ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
dua puluh dua


__ADS_3

Dia memandangiku sedari tadi. Entah mengapa aku menjadi canggung dengan situasi ini. aku mencoba untuk menetralkan detak jantungku saat mulai menatap matanya. "apa kau hanya akan memandangku seperti itu?", tanyaku padanya.


"ada apa dengan kakimu hmm?", dia malah bertanya balik kepadaku.


"itu. . .", aku menunduk


"apa disini juga tak aman untukmu?", tanyanya yang membuatku menoleh kearahnya.


"apa Junkyu, Haruto dan Yoonbin tidak becus menjagamu?", ucapnya dengan nada dingin. saat nama Yoonbin disebut entah mengapa aku menjadi teringat kejadian buruk tadi.


"mereka begitu baik menjagaku. hanya masalah kecil saja", jawabku memalingkan muka.


aku beranjak dari sana pikirku sangat kacau saat ini. wajah Yoonbin dan kejadian saat dia menciumku kembali berputar putar di dalam otakku. dalam hal ini aku sangat merasa naif tak berani berkata jujur pada Noa. tapi disisi lain aku tak ingin menimbulkan kejadian yang mengguncang orang tuaku kedua kalinya. ku rebahkan tubuhku di ranjang tidur aku menatap langit langit kamarku. merasa semua ini mimpi buruk yang dengan tak sopannya mengacaukan kedamaian hidupku.


"kau sudah tidur?", tanya Bang Noa saat membuka pintu dan mulai mendekat kearahku. aku tak menjawab aku hanya mencoba memejamkan mataku dan mencoba mencerna semua kejadian ini.


"apa harimu sangat sulit?", tanyanya setelah ia ikut berbaring di sebelahku. dengan spontan aku memeluknya mencari kenyamanan yang selama ini aku rindukan. dia membalas pelukanku.


"maafkan aku yang menciptakan kekacauan ini. Aku tak akan pergi meninggalkanmu sungguh kali ini biarkan aku berjan–", ucapannya terputus saat jari telunjukku menyentuh bibirnya.


"Kumohon jangan berjanji", balasku


"Mari jalani ini sama sama. Tak usah berjanji untuk hal yang tak tentu nantinya", tambahku.


"Apa kau akan pergi lagi?", Tanyanya yang membuatku benar benar merasa tersekat tenggorokanku.


"Apa ada seseorang yang kini kau sukai? Apa dia superhero mu saat ini? Apa aku tidak ada artinya lagi?", Pertanyaannya mencerca ku dia berusaha melepaskan pelukanku tapi aku berusaha untuk menahannya.


"Karena aku sudah terlanjur muak dengan semua ini", balasku.


"Apa yang aku alami tentang perasaan beban hidup semua bercampur menjadi satu busur panah yang kapanpun mampu menghunuskan tepat di tembok pertahanku", balasku dengan nada tak karuan.


"Aku muak dengan kenyataan bahwa kini aku merasa di permainkan oleh Tuhan", tambahku dengan isak tangis mulai terlepas tanpa bisa aku menahannya.


"Tuhan tidak bermain bermain denganmu, Tuhan mengasihimu dengan ujian yang kita lalui bukankah kita termasuk golongan orang terpilih?",jawabnya.


"Terpilih menggeluti dunia hitam ini kan maksutnya?", Jawabku yang masih tak mau mengalah atau menerima opini Bang Noa.


"Dengarkan aku", ucapnya mulai dingin.


"Jika kau anggap dunia hitam ini adalah salah tuhan. Maka dengarkan ini", tambahnya sembari mendudukanku. Dia turun dari ranjang menuju kelaci samping pintu. Dia mengambil pistol dan memberikannya padaku.


"Bunuh saja aku", tambahnya.

__ADS_1


"Aku penyebab semua ini, bukan Tuhan. Jika kau ingin menyalahkan salahkan aku yang menyeretmu masuk kedunia gelap ini", ucapnya sembari menuntun tanganku mengarahkan pistol itu ke kepalanya.


Dengan cepat aku membanting senapan itu dan memeluknya erat.


"Aku memang bodoh", ujarku setelah merasa sangat Bodoh telah memiliki pemikiran sempit seperti itu. Bahkan aku harus bersyukur untuk beberapa kali selamat di saat kematian itu bisa saja merenggutku.


"Tenangkan dirimu, tidurlah dan jangan berpikir hal yang berat dulu", ujarnya melunak saat aku merasakan belaian sayang dari tangannya di rambutku.


****


Pagi ini aku mendapatkan sebuah kejutan yang luar biasa. Hidangan sarapan pagi sudah tertata rapi di meja, aku melihat Bang Noa tengah menonton tv dengan secangkir kopi terletak di atas meja. Aku berjalan mendekatinya dan mengambil satu kecupan di pipinya.


"Selamat pagi", ucapku sembari tersenyum.


"Minta lagi dong", balasnya membuatku mengerutkan dahi bingung.


"Disini", ujarnya sembari menunjuk bibirnya. Dan sial bagiku dengan hal seperti itu aku mengingat kejadian kemarin dimana lagi lagi wajah Yoonbin melintas di benakku.


Cup . . .


Aku tersadar dari lamunanku setelah bibir bang Noa menyentuh bibirku.


"Bengong aja", ujarnya. Pipiku bersemu aku merasa diriku sangat panas sekali. Aku hanya mengedipkan mata beberapa kali tak mampu menjawab atau hanya sekedar memakinya.


"Sudah makan sana", ucapnya sembari mengacak acak rambutku.


"Semenarik itukah ponselmu?", Tanyaku sinis.


"Aku sedang bekerja sayang. Lagi ada masalah di sana", balasnya.


"Apa kau akan mengantarku sekolah hari ini?", Tanyaku antusias.


"Maaf, tapi hari ini aku sangat sibuk sekali", jawabnya membuatku tak selera makan dan aku menjatuhkan sendokku begitu saja. Dia menoleh kearahku aku pun berdiri dan bergegas dari sana.


"Apa kau marah? Perusahanku sedang kalang kabut sekarang. Apa kau mau jika calon suamimu bangkrut?", Tanyanya dan aku membalikan badanku dan memeluknya.


"Baiklah aku yang kekanak kanakan tapi sangat tidak adil jika kamu bekerja dan aku sekolah", balasku.


"Calon istri pemilik Crop Company harus pintar ngerti sekarang kamu sekolah Yoonbin dah nungguin di depan", ucapnya melepaskan pelukanku.


"Junkyu dan Haruto?", Tanyaku.


"Mereka sudah berangkat duluan. Ya udah sana berangkat", ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah", aku mengambil tasku dan mulai melangkah menuju pintu depan.


"Tunggu!!", Teriak Noa.


Aku menoleh dan satu kecupan manis mendarat di bibirku.


"Sudah mesra mesranya? Ayo berangkat", ucap seseorang di depan pintu ternyata itu Yoonbin.


Wajahku sudah sangat gak karu karuan saat melihat dia di depan pintu. "Ah aku naik taksi sendiri saja ya bang", saranku kepada Bang Noa.


"Jalanan macet, lagian lu bakal aman sama gw", ucap Yoonbin yang hanya dapat aku lirik sebentar sebelum ekspresi muka menyebalkan itu membuatku ciut lagi.


"Iya, aku lebih percaya kamu sama Yoonbin habisnya aku gak bisa anterin kamu kan sayang", balas Bang Noa.


"Ya udah Ayo", ucap Yoonbin langsung menarikku.


"Hey hati hati, jangan kasar sama wanitaku", teriak Bang Noa.


Aku mengikuti langkahnya menuju sebuah motor, dia memberiku helm tetapi saat tanganku hendak meraihnya tetapi dia malah memasangkannya di kepalaku.


"Lama", ujarnya membuatku hanya terbengong.


"Bahkan untuk mengambil dari tangannya tidak ada lima detik. Dasar orang aneh", batinku.


Kami mengendarai motor itu membelah jalanan yang sedang padatnya orang berlalu lalang.


"Pegangan", ujar Yoonbin.


"Haaaah? Lu ngomong apaan?", Teriakku tidak mendengar ucapannya.


"Pegangan Aho", teriaknya


"Eh somplak gw pinter kali gak usah teriak teriak", balas gw nyolot.


"Kalau lu denger lu gak haaah haaah aja", teriaknya lagi.


"Haaah apa gw gak denger?", Niat banget aku ngerjain manusia muka datar satu ini.


"Dasar budi", gumamnya tetapi aku mendengarnya dengan jelas.


Tiba tiba dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


"Eh somplaaak jan kenceng kenceng gw masih mau idup", teriakku.

__ADS_1


"Gw juga mau. . . .  Bareng lu", balasnya.


"Haaaah?",


__ADS_2