
Kirana sudah menyelesaikan hidangan di hadapannya, tapi Oberon belum menyentuh makanannya sama sekali. Kirana menatapnya, bingung.
“Kamu tidak makan?”
Oberon mengangkat wajahnya yang tertutup perban. “Aku menunggumu selesai.”
“Kenapa?”
Oberon tidak menjawab, tapi ia mengangkat tangan kirinya. Seketika muncul gelembung tipis di sekeliling mereka. Pemandangan itu mengejutkan Kirana, tapi sepertinya tidak menggubris perhatian para pengunjun restoran lainnya.
Oberon juga membuat sekat transparan di depannya dan Kirana, seolah ia ingin mengisolasi dirinya dari Kirana. Kirana menyentuh pembatasna di hadapannya. Permukaannya terasa licin dan memantul ketika diraba. Rasanya seperti menyentuh sebuah lapisan gelembung.
“Ini semua untuk apa?” tanya Kirana lagi, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
“Perlindungan,” jawab Oberon. Tangan pria itu bergerak ke mulut dan mulai melepas perbannya. Hanya dari dagu sampai bagian bawah hidung.
Kirana dapat melihat bibir pria itu, tampak normal seperti manusia dengan warna yang sedikit merekah. Kulitnya putih, tidak bersisik atau memiliki pola khusus. Kirana berpikir tidak ada yang aneh dari Oberon sampai pria itu harus menutupi seluruh permukaan kulitnya.
Oberon tersenyum, ia tahu Kirana sedang memperhatikannya.
“Kenapa? Kau penasaran?”
Kirana terkesiap, ia jadi merasa tidak enak karena memperhatikan orang tanpa izin. “Maaf, aku tidak bermaksud tidak sopan.”
“Santai saja,” ucap Oberon sambil mulai menikmati makannya.
Oberon meletakkan sendoknya di piring, ia sudah menyantap habis hidangannya lalu mulai memasang kembali perban tersebut.
Ketika pria itu menjentikkan jari, seluruh gelembung di sekitar mereka pecah seketika, menjadi butiran air kecil yang nyaris tidak bisa dilihat oleh mata.
“Gelembung tadi hanya untuk memastikan keselamatan semua orang.” Oberon tiba-tiba berkata.
“Kenapa seperti itu?”
“Kondisi tubuhku sedikit spesial, aku harus menjaga sekelilingku agar tidak terkontaminasi.”
“Apa kau semacam Bestial yang beracun atau sejenisnya?’ Kirana menebak.
Oberon terdiam sesaat, perlahan ia mengangguk. “Tapi tidak masalah, aku sudah terbiasa. Maaf kalau mengejutkan dirimu.”
“Iya, aku lumayan terkejut, tapi tadi sangat keren.”
__ADS_1
Andai Oberon tidak mengenakan perban di sekeliling wajahnya, ia yakin kini semburat merah sudah menghiasi pipinya. Tidak banyak mahluk yang mau memuji Bestial seperti dirinya. Sedikit, Oberon mulai paham mengapa Xavier tertarik dengan gadis tersebut.
Bahkan walau Kirana bilang ia hanya berteman dengan Xavier, tapi Oberon yakin, Xavier menganggapnya lebih dari itu. Oberon mengenal baik Xavier, pria itu sangat pemilih. Terutama soal perempuan yang ada di sekitarnya.
“Oh iya, kamu tadi mau cerita soal Suku Serpent?” Kirana teringat. “Jadi, bagaimana?”
Oberon menghela napas. “Suku Serpent adalah salah satu suku yang dibenci oleh para penduduk Forest Region. Itu karena mereka adalah suku yang keji terhadap Bestial lain. Mereka tidak segan membunuh Bestial lain untuk dijadikan makanan.”
Kirana menelan ludah, itu terdengar mengerikan baginya, terutama karena Xavier berasal dari suku seperti itu.
“Tapi, Xavier bilang dia belum pernah makan Bestial lain…,” ucap Kirana pelan. Di dalam hati, Kirana melanjutkan. “...kecuali Shan.”
“Benar, Xavier berbeda. Walau ia mewarisi sikap dingin Suku Xavier, tapi dia memiliki prinsip hidupnya sendiri. Perbedaan itu yang membuat Xavier meninggalkan sukunya sejak ia kecil.”
“Lalu, apa itu berhubungan dengan penyerangan kepada kami?”
Oberon mengangguk. “Berdasarkan informasi yang kudapat, Suku Sepernt beberapa tahun belakangan mengubah gaya hidup mereka menjadi nomaden. Aku rasa mereka meningkatkan jumlah konsumsi sampai sumberdaya di tempat asal mereka habis. Makanya mereka mulai hidup nomaden.”
Pria itu melanjutkan. “Setiap lokasi yang mereka datangi, sumberdaya nya akan langsung habis diburu, beberapa Suku predator pun mengeluh akan hal tersebut. Namun, beberapa suku masih hidup taat di dalam aturan kerajaan, jadi mereka tidak akan menyerobot makanan dari wilayah lain.”
“Kalian kebetulan lewat di wilayah yang sedang diduduki oleh Suku Serpent, mungkin mereka sedang dalam masa perburuan, tidak sengaja melihat kalian bertiga dan akhirnya menyerang.”
“Walau pun ada Xavier di sana?” tanya Kirana.
“Ini hanya asumsiku, tapi kurasa, saat mereka tahu ada Xavier di sana, mereka pasti berencana untuk memakannya juga.”
“Itu tidak mungkin kan?” Kirana menggeng tidak percaya.
“Dalam kasus Suku Serpent itu sangat memungkinkan.” Oberon merangkum jemari tangannya di atas meja, matanya menatap lekat Kirana. “Aku juga khawatir mereka tahu dirimu adalah manusia.”
“Jadi, kedatangan kami bertiga adalah pesta pora bagi mereka?”
“Benar sekali.”
Kirana jadi khawatir, Xavier belum tahu kalau dirinya berada di Whispering Grove. Bagaimana kalau Bestial itu bertemu dengan sukunya terlebih dulu dan diperdaya oleh mereka.
“Tidak, tidak,” Kirana menepis pikirannya. “Xavier sangat kuat, dia tidak akan tertipu ilusi murahan.”
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Oberon.
“Kalau pun suku Serpent berniat berbuat buruk pada Xavier, itu tidak akan berhasil padanya bukan? Maksudku, dia sangat kuat. Seharusnya ia bisa melindungi dirinya sendiri,” kata Kirana.
__ADS_1
“Suku Serpent adalah suku yang terkenal dengan kemampuan ilusi dan manipulasi indra,” ucap Oberon. “Jika Xavier bertemu dengan mereka kembali, aku tidak yakin pria itu mampu keluar dari sana seorang diri.”
Kirana tercengang. “Lantas, dia akan…”
“Diperdaya, dilemahkan dan dibunuh.”
“Tidak! Itu tidak mungkin terjadi!” Kirana bangkit dari kursi, mengejutkan Oberon. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi pada Xavier. Aku akan menyusulnya!”
“Menyusul kemana?”
“Suku Serpent!”
“Tapi, memangnya dia ada di sana?”
Kirana terdiam. Semangat berkobarnya seketika padam. Gadis itu menggaruk pelipisnya sambil terkekeh pelan. “Kamu benar, aku tidak tahu dimana ia berada sekarang.”
Oberon menghela napas. Sambil bersedakp ia berkata, “Aku juga khawatir pada Xavier. Kalian aman berada di kota ini, tapi Xavier saat ini pasti sedang mencarimu.”
“Apa tidak mungkin bagi Xavier menemukan kota ini?”
“Aku tidak bisa menjawabnya, pria itu terlalu abu-abu menurutku.”
Kirana manggut-manggut, tampaknya ia juga setuju dengan pernyataan Oberon.
“Jadi, sekarang bagaimana? Aku tidak mau diam menunggu di sini,” ucap Kirana. “Aku ingin mencarinya.”
“Aku akan menemanimu.” Oberon bangkit dari kursi. “Ayo, kita cari Xavier bersama.”
“Sungguh, kamu akan membantu?”
Oberon mengangguk. “Aku berutang nyawa pada pria itu, jika Xavier saat ini butuh bantuan, kurasa sekarang waktu yang tepat untuk balas budi.”
Kirana ingin bertanya lebih lanjut soal tersebut, tapi Oberon sudah berbalik dan melenggang ke kasir. Pria itu tampak mengeluarkan pecahan logam dan menyerahkannya kepada Bestial kapibara yang bertugas di kasir.
“Bahkan ada mata uang,” gumam Kirana takjub.
Setelah membayar, Oberon mengajak Kirana kembali ke tempat ia tadi di rawat. Ketika pintu ruang di buka, di saat bersama Ezekiel juga akan keluar dari sana. Bestial elang itu memekik bahagia bertemu dengan Kirana. Ia hampir memeluknya tapi Oberon langsung memasang badan di depan Ezekiel.
“Siapa kamu? Kenapa menghalangi!” Ezekiel seketika bersikap waspada.
“Ezekiel tenang, dia teman Xavier,” Kirana muncul dari balik punggung Oberon. “Dia dan beberapa Bestial kapibara di sini sudah menyelamatkan kita. Bersikaplah yang baik padanya, oke?”
__ADS_1
Ezekiel manyun, tapi ia memilih untuk menurut. Setelah itu ia bersikap lebih tenang di hadapan Oberon. Sementara, Oberon sendiri takjub melihat pengaruh Kirana terhadap Bestial elang tersebut. Pria itu menduga-duga, apakah Kirana juga bisa membuat Xavier menurut seperti itu padanya.
“Gadis yang menarik,” gumam Oberon.