya mencengkram leher Lilith dan mengangkat tubuhnya ke atas.


Lilith tercekik, ia menggelagap mencari udara sambil kedua tangannya berusaha melepaskan cengkraman Xavier.

__ADS_1


“Kau mengincar gadis itu, bukan?” tanya Xavier, suaranya terdengar mengancam. “Jawab! Atau kuhancurkan tenggorokanmu dalam sekejap!”


Lilith terbatuk. Dengan susah payah ia mencoba bicara. “Mereka ada di desa, uhuk! Orang-orang di desa menangkap gadis itu–uhuk!”


“Apa kau menyakitinya?”


“Tidak! Kami menangkapnya bersama elang itu! Uhuk!”


Xavier melepaskan cekikannya, di saat bersamaan tubuh Lilith terjatuh ke tanah. Ia bangkit sambil menyertakan senyum licik.


“Datanglah ke desa, kau akan bertemu dengan mereka berdua,” tawar Lilith.


“Kenapa aku harus mempercayaimu?” Xavier menatapnya penuh keraguan.


“Kedua orang itu tersambar petir di langit dan terjatuh ke sungai. Anak-anakku yang menyelamatkan mereka.”


“Itu semakin membuatku curiga,” Xavier mendekat sambil memanjangkan kuku-kuku jarinya yang tajam. “Katakan yang sebenarnya.”


“Kau boleh mencincangku dengan kukumu itu, tapi kau tidak akan bisa bertemu mereka lagi jika aku mati disini!”


Lilith balik menggertaknya. “Anak-anakku akan memakan mereka kalau kita tidak kembali ke desa sekarang. Ingat, aku Ibu mereka. Mereka akan mendengarkanku.”


Xavier mendecih. Ia masih tidak bisa mempercayai wanita itu, tapi disaat bersamaan ia juga khawatir dengan nasib Kirana. Bahkan sedikit terbesit di kepalanya kondisi Ezekiel saat ini.


“Baiklah, aku akan ikut ke desa,” kata Xavier. “Tapi jika kau berbohong, akan kuhancurkan Suku Serpent.”


Lilith hanya menanggapi ancaman Xavier dengan senyuman. Ia lalu berbalik dan beranjak pergi dari tempat tersebut, Xavier mengikutinya di belakang. Mereka menuruni tebing curam dan tiba di depan batu besar yang tampak janggal. Batu itu digeser dan terdapat lobang besar di sana. Mereka masuk ke dalam lobang tersebut, terus melalui jalan terowongan yang gelap.


Ketika bias matahari mulai menembus bagian dalam terowongan, mereka tiba di pintu keluar dan sampai di desa nomaden milik Suku Serpent.

__ADS_1


__ADS_2