
Aku dan Noa memasuki sebuah ruangan yang membuatku
terpukau dengan disain ruangan dan meja yang tertata seperti tempat untuk
melakukan diskusi atau judi judi yang pernah aku tonton filmnya.
“Bang, kenapa kita kesini?”, tanyaku pada Bang Noa.
“apapun yang akan kau ketahui kumohon maafkan aku”,
ujarnya lalu menggandengku menuju sebuah pintu besar di sana. Firasatku mulai
tak enak, bukan main terkejutnya saat aku melihat banyak orang yang aku kenal
berada di dalam sana. Aku melihat pria paruh baya yang ku piker adalah Tuan
Takano itu menatapku tak senang, aku semakin mengeratkan pegangan tanganku yang
aku sadari bahwa Bang Noa paham akan ketakutanku.
“mengapa kau bawa dia kemari?”, ucap Yoonbin yang
membuatku menatapnya penuh Tanya.
“aku setuju jika anak kecil pembuat masalah ini ikut
juga untuk pertemuan antara kelompok berat ini”, seru laki laki paruh baya itu.
“Nia gak ada sangkut pautnya pa”, ucap Yoonbin.
“tentu ada karena anak sialan ini keluarga kita harus
berpencar pencar seperti ini”, balasnya membuat Yoonbin hanya membuang wajahnya
tak ingin berdebat dengan lelaki itu sepertinya.
“sebenarnya ada apa?”, tanyaku tak ada sahutan dari
semua orang di sana termasuk Reasung, Yoga, Midam, Hyunsuk dan bahkan bang Noa
sekalipun.
“karena kamu semua keluargaku jadi terpecah belah”,
ujar laki laki paruh baya itu.
“pa jangan sangkutkan masalah keluarga kita dengan
Nia”, ucap Bang Noa sambil membawaku ke balik badannya.
“kenapa? dia harus tau semuanya kan bahwa dia yang
membuat Yoga meninggalkan kita, di susul kamu dan bahkan sekarang dia mau
ngambil Yoonbin dariku”. Ucap laki laki itu sambil menunjuk kearahku.
“apa? Kalian semua bersaudara?”,
“ya, mereka semua anak anakku”, jawab laki laki itu.
“udah pa, jangan di perpanjang lagi”, bentak Yoonbin,
seraya berdiri.
“sekali kau melangkah, kau adalah musuh keluarga
Takano”, gertak lelaki itu.
“aku tak peduli”, balasnya.
“Nia, lebih baik kau ikut Yoonbin keluar”, titah Bang
Noa padaku.
“setelah Yoga jatuh hati pada anak kecil ini di susul
kau Noa, dan sekarang apa kau juga mencintai gadis itu Yoonbin?”,
“apa saat itu kau mencium bibirnya dengan sadar?”. Ucap
laki laki yang membuat bang Noa berbalik menatapku.
“bahkan aku lihat Hyunsuk juga mulai menyimpan rasa
pada anak ini meski akhirnya dialah yang melukai kaki malaikat kecil para
kesatria Takano”, ejek lelaki itu yang membuat satu kebenaran yang terungkap
303 adalah gerombolan Hyunsuk.
__ADS_1
“permainan gila apa ini?” bentakku.
“mari bersaing”, ujar Yoga seraya berdiri.
“aku tak takut dengan tantangan kalian”, balas Bang
Noa, membuat aku terbelalak dengan jawaban bang Noa.
“kalian gila”, jawab Yoonbin sambil menarikku keluar.
Aku mengikuti langkah Yoonbin keluar semua orang
membungkuk hormat. Sedang Yoonbin tak bergeming seketika aku merasakan air
mataku sudah melampaui batas hingga akhirnya mereka jatuh tanpa sanggup aku
kendalikan.
“YOONBIN!!!”, teriak Pak Takano.
“APA?”, teriak Yoonbin dan baru kali ini aku melihat
kemarahannya.
“sekali kau melangkah maka kau musuh dari keluarga
Takano”,
“aku tak peduli ini bukan kali pertama papa mengancamku, aku bukan Yoga yang takut dengan
ancamanmu, dan aku bukan Noa yang dengan mudah kau pancing kemarahannya”, ujar
Yoonbin yang kurasa memang benar apa yang dia ucapkan.
“dan kalian berdua jika mau bersaing silahkan tapi
jangan bawa bawa Nia. Dia bukan piala yang harus kalian rebutkan”. Tambahnya
yang membuat hatiku benar benar terasa tertampar oleh ucapannya.
Memang benar aku
bukan piala yang harus di perebutkan seperti ini. Aku merasa Noa juga terlalu
kegabah dengan semua ini, dia tak bisa menahan amarahnya dan dia mudah terpancing.
Sedang Yoga psikopat yang sangat terobsesi memiliki dan yang tak habis piker
****
Aku di bawa oleh Yoonbin dengan mengendarai mobilnya,
aku masih menangis sesenggukan. Aku tak percaya dengan semua kenyataan ini.
Tiga lelaki yang berputar putar di kehidupanku adalah tiga bersaudara.
“apa kau secengeng ini? Ayolah berhenti menangis”, ucap
Yoonbin sesekali melihatku karena ia focus menyetir.
“bisa kau tepikan sebentar mobilmu?”, tanyaku dengan
suara serak
“hey, kamu mau apa? Jangan aneh aneh”, ucapnya.
“jika kau tak menepikan mobilmu aku akan loncat”,
ancamku.
“baiklah iya iya aku menepi”, ujarnya lalu menepikan
mobilnya.
“sudah kan lalu mau ap‑“ ucapnya terpotong saat aku tiba
tiba memeluknya.
“ijinkan aku menangis kali ini”, ucapku lalu memeluknya
erat sekali entah mungkin dia akan sesak nafas seletah ini. Tetapi aku
merasakan tangannya mulai membelai rambutku sedang tangan yang lain menepuk
nepuk punggungku.
“menangislah, tak apa maafkan aku ya”, balasnya.
“mengapa? Untuk apa kau minta maaf?”, ujarku masih
__ADS_1
seraya menangis tanpa mau memandangnya.
“aku tak bisa membantu mencegah Noa untuk ini, tapi aku
janji akan menebusnya”, jawabnya yang membuatku mulai menatapnya.
“bahkan
kau masih begitu peduli denganku, yang menyebabkan keretakan keluargamu?”,
batinku.
“akan aku jelaskan sedikit saja”, balasnya melihatku
berpikir mungkin dia tau apa yang aku maksudkan.
“tak usah aku punya satu hal yang harus aku tanyakan.
Siapa Maria?”, tanyaku. Dia takpak berpikir sejenak.
“Apa kau sudah benar benar siap?”, tanyanya.
“baiklah, rahasiakan saja. Lajukan saja mobilmu
sekarang”, rajukku
“dasar anak kecil suka merajuk”, entah mengapa aku
malah tersenyum mendengar kata kata itu.
Mobil itu melaju membawaku jauh dari kota itu, aku
masih bingung kenapa semua yang terjadi. “benarkah
aku yang telah membuat mereka menjadi begini? Kenapa aku harus masuk dalam
sebuah keluarga yang membuatku sendiri merasa sengsara”,
“kenapa melamun?”,
“jadi papa kalian satu. . .”
“iya, ayah kami satu tapi ibu kami berbeda. Jarak
antara kami juga tak terpaut jauh” jawabnya memotong pembicaraanku.
“tapi untungnya Mama Noa bisa lepas dari laki laki tua
itu”,
Krucuk.
. . . krucuk. . .
Dalam keadaan seperti ini bisa bisanya perutku melawak
dan berbunyi seperti tak terkendali. Yoonbin melihatku dengan tatapan ingin
tertawa tetapi melihat mukaku yang masam dia malah rambutku gemas membuatku
menghangat. Setelah Noa tangannya begitu nyaman dan membuatku benar benar
merasa beruntung entah untuk hidup atau masalah ini.
“kita makan dulu ya”, ucapnya lembut membuatku
mengangguk dan mengatur ritme pikiran dan gemuruh dadaku.
Selang beberapa menit dia memarkirkan mobilnya di dekat
tempat makan pinggir pantai.
“sudah sampai”, ucapnya yang membuatku bersemangat
keluar.
Duuugh
. . .
“sial!!”, teriakku saat tak sengaja
kepalaku terbentur pintu mobil yang membuatku berjongkok dan menutup kedua
mataku dengan tanganku dan tanpa sadar aku tak berhenti memaki.
“dasar bocah”, ucap Yoonbin sambil mengusap
kelapaku dengan lembut.
__ADS_1
“Tuhan
tolongan hentikan waktu saat ini”