
Pagi itu seluruh penduduk desa berkumpul di depan gerbang untuk melepas kepergian Kirana, Xavier dan Ezekiel. Kirana tidak henti-hentinya menyalami satu per satu penduduk yang datang menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih atau sekedar berpesan agar ia sampai di tujuan dengan selamat.
Semalam, Kirana bertemu dengan Wagyo, Gigi dan Hugo. Ia menyampaikan niatnya untuk melanjutkan perjalanan esok pagi. Ketiga orang itu tampak sedih mendengar rencana kepergian mereka bertiga. Namun, mereka juga tidak akan mencegahnya.
Kirana memang bukan anggota Suku Cervid, tapi seluruh penduduk di desa tersebut sudah menganggapnya seperti salah satu dari mereka. Xavier dan Ezekiel juga sudah bertarung bersama seluruh penduduk untuk melindungi desa. Suku Cervid tidak akan bertahan hari ini jika bukan karena bantuan mereka bertiga.
“Kak Kirana!” Wage dan anak-anak rusa berlarian ke arahnya, mereka beramai-ramai memeluk betis gadis itu.
“Jaga diri kalian ya,” ucap Kirana, terharu. Ia membelai kepala anak-anak rusa itu.
“Paman Xavier!” Wage melepas pelukannya dari kaki Kirana dan beralih ke kaki Bestial ular itu.
Xavier terkejut karena Wage memeluk kakinya. Ia tidak menyangka anak rusa itu berani mendekatinya, padahal sejak tadi ia melihat para penduduk desa seperti ingin menghampirinya, tapi mereka cuma maju mundur karena takut.
“Paman, jaga Kak Kirana untuk kami ya!” kata Wage.
“Benar! Benar!” Anak-anak rusa lain ikut menimpali.
Xavier tersenyum tipis, ia sedikit menundukkan badannya. Tangannya yang jenjang bergerak turun dan mengacak rambut coklat kemerahan anak rusa itu.
“Jadilah Bestial yang kuat dan lindungi rusa-rusa di sini,” pesan Xavier.
Mata Wage berbinar. Ia tidak menyangka Xavier akan berkata seperti itu padanya. Anak rusa itu tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat.
Kirana yang menyaksikannya pun sampai keheranan, tapi ia senang. Kirana ingat saat pertama kali mereka bertemu dengan anak-anak rusa tersebut. Xavier bahkan tidak mau melirik mereka sama sekali. Namun, semua tampak berbeda sekarang.
“Kirana,” Gigi maju menghampirinya sambil menyerahkan sebuah tas dari jahitan daun-daun. “Mungkin ini berguna untukmu, kami membuatnya berdasarkan benda yang sering kau bawa.”
“Oh? Tas hitam ini maksudmu?” Kirana menunjuk benda yang dikalungkannya di badan. Ia tersenyum senang dan menerima pemberian tersebut. “Terima kasih, ini sangat membantu!”
Ketika dibuka, di dalam tas pemberian Gigi ada beberapa buah-buahan dan lipatan daun pisang. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Gigi, bingung kenapa ada daun pisang di sana.
“Ah, itu bekal dari kami, siapa tau kau kelaparan,” Gigi sedikit memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Kirana. “Ezekiel bilang kau suka daun pisang, jadi kami membawakan banyak untukmu.”
“Begitu rupanya, terima kasih.”
Kirana menghela napas. Mereka pasti salah paham dengan perkataan Ezekiel, mengira dirinya suka makan daun pisang. Namun, Kirana tidak mempermasalahkannya. Daun pisang bisa digunakan untuk mengolah berbagai macam makanan nantinya.
“Kirana, ini untukmu,” Wagyo menyerahkan sepasang sepatu yang terbuat dari kulit pohon.
“Sepatu?” Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Ia langsung mengenakan sepatu itu dan rasanya sangat nyaman.
__ADS_1
“Kami sempat mendengar kau kesakitan berjalan tanpa alas kaki, jadi kami coba buatkan sesuatu,” jelas Gogo.
“Terima kasih!” ucap Kirana sambil menundukkan kepalanya.
High heels Kirana sudah lama rusak dan sejak saat itu ia mencoba berjalan tanpa alas kaki, tapi ia tidak nyaman karena telapak kakinya terasa sakit. Namun, sekarang kakinya tidak akan sakit lagi karena ia tidak harus khawatir berjalan menginjak kerikil atau batu-batu kecil yang tajam.
“Ini dariku,” kata Hugo sambil menyerahkan bungkusan dari daun.
“Apa ini?” tanya Kirana.
“Obat, mungkin tidak bisa menyembuhkan luka yang fatal, tapi bisa untuk pertolongan pertama,” terang Hugo.
“Benar, kalau sampai terluka bisa berbahaya karena di dunia ini tidak ada dokter,” gumam Kirana. Ia memandang Hugo dan mengucapkan terima kasih.
“Apa sudah selesai? Tanganku pegal menyalami orang-orang ini,” bisik Ezekiel.
Kirana tertawa geli. “Sudah kok, kita berangkat sekarang.”
“Baiklah, kami berangkat dulu, terima kasih atas bantuan kalian semua!” ucap Kirana kepada seluruh penduduk desa.
“Sampai jumpa!”
Kirana berjalan keluar desa, diikuti oleh Xavier dan Ezekiel. Suku Cervid mengiringi kepergiaan mereka bertiga dengan lambaian tangan. Penduduk desa rusa merah tersebut baru membubarkan diri setelah sosok Kirana, Xavier dan Ezekiel menghilang, masuk ke dalam hutan yang rimbun.
***
Tembok pepohonan menjulang tinggi di sekitar Kirana. Cahaya matahari tersaring melalui kanopi pepohonan yang rapat, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di permukaan tanah yang ditutupi lumut.
Suara daun berdesis dan angin lembut yang berhembus melintasi cabang-cabang pohon memberikan latar belakang alam yang menyatu dengan keheningan. Langkah Kirana yang tenang menyisakan jejak lembut di tanah berwarna coklat.
Dia merasakan aroma segar dari dedaunan basah yang mencium hidungnya, memenuhi udara dengan harum alami yang menenangkan. Langit cerah di atasnya berpadu dengan hijaunya pepohonan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan di antara belantara alam.
“Kau mau istirahat dulu?” tanya Xavier yang mengikuti langkahnya di belakang.
“Tidak, aku masih kuat kok,” jawab Kirana. Ia merasa begitu bersemangat di perjalanan kali ini. Semakin banyak langkah, artinya semakin cepat ia akan sampai ke tujuan.
Xavier bilang, dirinya pun butuh 10 hari untuk mencapai istana tersebut. Jika diukur dengan langkah kaki Kirana, mungkin perjalanan ini akan lebih lama dari yang biasanya. Namun, Kirana tidak mempermasalahkan itu, selama ia bisa menemukan jawaban kembali ke dunia manusia, jarak seberapa jauh pun akan dia tempuh.
Ezekiel mempercepat langkah kakinya dan berjalan beriringan dengan Kirana.
“Apa kau mau terbang sambil aku gendong?” tawar pemuda itu.
__ADS_1
Kirana menggeleng. “Terima kasih Ezekiel, tapi aku ingin jalan kaki hari ini. Cuacanya sedang bagus dan pepohonannya rindang, jadi tidak terlalu panas. Aku ingin menikmati perjalanan ini,” kata Kirana sambil tersenyum lebar.
Jantung Ezekiel berdegup melihat senyum manis itu. “Baiklah, bilang saja kalau capek ya.”
“Oke!”
Mereka tiba di jalan yang bercabang. Kirana menoleh pada Xavier, memastikan arah mana yang harus dituju.
“Yang kanan,” tunjuk Bestial ular tersebut.
Ketika mau melanjutkan jalan, Xavier tiba-tiba berbalik ke arah Ezekiel.
“Hei Elang, sukumu ada di arah sebaliknya kan?” tanya Xavier pada Ezekiel.
“Hah? Apa maksudmu? Aku kan sudah bilang mau menemani Kirana!”
“Lebih baik kau pulang ke sukumu, mereka pasti kesepian tanpa dirimu.” Xavier berbalik, lalu melangkah meninggalkan Ezekiel.
“Kau mengejekku?” Ezekiel menyusul Xavier. Ia berdiri di depan Bestial ular tersebut. “Aku tidak akan kembali ke Suku Falco.”
“Tu-tunggu!” Kirana memotong pertikaian dua orang tersebut. Tatapannya beralih pada Ezekiel, ia terlihat cemas.
“Kenapa kau tidak mau kembali ke sana? Apa karena perbuatanmu pada Oracle?”
Bagi Kirana, masuk akal kalau Ezekiel tidak mau kembali karena masalah yang pernah dibuatnya dengan Oracle demi menyalamatkan dirinya saat itu. Gadis itu mengira, mungkin Ezekiel tidak mau kembali karena Oracle dan para Bestial elang lainnya akan membunuhnya saat kembali ke sana.
Ezekiel terdiam. Kepalanya sedikit menunduk dan matanya melirik ke kiri bawah, mengingat masa lalunya yang pahit.
“Aku hanya tidak ingin kembali, aku benci suku itu sejak dulu,” jawab Ezekiel. “Bertemu denganmu membuatku yakin untuk pergi dari sana selamanya.”
Kirana paham. Ia bisa melihat luka dari sorot mata tajam Bestial elang itu. Sesuatu yang menyakitkan mungkin pernah terjadi antara dirinya dan Suku Falco. Namun, Kirana tidak mau mengorek lebih dalam jika Ezekiel juga tidak ingin membahasnya.
Gadis itu melangkah mendekat dan mengusap punggung Ezekiel.
“Kau sudah melewati masa yang berat ya di suku itu?” tanyanya sambil tersenyum prihatin. “Tidak apa-apa, jika kau ingin pergi, kau boleh ikut denganku.”
Ezekiel tampak berkaca-kaca. “Terima kasih Kirana, tidak hanya wajahmu yang sangat cantik tapi hatimu pun lebih berkilau daripada mutiara para kerang.”
“Itu berlebihan.” Kirana tertawa geli.
Xavier yang sejak tadi mengamati hanya bisa menghela napas. Kalau Kirana sudah menyetujui, ia juga tidak akan mempermasalahkannya, walau sebenarnya ia risi karena Ezekiel juga mengincar Kirana untuk dijadikan pasangan.
__ADS_1