ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
enam belas


__ADS_3

Aku sampai di rumah, nyatanya aku di sambut oleh papa dan mama yang seperti sudah lama menungguku, aku masuk ke dalam di temani oleh Hyunsuk.


"Kamu habis nangis sayang?", Tanya Mama.


"Hehe biasa lah ma, namanya juga pamitan kan?", Jawabku dan aku lihat senyum dari mama adalah senyum menyesal.


"Barangmu sudah siap gak perlu kemas kemas lagi", ucap Papa dingin, lalu meninggalkan kami.


"Ma, boleh Nia tanya sesuatu?", Tanyaku.


"Mama dapat foto itu dari Maria. Maafin mama karena waktu itu Papa kamu yang membuka pesannya terlebih dahulu", ucap Mama tertunduk.


"Mama gak salah, Nia titip ini ya ma, kasih buat Bang Noa", ucapku saat memberikan ponselku pada Mama.


"Apa Noa tidak tahu?", Tanya Mama yang terkejut melihat aku memberikan ponselku.


"Ini yang terbaik bukan, aku harus benar benar menghilang darinya", ucapku sembari tersenyum.


"Nia pamit dulu ya Ma, salam buat Papa", tambahku lalu mengambil koper di samping tangga dan bergegas meninggalkan rumah itu.


"Oh jadi ini ulah si benalu itu?", Ucap Hyunsuk.


"Udahlah gak usah di perpanjang. Niatku tadi mau cerita sama Bang Noa, tapi Maria nempel mulu. Eh waktu di tangga orang dia jatuh sendiri dikira aku yang ngedorong. Mana kali ini dia bentak aku", ucapku saat mengingat apa yang terjadi tadi.


"Lu tapi gak harus pergi jauh juga dong Nia, selama Yoga belum ketemu kamu belum bisa di katakan aman", ucap Hyunsuk.


Mungkin benar, aku memang belum aman sekarang. Tapi jika aku menolak maka Bang Noa yang harus keluar dari rumah. Papaku memang tipikal orang yang sangat gemar mengancam.


"Biar gw ikut lu aja ya?", Ucap Hyunsuk membuyarkan lamunanku.


"Yang ada Bang Noa curiga, cukup kirim beberapa anak buah aja di sana", jawabku.


"Ah ada sih di sana anak buah Noa juga, namanya Junkyu sama Haruto. Kupikir memang lebih aman kalau aku bersama mereka. Akan ku hubungi mereka", ucap Hyunsuk.


"Ok ok", balasku lalu memandang kearah luar.


"Maaf, aku harus ingkar aku harus pergi darimu. Mungkin ini yang terbaik", batinku.


"Oii, ngelamun aja", kata Hyunsuk sembari mengguncang diriku.


"Apaan sih, main dorong dorong orang", teriak ku.


"Lu bisa bela diri?", Kini matanya menatapku. Aku menggeleng dengan cepat.


"Cuma bisa main pistol doang", balas ku nyengir.

__ADS_1


"Lu sama Yoga cuma di ajarin main pistol doang? Parah banget".


"Ya kan niat gw gak pingin terjun ke dunia gelap begituan. Ngapain belajar bela diri", balasku.


"Terserah deh, ya udah gw nanti ikut aja ke sana besok gw balik lagi kesini sekalian ngasih tau si Junkyu sama Haruto", ucapnya.


"Emang lu punya tiket?", Tanyaku.


"Duit banyak bisa di atur itu mah", jawabnya santai.


"Tak terduga", balasnya.


"Dah yok. Keburu ketinggalan", jawabku setelah beberapa saat proses akhirnya kami berangkat juga.


"Selamat tinggal", ucapku lirih.


"Udah gak usah nyesel gitu, kalau rindu entar gw bawa si Noa tenang aja", jawab Hyunsuk yang membuatku malas untuk bicara.


Aku memilih duduk dan mencoba menutup mataku.


"Andai kemarin gw gak kabur, gak bakal jadi runyam masalahnya kan. Ngapain juga anak konda satu itu seneng banget nyari gara gara. Dan kenapa juga bang Noa malah belain dia daripada gw coba?", Pemikiran yang terus berputar dalam otakku.


****


Aku dan Hyunsuk sampai di bandara, tangannya melambaikan tangan kepada dua sosok jangkung yang berjalan kearah kami.


"Mau nganter paket misi buat kalian", tawa Hyunsuk yang membuatku gak habis pikir dengan manusia satu ini.


"Apa ada masalah?", Tanya laki laki satunya.


"Tunggu tunggu, dari pada gw bingung. Kenalin gw Nia", ucapku motong pembicaraan tiga lelaki ini.


"Aku Haruto", jawab laki laki yang paling tinggi.


"Aku Junkyu", laki laki satunya juga ikut memperkenalkan diri.


"Nah udah pada kenal kan, ini Nia pacarnya Noa. Dia harus pindah kesini dan gw mau kalian jagain dia dan jangan beritahu Noa dulu sebelum gw kasih ijin", jelas Hunsyuk.


"Lah, kenapa di bawa kesini? Tau sendiri kota ini kan kota–", ucap Junkyu.


"Jaringan pasar gelap Yoga kan", tambahku.


"Jadi gini, gw aja yang ngomong. Gw minta bantuan kalian berdua buat jagain gw, karena gw gak bisa sekolah di sana dan pilihan bokap gw cuma di sini. Karena Yoga gak bisa di temuin jadi untuk jaga jaga", jelas gw panjang lebar.


"Emang si Noa ngijinin lu kesini?", Tanya Junkyu.

__ADS_1


"Karena itu, abang gw gak tau gw kesini dan bokap gw juga ngelarang gw ngasih tau Bang Noa", jawab gw.


"Bakal ada masalah besar habis ini deh To", ucap Junkyu sambil menepuk pundak bahu Haruto.


"Disana nanti gw sama Om Ri yang ngatasin, kalian butuh tambahan personil gak?", Tanya Hyunsuk.


"Gak usah, biar yang lain bantu tenangin Noa, tau sendiri kan kalau ngamuk kaya apa", ucap Haruto.


"Disini, kita juga punya anak buah kok tenang aja", balas Junkyu.


"Gw bakal sering sering deh kesini. Dan kasih tau terus perkembangan apapun ok", balas Hyunsuk dan hanya di angguki oleh mereka.


"Dah belom? Aku laper tauk, gak pengen balik terus makan gitu?", Tanyaku dan mereka hanya cengengesan aja.


Kami bertiga mengendarai sebuah mobil untuk menuju apartemen tempatku tinggal.


"Nia, kau suka makan apa?", Tanya Junkyu.


"Aku mah apa masuk kok. Aku gak pilih pilih kok", jawabku.


"Di sini dagingnya terkenal enak kok. Gimana? Apa kau mau mencobanya?", Tanya Junkyu lagi.


"Boleh, tapi bawa pulang aja ya, aku males di luar", jawabku.


"Baiklah, kita berhenti di depan biar aku yang beli", ucap Junkyu yang di angguki oleh Haruto. Hunsyuk? Dia sudah tertidur di sebelahku dari saat kami mulai perjalanan pulang.


Setelah semua yang di beli sudah cukup kami pun langsung bergegas karena hari kian mulai gelap. Mobil kami berhenti tepat di sebuah kawasan apartemen. Kami mulai masuk kedalam dan Haruto memencet tombol 11 pada lift. Bisa di pastikan aku akan berada di atas sana. Paling tidak semogaku adalah pemandangannya bisa membuatku lekas melunak untuk permasalahan ini.


"Ngelamun aja", ucap Hyunsuk yang mengagetkanku.


"Si–siapa yang ngelamun enak aja", jawabku.


"Emang ini ni masalahmu, gengsiannya tinggi", Balas Hyunsuk.


"Bodo amat", balas ku dan kembali terdiam.


Lift terbuka, Haruto menunjukan apartemenku.


"Ini Apartemenmu, nomor 306", ucap Haruto.


"Di depan 307 milikku dan Junkyu, sebelahmu 305 milik Hyunsuk", jelas Haruto.


"Oh, ya udah yok makan dulu gw laper banget", jawab ku karena merasakan perut yang sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.


Mereka membantuku membereskan barang barangku. Dan setelahnya kami makan bersama dan bercanda. Setidaknya aku merasa bahagia awalnya. Ya awalnya sebelum mereka kembali ke tempat mereka masing masing.

__ADS_1


"Apa kau baik baik saja di sana? Apa kau merasa kehilangan? Jujur aku rindu, aku gak bisa jauh begini", kataku lirih.


__ADS_2