A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 24: Xavier dan Shan


__ADS_3

Xavier menggertakkan giginya. Ia tidak menyangka Shan menyiapkan jebakan untuk dirinya. Shan menyebarkan aroma tubuhnya—jauh dari desa, ia tahu Xavier akan melacak jejaknya. Namun, yang Xavier temukan bukanlah Shan, hanya sebuah lapangan kosong. Saat itulah Xavier menyadari kalau Shan menipunya. Shan berniat mejauhkannya dari desa agar manusia-harimau itu bisa menjebol pertahanan Suku Cervid.


“Lihat siapa yang baru tiba,” ucap Shan, meledek Xavier. “Aku tebak kau berlari sangat cepat menuju kemari.”


Xavier tidak ingin meladeni ucapan Shan yang memprovokasi, hanya dalam satu kedipan mata ia sudah berada di depan Shan, melayangan tendangan yang diiikuti bias berwarna hitam dengan percikan energi kegelapan.


Shan masih bisa menyeringai, tangan kiri manusia-harimau itu menepis tendangan Xavier, lalu ia maju selangkah sambil melayangkan pukulan yang dibalut kobaran api.


Xavier berkelit ke samping, melayangkan cakaran dari samping tubuh Shan. Namun Shan menangkisnya dengan satu tangan, genggamannya mencengkram lengan Xavier, menguncinya agar tidak bisa lari. Shan langsung melancarkan tendangan ke arah kepala Bestil ular itu.


Xavier membuat perisai hitam setengah transparan untuk menangkis tendangan Shan. Gema tendangan dari Shan menyebar ke sekeliling mereka, menghasilkan angin kencang panas dan menerbangkan pondasi rumah-rumah.


“Luar biasa kau bisa menahannya, manusia ular,” ucap Shan. “Bagaimana kalau yang ini?”


Shan membuat pusaran api di tangan yang memadat, menjadi bola api membara. Ia lontarkan bola api itu dari jarak dekat. Xavier dengan refleksnya yang luar biasa berubah menjadi bayangan hitam seperti ular kecil yang meliuk ke bawah, menghindari serangan bola api dan berubah lagi menjadi wujud manusia dalam waktu kurang dari sedetik.


Terkejut melihat gerakan itu, Shan sempat mematung beberapa saat. Momen singkat itu dimanfaatkan Xavier, tendangannya berhasil mengenai Shan. Tubuh manusia-harimau itu terpental jauh ke depan, menabrak dinding kayu sampai hancur dan masih terus terpelanting, meninggalkan belahan memanjang di permukaan tanah.


Xavier tidak memberi jeda untuk Shan, manusia-ular itu lompat ke langit, lalu melayangkan tendangan ke atas tubuh Shan. Shan yang tersadar kalau dirinya terkena serangan, merasa harga dirinya dilukai oleh Xavier. Ia mengaum dan cahaya kemerahan membungkus tubuhnya.


Shan menyadari Xavier datang dari atas, manusia-harimau itu salto ke belakang tepat sebelum kaki Xavier mendarat dan menciptakan lubang besar karena injakan kakinya.


“Akan kubalas,” kata Shan sambil menciptakan sepasang pedang api di tangannya. Xavier pun ikut menciptakan tombak berwarna gelap. Ia melirik desa Suku Cervid jauh di belakang, baginya yang terpenting saat ini adalah membawa Shan menjauh dari desa dulu. Mereka tidak boleh bertempur di dekat desa.


“Sekarang sudah aman,” gumam Xavier. Shan memiringkan kepalanya, tidak mengerti maksud perkataan Xavier.


Manusia-ular itu tersenyum miring, kedua mata kuningnya menyala di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti sekeliling mereka. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, digantikan oleh kilau keperakan bulan.

__ADS_1


“Aku menahan kekuatanku sejak tadi,” kata Xavier, dingin dan mengintimasi.


Shan sama sekali tidak terganggu dengan hawa mencekam tersebut. Ia justru nyengir, meladeni Xavier. “Sama kalau begitu, kali ini aku akan serius.”


Keduanya menguatkan genggaman pada senjata masing-masing. Hening. Hanya angin yang bertiup. Mereka menunggu momentum yang tepat untuk saling melancarkan serangan.


Xavier dan Shan berseru bersamaan, keduanya menjejakkan kaki di tanah sambil menimbulkan retakan. Dalam sekali tarikan napas, ujung tombak dan kedua pedang itu saling bertemu di udara, menyerang dan menangkis satu sama lain.


Kilatan merah melintang, menciptakan tirai api yang membara dan membelah hutan, membakar rumput serta pepohonan, Xavier menghindar sambil menghunuskan ujung tombak hitamnya, percikan dari energi kegelapan menyebar, menarik benda-benda ke sekitarnya dan menghancurkannya menjadi partikel debu. Shan menatap tombak itu penuh ancaman. Walau ia berhasil menghindar, tapi ia segera menyadari kalau tidak boleh sampai terkena percikan hitam itu.


“Kau pengendali elemen kegelapan?” tanya Shan sambil mengayunkan kedua pedangnya yang tersulut api bersamaan.


Xavier tidak menjawab, ia fokus mengalirkan kekuatannya ke badan tombak untuk menahan kedua ujung pedang Shan yang ditangkisnya.


“Aku jarang melihatnya, bahkan kurasa ini pertama kalinya,’ lanjut Shan. Ia berusaha terlihat tidak terbebani dengan pertarungan tersebut. Ekspresinya bertolak belakang dengan Xavier yang selalu terlihat serius.


Xavier pun segera bertindak. Ia menciptakan partikel kegelapan di udara, membentuk bola hitam yang menembakkan garis bercahaya ke tanah. Saat itulah tanah-tanah menjadi hancur dan terangkat ke udara, menyusun menjadi sebuah dinding yang dibalut energi kegelapan.


Singa api itu menghantam dinding yang diciptakan Xavier dan hancur menjadi percikan api kecil. Shan menggeram, itu tadi adalah salah satu teknik andalannya, tapi berhasil digagalkan Xavier. Sementara manusia ular itu menciptakan pusaran-pusaran kegelapan di permukaan tanah. Bayangan merangkak keluar dan membelit, berubah menjadi sosok ular raksasa yang menembakkan energi hitam ke arah Shan.


Shan berlari memutar untuk menghindar. Tanpa manusia-harimau itu sadari, langkahnya semakin jauh dari desa. Xavier berhasil menggiringnya masuk jauh ke dalam hutan.


***


Sementara itu di desa Cervid, kekacauan masih berlanjut. Beberapa prajurit Suku Cervid tampak berjaga di depan lintasan yang menuju ke aula—tempat para manusia-rusa yang terluka tengah dirawat oleh tim medis. Namun, tidak lama kemudian, beberapa Bestial kadal kebun yang berhasil masuk ke desa menyerang mereka.


Para penjaga itu baru dilatih beberapa lalu, jelas insting bertarungnya kalah dengan para manusia-kadal yang terlatih berburu dan bertarung sejak kecil. Sabetan-sabetan dari kapak membelah dada dan perut para manusia-rusa itu, mereka jatuh tergeletak di tanah, darah mengalir dari luka-luka tersebut.

__ADS_1


Beberapa Bestial coyote yang sudah kelaparan dan tidak bisa membendung nafsunya langsung menghampiri para bestial rusa yang sudah mati, mereka mulai menggerogoti daging-daging tersebut, memakannya dengan rakus.


Tidak bisa dipungkiri, sejak menjadi bawahan Shan, jatah buruan para Bestial coyote dirampas oleh Shan untuk mengisi perutnya sendiri, itu sebabnya mereka menjadi sangat kelaparan.


Dari atas langit, Ezekiel tiba-tiba menjatuhkan tombak-tombak yang dialiri elemen petirnya. Ketika tombak itu menancap ke tanah, listrik menyebar dengan cepat dan menyetrum tanpa pandang bulu. Namun, yang tersisa di lapangan tengah memang hanya Bestial coyote dan kadal kebun yang tengah memakan tubuh para rusa merah yang sudah mati.


Sementara Bestial rusa merah lain yang masih hidup sudah lari mundur ke belakang, ke arah kubah perlindungan. Sebagian lainnya berada di atas dipan dinding kayu, mereka masih bisa bertarung.


Berkat Ezekiel, para Bestial coyote itu sebagian besar mati, yang masih hidup pun tampak lemas dan hanya kejang-kejang di atas tanah. Pemanah dari suku Cervid langsung menghujani mereka dengan anak-anak panah beracun.


“Sial, padahal tadi kukira korbannya tidak akan sebanyak ini,” gumam Ezekiel, lirih. Pendengarannya tiba-tiba menangkap sesuatu, suara yang samar berubah menjadi besar. Frekuensinya yang melonjak tajam menyakiti indra pendengaran burung gagak itu. Ia melihat ke arah sumber suara, tampak manusia-burung hantu bawahan Shan, Awol melancarkan serangan elemennya.


Manusia-burung itu mengeluarkan teriakan ultrasonik, gemanya membentuk gelombang bertekanan yang menghempaskan tubuh Ezekiel sampai terjatuh ke tanah. Ditambah teriakannya yang memekakkan telinga, Ezekiel kehilangan fokus dan indranya seperti dibutakan secara mendadak.


Awol maju memelesat sambil mengarahkan cakar kakinya, siap untuk mengoyak Ezekiel yang kehilangan kesadaran. Tepat saat tubuhnya sudah terbang cukup rendah, jalinan ranting dan dahan tumbuh ke arahnya, menghalangi Bestial burung hantu itu sekaligus mencengkram tubuhnya dengan belitan yang kuat.


“Aarg! Sialan!” Awol memberontak, berusaha melawan. Tapi kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan Hugo yang berada satu tahap evolusi di atasnya.


Hugo membelitkan jalinan akar di leher Awol, mencengkiknya sampai mati kehabisan napas. Bestial rusa merah itu langsung mendatangi Ezekiel yang masih pingsan. Ia menggunakan kemampuan penyembuhnya untuk menyadarkan Bestial elang itu.


“Ezekiel, bangunlah!” Hugo menepuk-nepuk pipi Ezekiel. Pemuda itu mengerjap matanya, sadar kalau masih berada di tengah pertarungan, Ezekiel langsung terlonjak seperti orang kaget.


“Hah? Apa? Bagaimana? Hugo?” Ezekiel berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Pergi ke kubah, aku lihat beberapa Bestial gagak terbang ke arah sana!” perintah Hugo. “Aku tidak bisa meninggalkan garis depan, masih ada beberapa pasukan Shan dari luar dinding yang akan masuk kemari.”


“Aku mengerti,” Ezekiel langsung bangkit. Ia membentangkan sayapnya dan terbang ke arah kubah perlindungan.

__ADS_1


__ADS_2