A Bride For The Legendary Bestial

A Bride For The Legendary Bestial
Bab 44: Menghitung Mundur


__ADS_3

Lilith memandangi desa dari bagian tebing tertinggi yang mengelilingi tempat tinggal mereka. Di dekat tebing itu ada sebuah rumah semi-permanen yang berdiri, disusun dari rangka-rangka batu dengan kulit dan dedaunan untuk penutupnya.


Bestial ular itu tersenyum tipis, mengingat usahanya selama ratusan tahun akan segera terbayarkan. Ia adalah wanita yang selalu berambisi. Dulu, dirinya hanya berambisi agar menjadi kepala suku. Ia berhasil mendapatkan kekuasaan itu setelah membunuh kepala desa dan memakannya. Berkat itu, Lilith berevolusi menjadi Bestial Tahap Ketiga.


Ambisinya semakin besar saat ia mendengar putranya yang berhasil melarikan diri, Xavier—ternyata sudah mencapai evolusi Tahap Keempat. Ia membayangkan kekuatan besar yang dimiliki putranya dan menginginkan hal yang sama. Ia ingin lebih dari sekedar berkuasa dan ditakuti, tapi juga menjadi Bestial yang kuat. Perlahan, ia akan menanjak hingga mencapai Bestial Legendaris.


Namun, Lilith menyadari perjalanannya masih panjang.


Kemunculan Xavier yang tidak terduga membuat wanita itu optimisi rencananya bisa segera terlaksana. Ia menyadari kehadiran Xavier sejak Bestial itu memasuki wilayah hutan Verdantale. Walau ratusan tahun tidak bertemu, wanita itu tidak mungkin salah mengenali darah dagingnya sendiri.


Lilith menggunakan jebakan sama yang sering digunakannya untuk menjerat Bestial Tahap Ketiga. Ia akan membuat kabur kemampuan indra mereka ketika di dalam hutan, lalu diam-diam membunuhnya saat mereka lengah. Sering mengonsumsi daging bestial lain membuat wanita itu semakin kuat.


Berbeda dengan Xavier, Lilith dan seluruh penduduk suku Serpent tidak terkena efek dari kemampuan ilusi yang dibuatnya. Lilith yang sudah mematangkan kekuatannya, mampu untuk menciptakan ilusi secara spesifik terhadap targetnya dan tidak mempengaruhi sekelilingnya.


Terdengar suara gemerisik dari daun-daun yang terinjak. Lilith tidak perlu menoleh ke belakang untuk tahu siapa yang datang. Seorang pemuda berambut hitam sepundak, wajahnya persis seperti Xavier, dengan sorot mata biru dan iris runcing. Bagian pinggang kebawahnya menyerupai tubuh ular bersisik hitam.


“Bagaimana pencariannya, Seth?” tanya Lilith.


Pemuda itu melata ke samping Lilith. Ia berkata dengan penuh penyesalan. “Aku tidak menemukan gadis itu. Kami sudah menyusuri semua badan sungai, tapi dia tidak ada di sana.”


Dahi Lilith merengut. “Begitu? Aneh, aku yakin melihatnya jatuh ke sungai tersebut.”


“Apa mungkin dia terjatuh di Whispering Grove?”


Lilith seketika tertawa. “Kau percaya dengan takhayul itu?”


“Seluruh Bestial di hutan yang kita temui setidaknya pernah menyebut nama tempat itu sekali.”


“Dan dimana para Bestial itu sekarang?” Lilith tersenyum miring. “Bestial-Bestial itu mengkhayal, mempercayai dongeng yang tidak jelas asal usulnya lalu pergi ke dalam hutan. Lihat apa akibat perbuatan konyol itu.”


Seth terdiam. Ia tahu apa yang akan ibunya katakan.


“Pada akhirnya, mereka hanya berakhir menjadi santapan di desa kita.”


Lilith berkata dengan tajam pada putranya. “Aku tidak ingin mendengar teori konyol soal Whispering Grove lagi. Itu hanyalah fenomena kabut, Bestial-Bestial itu tersesat di dalamnya lalu mengarang cerita agar orang lain sama takutnya dengan mereka.


Seth mengangguk. “Aku mengerti, maafkan aku.”


Mereka terdiam beberapa saat sebelum Seth kembali bicara. “Bagaimana dengan Xavier?”

__ADS_1


“Dia sudah berada di sarang ular terbaik,” jawab Lilith. “Di dalam pengaruh ilusiku, waktu yang berjalan di sekelilingnya akan terasa lebih lambat. Ia tidak akan tahu berhari-hari sudah berlalu di luar sini.”


“Apa itu ada hubungannya dengan rencana kita?”


“Tentu saja, itu membuatnya bisa tetap di sini sedikit lebih lama.”


“Bagaimana jika Maelith tidak bisa merayunya?”


Lilith mendecak, sebal karena Seth meragukan rencananya sejak tadi. “Dia akan berhasil, Xavier sangat menyukai gadis itu.”


“Darimana kau tahu soal itu?”


Lilith mendesis, lidahnya yang panjang dan bercabang di ujung bergerak keluar dari mulutnya. “Biar bagaimana pun, aku masih Ibunya. Aku tahu jelas ketika putraku menginginkan seorang betina. Matanya dipenuhi birahi, raut khawatir diwajahnya tak bisa membohongi siapa pun, gadis itu jauh lebih berharga daripada yang kuperkirakan. Bukan karena ia manusia, tapi Xavier menginginkan gadis itu menjadi pasangan kawinnya.”


Lilith menoleh ke arah putranya. “Seth, ingatlah untuk tidak berpaling dariku, maka nasibmu tidak akan sama seperti kakakmu itu.”


Wanita itu membelai lembut rahang tegas putranya, ia tersenyum, namun tidak ada kehangatan di sana. Hanya adalah kepalsuan dan sorot mata dingin yang mengancam.


***


Oberon, Kirana dan Ezekiel sudah tiba di sisi lain tebing. Perjalanan mereka sulit dan melelahkan, untunglah Oberon dan Ezekiel cepat dan tanggap membantu Kirana melewati medan jalan berbatu terjal dan licin tersebut.


“Ezekiel,” panggil Kirana. “Kamu tidak apa-apa?”


Ezekiel terkejut karena Kirana tiba-tiba bertanya seperti itu. Sambil mengulum senyum ia menjawab, “Aku baik-baik saja.”


Kirana tidak percaya, kedua alisnya saling bertaut. “Kamu yakin? Kamu terlihat lebih lesu daripada biasanya?”


Oberon mendengar percakapan mereka dan berbalik. Ia mendekat ke Ezekiel dan mengamatinya dengan seksama dari balik balutan perban yang menutupi kedua matanya.


“Dia tidak sakit, dia baik-baik saja,” ucap Oberon, mendiagnosis berdasarkan perubahan suhu dan ciri fisik tubuh Ezekiel.


“Jangan dekat-dekat,” Ezekiel refleks menarik wajahnya. “Aku masih merinding berada di dekatmu.”


“Kau bisa bertahan berada di sebelah Xavier, seharusnya tidak masalah denganku, bukan?” Oberon mengedikkan bahunya.


“Ada sesuatu yang lain tentangmu, aku bisa merasakan itu,” kata Ezekiel, curiga. “Kenapa kau menutup seluruh tubuhmu?”


“Ini untuk perlindungan,” jawab Oberon. “Kalau ini soal penampilan, aku minta maaf. Namun, aku tidak bisa melepas perbanku jika situasinya tidak mendukung.”

__ADS_1


“Ezekiel,” ucap Kirana, lembut. “Sudahlah.” Jemarinya menggapai tangan Bestial elang itu, ia menggenggamnya lembut.


“Kamu mungkin tidak sakit, tapi ekspresimu terlihat tertekan dan sedih.” Kirana berkata dengan lembut. “Jangan memaksakan dirimu, ya. Sekali-kali tidak apa-apa dibantu oleh orang lain dan tidak masalah jika kita mencoba percaya pada mereka.”


Ezekiel tertegun. Ia tidak menyangka kalimat Kirana bisa menenangkan kegelisahan di hatinya. Ia mengabaikan Oberon yang menyaksikan mereka saat itu, tapi Ezekiel langsung beringsut ke depan Kirana dan memeluknya erat.


Kirana terkejut. “Ezekiel?” Wajahnya merona merah. Itu karena ada Oberon di depan mereka. Ia memang pernah dipeluk lawan jenis sebelumnya, tapi tidak di depan orang lain juga. Apalagi ia baru kenal dengan Oberon. Kirana jadi merasa gugup.


“Terima kasih,” Ezekiel berbisik pelan. “Maaf karena aku selalu berpikiran sempit.”


Kirana tidak berani membalas. Namun, ia biarkan Bestial elang itu memeluknya beberapa saat. Kirana juga menepuk-nepuk punggungnya agar Ezekiel bisa lebih tenang.


“Menarik, ini sungguh menarik,” gumam Oberon.


Ezekiel melepas pelukannya dan menatap Oberon tajam. “Kau sungguh merusak suasana.”


“Aku sejak tadi ada di sini,” balas Oberon.


Ezekiel yang sudah kembali optimis seperti mendapat tenaga untuk adu mulut dengan Oberon, tapi Kirana keburu melerai keduanya.


“Baiklah, cukup. Kita harus temukan Xavier dulu,” sela Kirana.


“Kita sudah sampai,” kata Oberon.


“Sejak tadi?” Kirana terkejut. Oberon menjawab dengan anggukan. Telunjuknya mengarah ke sebuah batu besar di tebing yang menghadap ke tempat mereka.


“Batu ini hanya untuk pengalihan, di dalamnya ada sebuah lubang yang panjang…,” Oberon menyentuh batu itu, seperti berusaha merasakan kedalamannya. “..Ada jalan dan sebuah desa.”


“Xavier ada di desa itu?” tanya Kirana.


“Benar, dia ada di sana.”


Oberon menghantamkan punggung tangannya dengan kencang ke permukaan batu. Seketika muncul retakan besar dan batu itu hancur menjadi keping-keping kecil.


“Ada banyak Bestial ular di dalam sana, kalian harus hati-hati dan selalu waspada.” Oberon menoleh ke tempat Kirana dan Ezekiel. “Aku akan mengalihkan perhatian suku Serpent, Kirana akan mencari Xavier dan Ezekiel akan melindunginya.”


“Aku setuju,” tanggap Kirana, cepat.


“Aku juga,” timpal Ezekiel.

__ADS_1


Oberon mengangguk. Ketiganya pun masuk dan menelusuri jalan tersembunyi tersebut.


__ADS_2