
Aku terbangun dari tidurku yang sangat amat terasa susah kali ini.
"Sudah pagi?", Tanyaku pada diri sendiri. Jika biasanya akan terjadi kegaduhan setiap mau berangkat sekolah. Kali ini rasanya sunyi sekali. Aku menampar pipiku hampir tiga kali, dan berharap bahwa ini hanya mimpi buruk. Dan sialnya meski pipiku serasa sakit semua tetapi tak merubah kenyataan bahwa aku kini sendiri.
Aku menghembuskan nafas kasar berulang kali. Rasanya memang begitu kosong sekarang.
"Apa kau juga memikirkanku? Apa kau baik baik saja?", Tanyaku yang terasa sudah mulai gila akan semua ini.
Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
"Kalian sudah siap?", Tanyaku setelah keluar dari Apartemenku dan melihat Junkyu dan Haruto sudah siap di depan apartemenku.
"Hari ini pertama kalinya kau masuk sekolah kan, jadi kita harus berangkat pagi", balas Junkyu dengan senyumannya.
"Apa Hyunsuk sudah pulang?", Tanyaku pada mereka.
"Aku pikir belum", jawab Haruto.
Saat kami melewati Apartemen Hyunsuk dia keluar dengan muka bantalnya.
"Apa kau sudah memiliki uang saku?", Tanya Hyunsuk. Aku menggeleng karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak memakai uang papah sepeserpun.
"Sudah ku duga, Midam memberitahuku bahwa orang tuamu telah mencabut semua fasilitas untukmu dan juga Noa", ucapnya yang membuatku terkejut.
"Kenapa bang Noa juga ikutan di cabut fasilitasnya?", Tanyaku. Pada Hyunsuk.
"Dah yuk berangkat nanti telat", ucap Junkyu lalu mengambil kartu kredit dan juga beberapa uang yang di sodorkan Hyunsuk lalu menarik ku menjauh.
"Kau simpan ini baik baik ya, jangan boros. Ni uang buat jajan sebulan aja. habis itu biar kami yang ngurus semuanya", jelas Junkyu panjang lebar. Jika ku pikir pikir dia lebih mirip seorang ibu yang tengah menasehati anaknya.
"Kau paham kan Nia?", Tanya lagi dan aku mengangguk tanda mengerti.
"Tapi bisakah aku bekerja paruh waktu saja? Aku tak enak jika hanya membebani kalian", ucapku.
"Sama sekali tidak merepotkan", jawab Haruto.
"Tapi ku mohon. Aku tak akan betah jika hanya berdiam diri saja", jelas ku. Mereka saling bertukar pandang sebelum akhirnya Junkyu menghembuskan nafasnya lalu mengangguk.
"Tapi kau hanya boleh bekerja di supermarket yang tidak jauh dari apartemen ok?", Jelas Junkyu. Dan aku hanya mengangguk dengan antusias.
Setelah mobil kami sampai Junkyu dan Haruto mengantarku ke ruang kepala Sekolah. Entah karena aku tak konsen atau mungkin karena banyak hal yang memecah ruang di kepalaku. Tak sengaja aku menabrak seseorang.
Bruuuk. . .
Aku terpental hingga jatuh terduduk sedang yang ku tabrak berdiri tegak bahkan tak goyah sedikitpun. Ku lihat tatapan dinginnya membuatku ngeri sendiri. Tanpa di duga dia mengulurkan tangannya.
"Mari ku bantu", ucapnya datar sekali membuatku kesusahan menelan ludahku sendiri. Lalu dia menggoyang goyangkan tangannya.
__ADS_1
"Halooo, kau tak apa apa?", Ucapnya lagi.
"Ah, aku tak apa apa", balasku. Lalu menyambut tangannya.
"NIA!!!", teriak Junkyu. Aku dan laki laki yang menolongku menoleh kearah Junkyu.
"Ya ampun, gw kira lu di culik habisnya ilang gak ada jejak", ucap Junkyu.
"Lu sih sama Haruto jalannya cepet banget, gw yang bogel cuma setengah langkah dari kalian", protesku.
"Anak baru Jun?", Tanya laki laki di sebelahku.
"Oh iya, gw sampai lupa. Ben kenalin ini Nia adiknya si Noa", ucap Junkyu memperkenalkanku.
"Nia", jawabku menjabat tangannya.
"Yoonbin", ucapnya.
"Panggil aja Ben, anak anak juga gitu. Ya udah Ben kita duluan", jawab Junkyu lalu menyeretku menjauh dari laki laki tadi yang memperkenalkan dirinya sebagai Yoonbin atau Ben itu.
Setelah negosiasi dengan kepala Sekolah akhirnya aku akan memiliki kelas dan teman baru. Jujur saja belum apa apa aku sudah merindukan Mery, Bokir dan teman teman yang lain. Aku mengikuti langkah wali kelas ku dan di sana ada tulisan kelas XII-P entah kelas apa itu. Aku pun mengekor di belakang wali kelas persis seperti anak itik.
"Anak anak kalian dapat teman baru, pindahan dari SMA Langit", ujar wanita paruh Baya itu.
"Perkenalkan dirimu", perintahnya kepadaku.
"Cantik cantik kok tatoan ya?",
"Rambutnya aja warnanya terang begitu",
"Anak kota mah bebas",
"Anak SMA Langit kan memang terkenal sekolah yang bebas banget",
Ya begitulah ucapan ucapan yang aku dengar dari mulut anak perempuan di kelas ini.
"Nia kau duduk di sana ya", tunjuk wali kelasku tepat di depan Junkyu dan Haruto. Aku mengangguk dan mengikut arah yang di tunjuk oleh wali kelasku ternyata aku duduk di sebelah laki laki yang tadi aku tabrak. Pandangannya datar dan dia hanya diam saja.
"Apa aku akan betah tinggal di kota ini?", Batinku.
Aku melangkahkan kaki menuju tempat dudukku dan tak aku sadari kaki seorang murid perempuan di sana yang tiba tiba menghalangi langkahku dan membuatku tersandung dan hampir terjatuh. Untungnya laki laki muka datar itu menyelamatkanku.
"Kau baik baik saja?", Tanyanya padaku dan aku mengangguk. Aku menoleh kearah wanita tadi. Dia terlihat tak menyukaiku.
"Makanya jalan pakek mata dong", ucapnya. Membuatku mencoba sekuat mungkin untuk tak terpancing.
Haruto dan Junkyu sudah berdiri dan bersiap memasang badan.
__ADS_1
"Maaf, aku gak liat kakimu di situ", jawabku lalu duduk di sebelah Yoonbin si muka datar.
"Cari muka banget sih ciih", ucap perempuan tadi dengan sombongnya.
"Kau bisa diam tidak? Telingaku sakit", ucap Yoonbin tiba tiba membuat perempuan tadi diam dan memalingkan mukanya.
"Makasih ya", balasku pada Yoonbin.
"Aku tidak sedang membantumu. Karena memang aku tidak suka mendengar kegaduhan", balasnya lalu mulai menyibukkan diri membaca buku. Aku hanya memutar bola mataku malas dan memilih memutar kursiku menjadi menghadap ke belakang.
"Junkyu, Haruto", ucapku membuat dua orang yang tadi sibuk mengobrol itu langsung menoleh ke arahku.
"Apa aku tak mendapat ponsel?", Tanyaku pada mereka.
"Oh iya, hampir saja lupa", setelah menepuk dahinya Junkyu mengeluarkan ponsel untukku.
"Apa aku boleh mengabari Bang Noa?", Tanyaku pada mereka. Dan mereka berdua menggeleng dengan muka menyesal.
"Baiklah", jawabku lalu menghadap ke depan lagi. Sekolah di sini tak jauh beda dengan sekolah ku yang dulu. Dimana kami lebih banyak menghambur hamburkan uang saku dari pada belajar.
"Apakah rooftop disini memiliki pemandangan yang bagus?", Tanyaku pada Junkyu dan Haruto.
"Ah tentu, apa kau ingin kesana?", Tanya Junkyu.
"Iya, tapi bisakah aku ke sana sendirian? Maksudku aku hanya ingin menikmatinya sendiri dan berjalan jalan untuk cepat menghafal sekolah ini?", Tanyaku lagi.
"Tentu, kau hanya perlu lurus saja ke utara, tak jauh kau akan menemukan tangga di sebelah kiri naiklah ke sana kau akan sampai", jelas Haruto. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kepada mereka.
"Apa kau serius ingin pergi sendirian?", Tanya Junkyu yang sepertinya khawatir padaku.
"Tenanglah aku tak akan tersesat", balasku sambil mengacak acak rambut Junkyu. Tetapi semua pandangan perempuan di kelas itu sangat menyeramkan. Membuatku ingin cepat cepat keluar dari kelas itu.
Aku mengikuti petunjuk yang di berikan Haruto. Ternyata memang tak sulit untukku sampai di rooftop. Pemandangannya memang sangat indah dari atas sini. Bahkan di sini di sediakan sebuah sofa panjang berwarna merah, aku pun langsung mendudukinya. Saat aku mulai menemukan kedamaian mataku menangkap sebuah tulisan.
"NOMA", tulisan yang lumayan besar dan menarik. Aku mendekati tulisan itu, tulisan yang terpajang jelas di sudut dinding, Tetapi tulisan itu tak lagi menarik saat aku melihat tulisan kecil di bawahnya.
"Noa Maria", ucapku sambil tersenyum mengejek. Ya mengejek diriku sendiri.
"Apa kau tak lelah berdiri saja?", Suara seseorang mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati Yoonbin tengah duduk di sofa panjang itu. Aku mulai mendekatinya. Dia hanya diam dan memainkan ponselnya. Sungguh suasana yang sangat canggung. Aku hendak pergi dari tempat itu.
"Aku membawakan mu minuman. Kenapa kau malah pergi? Tak menghargai sekali", ucapnya. Entahlah aku merasa di permainkan sekarang. Aku pun berbalik dan duduk di sebelahnya. Tanpa sepatah kata aku langsung mengambil minum di sebelahnya dan menenggaknya sampai habis.
"Kau tak apa apa?", Tanya nya dengan melihatku tak percaya.
"Apa apanya?", Tanyaku kesal.
"Itu minumanku yang kau minum", balasnya. Dan benar saja di sana masih ada satu minuman yang utuh belum terbuka.
__ADS_1
"Nia, kau bodoh sekali", batinku.