
Kirana menuruni tangga mengikuti langkah Oberon. Gadis itu terkejut melihat jalanan luas yang tampak ramai oleh banyak orang.
“Ini adalah jalan utama,” kata Oberon sambil berbalik. “Tempat ini selalu ramai, jadi jangan sampai terpisah dariku.”
Kirana mengangguk menurut. Ia mendekatkan jaraknya dengan pria bertopi itu agar tidak terpisah. Mereka berjalan di ruas kiri jalan, sementara ruas kanan berisi orang-orang yang melaju ke arah berlawanan dengan mereka.
Jalan yang dikavling itu luasnya lima belas meter. Kanan kirinya diapit oleh bangunan berbentuk kotak-kotak yang terbuat dari batu berwarna merah. Banyak lembar-lembar hiasan berupa daun kering dan aksesoris pernak pernik di setiap bangunan.
Jalanan itu didominasi oleh orang-orang berambut coklat dan berkulit coklat terang. Mereka mengenakan pakaian dari tenun. Laki-laki menggunakan pakaian pendek sampai lutut, sementara perempuan mengenakan pakaian panjang sampai betis kaki. Ada beberapa wanita yang mengenakan perhiasan di leher dan telinga mereka, seperti anting.
Dilihat dari pakaian dan struktur bangunannya, Kirana berkesimpulan kalau tempat ini memiliki peradaban yang jauh lebih maju dari Suku Cervid.
“Oberon,” panggil Kirana sembari melangkah menyusul ke samping laki-laki itu.
Oberon menoleh ke arahnya. “Ada apa?”
“Suku apa yang tinggal di sini tadi?” tanya Kirana, penasaran.
“Suku Caviidae,” jawab Oberon. “Mereka Bestial kapibara.”
“Kapibara?” Kirana tampak terkejut. Dikepalanya terbayang mamalia rodentia terbesar yang wajahnya sering muncul sebagai meme di internet.
“Masbro.” Kirana bergumam sendiri.
“Masbro apa?”
“Ah, bukan, itu…,” Kirana juga bingung bagaimana mejelaskannya. “Itu sebutan populer kapibara di dunia manusia.”
Tidak sepenuhnya salah, tapi tidak tepat juga. Pada dasarnya, kapibara menjadi bahan meme “Masbro” hanya berlaku di Indonesia.
“Apakah mereka suku yang ramah?” tebak Kirana.
Oberon mengangguk. “Kau tahu juga rupanya. Bestial kapibara adalah bestial teramah di Kerajaan Animal.”
Kirana membatin, bahkan kepopuleran kapibara hewan teramah melintasi dimensi dua dunia. Gadis itu belum pernah melihat kapibara sebelumnya selain dari internet. Namun, dilihat dari video-video yang beredar mereka memang tampak seperti hewan ‘ramah’ yang tidak terlalu mempedulikan keberadaan hewan lain di sekitarnya.
“Oh, jadi, kamu juga Bestial kapibara?” tanya Kirana sambil menatap antusias Oberon. Namun, Oberon justru tertawa.
“Tidak, aku bukan Bestial kapibara.”
Kirana memiringkan kepalanya bingung. Oberon langsung menjelaskan. “Seperti yang tadi kubilang, suku Caviidae sangat ramah, mereka mengizinkan Bestial jenis apa pun masuk ke dalam kota mereka.”
“Apakah itu tidak berbahaya?” Kirana berkata berdasarkan pengalamannya. Ia tidak bisa membayangkan jika tamu yang diizinkan masuk adalah Bestial seperti Shan.
“Kota ini disebut Whispering Grove bukan karena tidak ada sebab. Sekeliling kota ini sebenarnya dikelilingi oleh kabut misterius. Hanya Bestial yang berhati baik yang diizinkan masuk oleh kabut tersebut,” tutur Oberon.
“Bagaimana jika orang itu memiliki niat buruk?”
“Kabut itu akan menyesatkan mereka. Saksi yang berhasil keluar dari kabut mengatakan mereka seperti mendapat bisikan aneh dan dituntun ke tempat berbahaya, makanya jarang ada Bestial jahat yang selamat dari kabut tersebut.”
“Bestial kapibara ini berarti sangat beruntung.”
“Benar, mereka memiliki kepribadian yang santai dan tidak memiliki rasa waspada sama sekali, tapi kota mereka memiliki pelindung alami yang luar biasa,” kata Oberon, suaranya terdengar kagum dengan Suku Caviidae.
__ADS_1
“Peradaban di kota ini pun tampak maju,” komentar Kirana.
“Hoo.. apakah kau pernah pergi ke pemukiman suku lain sebelumnya?” tanya Oberon, tertarik.
“Pernah, Suku Falco dan Suku Cervid.”
“Ah, suku Cervid.” Oberon menjentikkan jarinya. “Mereka suku peramu obat herbal yang hebat, supplier bahan baku tumbuhan obat terbesar di kota ini berasal dari suku Cervid.”
Kirana mengangguk setuju. “Benar, pengobatan mereka sangat mujarab. Aku juga sempat dibawakan beberapa obat….” Tangan Kirana meraih ke pinggangnya, tapi tidak ditemukan keberadaan tas miliknya.
“Tasku? Kemana tasku?” Kirana berputar-putar di tempat, ia terlihat panik.
Oberon mengeluarkan sesuatu dari dalam jubah besarnya. Ia menunjukkan benda itu pada Kirana. “Tas ini maksudmu?”
“Benar! Ah, terima kasih!” Kirana langsung mengambil tas itu dari tangan Oberon. “Di dalamnya ada kenang-kenangan dari dunia manusia yang berharga.”
“Begitu, untung tidak kubuang tadi.”
Kirana mengangkat kepalanya, ekspresinya berubah syok. Namun, sejurus kemudian Oberon tertawa. “Bercanda. Aku tidak mungkin melakukan itu tanpa izin.”
“Ada-ada saja,” Kirana menghela napas sambil tersenyum.
Mereka melewati jembatan kayu yang membelah aliran sungai kecil. Kota itu memiliki banyak anak sungai, semua dihubungkan dengan jembatan kayu. Setiap beberapa rumah akan diberi pagar kotak, sehingga bangunan-bangunan itu tampak tersusun rapi jika dilihat dari atas. Di tengah kota terdapat bangunan tinggi besar seperti piramid.
“Itu tempat berdoa para Suku Caviidae,” terang Oberon saat Kirana menanyakan kegunaan bangunan tersebut.
Mereka melewati satu jembatan lagi dan tiba di area yang tampak seperti rumah-rumah penduduk. Anak-anak tampak bermain sambil berkejaran di halaman rumput yang luas. Bestial dewasa tengah melakukan pekerjaan harian mereka, ada juga yang bersantai sambil mengobrol dengan para tetangganya. Kehidupan di sana terlihat damai dan santai, sedikit mengingatkan Kirana dengan tempat tinggal aslinya.
“Nah, kita sampai,” ucap Oberon.
“Ah, dia sudah sadar!”
“Benar, untunglah kalian langsung membawanya padaku, jadi nyawanya masih bisa kuselamatkan,” kata Oberon.
Kirana menoleh bergantian dari Oberon ke wanita itu, ia tidak ingat apa yang sudah terjadi. Wanita itu menangkap kebingungan di wajah Kirana dan menjelaskannya. Saat ia dan wanita-wanita lain sedang mencuci pakaian, anaknya menemukan tubuh Kirana yang mengambang di kolam.
“Kami semua khawatir saat menemukan tubuhmu yang sudah dingin,” cerita wanita itu, menggebu-gebu. “Untunglah aku ingat kalau Tuan Oberon sedang berada di kota, jadi kami membawamu kepadanya.”
Kirana tersenyum. “Jadi begitu, terima kasih karena sudah menyelamatkan ku dari kolam.”
“Tidak apa-apa,” balas wanita itu. “Aku hanya mengangkatmu dari air, tapi tuan Oberon yang sudah membuat jantungmu berdetak kembali.”
Kirana menoleh kepada Oberon, ia tersenyum lebar dan berkata dengan tulus. “Terima kasih, Oberon. Maaf tadi sempat meragukanmu.”
Oberon mengangkat topinya sambil menundukkan sedikit kepala. “Senang bisa membantu teman Xavier.”
Setelah bertemu dengan orang yang menyelamatkannya, Oberon mengajak Kirana ke sebuah restoran. Kirana cukup terkejut karena ini pertama kalinya ia masuk ke restoran di Kerajaan Animal. Di dalam bangunan persegi itu terdapat ruang luas beralaskan batu-batu yang sudah dipotong tipis dan dihaluskan.
Meja dan kursi-kursi kayu tersusun rapi dengan ragam ukuran. Kirana dan Oberon duduk di meja dekat jendela berbentuk kotak yang menampilkan pemandangan kota Whispering Grove. Mata Kirana tampak antuasias melihat peradaban itu. Namun, tidak lama kesedihan terpancar dari sorot matanya. Ia memikirkan Xavier, beharap pria itu ada di sini.
“Kau mau pesan apa, Kirana?” tanya Oberon, memecah lamunan gadis itu.
“Hmm.. sayur dan buah.”
__ADS_1
“Bisa lebih spesifik?”
“Memang ada apa saja?”
Oberon menyerahkan batu tulis kepada Kirana. Gadis itu terkejut melihat rentetan simbol yang tidak bisa ia baca. “Tunggu, ini huruf?”
“Iya, huruf resmi di Kerajaan Animal.”
“Ada huruf disini? Kalian bisa baca-tulis?”
Oberon tidak bisa menahan tawanya. “Tentu saja.”
Pria itu tiba-tiba menepuk tangannya. “Ah, aku mengerti. Selama ini kau bertemu suku yang tidak mengenal huruf dan alat tulis ya?”
Kirana mengangguk.
“Beberapa suku Bestial memang sudah cukup maju, mereka bisa menulis dan membaca. Namun, hanya sedikit suku yang bisa melakukan hal tersebut.”
“Kenapa begitu?”
“Kebanyakan suku hanya fokus untuk bertahan hidup ketimbang mengajari penduduk mereka membaca dan menulis. Berbeda dengan suku yang sudah cukup stabil, melakukan transfer teknologi dan pengetahuan jadi lebih mudah dilakukan,” jelas Oberon.
Kirana manggut-manggut. Ia kini merasa Kerajaan Animal jauh lebih kompleks daripada kelihatannya. Ia mengira selama ini semua Bestial masih hidup dengan gaya primitif seperti di jaman batu.
“Jika kau terkejut dengan Whispering Grove, itu artinya kau harus berkunjung ke kota milik Suku Pongo,” saran Oberon.
“Disana ada apa?”
“Peradaban yang lebih maju dari ini.”
Kirana menelan ludah. Ia sering mendengar Suku Pongo, bahkan kebanyakan bestial yang tidak tahu dirinya adalah manusia selalu menganggap Kirana sebagai bagian dari Suku Pongo. Ia jadi penasaran dan ingin melihat kota tersebut.
“Apakah pakaian yang kamu pakai itu juga dibeli dari Suku Pongo?”
“Tepat sekali.”
Sekali lagi, Kirana tenggelam dalam lamunannya. Andai ia sudah bertemu Xavier nanti, ia akan membujuk pria itu agar mau mampir dulu di wilayah Suku Pongo.
“Ah, jadi mau pesan apa?” tanya Oberon lagi.
“Aku tidak bisa membaca tulisannya, tolong bacakan untukku,” pinta Kirana sambil menyerahkan batu tulis itu pada Oberon.
“Benar juga, maaf atas ketidakpekaanku.” Oberon menyebutkan nama-nama menu tersebut dan Kirana memilih yang paling terdengar familiar di telinganya.
Tidak lama, pesanan mereka datang. Seorang Bestial kapibara wanita menghidangkan semangkuk daging panggang dengan sayur-sayuran dan satunya lagi semangkuk sayuran yang atasnya diberi taburan daging ikan kering.
“Ini terlihat seperti makanan di dunia manusia,” gumam Kirana takjub. Ia tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Tangannya dengan cekatan membuat potongan pada pinggir daging panggang itu.
Air mata gadis itu mengalir saat ia menelan potongan dagingnya. “Enak. Ini enak sekali. Akhirnya aku bisa makan makanan seperti ini lagi.”
Oberon yang melihat Kirana menangis sampai keheranan. “Kau baik-baik saja?”
Kirana mengangguk. “Iya, aku hanya terharu bisa makan makanan yang enak.”
__ADS_1
Dibalik perban yang menutupi wajahnya, Oberon tersenyum. Ia bisa memahami penderitaan gadis itu. Ia pun dulu begitu saat pertama kali mencicipi makanan olahan pertamanya di Whispering Grove.
Bagaimana pun, pria itu bisa sampai di tahap sekarang semua berkat Xavier.