
Kirana menceritakan apa yang telah terjadi kepada Ezekiel. Bestial elang itu manggut-manggut mencerna penjelasan sambil menatap wajah gadis di hadapannya, lekat. Kirana sampai salah tingkah sendiri karena Ezekiel tidak berhenti melihat ke arah matanya.
“Jadi, kita sekarang akan pergi mencari si ular itu?” tanya Ezekiel, menyimpulkan hasil cerita Kirana.
“Iya, kondisi Xavier mungkin sedang tidak baik-baik saja saat ini,” jawab Oberon.
Ezekiel menyipitkan kedua matanya, sulit baginya mempercayai Oberon. Apalagi karena ia mengaku kenal Xavier. Di kepalanya, Bestial seperti Xavier tidak mungkin berteman dengan siapa pun. Ular yang ketus, dingin dan dominan seperti itu hanya akan membuat rekannya kelelahan. Apalagi Oberon—dia tampaknya spesies yang berbeda dari Xavier. Ada sesuatu dalam diri Oberon yang membuat Ezekiel merasa tidak nyaman.
“Kenapa melihatku seperti itu?” Pertanyaan Oberon mengejutkan Ezekiel. Namun, pemuda itu memilih untuk jujur.
“Aku masih tidak bisa mempercayaimu.”
“Kurasa kau juga bahkan tidak percaya pada Xavier, walau kalian sudah melakukan perjalanan bersama,” balas Oberon.
“Kami tidak melakukan perjalanan bersama! Aku hanya mengikuti Kirana!” tukas Ezekiel, sebal.
Oberon menoleh ke arah Kirana. “Oh, aku paham sekarang.”
“Paham apa?” Kirana memiringkan kepalanya, tidak mengerti.
“Aku penasaran mengapa aroma-mu tercampur oleh Xavier, lalu di sisi lain, Ezekiel mengejarmu, hahaha. Aku sampai lupa kalau sebentar lagi musim kawin.” Oberon tertawa sambil memegangi topi di kepalanya.
“Aroma Xavier?” Ezekiel menoleh pada Kirana, lalu menghirup udara dalam-dalam, seketika ekspresi wajahnya berubah. “Benar! Hah! Apa yang ular itu lakukan padamu? Kirana!”
Kirana mendorong tubuh Ezekiel yang merapat terlalu dekat padanya. “Ezekiel, tenanglah. Kami tidak melakukan apa pun.”
“Apakah kau tahu artinya kalau aroma Bestial jantan secara spesifik menempel di tubuh wanita seorang betina?”
“Pertama, aku bukan betina,” koreksi Kirana. “Aku manusia, bukan Bestial. Jadi sebutan yang tepat untukku adalah perempuan.”
“Baiklah, aku minta maaf.” Ezekiel menunduk, merasa bersalah.
Kirana menepuk pundak Ezekiel. “Jangan diambil hati, wajar kamu tidak bisa membedakannya.”
“Ini luar biasa,” celetuk Oberon, mengalihkan perhatian Kirana dan Ezekiel seketika.
Oberon melanjutkan. “Xavier yang kukenal dulu pernah berkata tidak akan kawin dengan satu pun Bestial.” Ia lalu menatap Kirana. “Melihat keadaanmu saat ini, Kirana, tampaknya Xavier telah berubah pikiran. Sepertinya kau yang mengubahnya?”
__ADS_1
Kirana mengerutkan kening, ragu. “Memang kapan Xavier berkata seperti itu padamu?”
“120 tahun yang lalu, kurasa.”
“Ya wajar saja kalau pikirannya berubah,” tanggap Kirana, gemas sendiri. “120 tahun itu waktu yang lama lho. Siapa pun bisa berubah pikiran kalau waktu sudah lewat lebih dari seratus tahun.”
“Siapa tahu kau yang mengubahnya, bukan?” kata Oberon.
“Aku tidak tahu apa-apa soal itu,” jawab Kirana, wajahnya tampak memerah..
Mereka bertiga bercakap-cakap sampai tidak terasa sudah sampai di gerbang kota Whispering Grove. Di depan gerbang itu terdapat kumpulan kabut putih kelabu yang tebal.
Percakapan mereka terhenti, ketiganya menatap kabut tersebut. Terutama Ezekiel dan Kirana, keduanya saling tatap karena ragu untuk berjalan menembus kabut. Sementara, Oberon melangkah memimpin di depan keduanya.
Ia berbalik sebelum masuk ke kabut. “Jangan khawatir, kabut ini tidak akan menyesatkan kalian.”
“Bagaimana kalau kita terpencar?” Kirana yang saat ini merasa terpisah oleh Xavier tidak ingin ada orang yang dikenalnya terpisah lagi darinya.
“Jangan terlalu jauh dariku,” instruksi Oberon.
Kirana dan Ezekiel pun mengangguk paham dan mengikuti Oberon masuk ke kabut.
Ketiganya berhasil keluar dari kabut tidak lama kemudian. Mereka muncul di sisi tebing, tidak jauh dari lokasi air terjun. Dilihat dari jarak perjalanan yang terasa panjang, Kirana merasa Whispering Grove seperti kota yang disembunyikan oleh kabut mistis.
Gadis itu ingat kalau kota yang dihuni Bestial kapibara itu seharusnya sangat luas dan terlihat di sekitar air terjun. Namun, dari lokasinya berada sekarang, di sekitar air terjun hanya terdapat kepulan kabut yang terlihat seperti titik-titik embun yang dihasilkan air terjun.
“Tempat yang misterius sekali,” gumam gadis itu, merinding sekaligus takjub.
“Sekarang, kita harus cari Xavier kemana?” tanya Kirana pada Oberon.
“Aku bisa terbang dan memantau dari langit,” usul Ezekiel.
“Hmm, tidak,” sela Oberon. “Kita tidak akan bisa menemukan suku Serpent dari tempat tinggi. Suku itu cenderung membangun tempat tinggal di lokasi yang lebih tertutup.”
“Jadi bagaimana cara melacaknya? Aroma Xavier?’ tanya Ezekiel.
“Ada yang jauh lebih akurat daripada aroma tubuhnya.” Oberon mengeluarkan sebuah tabung dari balik pakaiannya. Ia memperlihatkan benda berisi racun tersebut kepada Kirana dan Ezekiel. “Ini adalah racun yang ku keluarkan dari tubuh kalian. Dibuat langsung oleh Suku Serpent.”
__ADS_1
“Kau akan mendeteksinya dengan itu?” Kirana tampak cemas. “Apa tidak berbahaya?”
Oberon tertawa kecil. “Racun ini tidak berbahaya untukku.”
Setelah berkata demikian, Oberon meminta Kirana dan Ezekiel menunggu di tempat. Sementara ia lompat menaiki batu-batu dan sampai ke puncak di pinggir tebing. Oberon membuka perban di bagian mulut dan kedua tangannya, ia lalu meminum racun di dalam tabung tersebut.
Tubuh Oberon bereaksi saat racun masuk ke dalam aliran darahnya. Di kedua tangannya, tampak pembuluh darah biru mencuat di permukaan kulit. Pembuluh darah itu bergerak teratur, memproses kulit-kulit Oberon yang semi permeable saat sedang mencari informasi dari sekelilingnya.
Oberon secara spesifik mengikuti aroma, rasa dan struktur dari setiap komponen yang ada di dalam racun tersebut. Matanya seakan bisa melihat seluruh area hutan, muncul garis-garis berwarna sebagai penunjuk arah keberadaan objek yang dicarinya.
Di antara material-material yang digunakan untuk membuat racun, ada satu bahan yang tidak berasal dari hutan. Oberon bisa melihat jejaknya di antara pohon-pohon dan semak belukar, terus menurun ke bawah tebing. Di sisi berlawanan dari mereka, ada sebuah batu besar yang tampak biasa saja. Namun di belakangnya terdapat sebuah jalan rahasia yang menuntun ke sebuah desa nomaden.
Oberon tersentak. Ia sudah menemukan lokasi suku Serpent. Samar-samar, Bestial itu juga merasakan hawa keberadaan Xavier di sana. Ada aroma yang sama dengan di tubuh Kirana, terdeteksi di desa tersebut.
“Xavier sedang bersama Suku Serpent,” lapor Oberon seraya mendarat di hadapan Kirana dan Ezekiel.
“Kau sudah menemukannya?” Ezekiel terkejut. Ia tidak menyangka Bestial berpakaian nyentrik di depannya ternyata cukup lihai.
Oberon mengangguk. “Aku tahu lokasi Suku Serpent, kita berangkat ke sana sekarang.”
“Oke, ayo!” Kirana setuju.
Setelahnya, Oberon memimpin jalan menuju lokasi Suku Serpent. Ezekiel yang penasaran menghampiri Kirana yang berjalan tidak jauh di belakang Oberon.
Pemuda itu berbisik kepada Kirana, “Dia bilang kenal dengan Xavier, memang dia Bestial tahap berapa?”
“Dia Bestial Tahap Keempat,” jawab Kirana.
“Ugh, pantas saja,” desis Ezekiel.
“Memangnya kenapa?”
Ezekiel buru-buru menepis kekesalan di wajahnya, ia menggeleng pelan pada Kirana. “Tidak apa-apa, aku cuma penasaran.”
Di dalam diamnya, Ezekiel merasa dirinya selalu yang paling lemah di antara Bestial-Bestial yang mereka temui. Selama berada di Suku Falco, Ezekiel memang salah satu yang terkuat di antara mereka. Namun, setelah bertemu Xavier, ia merasa dirinya tidak sekuat yang ia kira.
Ezekiel malu mengakuinya, tapi hati kecilnya berteriak seakan ingin memberitahu kenyataan bahwa dirinya memang tidak cukup kuat untuk melindungi Kirana.
__ADS_1
Kedua tangannya mengepal menahan emosi, Ezekiel juga ingin berevolusi dan menjadi lebih kuat. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya atau kapan ia bisa mencapai tahap itu. Sambil berjalan ia menatap punggung Kirana yang jauh. Untuk pertama kalinya, Ezekiel merasa dirinya sangat kecil.