ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
empat belas


__ADS_3

Aku melangkah masuk menuju tempat Andre di rawat. Aku mengintip dari kaca yang berada di pintu kamarnya. Dia tampak sedang becanda dengan Hany. Aku pun memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Dia menoleh kearahku dan aku hanya tersenyum canggung.


"Hai", sapaku di sambut senyuman oleh mereka berdua.


"Masuklah", ucap Andre dan gw pun mendekat kearah mereka.


"Han, boleh pinjem Andre sebentar?", Tanyaku sembari tersenyum.


"Ah, ya udah aku keluar dulu", jawabnya dan beranjak dari tempat dia duduk.


"Duduklah", ucap Andre yang mempersilahkan aku duduk.


"Bagaimana keadaanmu?", Tanyaku.


"Aku jauh lebih baik, terimakasih", ucapnya. Membuatku menatap siluet matanya.


"Maaf", ucapku lalu menunduk.


"Hey, kau tak salah", balasnya.


"Andai kau tak menemaniku waktu itu, Yoga pasti gak bakal nyelakain kamu", ucapku. Jujur setelah kejadian dua tahun silam baru kali ini aku berani meminta maaf padanya.


"Itu bukan salahmu, harusnya aku yang minta maaf gara gara aku akhirnya kau harus bersama lelaki sialan itu", jawabnya sembari mengusap kelapaku.


"Kau tahu, dulu persahabatan kita begitu damai. Aku, kamu, Anton dan Bokir", ucapku lalu tersenyum.


"Hingga akhirnya satu persatu dari kita masuk ke dalam jeratan hitam si Yoga. Kenapa kau juga harus ikut waktu itu? Kau yang awal mulanya melarang kami untuk ikut", ucapku lagi.


"Karena tugasku adalah melindungi kamu", jawabnya.


"Andai kau tak menghentikan Yoga apa mungkin aku masih hidup sampai sekarang? Dia begitu terobsesi denganmu. Maka dari itu dia tak ingin laki laki manapun selain dia yang mendekatimu", balasnya.


"Tapi aku gak bisa nyelamatin Anton", jawabku lalu menunduk. Aku mengingat kembali semua yang terjadi aku mulai menangis disana.


"Maaf, gara gara aku kamu, Anton harus menimpa semua ini dari Yoga. Aku gak berguna", ucapku sambil terus menangis. Mungkin selama ini itu yang ingin aku luapkan amarah kepada diriku sendiri yang terlalu tidak berdaya.


"Lebih baik aku begini, tapi kamu bisa lepas dari Yoga", jawab Andre yang membuatku menoleh kearahnya.


"Kau sudah berkorban banyak untukku dan anak anak. Kau rela menerima Yoga meski aku tahu kamu sebenarnya gak bisa. Jelas sekali kamu gak pernah mau di gandeng atau hanya sekedar di peluk atau di cium. Beda kan saat dengan Noa?", Tanyanya lagi.


"Maksudmu?", Tanyaku kenapa dia tau tentangku dan Noa.


"Tiga tahun yang lalu saat kita sama sama masuk ke sekolah itu. Disaat Noa sudah berkonflik dengan Maria",


"Tunggu tunggu, kau tahu semua itu?", Tanyaku lagi.


"Biar aku jelaskan", jawab Andre aku menurut saja, rasanya memang tidak sopan memotong perkataan orang.

__ADS_1


"Noa, pertama kali melihatmu. Gadis dengan tampang jutek yang selalu membuatnya penasaran. Saat dia tahu kau dan Yoga menjadi satu dia menyuruhku juga ikut dalam geng Yoga. Untuk apa? Untuk memastikan agar kamu baik baik saja. Perang antara Noa dan Yoga makin memanas setelah balapan waktu itu yang mengakibatkan Yoga dan aku ngandang di kantor polisi. Tapi karena Noa yang menyuruhku makanya dia menjamin kebebasanku", ucapnya panjang lebar.


"Tentang keahlianmu menembak dan sifat sifatmu dia sudah tahu, maaf aku telah lancang memberitahukan semua tentangmu pada Noa", tambahnya.


"Maka dari itu dia tak kaget dan hanya minta aku menjelaskan kenapa aku bisa tak takut dengan pistol?", Ucapku sendiri.


"Maka tekat dia adalah melepaskanmu dari Yoga. Dia sudah menyukaimu sejak kita saat itu. Maria yang di pacarinya selama tiga tahun lebih itu tak ada apa apanya di banding dengan dirimu", ucapnya lagi.


"Saat Maria berselingkuh, itu adalah kesempatan untuk Noa melepaskan diri dari Maria. Dan saat itu Maria menghilang", balasnya lagi.


"Hanya itu yang aku tahu, selebihnya aku tak tahu lagi, karena Yoga telah melumpuhkan aksesku untuk mengetahui dan menemani dirimu. Tapi untung ada Anton", tambahnya.


"Kau tahu Anton menyukaiku?", Tanyaku padanya dia tersenyum.


"Kau tahu tidak, dia bahkan ingin sekali menggantikan diriku waktu itu. Dia bilang, "kenapa gak gw aja sih yang cacat. Kenapa harus lu? Sekarang nama yang akan selalu di ingat oleh Nia adalah lu, sang penyelamatnya", ya begitulah yang dia ucapkan", tutur Andre menirukan gaya bicara Anton.


"Bahkan sekarang dia lah yang akan sangat aku ingat. Berkat dia aku selamat. Aku merasa sangat bersalah", balasku.


"Dia pasti bahagia kau sehat sekarang. Lagian sekarang kau bersama dengan Noa, aku yakin dia akan tenang di sana", jawabnya mencoba menenangkanku.


"Terimakasih Andre", jawabku sembari tersenyum.


"Sama sama, dua hari lagi aku akan menjalankan operasi. Doakan operasiku berjalan lancar ya", ucapnya.


"Tentu", jawabku sembari tersenyum kearahnya dan mulai berjalan kearah pintu.


"Sudah lega?", Tanya Hyunsuk.


"Apa kau mau pulang?", Tanya Hyunsuk.


"Aku mau tidur di tempat Om Ri", jawabku.


"Ide bagus", balasnya dan kami pun bergegas menuju rumah Om Ri. Sesampainya di sana aku mendapati Bang Noa tengah duduk menatap keluar jendela.


"Cup, aku istirahat dulu ya", jawabku. Lalu pergi menuju kamar yang sudah di sediakan oleh Om Ri.


Aku merebahkan diriku di ranjang.


"Apa aku keterlaluan? Tapi aku tak tahu bagaimana cara aku memulai untuk bicara padanya", ucapku dalam cahaya remang kamar itu.


"Sebenarnya aku rindu, tapi aku terlalu naif untuk mengatakannya. Aku benar benar tak tahu mengapa aku begitu cemburu saat dia bersama Maria", tambahku lagi dan menutup wajahku dengan bantal.


"Dan aku juga sangat merindukanmu", suara yang sangat aku kenal mulai duduk di ranjangku.


"Maaf, untuk semua hal yang membuatmu tak suka. Aku tak ada maksud menyembunyikan semuanya. Soal kepindahan Maria sungguh aku tak mengetahuinya", ucapnya lagi.


"Tapi ku mohon jangan pernah berniat untuk menjauh dariku atau pun meninggalkanku", suaranya parau sekali. Aku masih diam dan tak ingin menjawabnya. Aku benar benar bingung dengan keadaan ini. Aku tak pernah merasakan rasa seperti ini. Bahkan saat Susan dengan Yoga hanya rasa sepintas saja. Tak serumit rasa yang aku rasakan saat ini.

__ADS_1


"Jika memang kamu belum bisa bicara, aku akan keluar dulu", ucapnya dan mulai beranjak dari kasurku. Tangannya ku tahan.


"Jangan pergi, temani aku", ucapku yang masih memalingkan muka.


Dia kembali tetapi tidak duduk, dia ikut merebahkan dirinya di ranjang.


"Kau tahu, sudah hampir tiga tahun ini kau mulai mengacaukan pikiranku?", Ucapnya.


"Aku tahu, kau yang menyebutku si cewek jutek misterius", balasku.


"Kau mengetahuinya?", Tanyanya aku melepaskan bantal dari mukaku dan mulai menatap manik matanya.


"Aku sudah tahu semuanya, puas kau", balasku.


"Waaaah, siapa yang berani beraninya membongkarnya?", Ucap Bang Noa.


"Yang pasti kau harus bertanggung jawab untuk semua biaya pengobatan Andre", balasku.


"Lah kok aku?", Tanya Bang Noa.


"Kau yang menyuruhnya menjagaku, hingga sampai dia seperti itu. Kau kan pengusaha masa ngeluarin duit dikit aja ngeluh?", Balasku dan memalingkan mukaku lagi.


"Baiklah, keuangan Crop Company ada di tangan ibu negara", balasnya membuatku tersenyum meski tak menghadapnya.


"Jangan acuhkan aku", tambahnya dan membalikan tubuhku.


"Dimana kekasihmu itu?", Tanyaku padanya.


"Astaga Nia sudah berapa kali aku bilang aku tak ada rasa lagi dengannya", jawab Bang Noa mulai frustasi menghadapi tingkahku.


"Aku hanya menanyakan dimana dia?", Tanyaku lagi.


"Dia di bawah, puas?", Tanyanya lagi.


"Aku akan lebih puas jika kamu benar benar tak akan pergi dariku",jawabku lalu mulai duduk di ranjang.


"Aku tak bisa janji untuk tidak pergi", jawabnya.


"Apa kau akan meninggalkanku? Bahkan setelah kau membuat aku mencintaimu?", Tanyaku lagi.


"Aku akan berusaha terus ada disisimu. Tapi ku mohon jangan menyuruhku untuk berjanji", ucapnya kini giliran dia yang memalingkan muka.


"Baiklah baiklah, terserah kau saja", jawabku.


"Apa kau ingin tidur?", Tanya Bang Noa.


"Ya, tapi bolehkah kau menemaniku malam ini?", Tanyaku ragu ragu.

__ADS_1


"Bukan sebuah masalah", jawabnya berbaring duluan. Aku mengikutinya dan merebahkan diriku dengan lengannya yang menjadi bantal.


"Maaf, untuk semua pikiran negatifku tentang dirimu. Maaf karena aku tak memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku terlalu takut jika jawabanmu ternyata ketidak inginanku", ucapku lalu mulai memejamkan mataku dan menemui mimpi indahku.


__ADS_2