
Kabut turun menyelimuti desa yang tersembunyi di balik tebing, Suku Serpent yang sebagian besar masih membawa kebiasaan hidup leluhur mereka justru semakin aktif saat matahari tenggelam. Api-api unggun menyala di depan rumah, diikuti oleh beberapa obor yang dinyalakan sepanjang jalan setapak.
Beberapa Bestial ular dewasa terlihat asik menyantap daging-daging mentah, sementara anak-anak mereka hanya diam di sudut, menunggu sampai dipanggil dan diberi sisa makanan. Tidak banyak yang disisakan, kadang hanya tulang atau kulit.
Dari kejauhan, Xavier memandangi anak-anak ular tersebut. Ada salah satu anak berambut hitam yang tubuhnya kurus sekali. Sosok anak itu mengingatkan Xavier akan dirinya yang dulu. Tidak lama setelah ia berevolusi dan menjadi Bestial tahap pertama, Xavier dalam wujud anak kecil harus menjelajah hutan seorang diri. Tidak mudah bagi Bestial anak-anak untuk bertahan hidup di alam liar. Namun, alam liar paling ganas sekali pun jauh lebih baik ketimbang suku Serpent.
Kirana berdiri dari dipan dan berniat turun ke bawah, bergabung dengan Bestial lain yang tengah makan malam. Xavier buru-buru menahan lengan Kirana.
Kirana tersentak kaget, ia pun berbalik dan menatap Xavier dengan pandangan bingung.
“Kau mau kemana?” tanya Xavier.
“Makan malam,” jawab Kirana. Ia terlihat lebih gugup dibanding biasanya. “Memangnya kamu tidak lapar?”
Xavier tidak menjawab pertanyaan Kirana. Ia justru menarik tubuh gadis itu dan menyruuhnya duduk kembali di dipan.
“Kau di sini saja, biar aku yang ambilkan makanan untukmu,” kata Xavier.
“Eh, tapi….”
“Lebih baik kau tidak dekat saat mereka sedang menyantap daging mentah, aroma mu bisa membuat mereka kehilangan akal,” terang Xavier.
“Baiklah, kalau menurutmu ini yang terbaik.” Kirana merasa tidak punya pilihan lain. Ia pun akhirnya memutuskan tetap tinggal di sana, sementara Xavier pergi untuk mengambil beberapa potong daging.
Kirana menghela napas setelah Xavier pergi. Ia bisa sedikit lebih tenang. Sekujur tubuhnya merinding saat Bestial ular itu berada di sampingnya sepanjang hari. Ia takut ketahuan. Satu saja kesalahan mungkin Xavier akan segera mengetahui bahwa ia bukanlah Kirana yang asli.
Dari balik bayang-bayang kegelapan, seorang Bestial ular wanita muncul. Ia berjalan mendekati Kirana dan berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Kau terlihat senang saat ia pergi.”
Kirana hampir lompat dari tempatnya karena kaget. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Lilith bersedekap sambil tersenyum miring. Sekilas, ekspresi Lilith mirip seperti Xavier, hanya saja wajah wanita itu lebih tirus dan dagunya lebih runcing.
“Ibu, jangan muncul tiba-tiba seperti itu! Bagaimana kalau Xavier sampai tahu?”
Lilith tertawa kecil. Wanita itu berjalan mendekati Bestial ular yang tengah menyamar menjadi Kirana tersebut. Lilith merangkum wajah Kirana, ia memperhatikan setiap detail wajah di tangannya dengan bangga.
“Jangan khawatir, dia tidak akan tahu,” kata Lilith, percaya diri. “Kekuatan penyamaranmu memang luar biasa.”
“Dia Bestial Tahap Keempat, ilusi kita tidak akan bisa menahannya terlalu lama,” peringat putrinya yang masih dalam wujud Kirana.
__ADS_1
“Jika hanya aku yang berusaha menghalanginya, jelas tidak akan bisa bertahan. Namun, aku tidak sendirian, seluruh penduduk di desa ini membantuku.”
Kirana menghela napas panjang. “Kau dan penduduk desa bisa bersantai, tapi aku yang tertekan di sini! Aku tidak tahu menahu tentang Kirana, aku khawatir kalau tindakan dan ucapanku berbeda dari Kirana yang dia kenal!”
“Sudah kubilang, apa yang Xavier lihat darimu adalah apa yang dia bayangkan. Semakin kuat ingatannya tentang gadis itu, semakin nyata wujud ilusinya.” Lilith duduk di dipan sambil melipat kakinya. “Bisakah kau sedikit percaya pada Ibumu ini? Rencanaku tidak akan gagal.”
“Rencanamu terlalu ambisius.”
“Kita harus berambisi untuk masa depan suku ini.” Lilith menatap putrinya, tajam. “Tidakkah kau ingin anak-anak yang lahir dari rahimmu itu kuat?”
Kirana menelan ludah. Kepalanya mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kau harus kawin dengan Xavier, lalu saat ia lengah, gunakan ini padanya.” Lilith memberikan sebuah botol kaca kecil pada Kirana.
“Kaca? Darimana kau mendapatkan benda ini?”
“Aku dulu pernah membunuh seseorang dari Suku Pongo, botol kaca itu ada di dalam pakaiannya. Bukan kacanya yang penting, tapi cairan di dalamnya.”
“Dia tidak bisa mendeteksi aromanya, bukan?” Kirana khawatir, namun botol itu tetap disimpannya di dalam pakaian.
“Tidak. Sejak dia masuk ke dama desa, indra penciumannya sudah kacau. Kekuatanku memang efektif untuk melemahkan Bestial dengan kemampuan indra yang tajam. Menggunakan ilusi dan efek getah dari pohon Phyloputus, bahkan Bestial sekuat apa pun tidak akan bisa berkutik.”
Lilith selalu memodifikasi dan beradaptasi dengan kekuatannya, itu sebabnya ia selalu bertambah kuat dan akhirnya berhasil menjadi ketua di Suku Serpent. Tentu saja, Xavier tidak tahu soal itu.
“Kau tuangkan cairan itu padanya, di kulit bagaian mana pun tidak masalah karena cairan itu bisa meresap melalui pori-pori. Setelahnya, Xavier akan lumpuh total.”
Kirana hampir tertawa, tapi Lilith seketika melolotitnya. “Apa yang lucu?” tanya Lilith.
“Ibu, kau memang Bestial terkuat di desa ini, tapi kurasa racunmu pun tidak akan bisa membuatnya sampai lumpuh. Kemampuan Xavier jauh di atas milikmu, dia pasti bisa menetralkannya seketika, apalagi dia anakmu, bukan?”
“Aku menambahkan racun milik kakakkmu di sana.”
“Racun Seth?” Kirana kini paham. “Ya, kurasa memang bisa kalau ada racun kakak di sana.”
Lilith tersenyum lagi. “Aku sudah menyiapkan rencana ini sejak lama, sejak aku tahu kalau dia berevolusi menjadi Bestial Tahap Keempat.” Lilith mengepalkan tanganya, giginya bergemeletuk, matanya menyorotkan ambisi sekaligus kemarahan. “Anak-tidak-tahu-diuntung itu, suatu hari akan membayar pengkhianatannya.”
“Aku bisa memahami ambisimu itu, Ibu. Dia seharusnya tetap berada di desa dan tidak meninggalkan kita semua.”
“Aku tidak butuh anak yang membangkang seperti itu, keberadaannya di desa ini pun tidak akan membuat situasi lebih baik. Aku hanya ingin kekuatan dan benih darinya.” Lilith menoleh ke arah putrinya di sebelah. “Kau akan mengandung anak-anak Xavier yang kuat, kita akan membesarkan anak-anak ular itu jadi Bestial yang bisa berguna bagi suku.”
__ADS_1
“Lalu Xavier?”
“Kita akan membunuhnya, setiap penduduk desa akan mendapatkan sepotong dagingnya.” Tidak terasa, air liur Lilith menetes. “Bayangkan, kau memakan Bestial Tahap Keempat. Kekuatan besar macam apa yang akan kita dapatkan nantinya? Apakah aku juga akan langsung berevolusi menjadi Bestial Taap Keempat?”
“Aku dan kakak juga bisa berevolusi menjadi Bestial Tahap Ketiga.”
Lilith mengelus rambut putrinya. “Bagus, pertahankan sikap optimismu itu. Kita akan bersama-sama meraih impian itu.”
Setelah berkata dmikian, Lilith pun berdiri. Ia berjalan kembali ke arah remah-remang kegelapan. Sebelum wujudnya menghilang, wanita itu berbalik lagi ke arah putrinya.
“Marieth,” panggilnya.
Bestial ular dalam wujud Kirana itu pun menoleh.
“Jangan gagal,” pesan Lilith, penuh dengan penekanan.
Marieth mengangguk. “Aku tidak akan mengecewakanmu, Ibu.”
Lilith pun pergi setelahnya. Keberadaannya benar-benar lenyap dari tempat tersebut. Tidak berselang lama, Xavier kembali membawa beberapa potong daging mentah.
“Wah, kelihatan lezat,” ucap Marieth. Gadis itu langsung mengambil sepotong daging di atas alas daun, ia sudah membuka mulutnya untuk makan.
“Kirana, itu mentah.”
Marieth buru-buru menutup mulutnya kembali, ia menegak air liur yang hampir menetes dan buru-buru bertingkah seakan tidak menginginkan daging mentah itu.
“Ka-kamu benar, di sini terlalu gelap sampai aku kira ini sudah matang, hahaha!”
Xavier merasa aneh, tapi ia masih belum curiga. Bestial ular itu langsung menciptakan api unggun di depan rumah tenda mereka. Namun, setelah api menyala beberapa menit, Kirana tampak diam saja dan tidak bergerak dari atas dipan.
“Kau tidak memasaknya?” tanya Xavier lagi.
“Oh iya, akan kumasak sekarang!” Marieth dalam wujud Kirana segera lompat dari dipan. Ia meraih daging mentah di atas alas daun dan melemparnya ke dalam api.
Xavier jelas terkejut. “Ini tidak seperti caramu memasak yang biasanya, apa itu cara memasak yang baru? Bukankah kau pernah bilang kontak api langsung akan membuatnya jadi gosong”
“Oh, ini memang cara baru. Gosong sedikit tidak apa-apa, yang penting dalamnya matang!” Marieth mengarang bebas, yang penting suaranya terdengar meyakinkan.
Xavier pun tampak tidak mempermasalahkannya. Ia membiarkan Bestial ular dalam wujud Kirana itu pura-pura memasak dan mengangkat daging gosong dari dalam kobaran api. Walau wajahnya terlihat tersiksa, Marieth tetap memakan daging itu untuk meyakinkan Xavier.
__ADS_1
Di dalam hati, Marieth ingin menangis karena rasa daging yang tidak enak. Ia juga tidak punya pengalaman memasak sama sekali karena Suku Serpent tidak pernah mengolah daging buruan mereka. Namun, ia harus tetap kuat dan melanjutkan sandiwaranya. Ini demi keinginannya, Rencana Lilith dan juga masa depan Suku Serpent.