
Laki laki itu tak menjawab pertanyaanku dia hanya diam saja, tak ada niatan menjawab pertanyaanku. "kau bukan anak 524 atau 606 kan?", tanyaku lagi pada laki laki yang kini duduk di sampingku. dia hanya menatapku dingin. aku benar benar malas dengan laki laki muka datar satu ini.
aku memutar bola mataku. "turunkan saja aku disini", kataku seolah mengamcamnya. dia langsung menatap tajam ke arahku. nyaliku menciut laki laki satu ini benar benar membuatku makin frustasi dengan keadaan yang aku alami.
"sudah ngocehnya? sekarang diam saja mending kau ikut aku situasi sedang tidak baik untukmu tahu", bentaknya. nyaliku lagi lagi di buat semakin tak ada sama sekali.
"aku kan bertanya padamu kamu itu ana-", ucapan ku terputus saat bibirnya dengan tanpa permisi menyentuh bibirku. mataku terbelalak dengan caranya menyuruhku diam seperti ini.
"berisik banget, gak bisa diem apa?", ucapnya setelahnya mencium bibirku.
"YOONBIIIIIIIIN!!!!!!!!!", teriakku dari dalam mobil.
"mau lagi?", tanyanya aku hanya terdiam sungguh sangat memalukan bersama dengan dia orang yang dengan seenak jidat berani mengambil ciuman dariku.
"aku mau pulang", ucapku lirih.
"aku anak 702, aku diatas Noa ataupun Yoga", jawabnya membuatku melihat kearahnya dan berpikir, "banyak sekali kelompok kelompok disini".
"lalu 303?", tanyaku memandangnya dengan harapan dia benar benar tahu siapa manusia kurang ajar yang berani beraninya dia membuat luka kakiku. Yoonbin laki laki yang tadi menolongku dan membawaku ke dalam mobil ini. dia laki laki yang membuat aku merasa Noa selalu ada di sampingku.
Dia menatap kaki dan diriku secara bergantian. "apa? hah apa?", tanyaku saat ia tiba tiba mencondongkan tubuhnya kearahku. Sungguh aku sangat takut dia akan menciumku lagi tapi alih alih menciumku dia ternyata meraih kakiku.
"Apa ini sakit?", Tanyanya sambil membalut kakiku dengan perban dan memperlihatkan mata yang lagi lagi mengingatkanku dengan Noa.
"Sedikit", jawabku lalu memalingkan muka.
"Halo", jawabnya tiba tiba aku melihat kearahnya lagi ternyata dia sedang menerima panggilan.
"Iya ini dia sedang bersamaku", jawabnya lagi. Aku ingin sekali menguping apa yang ia bicarakan.
"Ah itu, ok lah akan ku kembalikan", jawabnya dan melirik kearahku.
__ADS_1
"Kau mau pulang?", Tanya nya lagi sambil memandangku lama. Aku hanya mengangguk.
"Aku harap setelah ini kau bisa bahagia", jawabnya dengan mengacak rambutku.
"Kenapa kau mirip sekali dengan Noa?", celetukku padanya. dia memandangku lekat lekat.
"Kau selalu memperlakukanku dan membuatku berpikir seolah olah kau adalah Noa yang sedang melindungiku", tambahku dia hanya menatapku dan tersenyum simpul.
"Apa kau sangat mencintainya?", Tanyanya lagi.
"entahlah aku mulai bingung dengan diriku", jawabku dan entah juga sudah beberapa kali aku menunduk untuk keberapa kali.
"apa yang menggoyahkanmu? apa yang membuatmu menjadi ragu?", tanya nya dan entah mengapa aku merasa bahwa dia mewakili pertanyaan yang akan Noa tanyakan sesungguhnya.
"aku hanya merasa saat ini aku sedang bersama dengan Noa hanya sa dengan muka yang berbeda", jawabku dan menatapnya lekat lekat.
"maafkan aku", lalu ia mulai menutup mataku dengan tangan kanannya dan aku merasakan ia kembali menciumku. namun kali ini aku merasa aneh dengan diriku yang tidak menolak ataupun membalasnya sungguh aku sangat merutuki kebodohanku. namun yang pasti aku bergumam dalam hati, "Bang Noa maafkan aku".
tak selang beberapa lama dia melepaskan tangannya dan memandangku. "akan ku antar kamu pulang", ucapnya singkat setelah ciuman itu selesai. aku merasa ada sesuatu yang aneh darinya.
"kau tak ingin turun?", tanyanya tiba tiba.
"ah iya", jawabku. lalu ia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku.
"aku antar sampai depan pintu. kawasan ini sudah tidak aman lagi. aku harap dia mampu menjagamu", ucapnya yang tidak dapat ku cerna di dalam otakku yang tak berbobot ini.
kami berjalan berdua menuju apartemenku hingga akhirnya sampai dan kami tak membicarakan apapun. saat melewati tempat Hyunsuk dia terdiam untuk waktu yang lumayan agak lama.
"ada apa?", tanyaku padanya.
"ah tidak ada. ya sudah sana masuk", jawabnya dan memberikan sedikit senyum tipis yang sangat sulit di artikan. aku hanya mengangguk dan mulai masuk ke apartemen dengan meninggalkannya diluar tanpa menawarinya untuk sekedar mampir atau minum kopi.
__ADS_1
"sangat berat sekali hari ini. andai Bang Noa ada pasti tak akan seperti ini jadinya", ucapku setelah menutup pintu dan mulai berjalan ke arah sofa.
"gila ni kaki sakit banget dah. aku harus cari tahu siapa dalang semua ini", celotehku sambil melepas perban yang ada di kakiku. aku berjalan menuju kotak P3K di dinding dekat ruang tengah. aku mulai membuka kotak itu dan mencari perban dan obat apa yang aku butuhkan.
greep. . .
aku merasa kan hembus nafas yang mulai memburu di area tengkuk belakangku, dekapan itu seakan begitu posesif seolah berkata jangan pergi. Detak jantung itu sangat keras mampu ku dengar dan kurasakan. aku mematung tak tahu siapa orang yang kini sedang mendekapku. aku berharap dia adalah orang benar benar ingin ku jumpai saat ini.
"mengapa sembunyi?", tanyanya mataku terbelalak seakan tak percaya saat mendengar suara orang itu. aku menutup kotak obat itu, aku melihat pantulannya di pintu kaca itu. badanku bergetar hebat telaga kesedihan itu mulai mengalir membasahi pipiku tanpa ada aba aba dan suara isakan yang keluar.
"kenapa kau jahat sekali?", tanyanya lagi. dan lagi lagi aku hanya mematung tanpa ada bisa menjawab pertanyaan tajam itu.
"apa salahku hingga kau menghukumku seperti ini?", tanyanya lagi.
aku membalikan badanku dan langsung memeluknya tanpa memiliki niat menjawab semua yang ia katakan. saat ini aku hanya butuh bahunya, butuh peluknya.
"aku- aku", ucapku kini berganti dengan tangisan hebat yang sekian lama tak bisa aku keluarkan. dia mengeratkan pelukannya, dan aku tak ingin melepaskannya saat ini. aku benar benar ingin memeluknya lebih erat dari ini.
"jangan katakan apapun. saat ini aku hanya ingin memelukmu", ucapnya sambil membelai kepalaku.
"ku mohon jangan tinggalkan aku", ucapku dan membalas pelukannya.
"aku akan selalu ada di sampingmu", jawabnya. pelukan kami berakhir aku menatap mata sendunya yang ternyata tak jauh beda dengan keadaanku saat ini.
"kok abang bisa sampai sini?", tanyaku saat kami sedang duduk di sofa dan dia dengan telaten membersihkan luka kakiku dan membalutnya dengan perban.
"kenapa kakimu bisa begini?", ujarnya mengalihakn pembicaraan.
"jawab aku dulu baru aku akan menjawab pertanyaanmu", jawabku lalu melipat kedua tanganku di depan dada dan memalingkan muka.
"Niaaaa", ucapnya dengan nada tertahan.
__ADS_1
"ngomong ngomong aku sudah pernah kau bentak ngomong ngomong", balasku kini mulai menatapnya sebal.
"baiklah baiklah aku bisa sampai disini karena. . . "