
Aku sedang berdiri di balkon kamar, sambil menikmati udara yang membelai pipiku. Tiba tiba tubuhku di peluk dari belang. Dia Bang Noa semenjak pengakuannya di dalam mobil kemarin dia sudah tak ada rasa canggung untuk memeluk atau sekedar memberiku sebuah kecupan manis.
"Sedang memikirkan apa hmm?", Tanyanya sambil menaruh dagunya di pundakku.
"Enggak ada", balasku.
"Masuklah, disini dingin", ucapnya.
"Sebentar lagi", dia pun mengeratkan pelukannya.
"Mau ku buatkan sarapan?", Tanyaku tiba tiba. Entahlah ku pikir memasak berdua itu bukan ide yang buruk.
"Boleh, mau masak apa?", Tanyanya.
"Apa yang kau suka?", Aku malah bertanya balik.
"Asal kamu yang masak pasti aku suka", balasnya sambil membalikan tubuhku.
Iseng iseng aku mencuri satu kecupan darinya. Dia terdiam dan karena aku tak pernah melakukan itu aku hanya nyengir dan garuk garuk kepala belakangku.
"A–aku masak dulu ya", ucapku lalu meninggalkannya. Jujur aku sangat malu karena dia hanya diam seperti patung. Padahal ekspektasi ku dia akan tersenyum atau malah menggoda balik. Hidup memang sulit untuk menyamai apa yang ada di pikiran kita.
"Kau sedang buat apa?", Tanyanya tiba tiba sudah muncul di belakangku.
"Aku hanya bisa masak sup apa abang gak mau?", Tanyaku.
"Kata siapa aku gak mau?", Tanyanya
"Katamu barusan", ucapku sewot.
"Lihatlah mereka, di tinggal bokap sama nyokapnya dah kaya pengantin baru masak aja berdua", itu suara Bokir dan kami pun menoleh di sana ada Raesung, Mery, Hyunsuk, dan Bokir.
"Hehe eh kalian", ucapku berasa baru ketahuan nyolong duit satu negara tau gak.
"Bahagia banget bos sepertinya?", Ucap Hyunsuk merangkul Bang Noa.
"Ya seneng lah tiap hari di masakin terus sama bini kan", ucap Bang Noa ikut ngegoda.
"Abaaaang !!!!", Teriakku sambil cemberut.
"Yakin lu mau jadiin temen gw bini? Liat noh kalo marah aja masih kaya bayik", ucap Mery.
"Nistain gw teroos dah lah gw mah sabar", ucap gw yang lain ketawa.
Setalah sarapan kita semua ngumpul di ruang tamu, Bokir selonjoran di bawah sambil mainin bulu karpet rumah, Raesung sama Mery, Hyunsuk rebahan di sofa. Aku duduk di sofa dan bang Noa lagi nonton tv di depan gw meski duduknya juga di karpet.
"Oh. Iya Maria gimana Mer?", Tiba tiba aja Bang Noa ngebuka suara. Yang tadinya pada sibuk sendiri sendiri akhirnya noleh ke bang Noa semua. Termasuk aku yang udah bisa ketebak deh muka aku gimana.
"Dia ok ok aja", balas Mery.
"Kenapa di taruh di tempat Om Ri sih?", Tanya Hyunsuk.
"Emang lu maunya dia di taruh di mana? Rumah elu?", Tanya bang Noa.
"Ya boleh juga sih, heheh", jawab Hyunsuk cengengesan.
__ADS_1
"Mau lu aja tu, kenapa gak di rumah lu aja sih No, biar enak kalau ngawasi", balas Bokir. Ngebuat aku cuma bisa ngerutin kening.
"Pakek nanya lagi, entar pawangnya Noa ngamuk emang lu bisa jamin rumah ini masih bisa berdiri gitu?", Tanya Mery ke Bokir.
"Oh iya, pawangnya galak", ucap Bokir sambil ngelirik aku.
"Lagian gw gak mau bini gw salah paham nanti", balas Bang Noa sambil berlagak seperti bos.
"Sombong amat lu, tutup panci", ucap ku tiba tiba.
"La aku kan beneran gak pingin kamu salah paham kaya kemarin", balas Bang Noa sambil ngeliat aku.
"Duh pasangan ini, jangan bawa masalah rumah tangga kalian disini", ucap Raesung.
"Belom nikah bangke", umpatku malah pada ketawa.
"Kode tu minta di nikahin", ucap Raesung.
"Ke pantai aja yok, gak pada bosen ape di rumah mulu? Kasian nih yang jomblo ngeliatin lu pada. Mending ke pantai aja", saran Bokir.
"Ayo gw udah lama gak kepantai juga", jawab gw yang lainnya ngangguk setuju.
"Gw gak ikut ya", balas Bang Noa.
"Mau kemana, kok gak ikut?", Tanyaku
"Di rumah aja kok, lagi males pergi", jawab bang Noa.
"Ya udah kalau gitu, yuk berangkat", ucapku, Bang Noa mukanya asem banget ngeliatin aku.
"Cup gw sama elu ya", ucap gw sama Hyunsuk.
"Gak gak, Nia gak boleh ikut", ucap Bang Noa.
"Lah, kenapa?", Tanyaku.
"Dah kalian aja yang pergi, Nia biar di rumah", ucap Bang Noa.
"Kan mau main akunya?", Ucapku protes tapi liat wajah bang Noa jadi kicep gak berani ngomong apa apa.
Dan beginilah nasibku saat semua berangkat dan aku gak boleh keluar sama bang Noa.
"Terus ngapain dong gw? Bosen kan di rumah mulu", ucap gw sambil menghembuskan nafas kasar.
"BOSEEEEEN !!!!", teriakku.
"Cepet ganti baju ku tunggu di bawah lima menit", ucap Bang Noa lalu keluar gitu aja.
Sebel sih iya, tapi yang namanya juga orang suka pasti ngikut aja apa maunya kan. Aku pun ganti baju dan turun ke bawah.
"Udah siap?", Tanya Bang Noa. Aku cuma ngangguk aja. Dia gandeng tangan aku dan kita pun pergi naik mobil.
"Mau kemana bang?", Tanyaku.
"Nanti juga tahu", balasnya.
__ADS_1
Hening lagi aku yang masih sebal dengan sikapnya, dia juga gak punya inisiatif buat minta maaf membuat aku enggan untuk berbicara dengannya.
Tak beberapa lama kami sampai di atas bukit, langit sore berwarna jingga dengan pemandangan pantai yang indah.
"Waaaaah", ucapku tak terduga. Pemandangannya sangat indah lebih indah dari pantai mungkin.
"Bagus banget", ucapku lalu noleh kearah bang Noa. Ia duduk di pembatas jalan sambil termenung aku mulai mendekatinya.
"Dulu aku sering banget kesini sama ayahku", ucapnya.
"Tempat ini adalah tempat favoritku", jawabnya.
"Jika aku tahu tempat ini, mungkin ini juga tempat favoritku", ucapku.
"Maaf, aku tadi bilang gak mau kepantai karena punya niatan mau ngajak kamu kesini", balasnya.
"Ok, sekarang aku baru sadar wanita itu memang memiliki banyak pikiran negatif", batinku.
"Tapi, kamu malah mau kepantai sama mereka. Pakai mau berangkat sama Hyunsuk lagi", ucapnya.
"Apa saat ini kau sedang merajuk?", Tanyaku. Dia memutar bola matanya. Lalu menghembuskan nafas kasar.
"Aku bukan hanya merajuk, tapi aku juga cemburu. Apa kau tak bisa peka sedikit?", Jelasnya.
Cuup. . .
"Aku tahu kau kesal denganku. Tapi sungguh aku gak ada niatan untuk buat kamu cemburu", ucapku.
"Jangan pernah untuk mencoba pergi dariku, ingat itu", ucapnya lagi sambil memegang kedua bahuku.
"Apa aku sedang di ancam sekarang?", Tanyaku lagi, entah mengapa aku sekarang lebih suka menggodanya.
"Terserah lah", ucapnya lalu melepaskanku.
"Dengarkan aku", ucapku sambil memeluknya.
"Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu, karena itu sangat tidak mungkin", ucapku sungguh sungguh.
"Apa ini jawaban dari pertanyaanku kemarin?", Tanya bang Noa.
"Itu....",
Telfon bang Noa berbunyi.
"Ya, hallo".
"......."
"Bagaimana bisa?",
"....."
"Ok, nanti malam kita bergerak". Ucap bang Noa mematikan telfonnya.
"Ada apa?", Tanyaku.
__ADS_1
"Malam ini gak usah pulang, kita langsung cari Andre". Ucap Bang Noa.
"Loh kenapa?", Tanyaku tapi tak terjawab.