ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
delapan


__ADS_3

Aku masih disini, bersama dengan Ucup atau naman aslinya Hyunsuk, Midam, Raesung, Gon, Bokir dan beberapa anak lainnya. Kami semua mengenakan pakaian serba hitam. Jujur ini adalah hal terberat dalam hidupku menatap sekelilingku dan raut wajah mereka terlihat sama yakni sendu menatap gundukan tanah yang masih basah dan bertuliskan Anton.


"Aku tak percaya", air mataku masih mengalir deras.


"Tatoan kok cengeng", balas ucup.


"Apa orang tatoan gak boleh nangis?", Tanyaku.


"Buset galak bener deh lu, pantes Noa gak pernah keluar rumah sekarang. Pawangnya aja lebih serem", balas ucup.


Ucup atau Hyunsuk adalah tangan kanan bang Noa, aku baru tahu saat dia datang membawa ambulan. Ucup memiliki usia lebih tua dari pada aku dan Bang Noa. Dia dapat di andalkan dalam keadaan genting tapi sangat menyebalkan aslinya.


"Bu, kami pamit dulu ya saya dan teman teman turut berduka cita sedalam dalamnya", ucap Ucup pada ibu Anton.


"Saya berterimakasih kalian telah menemukan Anton dan membawanya ke rumah sakit", balas Ibu Anton. Kini perasaan bersalahku semakin besar saat tahu Anton adalah tulang punggung keluarga ia bekerja pada Yoga lelaki Brengsek yang entah keberadaannya ada dimana sekarang. Anton juga sudah berbohong bahwa ia bekerja paruh waktu di suatu restoran padahal ia bekerja di bawah pasar gelap Yoga. Saat di temukan dengan luka tembak itu Ucuplah yang mengarang cerita bahwa terjadi perampokan dan karena Anton mencoba mempertahankan barawng barangnya yang membuat Anton tertembak dan meninggal karena kehabisan darah.


"Masih melamun?", Tanya Ucup.


"Kenapa kau suka sekali bertanya? Aku lebih suka duduk dengan Midam yang Hanya diam saja dari pada kamu", balasku kesal.


"Kir, kita kerumah sakit sekarang", ucap Ucup dingin membuatku merasa takut setelah perkataanku tadi.


"Bang gimana dengan perusahaan Noa?", Tanya Raesung.


"Masih aman, udah ada yang ngurus tenang aja", balasnya.


"Nyokap Noa belom tau kan?", Tanya Midam ke gw.


"Ucup ngelarang gw buat telfon orang tua kita", balas gw.


"Gw yakin nyokap dan bokap lu akan lebih lama diluar kota", balas Ucup.


"Kenapa bisa?", Tanya Gw.


"Kolega yang akan menamam saham di usaha Bokap lu adalah perusahan Noa", jawab Ucup.


"Gw minta om Ri untuk meminta perpanjangan waktu untuk kesepakatan mungkin bisa jadi bulan depan mereka pulang jadi tanganmu dan juga Noa bisa pulih dulu", balas Ucup membuatku tak Percaya.


Sebuah perusahan besar bernama Crop Company adalah milik Noa yang notabene hanya Murid SMA tahun terakhir.


"Aku tak percaya, dia begitu luar biasa", ucapku bergumam sendiri.


"Dia memang beda, bahkan dia luar biasa dia memang suka balapan tapi itu dulu sebelum dia tinggal denganmu. Dia pintar hingga bisa memiliki sebuah perusahaan yang berdiri tiga tahun ini", balas ucup aku hanya memperhatikannya.


"Beda banget sama si Yoga, dia malah ngebuka pasar gelap untuk mempertahankan anak buahnya dengan begitu banyak penekanan", tambah ucup.


"Kenapa aku bisa menjadi kekasih psikopat itu", balasku.


Tak ada tanggapan lagi mobil terus melaju aku hanya terdiam mengingat kembali tentang kejadian kemarin. Satu hari yang begitu sangat buruk. Salah sedikit saja mungkin aku yang mati. Tak butuh waktu lama kami sampai di rumah sakit, ternyata bang Noa sudah sadar.


"Abang udah sadar?", Tanyaku mendekatinya, dia malah melipat kedua tangannya seperti seorang yang merajuk.  Baru kali ini aku melihat dia semanja ini.


"Kalian dari mana sih? Gw di tinggal sendirian?", Tanyanya sambil merajuk.


"Sumpah kau tak ada pantas pantasnya begitu", ucap Ucup. Dan aku tertawa.


"Dari mana?", Ucapnya begitu dingin membuat yang lain hanya diam. Aku menghembuskan nafas kasar.


"Dari pemakaman Anton", balasku. Raut mukanya berubah sendu.


"Bagaimana keadaanmu?", Tanyaku lagi.


"Bahkan aku sudah bisa pulang", jawabnya.


"Bagaimana dengan tanganmu?", Ucapnya lagi sambil meraih tanganku.


"Ekhem", suara Ucup membuatku dan bang Noa menoleh secara bersamaan.


"Gw masih di sini udah sok romantis romantisan", ucap Ucup sambil bergantian menatap kami.


"Iya iya gw keluar", ucapnya lagi lalu meninggalkan kami.


"Maaf, suara terakhir bukan tembakan dariku", balas Noa.


"Yang penting abang selamat", balasku sambil tersenyum.


"Maafin aku gak bisa jagain kamu", balasnya.


"Aku bersyukur abang sampai di waktu yang tepat. Tapi ngomong ngomong gimana abang tau?", Tanyaku.


Waktu itu . . .

__ADS_1


Flashback . . .


Noa pov . . .


Gw sedang nunggu Nia di dalam mobil karena jam sudah nunjukin waktu pulang sekolah. Tapi dia tak juga menunjukan batang hidungnya. Aku melihat Mery jalan sendirian lalu aku menghampirinya.


"Mer", teriak gw.


"Loh Noa, Nia mana?", Tanya Mery.


"Lah bukannya dia sama elu?", Tanya gw.


"Dari kemarin kan sama elu", balasnya lagi.


"Tapi tadi gw nganter dia sekolah", balas gw. Raut mukanya tiba tiba berubah.


"Gawat", ucapnya


"Gawat apanya?", Tanya gw lagi.


"Kemarin kan lucas ngomong kalau si Yoga gak terima dia di putusin Nia. Apalagi karna ada lu juga", jawabnya.


"Terus apa hubungannya?", Tanya gw lalu tiba tiba pikiran gw udah jernih.


"Hari ini Yoga Bokir Anton Susan gak masuk semua lu tau kan artinya apa?", Tanya Mery.


"Mereka biasa nongkrong dimana selain kopian perempatan?", Tanya gw.


"Gw gak tahu, lu harus nemuin Nia", ucapnya.


"Gw pergi dulu", ucap gw bergegas dia ingin ikut tapi bakal bahaya kalau bawa wanita.


Gw pun mengendarai mobil sambil menghubungi Midam.


"Dam, cari tahu keberadaan geng Yoga . Kalau perlu lacak mereka. Dan kumpulin anak anak di tempat Om Ri",  ucap ku dan mematikan sambung telfon.


Gw ngelajuin mobil dengan kecepatan tinggi yang ada di pikiran gw cuma Nia doang. Adek gw satu satunya meski serem juga bacotnya udah mirip speaker masjid tapi dia sebenarnya rapuh banget. Gw takut kalau sampai dia di apa apa in sama Yoga. Apalagi Yoga terkenal Brutal banget.


Gak butuh waktu lama gw udah sampai di tempat Om Ri di sana anak anak udah pada ngumpul kecuali Hyunsuk.


"Ucup mana?", Tanya gw


"Bagus, Dam gimana udah ketemu?", Tanya gw sama Midam.


"Dia biasanya bawa orang orang yang jadi bahan pasarnya ke gedung tua dekat pinggir kota. Itu informasi yang gw dapat dari cunguk satu ini", jawab Midam dan menunjukan satu orang yang udah gak dapat di jelaskan bagaimana rupanya setelah di hajar habis habisan oleh anak anak.


"Ok kita meluncur kesana. Gw butuh sembilan orang aja yang ngikut gw, lainnya jaga jaga aja di luar", ucap gw pada anak anak mereka mengangguk dan kami pun berangkat. Hampir sudah dua tahun gw udah gak ada niat niatan untuk baku hantam lagi. Tapi mau gak mau adik gw sama dia dan ini bahaya banget buat Nia.


Sesampainya gw di gedung tua. Tempatnya begitu sepi dan tak terlihat ada siapapun gw bergegas naik ke lantai kedua masih kosong, gw terus  menyusuri tiap lantai sampai akhirnya gw ketemu seseorang di lantai lima.


"Anton", ucap gw, dia teman Yoga tapi Anton kini sedang bersimbah darah dengan dua bekas dua tembakan.


"Se-sela-matin Ni-Nia", ucapnya terbata bata sambil memberikan sebuah alat yang ternyata alat pelacak.


"Gu-gua u-dah naruh, pe-lacak di ba-baju Nia", ucapnya lagi.


"Lu tunggu disini gw panggil anak anak buat bawa lu kerumah sakit", balas gw dan nyuruh anak yang berjaga di bawah untuk mencari bantuan.


Sedang gw dan sembilan kawan gw bergegas ke arah tempat yang di tunjukan alat itu.


Alat ini menuju kesebuah vila lama di tengah hutan tapi akses oleh masih bisa di tempuh oleh mobil. Mobil masih melaju dari kejauhan gw melihat anak buah Yoga sedang berjaga jaga di luar.


Setelah kami turun dari mobil kami di sambut oleh beberapa orang.


"Mau apa kalian?", Tanya salah satu dari mereka.


"Bos kalian di mana?", Tanya gw


"Ada perlu apa?", Tanya nya.


"Dah biar kita yang urus, lu masuk aja sama Midam nyari Yoga", ujar Raesung yang hanya gw angguki.


Baku hantam pun tak terhindarkan gw masuk ke dalam sana udah ada Bokir yang baru saja menghajar temannya.


"Jadi pengkhianat kawan?", Tanyaku dengan senyum.


"Lama sekali kau ini", balanya yang masih juga setia menangkis lawannya.


"Cepat bantu lah jangan menonton saja", teriaknya.


Aku dan Midam pun juga ikut membantu Bokir menghajar para kacung kacung anak buah Yoga. Tak butuh waktu lama kami mengatur nafas akibat permainan kecil ini.

__ADS_1


"Dimana?", Tanyaku pada Bokir tapi terdengar suara gebrakan dan piring pecah dari dalam kamar.


Kudengar suara Nia dari dalam sana.


JANGAN PERNAH LU SENTUH DIA!!!", Teriak Gw dari luar kamar.


"O o o, mau berlagak jadi Super Hero?", Ucap Yoga sambil ngejambak rambut Nia keluar dari kamar. Gw syok liat keadaan Nia, pipinya lebam seperti bekas tamparan baju dan tangannya penuh bercak darah yang entahlah ataukah dia terluka.


"Lepasin Nia", ucap gw masih nahan emosi.


"Lepasin Nia? Dia milik gw ngerti", ucap Yoga dingin.


"Sakit *******", teriak Nia memegangi rambutnya


"Gw bilang lepasin Nia, atau lu tanggung akibatnya", ucap


Gw, dan dari arah belakang Raesung dan yang lainnya ikut muncul.


"Gimana kalau kita duel?", Tanya Yoga.


"Memang mau main kroyokan? Liat sekeliling lu udah pada jadi mayat", ucap gw dingin.


Dia natap sekelilingnya, tak ada satupun yang tersisa kecuali Bokir yang kini berpihak padaku juga.


"Pengkhianat lu", teriak Yoga.


"Gw capek ngeliat tingkah lu yang makin lama kaya psikopat", ucap Bokir.


Yoga sepertinya naik pitam, dia tak lagi menjambak Nia tapi malah mengunci leher Nia dengan lengan kirinya sambil tangan sebelah kanan menodongkan pistol ke kepala adikku satu satunya itu.


"Jangan ada yang mendekat atau dia bakalan mati", teriak Yoga, Nia terlihat gemetaran.


"Minggir", teriak Yoga sambil membawa Nia pergi dari sana, aku mengintruksi anak anak untuk  memberikan jalan pada Yoga. Aku terus mengisyaratkan Niauntuk tetap tenang dan terus sadar, jika sampai dia pingsan akan sangat sulit mengambil Nia.


Setelah sampai di luar vila dan hendak masuk mobil. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menembak kaki Yoga. Setelah kurasa ini waktu yang tepat ku tarik pelatuk senapanku.


Doorr... membuat kunci dari tangan Yoga terlepas dari leher Nia.


"Nia Lari", teriak gw dan mengisyaratkannya untuk lari kearah Midam. Tapi dia malah lari kearah ku.


"Bang Noa, hiks . . . Hiks", ucap gw.


Doorrr. . . .


Satu tembakan berhasil menembus pundak gw dan nia makin mengeratkan pelukannya kepadaku


Dooor. . .


"Arrrrghh. . ", Ucap Nia tertahan.


"Nia?? Kamu gak papa?", Tanyaku saat menyadari ada tembakan lagi yang tak menembus badanku melainkan tanganku.


"Abang janji ini yang terakhir kamu dengar tembakan", ucapku lalu setangah berbalik. Dan.....


Door. . .


"Sial", umpat ku dalam hati. Karena gw yang tertembak bukan si ******** itu.


Flashback off. . .


Author pov . .


"Maafin nia ya  bang", ucap Nia tulus.


"Yang penting lu aman", balas Noa.


"Oh iya Om Ri itu siapa?", Tanya Nia.


"Om Ri itu abangnya Andre, anak buah Yoga. Tapi udah hampir dua tahun dia gak ada kabar", jawab Noa.


"Kayanya aku tahu dia dimana", balas Nia.


"Beneran?",


"Iya, tapi sebaiknya abang sama Ucup dulu aja yang tahu. Gw takut Om Ri Om Ri itu terkejut melihat Andre", balas Nia.


"Kenapa memangnya?", Tanya Noa lagi


"Gak usah bawel. Pulihin dulu badanmu. Aku akan menemui Bokir dulu", balas Nia lalu berlalu mencari Bokir


"Apa yang terjadi?", Gumam Noa.

__ADS_1


__ADS_2