
Definisi bahagia menurut Nia Julia : bisa tidur nyenyak setiap hari dan merasa terjaga setiap malam.
****
Gw terbangun dari tidur gw yang nyenyak. Tangan itu masih setia melingkar di pinggangku, aku membalikan badanku aku menatapnya saat dia masih tertidur pulas. Dan aku memberanikan diri menatapnya lebih dekat.
Cup. . .
Satu kecupan mendarat di hidungku yang tak begitu panjang itu. Aku masih dalam mode terkejutku mataku masih berkedip beberapa kali seperti tengah mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Apa dia sedang bermimpi?", Gumamku.
Aku terus memperhatikannya dan dia tersenyum dan saat itu juga aku sadar bahwa dia sudah bangun dari tadi.
"Abaaaang!!!", Teriakku tepat di depan mukanya, dia malah tertawa dengan masih memelukku.
"Ngeselin banget sih?", Ucapku sambil memayunkan bibirku.
"Bangun tidur udah pinter banget sih goda abangnya, ngapain coba manyun manyun gitu? Minta jatah juga kaya hidungnya?", Ledek Bang Noa.
Mukaku memerah, entahlah rasanya badanku terasa panas. Aku meronta meminta untuk di lepaskan tapi kedua tangannya saling mengaitkan jari jarinya hingga aku sulit sekali untuk lepas darinya.
Lima belas menit berlalu aku berusaha dan berakhir dengan aku yang kelelahan.
"Lepasin", ucapku lemas.
"Gak mau", jawabnya.
"Bang Noa yang paling ganteng, tolong lepasin adikmu yang manis ini", ucapku sambil memberikan senyum termanis menurutku dan mengedipkan mata beberapa kali.
"Aku akan melepaskanmu, asal. . .", Ucapannya menggantung.
"Apa?", Tanyaku.
"Kasih aku kecupan setiap pagi", ucapnya sambil tersenyum jail. Dan lagi lagi dadaku yang di dalam sana di ajak dugem.
"Apaan sih?", Ucapku memalingkan muka.
"Kalau tidak mau aku gak akan lepasin kamu", Ancamnya.
"Ih Bang Noa kok gitu sih?", Protesku.
"Tinggal pilih aja susah banget", ucapnya.
"Iya iya", balasku.
Dan saat aku ingin mengecup pipi bang Noa. Tiba tiba saja suara seorang wanita menggagalkannya.
"Noa, sayang kamu di mana?", Teriak seorang wanita yang membuat pelukan bang Noa yang menahanku menjadi terlepas.
"Aku lihat sebentar ya", ucapnya membuatku yang tadi sedikit menindihnya kini harus rela untuk kembali ke posisi semula.
Bang Noa pun bergegas keluar kamar. Jujur saja gw gak rela dia ninggalin gw.
"Tadi katanya gak mau ngelepasin sebelum di cium. Cih pembohong", ucapku tiba tiba. Akhirnya aku mengambil ponsel ternyata sudah banyak sekali telefon dari Bokir.
Setelah membaca pesan dari Bokir aku pun bergegas pergi mandi. Dan setelah selesai semuanya aku pun turun ke bawah, dan ternyata bang Noa sedang asik sarapan dengan Maria.
__ADS_1
"Oh, lagi pacaran sampai lupa juga bahwa ada manusia lain diatas dan gak diajak sarapan?", Ucap ku lalu mengambil minum di kulkas.
"Eh anu–", ucap Bang Noa sambil mengusap tengkuknya.
"Maaf Nia aku hanya membawa dua porsi saja", jawab Maria.
"Oh, ya udah kalian lanjutin aja aku mau pergi sebentar", ucapku lalu meninggalkan mereka.
"Mau kemana?", Tanya Bang Noa.
"Bentar aja kok nanti juga cepet balik", ucapku lalu berlalu.
Aku mengemudikan mobil menuju rumah Hyunsuk. Sebenarnya aku sangat malas keluar rumah tapi di rumah juga gak enak juga liat wanita satu itu.
"Katanya mantan tapi masih lengket aja", ucapku ngedumel.
"Lagian aku siapa juga?", Ucapku lagi.
"Lagian salah sendiri, kenapa jadi suka sama abang sendiri", aku masih mengucapkan kata kata yang gak bisa aku keluhkan ke siapapun meski dengan mery sekalipun.
Aku sampai di sebuah rumah yang cukup lumayan mewah. Aku memarkirkan mobilku dan langsung bergegas masuk ke dalam. Di sana sudah ade Raesung, Hyunsuk dan Bokir.
"Baah lama kali kau ini?", Ucap Bokir saat aku baru datang.
"Maaf gw tidur pules banget jadi gak denger lu telfon", jawab gw.
"Lagian dia kan kalau molor dah kaya orang pingsan", ucap Raesung.
"Sialan lu pada", ucap gw dan yang lainnya tertawa.
"Disana ada dua suster yang ngerawat dia, namanya liana dan hani", tambahku
"Tugas yang pertama itu tugas si Raesung", ucap Bokir.
"Apaan?", Jawab Raesung.
"Karena lu yang paling pandai ngerayu cewek jadi lo yang bertugas ngerayu mereka. Dan kita berti–", ucap Bokir terputus saat laki laki dengan memaki kemeja putih dan celana pendek itu masuk dan memotong ucapan Bokir.
"Kita berlima, enak aja gw di tinggalin", ucapnya.
"Bang Noa kok bisa kesini?", Tanyaku.
"Jangan bergerak kalau gak ada aku, aku ikut", balasnya.
Ak ngeliat Hyunsuk dan dia berbicara tanpa suara "sorry" katanya. Aku menghela nafas panjang.
"Janji jangan ribut kalau gak genting banget", ucapku pada Bang Noa. Aku melihat yang lain hanya ketawa.
Muka bang Noa ingin protes tapi Hyunsuk nyeletuk lebih dulu.
"Ya kalau si Noa gak mau, aku mau janji deh buat kamu", Goda Hyunsuk raut wajah Bang Noa benar benar berubah.
"Iya iya aku janji", ucapnya mengalah.
"Jadi kita bergerak kapan? Kenapa gak si Ucup aja yang ngerayu mereka?", Tanya Raesung.
"Karna lu satu satunya yang pandai bikin cewek langsung iya aja", balas Hyunsuk. Wajah Raesung terlihat dongkol.
__ADS_1
"Kita berangkat hari minggu", ucap Bang Noa dan kami semua pun setuju.
Setelahnya aku bergegas pulang.
"Aku pulang duluan", jawabku saat kami sudah selesai.
"Aku juga, aku yang mengemudi", jawab Bang Noa.
"La tadi kesini sama siapa?", Tanyaku
"Gw suruh Midam jemput", jawabnya. Dan kunci mobil di tanganku di ambil gitu aja aku ngekor di belakangnya.
Setelah berada di mobil aku malah kembali teringat oleh Maria. Dan gak tau kenapa tiba tiba saja aku menjadi sebal sendiri.
"Mau makan dulu?", Tanyanya.
"Aku gak laper", balasku.
"Kamu marah?", Tanya Bang Noa sambil sesekali memerhatikanku.
"Enggak, marah buat apa coba", balasku.
"Kok jadi acuh gini?",
"Lagi males aja", jawabku.
"Kamu marah kan?", Tanyanya lagi.
"Enggak", balasku.
"Jangan bohong", ucapnya lagi.
"Aku gak marah", masih mencoba sabar.
"Aku kok gak percaya sih, kamu marah kan salah ku apa sih?", Tanyanya panjang lebar dan menguras kesabaranku.
"Iya aku marah, aku gak tau kenapa tapi aku gak suka kamu deket deket sama cewek tadi. Apa salah kalau aku cemburu", ucapanku menurun pada akhir kata yang aku ucapkan.
Mobil berhenti mendadak.
"Abang apa apaan sih", ucapku dan menghadapnya tanpa basa basi dia langsung memelukku.
"Maaf, udah buat kamu marah, aku tahu kamu kesiksa dengan semua ini sama aku juga, maaf udah egois ke kamu", ucapnya sambil memelukku erat.
"Apa ini sebuah pengakuan?", Batinku.
"Aku suka sama kamu Nia, bukan cuma seperti adik. Maaf jika perasaanku lebih sama kamu", ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
"A–aku, a–ku", ucapku tergagap.
"A–aku mau ice cream ya aku mau ice cream", ucapku akhirnya.
"Ya udah kita beli ice cream", ucapnya sambil mengusap sayang kepalaku.
"Yey, berangkat", teriakku dan dia hanya tersenyum.
"Aku tak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku benar benar mencintai abang tiriku sendiri"
__ADS_1