
Bang Noa mengemudi bak orang kesurupan dengan kecepatan yang bisa di bilang melebihi orang mengendarai mobil biasanya.
"Apa kita tidak bisa pelan sedikit saja?", Tanyaku agak sedikit teriak.
"Gak ada waktu lagi", teriaknya.
Aku kembali terdiam. Sungguh saat saat seperti ini yang selalu aku takutkan. Bukan hanya saat aku bersama Bang Noa saja. Tapi juga saat aku bersama Yoga dulu. Semua kemungkinan pasti akan terjadi apalagi saat kita hidup di pusaran dunia hitam. Baku hantam bukan jadi sebuah masalah besar karena pasti setiap hari mereka merasakan hidup di mana malaikat maut dapat menjemput kapan saja.
"Kita sudah sampai, kenapa belum turun juga? Apa kamu takut? Jika takut tinggallah dirumah saja", pinta Bang Noa sambil membelai rambutku.
Aku tersenyum dan menggapai tangannya. "Aku tidak takut, sudah resiko bukan? Tapi kumohon kita pulang dengan selamat. Berjanjilah", ucapku sambil menatap matanya.
"Aku gak bisa janji untuk hal yang tak pernah ku ketahui nantinya. Tapi akan ku usahakan", balasnya. Kami pun bergegas masuk ke tempat Om Ri.
"Sudah siap?", Tanya Bang Noa.
"Sudah sih, tapi yakin kita bawa si Nia? Dia wanita", ucap Hyunsuk.
"Baaah jangan ngeremehin bini bos kau lah cup. Dia ini mahir kali dalam hal tembak menembak", ucap Bokir yang akhirnya membongkar jati diriku yang sesungguhnya.
"Jadi?", Bang Noa minta kejelasan.
"Maafin aku, tapi saat aku bersama Yoga dia bukan hanya jadi kekasih. Tetapi pelatih penembak ku juga", balasku menunduk.
"Baguslah. Aku jadi yakin membawamu", ujar Bang Noa di luar dugaanku.
"Kau tak marah?", Tanyaku.
"Mana mungkin, itu keuntungan bukan? Paling tidak kita bisa saling melindungi sekarang", ucapnya sambil mengedipkan mata.
"Oey. Dah dong dramanya lagi genting juga. Lagian enak betul punya cewek jago bidik gak salah emang pilihan lu", ucap Hyunsuk.
Kami menjadi berenam karena Mery juga tidak mau di tinggal.
"Apa gak nyusahin tu anak nanti?", Tanya Bokir. Raesung wajahnya udah masam saja.
"Gw yang tanggung jawab", jawab Raesung.
"Eh Bokir. Mery bisa jadi umpan buat kita masuk", jawabku.
"Bener juga sih", balas Bokir.
Bang Noa menggenggam tanganku erat sekali.
"Tenanglah, aku tak apa", ucapku mengusap tangannya.
"Aku merasa kita sedang melaksanakan sebuah misi dunia", ucap Raesung.
"Sekarang dengarkan aku", bisik Bang Noa.
"Aku tak tahu nanti apa yang akan terjadi. Apa yang akan kita perbuat jadi aku harap kamu jangan bodoh seperti kemarin ok?", Ucapnya ku pikir dia akan memberiku kata kata romantis. Tapi nyatanya dia memang selalu berbuat di luar dugaanku.
"Tenang lah, aku yakin kau tak akan tinggal diam jika aku kenapa napa jadi aku cukup tenang akan hal itu", jawabku.
__ADS_1
"Tapi jika kau tahu yang sesungguhnya tentangku ku mohon jangan tinggalkan aku", ucapku entahlah aku merasa sedang memohon sekarang.
"Bahkan aku sudah tau sebelum kau menjelaskannya. Dan itu adalah awal mengapa aku dulu melarang mama menikah dengan papa", jawabnya membuatku memandangnya.
"Karena kita bersebrangan. Tapi akhirnya kau bersamaku sekarang. Jadi ku pikir keputusan ku mengijinkan mereka menikah adalah keputusan tepat", balasnya. Entahlah kadang aku tak mengerti apa yang dia pikirkan. Yang jelas aku hanya ingin berlama lama dengannya.
Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk kami sampai di tempat Andre. Dari pengamatan yang kami lihat di luar masih ada dua penjaga. Jika sistem penjagaan masih sama saat aku Bokir dan Anton masih kerap menjenguk Andre. Berarti dada sekitar delapan penjaga yang harus kita lewati. Di depan dua, di tengah empat dan di kamar Andre dua. Yang paling sulit adalah di kelompok tengah karena Yoga selalu menempatkan yang kuat di tengah tengah.
"Jadi gini aja. Mery lu pura pura nanya jalan atau ngapain kek gitu. Untuk ninggalin tempat itu. Dan Raesung lu jaga jaga kalau nanti semisal terjadi apa apa ok", jawab ku Bang Noa cuma diem aja seperti setuju dengan ucapanku.
"Gini saja lah aku bantu Raesung. Jadi kalian bertiga yang maju kedalam", tambah Bokir.
"Gw setuju, gw rasa Ucup dah cukup untuk di tengah bareng gw sama Nia", jawab Bang Noa.
"Dan jika di luar ada apa apa segera hubungi yang lain untuk membantu", jawab Bang Noa. Kami semua mengangguk. Dan Mery pun melancarkan aksinya. Cukup lama sampai akhirnya mereka semua pergi dengan Mery.
"Dah aman, yuk", ucap Hyunsuk kami bertiga pun masuk kedalam. Kamar Andre ada di lantai dua saat kami masuk ternyata sepi. Tidak ada tanda tanda ada orang.
"Kenapa sepi sekali?", Tanyaku.
"Jangan bilang ini jebakan?", Ucap Hyunsuk.
"Kita langsung ke kamar Andre saja", ucapku.
Kami pun menaiki tangga dan menuju kamar Andre. Jantungku mulai berdegup kencang. Aku menghembuskan nafas panjang berkali kali.
"Biar aku yang masuk duluan", ucapku. Bang Noa ingin menolak tapi di tahan Hyunsuk.
Aku pun melangkah dengan mantap dan membuka pintu. Terdapat Andre disana bersama suster Hany.
"Loh Nona Nia?", Tanya suster Hany.
"Iya saya", balasku bebarengan dengan keluarnya Susan dari kamar mandi.
"Hay Nia", sapa Susan.
"Dimana Yoga?", Tanyaku.
"Dia tak ada disini", jawabnya.
"Apa aku akan percaya gitu aja?", Ucapku lagi.
"Kau memang hebat sayang", ucap seseorang.
"Aku minta satu hal, aku ingin membawa Andre pulang", ucapku lagi.
"Tak semudah itu, kau hanya sendiri", ucapnya lagi dan keluar semua anak buah Yoga.
"Mari bermain", ucapku dan melepaskan tembakan ke udara dan selang beberapa menit bang Noa dan Hyunsuk masuk kedalam.
"Kenapa lama sekali gak kasih kode sih?", Teriak Bang Noa dan kami pun siap untuk baku hantam. Tapi aku tak akan ikut karena misiku adalah melepaskan Andre.
"Hany, kau pilih ikut aku apa masih mau jadi anak buah lelaki brengsek itu?", Tanyaku.
__ADS_1
"Ah aku aku", ucapnya.
"Jika kau ikut dengan dia jangan menyesal jika orang tuamu hanya bisa menemukan namamu saja bukan nyawamu", jawabku dan langsung membawa Andre menuju kursi Roda.
"Maafin gw, dan kenapa gak dari dulu nyelametin elu. Gw bener bener minta maaf tapi kali ini gw bener bener bawa lu keluar dari tempat ini", ucapku dan Andre tersenyum jadi menurutku itu tanda setuju. Dan lagi lagi seorang wanita bernama Susan itu telah menghilang.
"Sialan kemana dia?", Ucapku. Aku melihat lagi kearah Hany.
"Jadi keputusanmu?", Tanyaku.
"Baiklah aku ikut denganmu", ucapnya.
"Bagus, kau dorong kursi Andre gw bakal backing in lu", ujarku sambil mengeluarkan pistol.
"Bang Noa awaaas!!", Teriakku.
Dooor. . .
Untung saja tepat waktu aku menarik pelatukku, telat sedikit saja gak tau lagi bang Noa gimana. Bokir Mery dan Raesung pun menyusul.
"Gila di luar banyak banget anak buahnya Yoga", ucap Bokir.
"Bisa ngatasin gak?", Tanyaku kita ber lima cukup mungkin", ucap Bokir .
"Gw butuh jawaban pasti", ucapku lagi.
"Tenang gw udah minta Midam bawa anak anak kesini", jawab Raesung.
"Yang penting kita bisa keluar dulu dari sini", ujarku. Jika boleh jujur Bang Noa jadi kelihatan tambah ganteng saat begini dengan muka seriusnya melawan anak buah Yoga.
"Diluar sudah aman", ucap Mery sambil menunjukan pesan dari Midam.
"Kalian bawa Andre duluan. Biar gw sama Bokir Backingin mereka dulu", jawabku dan meraka setuju.
"Jangan lengah sayang, nanti balik nama doang", ucapku saat berada di sebelah Bang Noa.
"Musuhku adalah kepala mereka. Jangan meremehkanku", ucapnya sambil menampilkan seringainya. Dan kamipun melanjutkan aksi kami.
Menangkis serangan membalas dan mereka semua harus menelan kenyataan bahwa sepuluh orang dengan badan tambun itu harus di pukul mundur oleh empat anak anak.
"Udah lama gak baku hantam", ucap Bokir saat kami berhasil keluar dengan nafas terengah engah.
"Gw gak nyangka si Nia jago main pistol coba aja dia telat dikit. Dah remuk tu kepala si Noa", ucap Hyunsuk sama sama terengah engahnya.
"Mending cepetan cabut, gak pada capek apa", ucapku dan mereka mengangguk setuju.
"Terimakasih", ucap Bang Noa.
"Udah kewajiban saling melindungi", jawabku dan dia tersenyum.
"Andai aku tak mengenalmu? Apa mungkin ilmu yang ku dapat akan menjadi salah tempat?
Jika aku masih dalam lingkaran semu apa mungkin aku masih bisa selamat?", –Nia
__ADS_1