ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
dua puluh


__ADS_3

bagaimana perasaanmu yang harus terjebak dalam belenggu hitam seperti ini. aku kehilangan seseorang yang ku sebut pegangan hidup. dia yang selama ini menjadi satu satunya pengubah jalur keras yang aku lewati kini kami harus berpisah dengan cara yang sangat tak ingin aku kehendaki.


- NOA.


"mengapa sambungannya berakhir?", tanya Noa yang seakan ingin membanting ponsel milik Hyunsuk.


"Ponsel gw ini main mau banting banting aja", teriak Hyunsuk.


"aku mau kembali ke apartemen lama saja. percuma aku ngikut orang tua tapi malah jadinya begini", balas Noa lalu ia pun berlalu meninggalkan Hyunsuk yang masih mematung memikirkan langkah berikutnya harus apa.


Hyunsuk memutar otaknya lama sekali. hingga akhirnya ia memilih salah satu nomor di ponselnya dan mulai menefolnya.


"halo??",


(......)


"bisakah kau amankan tempat itu?"


(......)


"kabar buruknya Noa ingin tinggal di sana sementara waktu. aku tak ingin mereka bertemu dulu"


(.......)


"baiklah aku tunggu ka-"


"NOA!!!!!!", teriak Mery dari luar membuat Hyunsuk kaget dan ikut lari menuju suara teriakan Mery.


"ada apa Mer?", tanya Hyunsuk.


"aku melihat Noa lari, dan tak menyahut saat aku tanya mau kemana", ucap Mery membuat Hyunsuk lari mengejar Noa sambil mengeluarkan pistol yang membuat Mery dan Raesung membulatkn mata.


"Noa!! berhenti!!", teriak Hyunsuk sambil mengarahkan pistol kearah Noa.


"jangan cuuup!!", teriak Reasung mencoba meraih pistol Hyunsuk. sedang Noa sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.


****


di tempat lain terlihat seorang lelaki tengah beradu argumen dengan seseorang.

__ADS_1


"bagaimana kalau kau tinggal saja di rumahku sayang?", tanya Yoga kepada wanita yang kini duduk di depan Yoga.


"jangan harap ********", ucap wanita di depan Yoga.


suara tamparan terdengar nyaring, bekas tangan itu nampak jelas memerah di pipi putih gadis itu. "kenapa kau selalu menolakku ******?!!!",  teriak Yoga di depan wanita yang di sebut ****** itu.


"sudah ku bilang. aku ikut denganmu karena aku memang terpaksa padamu. kau lah yang membuat semua masalah ini menjadi jadi. kau lah sumber masalah selama ini dasar biadap", teriak wanita itu.


"NIA!!! diam kau. kau lah sumber dari semua masalah ini. jika kau tak bersama Noa semua ini tak akan terjadi", teriak laki laki itu pada wanita yang di sebut Nia sambil mencekik leher Nia hingga mukanya memerah


Nia menatap nyalang pada laki laki itu. "benarkah semua itu gegara aku? apa benar semua ini kesalahanku? jika kau tak bersama Susan dan Noa datang di hidupku aku tak akan pernah membuka mata tentang kebusukanmu. aku terlalu polos untuk sikapmu yang begitu halus namun sangat amat mematikan", jelas Nia dan hanya membuat laki laki itu terdiam.


"mau aku jelaskan semuanya?", seringai Nia terlihat lebih menyeramkan dari pada gertakan Yoga.


"kelumpuhan Andre adalah ulah darimu yang tak mau mendengarkanku bukan?", ucap Nia melangkahkan kakinya selangkah  kedepan mendekati Yoga. Yoga hanya diam dan memundurkan dirinya.


"Anton mati itu semua gara gara aku kan? tapi siapa yang menembak dia hah? kenapa semua salah ku hah kenapa?", teriak Nia semakin tak terkendali. 


Nia menarik sebuah pistol dari kaos kakinya. "bagaimana jika kita mati sama sama?", ucapan Nia mulai melantur sambil menodongkan pistolnya kearah Yoga. keringat mulai membahasi pelipis Yoga. "aku sudah muak dengan keadaan ini. bagaimana? kau sudah siap mati hah?", teriak Nia lagi seperti orang yang tak waras. dengan secepat kilat keadaan terbalik leher Nia terkunci oleh tangan Yoga. 


"bagaimana jika kau yang ku habisi?", teriak Yoga.


"jika aku mati, aku tak akan mau mati sendiri", batin Nia.


"Jika memang kematian adalah jalan dari sebuah pelarian dari ketidak pastian.


Aku adalah orang pertama yang akan siapa untuk itu", –NIA


Nafas Nia mulai memburu ia mencoba menghirup rakus udara yang ia bisa dapatkan kematian selalu menyertainya setiap waktu. Ia bahkan sudah tak memiliki rasa takut akan hal itu. Di pikirannya kini hanya ada satu penjuru yang ingin ia hancurkan yaitu Yoga.


Door. . .


Satu tembakan melesat di samping kepala Yoga. Yang membuat kuncian tangan itu terlepas. Tetapi tidak ada satu orang pun disana.


"Siapa di sana?", Teriak Yoga tapi tak ada sahutan dari siapa pun.


Tiba tiba ada sebuah pisau terbang ke samping kanan kepala Yoga yang menembus tembok kayu itu. Ada secarik kertas yang ikut menyertai pisau itu.


LEPASKAN DIA

__ADS_1


303


Yoga tiba tiba melepaskan Nia. "Cepat pergi atau aku berubah pikiran", ucap Yoga.


Nia masih mengatur napasnya yang kembang kempis. Ia melihat lagi pisau belati yang menancap di dinding dengan kode 303 itu bukan kode klub Noa ataupun Yoga. Ia masih berdiam mematung sambil memperhatikan Yoga yang dengan mudah melepaskannya.


"Cepat pergi atau ku habisi disini", teriak Yoga.


"Kau sungguh tak ingin membunuhku?", Tantang Nia.


"Akh. . .", Raungan Nia tertahan.


"Jangan sekali kali kau melukai Nia", teriak Yoga yang membuat Nia kembali menoleh kebelakang. Ia sangat penasaran siapa yang melakukan ini semua. Sedangkan darah mengucur di kaki sebelah kanannya. Satu pisau melesat lagi ke arah dimana pisau yang pertama tadi tertancap. Disana juga ada tulisan.


Cepat lari atau tak


Akan ada yang tersisa


303


Yoga meraih tubuh Nia. "Aku harap kau benar benar pergi sekarang. Situasi ini tak baik untukmu", jelas Yoga. Entah mengapa Nia begitu percaya dengan Yoga mata itu selalu Nia rindukan dari sosok Yoga yang dulu.


Yoga mendorong Nia kearah pintu keluar. Akhirnya Nia pun meninggalkan tempat itu dengan tertatih tatih. Darah semakin membanjiri kaki Nia ia mulai merasakan sakit yang luar biasa.


"Sialan. Kenapa jalan ini tak ada ujungnya", ucap Nia mulai merasakan frustasi.


"Apa kau baik baik saja?", Tanya seseorang di ujung gang sempit yang Nia lewati.


"Kamu?", Ucap Nia tak percaya.


"Apa itu sakit? Disini sangat tidak aman untukmu. Lebih baik kau pergi denganku", ucap orang itu kepada Nia.


"Aku bisa pulang sendiri", ucap Nia hendak meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya terhenti saat orang itu dengan sigap mengangkat tubuh Nia.


"Aku tidak sedang becanda. Kota ini penuh dengan komplotan Mafia. Jadi menurutlah ini untuk keamananmu juga", ucapnya lalu membawa Nia masuk kedalam mobil.


Nia tak bisa berbicara apa apa di benaknya adalah apakah orang ini juga masuk dalam komplotan 303? Atau dia adalah seseorang dari tempat lain.


"Apa kau anggota 303?", Tanya Nia pada orang itu.

__ADS_1


__ADS_2