
Dia laki laki ku, entahlah terkadang dia terlihat seperti bayi besar yang sedang
merajuk, saat merasa tak mendapatkan perhatian dariku. kali ini aku sedang
mengawasinya membereskan kamar yang di buat seperti kapal pecah olehnya.
"udah ya, capek", ucapnya sambil
memelas.
"gak boleh alasan. belajar tanggung
jawab dong Bang", balasku.
cup. . .
"satu kecupan biar tambah
semangat", ujarnya setelah mencuri satu kecupan dariku. entahlah sekarang
aku merasa wajahku sangat panas saat ini.
"cepetan gih", balasku lalu
meninggalnya.
"Nia jangan di tinggal lagi",
teriaknya.
"aku cuma duduk di ruang tamu",
balasku teriak.
"benar benar pasangan romantis",
ucap seseorang di depan pintu.
"Oh kalian sejak kapan berdiri
disitu?", tanyaku pada dua anak yang selalu menjagaku, bahkan mereka sudah
mirip Bokir yang selalu nempel di manapun aku berada, aku mulai merasakan rindu
kepada anak anak di sana.
"aku sudah kali ke dua ini datang
kemari", jawab Haruto.
"ya, jika aku tak ikut mungkin kau dan
Noa sudah sama sama bonyok", jelas Junkyu.
"ah iya iya, aku minta maaf atas ke
salah pahaman ini. dan terimakasih sudah menyadarkan bayi besarku", aku
merasa tak enak pada mereka karena harus menjaga Bang Noa seperti ini.
"tapi kau tak ada apa apa kan dengan
Yoonbin?", tanya Junkyu.
"aku sudah menganggapnya seperti abang
sendiri kok", jelasku.
"bukannya-", ucapan Haruto tak
berlanjut saat mulutnya di bekap oleh Junkyu.
"aku lupa kau tadi mabuk bisa bisa
ngelantur ngomongnya", jelas Junkyu.
"kalian membicarakanku?", tanya
Bang Noa dari arah kamar tidur.
"iya, aku bertanya pada mereka kenapa
mereka betah denganmu", godaku. tapi lihatlah dia malah terlihat merajuk
dan membuatku tertawa melihatnya.
"lihatlah kekasihmu itu, aku ingin
muntah melihatnya", ucap Haruto membuatku tertawa keras.
"terusin aja terus. kamu emang gak
sayang kan sama aku", balas Bang Noa lalu menyembunyikan wajahnya di
punggungku.
"aduh aduh bayi besarku sedang merajuk
hmm?", ucapku sambil menangkup kedua pipinya.
"bagaimana kalau kita pergi saja. mereka
tak akan peduli kalaupun kita disini", ucap Junkyu sambil berdiri menarik
Haruto dan meninggalkan kami berdua.
"benar kan kau tak ada hubungan dengan
Yoonbin?", tanya bang Noa.
"iya, aku tak ada apa apa. tapi kenapa
kau memukul Yoonbin waktu itu?", tanyaku
__ADS_1
"karena dia bilang kau habis di cekik
oleh Sarah. jadi aku emosi dan memukulnya", Jelas Bang Noa.
"ah itu, tapi kau tetap salah Bang,
Kau harus meminta maaf pada Yoonbin"
"tapi kan aku-"
"Bang Noa", potongku.
"baiklah, baiklah sebenarnya pacarnya
siapa sih aku atau si Yoonbin"
"mau tau pacarku siapa?", tanyaku
mulai menggodanya.
"siapa?", tanya nya
"Noa Julio", jawabku sambil
memeluknya sayang.
"Tetaplah seperti ini untuk beberapa
saat. Aku sungguh merindukan saat saat berdua bersamamu", jelasnya sembari
membalas pelukanku.
"Tenanglah. Kita akan sama sama mulai
sekarang. Tapi ku berharap jangan mudah gegabah", jelasku.
"Oh iya soal kakimu itu kau tak
menceritakannya padaku?", Tanya Bang Noa.
"aah itu. . .", aku mulai bingung
harus menjawab apa.
"ayolah Nia jangan ada di tutup tutupi
kenapa kau tidak jujur", ucapnya lagi sambil memberikan mimik wajah yang
memelas.
"baiklah, akan aku ceritakan",
jelasku
aku mengambil nafas panjang, "waktu
itu aku terlibat adu mulut dengan Yoga, aku juga berpikir jika aku mati maka
ataupun bertanya.
"saat leherku terkunci terdengar suara
tembakan yang hampir saja menembak Yoga. dan ada sebuah tulisan "lepaskan
dia", dan di bawahnya ada tulisa "303"", jelasku.
"303?", tanya Bang Noa.
"iya, dan luka itu", ucapku
sembari menunjuk kaki sebelah kananku.
"adalah dari pisau sialan itu. dia
menuliskan jika tidak ada yang lari maka semua akan habis. begitu
tulisnya", jelasku.
"tapi Bang, 303 itu kelompoknya siapa
sih? aku penasaran karena aku pikir awalnya Yoonbin. tapi ternyata Yoonbin
kelompok 702, aku juga merasa bersalah pernah menuduhnnya", jelasku
berterus terang.
"kau capek tidak?", tanya Bang
Noa.
"sedikit, memang kenapa?",
"tidak, lebih baik kau istirahat dan
besok kita akan pergi ke tempat Yoonbin", jelas Bang Noa
"kenapa?"
"sudah besok pagi aja. sekarang tidur
sana kamarnya sudah aku bersihkan"
"baiklah", akhirnya.
****
Tidurku kali ini sangat tenang, tanpa merasa
takut kapan nyawaku terancam oleh kelompok manapun. aku merasa sedikit terusik
saat aku merasakan ada sesuatu yang mengganggu wajahku. tubuhku mulai
menggeliat seperti ulat, aku mulai mengumpulkan nyawaku yang berterbangan di
__ADS_1
sekitar ranjang.
"eungh. . . "
"sudah bangun hmm?", tanyanya
"abang ganggu aja sih, Nia masih
ngantuk "
"mau jalan jalan gak?"
"mau", jawabku langsung terbangun
dan memeluknya.
"mandi dulu, bau tau"
aku mencebikkan bibirku dan melesat ke
kamar mandi. kapan lagi aku bisa jalan jalan dengan bang Noa.
“cepetan Nia, jangan lama
lama”, teriak Bang Noa.
“sebentar dong masih siap siap”
“lima menit aku tinggal”
“yak!! Jangan ditinggal”, teriakku sambil lari menuju
arah suaranya.
“anak pintar, ya udah yuk berangkat”, tambahnya.
Dia menggandeng tanganku, rasanya sudah lama aku tak
begini. Menikmati waktu berdua dengannya. Aku menatap wajahnya yang begitu
sangan aku rindukan. Dia benar benar membuatku tak ingin pernah berpikir untuk
melepaskannya.
“mengapa memandangku dari tadi?”, tanyanya
“ah aku baru tahu kalau kamu tampan”
“ya iyalah Noa Julio adalah lelaki paling tampan”
“gantengan juga Bokir. Hahahaha”
“Niaaaaaaaa”
“iya suami”, godaku dan pipinya bersemu entahlah dia
sangat menggemaskan dan rasanya aku ingin memakannya.
“hahah kamu malu?”, tanyaku
“tidak. Kata siapa?”
“pipimu tak bias bohong” jawabku.
“dan ini juga tidak akan bias berbohong”, ucapnya
sambil memencet tombol otomatis dalam mobilnya dan mulai menciumku. Jujur aku
terkejut, aku merasakan seluruh tubuhku mendapatkan aliran seperti tersengat
listrik.
“benarkan wajahmu juga tidak bisa berbohongkan”,
godanya dan kini aku hanya bisa terdiam sambil menahan senyum.
Aku kembali menikmati perjalanan dan tak beberapa lama
kita memasuki sebuah pekarang rumah lumayan mewah. Entahlah aku kira kita akan
pergi nonton film, pergi ketaman atau mungkin jalan jalan berdua. Tapi malah
sampai disini yang aku tak tahu ini dimana.
“rumah siapa bang?”, tanyaku yang sudah tak bisa
menahan rasa penasaran.
“nanti kau juga tahu, ayo turun”
Kami melangkah menuju pintu terdapat banyak sekali
orang yang menjaga pintu rumah itu.
“maaf, ada perlu apa?” Tanya salah satu orang yang
berjaga disana.
“saya ingin bertemu dengan Tuan Takano”, jawab Bang Noa.
“boleh saya tahu siap-“
“ah Tuan Muda? Silahkan masuk. Tuan Takano sudah
menunggu anda”, jelas seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah.
“hey, dia itu siapa?”, Tanya pelayan yang tadi pertama
kami temui.
“Dia Noa, anak Bungsu dari tuan Takano”,
deg
__ADS_1