
Keesokan paginya seluruh penduduk di desa mulai bekerjasama membangun pertahanan. Berdasarkan ide yang diajukan Kirana, mereka sepakat untuk membuat pertahanan yang kokoh agar tidak ada satu pun anak buah Shan yang bisa masuk ke dalam wilayah desa.
Wilayah desa mereka tidak terlalu luas, untungnya, semua rumah dibangun diatas lahan kosong yang saling berdekatan satu sama lain. Rumah-rumah itu juga didesain agar mudah di bongkar pasang. Beberapa rumah yang lokasinya terlalu ke pinggir hutan langsung di pindah ke bagian tengah.
Bestial baik laki-laki mau pun perempuan yang memiliki kemampuan elemen tanah menggali lubang parit yang dalam di sekeliling desa. Sementara sebagian penduduk baik yang memiliki kekuatan elemen alam mau pun tidak bekerja sama menebang pohon-pohon untuk dibangun menjadi dinding pembatas tepat di belakang lubang parit.
Sebagian pengendali elemen tanah juga menciptakan kubah besar untuk menjadi tempat perlindungan anak-anak. Aula akan dialihfungsikan sebagai tempat pengobatan dan para Bestial yang memiliki kemampuan penyembuh akan bergantian berjaga disana, sebagian akan membantu tim pertahanan.
Bestial lainnya ada yang mengumpulkan makanan seperti suplai makanan. Karena saat pertarungan itu berlangsungan mereka tidak tahu akan bertahanan berapa lama, sedangkan strategi yang disarankan oleh Kirana adalah “bertahan sampai anak buah Shan kelelahan.” Jadi ini juga merupakan pertarungan dengan waktu, siapa yang bisa bertahan lebih lama dia yang akan menang.
Walau awalnya menolak, Xavier akhirnya mau melatih para Bestial rusa merah bertarung. Teknik bertarung antara Bestial ular dan Bestial rusa jelas berbeda jauh, tetapi setidaknya Xavier yang mahir menggunakan berbagai jenis senjata mau memberitahu mereka cara bertarung dengan senjata-senjata tajam tersebut. Walau tidak banyak opsi, hanya ada lembing, panah, dan katapel batu.
Wagyo memimpin pembangunan dinding pagar, Hugo mengecek pembangunan parit, sementara Gogo mengikuti saran Xavier untuk membuat sejenis senjata yang bisa melumpuhkan. Gogo adalah ahli tanaman di desa tersebut, ia tahu ada jenis pohon tertentu yang menghasilkan getah super lengket. Ia bersama dengan beberapa pengendali alam akan mengambil getah-getah tersebut untuk dimanfaatkan.
“Aku akan berikan sebagian racunku untuk kalian,” ucap Xavier kepada sekitar 30 pemuda Bestial yang akan belajar memanah. “Jangan sampai bidikan meleset dan mengenai rekan kalian.”
Ia mulai mendemonstrasikan cara memanah, tidak hanya itu, dia juga menjelaskan efek racunnya dan seberapa cepat membunuh target. Mereka terlihat lebih takut saat Xavier menjelaskan efek racunnya, di dalam hati mereka lega ada Bestial tahap empat seperti Xavier yang mau membantu mereka saat ini.
Selepas membantu Gigi menyiapkan ramuan dan obat-obatan di aula, Kirana kembali ke rumah kepala Suku untuk menengok Ezekiel.
Saat ia masuk, tampak Bestial Ulang itu sudah sadar dan sedang mencoba berdiri.
“Ezekiel!” pekik Kirana, gembira bercampur haru.
“Kirana?” Ezekiel kaget. Terlebih saat gadis itu berhambur memeluk dirinya. Ia sih senang-senang saja dipeluk. Tetapi hidungnya mencium aroma Xavier begitu lekat pada tubuh Kirana. Ia jadi sebal karena ingat wajah orang yang membuatnya tak berkutik.
“Syukurlah kau sudah sadar,” ucap Kirana sambil melepas pelukannya. Ezekiel kecewa, ia ingin dipeluk lebih lama.
“Apakah aku pingsan selama itu?” Ezekiel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Beberapa hari,” jawab Kirana. “Tetapi berkat Hugo kami bisa menyembuhkanmu.”
“Siapa Hugo?”
Kirana pun menjelaskan semua yang telah terjadi sejak Ezekiel pingsan. Ezekiel ternganga saat masalah melebar sampai kemunculan Shan yang berniat membuat teritori untuk dirinya sendiri dan mengambil paksa wilayah Suku Cervid.
“Ini buruk,” komentar Ezekiel. “Kita harus segera kabur dari sini.”
“Apa kau pantas berkata seperti itu pada suku yang sudah mau merawatmu dan mengobati lukamu?” Kirana bersedekap sambil menarik sebelah alisnya.
__ADS_1
“Aku tahu mereka baik, tetapi ini Bestial tahap keempat, Shan!”
“Tapi kau sendiri menyerang Xavier tanpa pikir pajang waktu itu,” ingat Kirana. “Hugo bilang Xavier dan Shan adalah Bestial yang berada di level yang sama.”
“Apa? Ular itu?” Ezekiel mendecih. “Pantas saja!”
“Kau tidak tahu? Bukankah kalian para Bestial biasanya bisa menyadari level kekuatan satu sama lain?”
“Tidak selalu, Bestial di tahap seperti Shan dan Xavier bisa menekan auranya sampai tidak terdeteksi oleh mahluk lain, kalau mereka berniat mengancam sesuatu memang biasanya mereka tidak menutupi aura tersebut,” terang Ezekiel.
“Kalau dirimu?”
“Tingkatku?” pipi Ezekiel bersemu merah, sambil melirik ke arah lain dia berkata pelan nyaris berbisik. “Tahap kedua.”
“Tidak apa-apa, itu kan sudah hebat.”
“Tentu saja aku hebat! Aku bahkan sudah bisa bertarung saat ini! Jadi, dimana para anak buah Shan?” Ezekiel tiba-tiba bangkit sambil mengepalkan tangan. Ia bahkan berubah pikiran tanpa sempat menyadarinya.
“Aku senang kau mau bertarung bersama Suku Cervid,” ucap Kirana sambil menepuk kedua tangannya.
“Eh?” Ezekiel melongo, baru sadar apa yang diucapkannya. Padahal ia berniat kabur dari sana membawa Kirana, tetapi demi senyum gadis itu, ia pun mendecih dan menerima permintaannya.
“Xavier? Si ular itu?”
“Benar, dia sedang melatih para Bestial menggunakan senjata, aku rasa kau bisa bekerjasama dengannya.”
“Aku dan dia bekerjasama, hah?” Ezekiel melotot tak percaya, nyaris meledak tertawa.
“Kau tidak mau?” Kirana mengubah ekspresinya, ia tampak sedih dengan tatapan mata berkaca seperti memohon.
Ezekiel luluh melihat pancaran di mata Kirana, ia terbatuk beberapa kali lalu berdehem kencang. “Aku hanya bercanda, aku akan menemui si ular.”
“Namanya Xavier,” tegur Kirana.
“Iya, ya, Xavier.”
Sambil tersenyum geli, Kirana meninggalkan rumah Kepala Suku, ia masih sempat mendengar Ezekiel mengoceh karena harus bekerjasama dengan Xavier.
...***...
__ADS_1
Ezekiel dengan langkah terpincang berjalan mendekati Xavier yang tengah berdiri di hadapan beberapa remaja suku Cervid yang baru berevolusi ke tahap kedua. Wajah para remaja itu mengernyit, kesulitan mengendalikan kekuatan elemen yang baru muncul pada diri mereka.
“Biarkan kekuatan itu mengalir, jangan dipaksa,” kata Xavier, masih dengan ekspresi dinginnya.
Seorang remaja tiba-tiba terlontar karena percikan energi di tangannya meledak. Ia menabrak temannya yang ada di belakang dan kedua berguling di rumput. Xavier yang menyaksikan itu hanya bisa menghela napas.
“Ini sungguh menyebalkan,” gumamnya. Xavier tidak pernah merasa kesulitan mengendalikan kekuatannya sejak dulu, makanya ia heran mengapa para remaja tersebut tampak begitu kesusahan menggunakan kekuatan elemen mereka—yang seharusnya merupakan dasar dari semua kekuatan Bestial tahap kedua.
Xavier merasakan hawa keberadaan Ezekiel mendekat, ia pun lantas menoleh ke arah pemuda burung tersebut. Matanya mimicing, ia masih tidak suka pada Ezekiel karena Bestial elang harpy itu juga mengincar Kirana sebagai pasangan kawinnya.
“Hentikan hawa membunuhmu itu, aku masih tahap pemulihan,” kata Ezekiel, memahami arti tatapan mengancam Xavier.
“Lihat saja nanti, kalau aku sudah sembuh, aku akan mengalahkanmu dan membawa Kirana pergi,” lanjut manusia-burung bermata indigo tersebut.
“Bisa-bisanya orang yang hampir mati berkata seperti itu,” balas Xavier.
“Hah, itu karena aku tidak tahu saja sedang bertarung dengan siapa.”
“Kalau begitu kenapa menyerang tanpa persiapan?”
Ezekiel terdiam. Pipinya memerah, ia akui kalau serangan itu didasari oleh pemikirannya yang dangkal, mengira bahwa Xavier lebih lemah darinya.
Bahkan tanpa perlu mendengar jawaban Ezekiel, Xavier sudah tahu apa jawaban pemuda itu. Pengalaman hidupnya bertemu beberapa kali dengan Bestial dari suku Falco, mereka adalah mahuk-mahluk yang agresif, impulsif dan tidak mempertimbangkan aksinya dengan matang. Tidak heran kalau penyerangan Ezekiel juga bersumber dari hal yang sama.
“Kenapa kau ke sini?” tanya Xavier, tiba-tiba. “Aku tidak butuh orang pincang.”
“Hei! Kirana yang memintaku!”
“Jangan bawa-bawa Kirana,” Xavier menghela napas. Ia melirik Ezekiel, kondisinya tidak terlalu buruk. Setidaknya ia pasti masih bisa menggunakan kemampuan elemennya sedikit-sedikit.
“Aku harus mengawasi manusia-rusa yang sedang berlatih menggunakan senjata, kau awasi orang-orang ini berlatin menggunakan kekuatan elemen,” Xavier memberi arahan.
“Hah? Kenapa kau pikir aku mau melakukan perintahmu?” Ezekiel mendelik, jelas ia tidak suka disuruh-suruh oleh Xavier.
Xavier hanya tersenyum tipis. Ia merasa tidak perlu menjawab omongan Ezekiel. Pria itu berbalik, menepuk-nepuk pundak Ezekiel lalu berjalan meninggalkannya.
“Tunggu! Kau mengabaikanku? Hei!” Ezekiel menggeram karena Xavier tidak berbalik sama sekali. “Dasar ular!”
Ezekiel mendengkus, ia tidak punya pilihan sekarang selain melanjutkan pekerjaan Xavier. Ia beralih menatap para manusia-rusa yang mulai tampak terbiasa menciptakan tunas-tunas kecil dari kemampuan elemen alam mereka.
__ADS_1
Di dalam hati, Ezekiel membayangkan Kirana akan memujinya bangga karena membantu penduduk Suku Cervid berlatih. Pikiran itu, membuat Bestial elang harpy itu kembali bersemangat.