ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
sembilan belas


__ADS_3

Semenjak kejadian di roofop satu minggu yang lalu aku dan Yoonbin semakin dekat. Malu udah pasti tapi mau gimana lagi aku juga gak tau harus gimana.


"Ini cara ngerjainnya gimana?", Tanyaku dia hanya melihatku dengan tatapan tajam dan aku mulai menundukan wajahku.


"Apa kau benar adiknya Noa? Kenapa kau tak pintar?", Ucapnya yang begitu menohok di ulu hati.


"Gw emang adiknya tapi bukan adik kandungnya", jawabku lirih.


Dia seperti ingin mengungkapkan sesuatu tetapi bell istirahat sudah lebih dulu berbunyi.


"Gw laper mau kekantin gak?", Tanyanya aku hanya menggeleng.


"Yuk kekantin", teriak Junkyu  dan Haruto yang menghampiri tempat duduk kami.


"Kalian duluan deh. Aku gak pingin dulu", jawabku


"Baiklah, yuk", balas Junkyu sambil menarik Yoonbin dan Haruto.


Aku mengeluarkan ponselku memencet kontak yang menjadi kontak teratas dan telfon darurat.


Aku memilih sambungan Video karena entahlah aku sangat merindukan seseorang saat ini. Aku mengambil earphone di dalam tasku dan memasangnya.


Sambungan kami terhubung.


"Kau terlihat sangat kacau sekali", ucapnya dari sebrang sana.


"Bolehkah aku melihatnya? Aku mohon", ucapku.


"Baiklah, aku akan memperlihatkan dan membiarkan kalian bicara tapi gw harap cari tempat gelap", balasnya.


Aku mengerti. Aku memilih ke Uks sekolah tempat yang banyak memiliki kesamaan di setiap sekolah jadi sangat sulit untuk menemukan.


Aku melihatnya, hanya duduk termenung menatap keluar jendela.


"Ini sangat menyedihkan", batinku.


"Apa kau akan terus begitu?", Tanya seseorang yang aku telfon tadi.


"Aku tak memiliki semangat lagi, aku telah gagal kali ini", balasnya.


"Kau belum gagal. Ku mohon kuatlah", ucapku dia menoleh sorot mata itu membuatku tercabik cabik.


Dia melangkah mendekati arah suaraku dia merampas telfon itu dari laki laki di sana.


"Sampai kapan kau sembunyi?", Tanyanya dengan mata yang berkantung hitam membuatku semakin sakit.


"Hey, tenanglah sebentar lagi kita akan bertemu", jawabku sembari tersenyum.


"Kembalilah aku mohon", ucapnya kini benar benar tak bisa membuatku menahan tangis.

__ADS_1


"Aku–", ucapanku berhenti saat sambungan telfon itu di akhiri.


"Hey apa yang kau, Yoonbin?", Tanyaku.


"Berisik", balasnya.


"Sejak kapan kau ada disini?", Tanyaku lagi.


"Sejak dramamu di mulai", balasnya. Aku hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Jika tak sanggup berpisah kenapa berpisah?", Tanyanya.


"Ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan", balasku.


"Kemarin aku melihatmu bertemu dengan Yoga. Apa kalian saling kenal?", Tanya nya aku menelan ludah yang sangat susah.


"Dilihat dari gelagatmu aku melihat kalian saling kenal dan saling tahu satu sama lain", balasnya lagi.


"Baiklah tapi kumohon percayalah", balasku.


"Tergantung kau jujur atau tidak", balasnya.


"Memang susah ngomong sama manusia muka datar", balasku lalu memunggunginya.


"Noa adalah laki laki yang bisa melepaskanku dari jeratan Yoga. Dia satu satunya yang bisa melancarkan peluru menembus kaki Yoga. Dia adalah kakak sekaligus kekasihku", jawabku.


"Jadi kau dan Noa?", Tanya nya menggantung.


"Jadi kau sama Yoga dan habis itu dengan Noa?", Tanya Yoonbin.


Aku hanya tersenyum. "Banyak sekali hal yang tak bisa aku jelaskan dan aku mengerti selama beberapa bulan ini. Dimana dunia hitam itu mendominasi hingga aku berjumpa dengan sosok Noa. Dia membawaku kembali ke dunia asliku. Tapi aku juga yang memulai permainan gila ini", jawabku.


"Maksudmu?", Tanya Yoonbin seolah tak paham tentang apa yang aku ucapkan.


"Aku memang menemui Yoga", balasku.


FlashBack. . .


Aku berjalan pulang setelah bekerja di swalayan dekat apartemen. Aku merasa kelelahan dengan pengalaman pertamaku untuk bekerja paruh waktu. Nyatanya bekerja dan menjalani pendidikan dengan waktu yang sama tidak lah mudah. Aku harus pandai pandai mengatur waktu.


Hampir sudah seminggu aku harus belajar dan bekerja. Langkah kakiku mulai tak nyaman saat aku merasakan dua orang di belakangku mengikutiku. Aku mencoba mempercepat sampai akhirnya pundakku di tepuk dari belakang.


"Mau makan siang?", Tanyanya padahal hari sudah mulai petang. Belum lama otakku berpikir akhirnya aku mendapatkan kesimpulan.


"Kalian. . . Anak buah Yoga?", Tanyaku.


"Dia target kita", jawab mereka lalu menyeretku dengan paksa menuju sebuah tempat minum dekat kota.


"Mau apa kalian?", Tanyaku saat aku sampai di suatu lahan parkir.

__ADS_1


"Halo sayang", terdengar suara seseorang yang mulai mendekat kearah kami.


"Yoga??", Ucapku merasa sangat sulit melepaskan diri dari belenggu laki laki satu ini.


"Masih hidup?", Tanyanya sambil menjambak rambutku.


"Kau bahkan tambah cantik", tambahnya.


"Mau mu apa hah?", Tanyaku sembari mencoba menggertak  mereka.


"Wow, kekasih Noa sekarang sudah berani menggertak?", Tanyanya. Aku mencoba mencari celah dan melihat pistol di sisi pinggang mereka yang membawaku. Dengan sedikit tenaga yang cukup besar akhirnya aku bisa melepaskan diri dan mengambil salah satu pistol itu dan berdiri tegap di depan Yoga dengan pistol tepat menodong di tengah kepalanya.


"Kau memang luar biasa sekarang. Tapi jika kau bunuh aku, Noa benar benar dalam bahaya", ucapnya. Sedikit goyah pertahanan ku tapi aku tetap berdiri tegap.


"Maria akan mampu membuat hidup Noa makin kacau", jelasnya membuatku menjatuhkan pistol di tanganku.


"Jika kau ingin Noa selamat. Maka kau harus menuruti apa mauku", tambahnya membuatku menjadi semakin ciut.


"Jika kau ingin ayahmu untuk tidak membenci Noa. Maka kau harus tetap menurut padaku",jelas Yoga membuatku tertunduk.


"Kau hanya membutuhkan intruksi dariku, ok??", Tanyanya yang membuatku jatuh tersimpuh di tanah.


Dia mengambil ponselku dan mengetikkan nomor telfonnya.


"Jadi, kau bisa menurut?", Tanya Yoga aku hanya mengangguk.


"Sekarang jauhin Noa, nyawanya ada di tanganku, bahkan bisa menjadi tulang dan belulang di sini. Dan kau harus kembali lagi di tempatku", ucapnya.


"Temui aku di bar jam 8 malam mengerti?", Tambahnya lalu meninggalkanku yang terduduk disana.


Flashback off. .


Yoonbin membelai rambutku tiba tiba merasa deja vu dengan keadaan ini aku seperti merasakan keberadaan bang Noa di sini.


"Gw bakal jagain lu, lu gak usah takut ya", balasnya sambil tersenyum.


Aku hanya terdiam.


"Makan yuk", ajaknya sambil menarikku dari sana.


Semua mata tertuju pada kami berdua. Mata semua wanita seakan menusuk di setiap jalanku. Aku menghembus nafas kasar.


"Ada apa hmm?", Tanya Yoonbin.


"Kau dari tadi menggenggam tanganku, kau lihat tatapan anak anak disini sangat menusuk bahkan lebih tajam dari pisau", balasku.


"Kau ini ada ada aja", balasnya.


Tak sengaja mataku menangkap sebuah kursi dimana di sana ada seseorang yang duduk dan memandangku. Aku sangat tahu dia siapa dari simbol hoodie dengan angka 524.

__ADS_1


Aku mencoba melepaskan genggaman Yoonbin dia melihat kearahku dan seolah bertanya ada apa. Tapi mungkin karena dia paham tentang mimik wajahku akhirnya dia melepaskan genggaman tangannya.


"Sampai kapan aku harus menjadi kacung untuk manusia satu itu?", Batinku meratapi semua yang terjadi.


__ADS_2