
Namaku Nia Julia, dalam kamusku selain Yoga ada satu lagi manusia yang tercatat merah di otakku yaitu, YOONBIN.
Laki laki yang membuat jantungku hampir saja copot karena motor yang kami tumpangi di pacunya dengan kecepatan tinggi.
Aku sudah mengucapkan sumpah serapah sedari kami sampai di sekolahan, benar benar rasanya ingin aku teriaki dia tapi apa daya nyali terlalu ciut.
"Ngapain komat kamit begitu? Belajar jadi dukun?", Tanyanya.
Aku hanya memutar bola mataku malas dengannya.
Aku berjalan duluan dan tak menghiraukan Yoonbin yang meneriakiku aku terus berjalan cepat sampai akhirnya tubuhku merasakan tarikan dari sebelah kiri.
Tubuhku terpental membentur dinding.
"Akhh", ucapku tertahan.
"Eh anak baru, gak usah sok cantik deh lu", ucapnya. Aku ingat jelas bahwa wanita yang menarikku barusan adalah orang yang sama dengan seorang wanita yang membuatku hampir jatuh waktu pertama kali masuk sekolahan ini.
"Apa maksudmu? Aku tak pernah nyari gara gara ke kamu", ucapku.
Satu tamparan mendarat di pipiku. Rasanya panas meski tak sekuat Yoga tapi tetap saja yang namanya di tampar pasti rasanya sakit.
"Lu udah ngerebut apa yang harusnya jadi milik gw", balasnya
"maksud lu apaan sih gw gak ngerti?", Jawaban ku gak di indahin sama sekali.
"Gw peringatin ya ke elu, sekali lagi lu deketin Ben, lu bakal abis sama gw ngerti?!", Jawabnya.
"Kalau gw gak mau?",
"Sial, jawaban macam apa ini?", Batinku.
"Lu bener bener ya", teriaknya mulai mencekik leherku. Heran saja kenapa banyak sekali yang suka mencekik leherku belakangan ini.
"SARAAAAH!!!", Teriak laki laki yang tak terlihat jelas siapa.
"Lekas bantu aku, aku sudah mulai sulit bernapas", batinku ingin menjerit saat ini.
"Lepasin Sar, lu gila ya?", Ucapnya mendorong wanita tadi yang di panggil Sarah.
Dan setelah itu aku tak ingat apa apa hanya gelap yang menyerangku.
__ADS_1
****
"Kau sudah sadar?", Tanya seseorang yang masih samar aku lihat.
"Pusing", balasku.
"Sudah tidurlah saja, sebentar lagi Junkyu dan Haruto datang membawakanmu makanan", balasnya.
"aku kenapa? dan wanita tadi bukannya dia teman sekelas kita?", tanyaku dia memalingkan wajahnya.
"jawab aku!", ucapku saat tak ada jawaban yang dia utarakan kepadaku.
"Yoonbin? jawab aku!", sekali lagi aku berteriak di depannya. Entah mengapa aku merasa sangat sakit saat ia abaikan. mataku terasa panas, aku tak ingin menangis kali ini sungguh aku sangat lelah. Aku lebih memilih menundukan kepalaku saat aku merasa pusing.
"kau tak apa?", tanyanya dan mencoba memegang pundakku tetapi entah mengapa ego ini terlalu kuat hingga menggerakan pikiran dan tanganku menepis gerakannya.
"jangan sentuh", ujarku.
"maaf, tunggu Junkyu dan Haruto datang, beristirahatlah aku keluar sebentar", katanya lalu meninggalkanku begitu saja. entah aku begitu kecewa kali ini padanya. Aku lebih memilih membaringkan badanku di ranjang UKS dan merasakan leherku panas sekali mungkin cekikan dari wanita tadi akan membekas di leherku, dan jika Bang Noa tahu pasti dia akan mencari wanita tadi.
"siaaal, tidak kah kau ingin istirahat? mengapa memikirkan hal rumit terus?", maki ku pada diriku sendiri.
"Nia, kamu gak papa?", tanya Junkyu dia terlihat sangat panik sekali aku hanya membalasnya dengan sebuah senyum yang menunjukan bahwa aku baik baik saja.
"apa kita beri tahu Noa saja?", tanya Junkyu yang membuatku membulatkan kedua mataku.
"ah gw gak papa kok", jawabku. tetapi diluar terdengar ribut ribut dari anak anak yang teriak teriak tak jelas.
"kenapa di luar ribut ribut?", tanyaku dan mereka hanya menggerakan bahunya menunjukan tak tahu apa apa.
Saat teriakan mereka mulai semakin riuh aku jadi penasaran apa yang terjadi. aku cepat cepat menuju pintu untu melihat keadaan di luar. Tapi pandanganku tertutup anak anak yang melihat kearah bawah.
"liat deh, samapai babak belur begitu", ujar salah satu anak perempuan yang berkerumun sambil menunjuk kearah sumber perhatian mereka.
"maaf ada apa ya?", tanyaku
"bukannya wanita ini sumber masalahnya?", katanya saat melihat kearahku.
"maksudmu?", tanyaku tak tahu apa yang mereka bicarakan.
"sudah puas kan kau membuat mereka bertengkar?",
__ADS_1
"siapa maksudmu?", tanyaku dan mereka memberikan jalan padaku dan saat mataku melihat apa yang terjadi. aku hanya terdiam beberapa saat.
aku melangkah dengan langkah tergesa gesa menuju lapangan basket. aku melihat dua laki laki yang sedang baku hantam, bukan dua tapi hanya satu yang terus memukul sedang yang satu hanya diam dengan muka lebam tanpa niat membalasnya. aku menghampiri mereka berdua.
"bang Noa berhenti!!!", teriakku.
laki laki yang ada disana adalah Bang Noa dan juga Yoonbin. Yoonbin memperhatikanku dengan muka lebamnya, sedang Bang Noa tak ada niatan untuk menghentikan pukulannya.
"berhenti aku bilang, BERHENTI!!!", teriakku makin histeris dan mulai berjalan dan menahan tangan bang Noa.
"ku mohon hentikan", ucapku sambil menangis. Junkyu dan Haruto juga membantu memegangi bang Noa yang mulai kalap itu.
"dia udah gak becus jagain kamu. lalu buat apa dia hidup?"ucapannya membuatku melepaskan tanganku yang semula menahannya. tanpa aba aba aku malah menamparnya membuatnya membulatkan mata dan menatapku seolah bertanya kenapa.
"sadar gak sih selama disini dia yang jagain aku. saat kamu sibuk dengan kerjaanmu, saat tak ada waktu untukku hanya Yoonbin yang siap pasang badan buat Nia", teriakku di depannya.
"jika yang harus di salahkan disini. semua itu salahku kenapa aku mesti hidup", teriakku dengan luapan emosi yang mulai menguasai diriku.
aku membantu Yoonbin berdiri dan meninggalkan area sekolahan. makin lama aku hanya tak tahu mengapa bisa orang asing bahkan bukan warga sekolah bisa masuk dan menghajar siswanya sedang semua hanya bersorak tanpa ada niat untuk menolong. apa hati mereka tak tergerak melihat kejadian seperti itu?. aku membawa Yoonbin di sebuah gang di mana dia menemukanku waktu itu. aku mulai membersihkan lukanya dan mengompresnya dengan air.
"maafkan aku", lirihku, tatapannya yang semula kosong itu mulai melirik kearahku.
"bukan salahmu, ini salah kami yang tak bisa menjaga mu", balasnya.
"tapi kau tak akan begini jika aku tak pernah masuk kehidupanmu", balasku.
"dengarkan aku", ucapnya sambil menangkup pipiku. entah mengapa aku merasa benar benar memiliki seorang malaikat pelindung yang sesungguhnya yang bisa ku panggil dengan sebutan ABANG.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu, kamu adalah sesuatu yang berharga dan kamu patut di lindungi bukan?", tambahnya sembari tersenyum. entah mengapa tubuhku langsung memeluknya tanpa di perintah oleh otakku.
"aku menyangimu Yoonbin", balasku sambil terus memeluknya. ia mengusap punggungku.
"tangannya hangat", batinku.
"aku juga menyayangimu Nia", balasnya.
"kau adalah kakak laki laki impianku. aku benar benar menemukannya darimu", ucapku.
"be-benarkah?", tanyanya
"tentu. mulai sekarang kau adalah kakakku mengerti?", paksaku padanya.
__ADS_1
dia menghembuskan nafasnya lalu tersenyum. "iya baiklah karena kau yang memaksa", akhirnya.
"yaaak!! aku tak memaksamu", teriakku dia hanya tertawa.