ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
tiga belas


__ADS_3

Penyelamatan yang gak butuh aksi tegang tegangan seperti sidang skripsi. Karena yang kita utamain cuma Andre jadi setelah Andre dapat di bawa kabur bareng kita ya udah.


"Untung jago lu nembaknya", ucap Hyunsuk.


"Udah profesional dia mah", jawab Bokir.


"Lagian abang ngapain sih gak fokus?", Tanya ku ke bang Noa. Lalu dia mendekatkan dirinya dan membisikan sesuatu di telingaku.


"Bokap sama nyokap udah pada balik", ucap Bang Noa.


"******!!, Dah Bang kita berhenti disana aja kita nyari taksi", saranku yang di angguki oleh bang Noa.


"Lah gak pada ikut kerumah sakit?", Tanya Hyunsuk.


"Ada hal gawat di rumah kita harus balik duluan", ucap Bang Noa dan aku hanya mengiyakan perkataan Bang Noa.


Setelah kita nyari taksi kita pun berangkat pulang. Pikiranku pun berkecamuk tentang perasaanku kepada Abangku sendiri. Apa aku harus menjauh agar perasaan ini tak semakin terjebak di dalam diriku.


"Lagi mikirin apa?", Tanya Bang Noa, aku pun menggeleng.


Kepalaku di tariknya lembut sampai bersandar di pundaknya.


"Katakan saja apa yang kau pikirkan apa yang mengganggumu hmm?",  Tanyanya padaku.


"Apa aku salah jika aku menyayangimu. Emb... Maksudku menyukaimu?", Ujarku pelan.


"Apa perasaanku kini terbalaskan?", Tanyanya.


"Apa ini semua tidak salah? Apa perasaan kita ini bisa di benarkan?", Tanyaku lagi.


"Aku tak bisa menjawab semua yang kau tanyakan. Tapi yang ku tahu, perasaan itu tak pernah salah", balasnya. Aku memandanginya dalam dalam entahlah aku tak ingin mengiyakan atau menyanggah apa yang ia ucapkan.


Yang jelas aku akan sangat merasa menyesal jika harus melepaskannya.


Dia mengecup keningku lumayan lama hingga akhirnya aku benar benar memejamkan mataku menikmati semua yang ia curahkan.


"Tenang lah, apapun yang akan terjadi aku tak akan pernah meninggalkanmu", ucapnya lalu tersenyum, senyum yang selalu membuatku jatuh semakin dalam, kedalam sebuah perasaan takut akan sebuah kehilangan.


Aku memeluknya dari samping dan menikmati perjalanan kami berdua.


Sesampainya di rumah kami pun bergegas masuk, saat ku pikir keadaan rumah masih kosong.


"Ah lega banget mereka belum sampai", ucapku sambil menghembuskan nafas panjang.


"Siapa yang belum sampai?", Tanya seseorang yang menuruni tangga.


"Gawat, Komandan sudah di rumah", batinku.


"Papa sudah pulang? Bagaimana pa bisnisnya?", Ucap Bang Noa mulai mendekat kearah papa.


"Semua berjalan lancar akhirnya papa mendapat proyek besar", jawab papa yang seakan lupa kalau tadi ia sedang memarahiku.


"Apa kalian sudah makan?", Tanya Mama.


"Belum ma", jawabku.

__ADS_1


"Kebetulan mari kita makan bersama. Mama sudah rindu dengan kalian", ucapnya sembari memelukku.


Aku pun membalas pelukan mama dengan sayang.


"Kok kemeja kamu ada bercak darahnya?", Tanya mama tiba tiba.


"Anu-itu. . Emb. . . Nyamuk ma, iya nyamuk", jawabku akhirnya. Aku lihat Bang Noa menghembuskan nafas lega.


"Oh, mama kira kamu di apa apain lagi sama Abangmu itu", ucap Mama sembari memicingkan matanya ke arah Bang Noa.


"Mama!!!", Ucap Bang Noa dan entahlah aku malah tertawa membuat semuanya menoleh ke arahku.


"Tenang ma, Bang Noa jagain Nia dengan baik kok", ucapku dan beralih memeluk Bang Noa.


"Kamar Noa udah jadi kan? Jadi kamu besok udah bisa nempatin kamar kamu", ucap Papa. Yang hanya di angguki oleh Bang Noa. Makan malam kali ini benar benar sangat menyenangkan. Bisa berkumpul dengan semua keluarga.


"Ma, meski aku memiliki mama baru. Tapi mama tetap nomor satu buat Nia", batinku saat memandang foto mendiang mamaku.


"Aku sudah selesai. Aku ke kamar duluan ya ma, pa", ucapku sembari tersenyum.


"Aku juga mau ke kamar ma, pa mau beres beres besok kan udah pindah kamar", ujar Bang Noa.


"Aku bantuin ya Bang", ucapku semangat.


"Oke", balasnya. Kami pun menaiki tangga dan masuk kedalam kamar.


"Mau mandi dulu?", Tanya Bang Noa.


"Males", balasku sambil nyengir. Dia mengacak rambutku gemas.


"Kamar Bang Noa itu berhadapan kan sama kamar Nia. Ngapain rindu?", Tanyaku.


"Ya aku akan lebih rindu sama orangnya sih", ucapnya sambil mengusap usap belakang kepalanya.


"Kalau rindu tinggal datang aja, asal gak ngendap ngendap tiap malam aja. Hehehe", ucapku lalu tertawa.


"Ide bagus tu", godanya yang membuat pipiku serasa mendidih.


Dia memelukku, aku pun membalas pelukannya. Entahlah dia sangat berharga sekarang ini.


"Noa!!!, Sayang, ada Maria di bawah", ucap Mama sembari mengetuk pintu, aku pun melepaskan pelukanku.


"Di cari tuh", ucapku lalu berpaling dari Bang Noa.


"Aku keluar sebentar ya", ucapnya dan sekali lagi aku tak menjawabnya.


"Apa begitu nampak jelas jika aku sedang cemburu?", Batinku lagi lagi ingin sekali menyuarakannya.


Aku mengambil ponselku. Dan di sana terdapat sebuah pesan dari Mery.


Mery


Apa Noa sudah cerita jika Maria akan bersekolah di tempat kita?


Begitulah isi pesannya. Aku menghembuskan nafasku kasar, aku memilih berganti baju dan turun ke bawah. Aku melihat mama begitu akrab dengan Maria.

__ADS_1


"Nia, sini sayang", ucap Mama. Aku hanya tersenyum dan duduk di sebelah mama. Aku melihat wajah Bang Noa menunjukan sebuah rasa penyesalan.


"Nia, kenalin ini Maria. Dia ini dulu pacar kakak kamu, udah lama ya Maria gak ketemu kamu. Makin cantik aja", ucap Mama sepertinya sangat akrab dengan Maria. Aku hanya tersenyum dan aku tak tahu harus berbuat apa, aku menoleh kearah Bang Noa dia hanya menunduk.


"Oh iya Maria, kamu sekolah di mana sekarang?", Tanya Mama.


"Aku satu sekolah sama Noa kok ma", jawabnya sembari tersenyum.


"Ma?", Ucapku tiba tiba membuat mereka menoleh kearahku.


"Iya, Maria udah seperti anak mama sendiri, makanya Maria manggil mama dengan sebutan mama juga. Bahkan mama kira Maria akan menjadi menantu terbaik nantinya untuk mama", ucapnya sembari memeluk Maria.


"Ah. . . Ma, Nia malam ini mau nginap di rumah Mery ya. Kasihan dia di rumah sendirian", ucapku sembari menunduk.


"Kok gak kasih tau dari tadi? Sudah ijin papamu?", Tanya Mama.


"Maaf, tapi aku tadi lupa. Mama kasih tau papa aja ya ma, Nia mau berangkat sekarang", jawabku lalu berdiri dan berniat meninggalkan mereka.


"Biar aku antar", ucap Bang Noa sambil menahan tanganku.


"Gak usah, kamu disini aja. Aku bisa pakai taksi kok. Kasihan nanti pacar kamu", jawabku memandang kearah Maria, lalu menepis tangan Bang Noa yang menahanku.


Aku pun keluar rumah niatku mencari taksi hampir lima belas menit aku berjalan tak ada taksi satupun.


"Naik cepet", ucap Hyunsuk tiba tiba saat mobilnya berhenti tepat di sampingku. Aku pun melangkah masuk ke mobilnya.


"Kaya anak kecil tau gak ngambekan gitu terus lari dari rumah", ucapnya aku tak berniat menanggapinya.


"Mau diam terus? Gak pengen ngomong?", Tanyanya lagi.


"Apa Mama Bang Noa sangat dekat dengan Maria?", Tanyaku padanya tanpa melihat kearahnya dan malah membuang pandangan ke samping jendela.


"Ya bagaimana tak dekat, Noa dan Maria, mereka menjalin hubungan lebih dari tiga tahun lamanya", jawab Hyunsuk.


"Tiga tahun ya? Menurutmu lebih mendingan siapa aku atau Maria?", Tanyaku lagi.


"Pandangan setiap orang itu berbeda kau tak bisa memastikan siapa yang lebih unggul", jawabnya kini aku beralih menatapnya.


"Lalu mengapa Bang Noa tak membicarakan mengapa Maria harus bersekolah di sekolahan kami?", Tanyaku lagi.


"Dia punya pemikiran sendiri untuk hal itu", jawabnya.


"Apa karena dia adalah seseorang yang lama bersama bang Noa? Apa karena Bang Noa gak bisa ngelupain dia?", Tanyaku tanpa ku sadari air mataku menetes.


Hyunsuk melihat kearahku. Dia menghembuskan nafas dalam sebelum menjawab pertanyaanku.


"Lamanya sebuah hubungan gak akan menjamin seseorang tak akan berubah. Jika memang ada ketulusan tak akan ada yang merasa di tinggalkan", jawabnya aku hanya terdiam dan mendengarkan semuanya.


"Sama saat kamu bersama Yoga, kamu bisa saja berubah kapan saja dan meninggalkannya", ucapnya lagi yang entah mengapa aku merasa jika aku tak ada bedanya dengan Maria.


"Jika Noa tak peduli denganmu, dia tak akan menyuruhku mencarimu. Dia bukan tipikal manusia yang mau susah untuk hal percintaan seperti ini", lagi lagi kata kata Hyunsuk seperti sebuah tamparan untukku.


"Mungkin memang benar, manusia yang berjenis wanita itu mudah sekali menduga duga tanpa tahu kenyataannya. Terlalu kemakan dengan pemikiran negatif sampai lupa bahwa ada sebuah penjelasan yang menjadi hak mereka untuk membela diri", batinku.


"Lalu kau mau kemana?", Tanya Hyunsuk.

__ADS_1


"Kita ke tempat Andre, ada hal yang ingin aku jelaskan padanya", ucapku lalu menunduk.


__ADS_2