ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
Dua Puluh lima


__ADS_3

Dia laki laki ku, entahlah terkadang dia terlihat seperti bayi besar yang sedang


merajuk, saat merasa tak mendapatkan perhatian dariku. kali ini aku sedang


mengawasinya membereskan kamar yang di buat seperti kapal pecah olehnya.


"udah ya, capek", ucapnya sambil


memelas.


"gak boleh alasan. belajar tanggung


jawab dong Bang", balasku.


cup. . .


"satu kecupan biar tambah


semangat", ujarnya setelah mencuri satu kecupan dariku. entahlah sekarang


aku merasa wajahku sangat panas saat ini.


"cepetan gih", balasku lalu


meninggalnya.


"Nia jangan di tinggal lagi",


teriaknya.


"aku cuma duduk di ruang tamu",


balasku teriak.


"benar benar pasangan romantis",


ucap seseorang di depan pintu.


"Oh kalian sejak kapan berdiri


disitu?", tanyaku pada dua anak yang selalu menjagaku, bahkan mereka sudah


mirip Bokir yang selalu nempel di manapun aku berada, aku mulai merasakan rindu


kepada anak anak di sana.


"aku sudah kali ke dua ini datang


kemari", jawab Haruto.


"ya, jika aku tak ikut mungkin kau dan


Noa sudah sama sama bonyok", jelas Junkyu.


"ah iya iya, aku minta maaf atas ke


salah pahaman ini. dan terimakasih sudah menyadarkan bayi besarku", aku


merasa tak enak pada mereka karena harus menjaga Bang Noa seperti ini.


"tapi kau tak ada apa apa kan dengan


Yoonbin?", tanya Junkyu.


"aku sudah menganggapnya seperti abang


sendiri kok", jelasku.


"bukannya-", ucapan Haruto tak


berlanjut saat mulutnya di bekap oleh Junkyu.


"aku lupa kau tadi mabuk bisa bisa


ngelantur ngomongnya", jelas Junkyu.


"kalian membicarakanku?", tanya


Bang Noa dari arah kamar tidur.


"iya, aku bertanya pada mereka kenapa


mereka betah denganmu", godaku. tapi lihatlah dia malah terlihat merajuk


dan membuatku tertawa melihatnya.


"lihatlah kekasihmu itu, aku ingin


muntah melihatnya", ucap Haruto membuatku tertawa keras.


"terusin aja terus. kamu emang gak


sayang kan sama aku", balas Bang Noa lalu menyembunyikan wajahnya di


punggungku.


"aduh aduh bayi besarku sedang merajuk


hmm?", ucapku sambil menangkup kedua pipinya.


"bagaimana kalau kita pergi saja. mereka


tak akan peduli kalaupun kita disini", ucap Junkyu sambil berdiri menarik


Haruto dan meninggalkan kami berdua.


"benar kan kau tak ada hubungan dengan


Yoonbin?", tanya bang Noa.


"iya, aku tak ada apa apa. tapi kenapa


kau memukul Yoonbin waktu itu?", tanyaku

__ADS_1


"karena dia bilang kau habis di cekik


oleh Sarah. jadi aku emosi dan memukulnya", Jelas Bang Noa.


"ah itu, tapi kau tetap salah Bang,


Kau harus meminta maaf pada Yoonbin"


"tapi kan aku-"


"Bang Noa", potongku.


"baiklah, baiklah sebenarnya pacarnya


siapa sih aku atau si Yoonbin"


"mau tau pacarku siapa?", tanyaku


mulai menggodanya.


"siapa?", tanya nya


"Noa Julio", jawabku sambil


memeluknya sayang.


"Tetaplah seperti ini untuk beberapa


saat. Aku sungguh merindukan saat saat berdua bersamamu", jelasnya sembari


membalas pelukanku.


"Tenanglah. Kita akan sama sama mulai


sekarang. Tapi ku berharap jangan mudah gegabah", jelasku.


"Oh iya soal kakimu itu kau tak


menceritakannya padaku?", Tanya Bang Noa.


"aah itu. . .", aku mulai bingung


harus menjawab apa.


"ayolah Nia jangan ada di tutup tutupi


kenapa kau tidak jujur", ucapnya lagi sambil memberikan mimik wajah yang


memelas.


"baiklah, akan aku ceritakan",


jelasku


aku mengambil nafas panjang, "waktu


itu aku terlibat adu mulut dengan Yoga, aku juga berpikir jika aku mati maka


ataupun bertanya.


"saat leherku terkunci terdengar suara


tembakan yang hampir saja menembak Yoga. dan ada sebuah tulisan "lepaskan


dia", dan di bawahnya ada tulisa "303"", jelasku.


"303?", tanya Bang Noa.


"iya, dan luka itu", ucapku


sembari menunjuk kaki sebelah kananku.


"adalah dari pisau sialan itu. dia


menuliskan jika tidak ada yang lari maka semua akan habis. begitu


tulisnya", jelasku.


"tapi Bang, 303 itu kelompoknya siapa


sih? aku penasaran karena aku pikir awalnya Yoonbin. tapi ternyata Yoonbin


kelompok 702, aku juga merasa bersalah pernah menuduhnnya", jelasku


berterus terang.


"kau capek tidak?", tanya Bang


Noa.


"sedikit, memang kenapa?",


"tidak, lebih baik kau istirahat dan


besok kita akan pergi ke tempat Yoonbin", jelas Bang Noa


"kenapa?"


"sudah besok pagi aja. sekarang tidur


sana kamarnya sudah aku bersihkan"


"baiklah", akhirnya.


****


Tidurku kali ini sangat tenang, tanpa merasa


takut kapan nyawaku terancam oleh kelompok manapun. aku merasa sedikit terusik


saat aku merasakan ada sesuatu yang mengganggu wajahku. tubuhku mulai


menggeliat seperti ulat, aku mulai mengumpulkan nyawaku yang berterbangan di

__ADS_1


sekitar ranjang.


"eungh. . . "


"sudah bangun hmm?", tanyanya


"abang ganggu aja sih, Nia masih


ngantuk "


"mau jalan jalan gak?"


"mau", jawabku langsung terbangun


dan memeluknya.


"mandi dulu, bau tau"


aku mencebikkan bibirku dan melesat ke


kamar mandi. kapan lagi aku bisa jalan jalan dengan bang Noa.


“cepetan Nia, jangan lama


lama”, teriak Bang Noa.


“sebentar dong masih siap siap”


“lima menit aku tinggal”


“yak!! Jangan ditinggal”, teriakku sambil lari menuju


arah suaranya.


“anak pintar, ya udah yuk berangkat”, tambahnya.


Dia menggandeng tanganku, rasanya sudah lama aku tak


begini. Menikmati waktu berdua dengannya. Aku menatap wajahnya yang begitu


sangan aku rindukan. Dia benar benar membuatku tak ingin pernah berpikir untuk


melepaskannya.


“mengapa memandangku dari tadi?”, tanyanya


“ah aku baru tahu kalau kamu tampan”


“ya iyalah Noa Julio adalah lelaki paling tampan”


“gantengan juga Bokir. Hahahaha”


“Niaaaaaaaa”


“iya suami”, godaku dan pipinya bersemu entahlah dia


sangat menggemaskan dan rasanya aku ingin memakannya.


“hahah kamu malu?”, tanyaku


“tidak. Kata siapa?”


“pipimu tak bias bohong” jawabku.


“dan ini juga tidak akan bias berbohong”, ucapnya


sambil memencet tombol otomatis dalam mobilnya dan mulai menciumku. Jujur aku


terkejut, aku merasakan seluruh tubuhku mendapatkan aliran seperti tersengat


listrik.


“benarkan wajahmu juga tidak bisa berbohongkan”,


godanya dan kini aku hanya bisa terdiam sambil menahan senyum.


Aku kembali menikmati perjalanan dan tak beberapa lama


kita memasuki sebuah pekarang rumah lumayan mewah. Entahlah aku kira kita akan


pergi nonton film, pergi ketaman atau mungkin jalan jalan berdua. Tapi malah


sampai disini yang aku tak tahu ini dimana.


“rumah siapa bang?”, tanyaku yang sudah tak bisa


menahan rasa penasaran.


“nanti kau juga tahu, ayo turun”


Kami melangkah menuju pintu terdapat banyak sekali


orang yang menjaga pintu rumah itu.


“maaf, ada perlu apa?” Tanya salah satu orang yang


berjaga disana.


“saya ingin bertemu dengan Tuan Takano”, jawab Bang Noa.


“boleh saya tahu siap-“


“ah Tuan Muda? Silahkan masuk. Tuan Takano sudah


menunggu anda”, jelas seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah.


“hey, dia itu siapa?”, Tanya pelayan yang tadi pertama


kami temui.


“Dia Noa, anak Bungsu dari tuan Takano”,


deg

__ADS_1


__ADS_2