ABANG PACAR IDAMAN

ABANG PACAR IDAMAN
tujuh


__ADS_3

Suara tembakan itu terdengar begitu keras, dua peluru kini bersarang di dada Anton.


"Yoga!! Lu gila ya?", Teriak gw lalu berlari kearah Anton.


"Ton, bangun lu harus kuat lu harus sadar", ucap gw sambil menekan darah yang mulai ngebasahin tangan gw.


"Yoga, cepet panggil ambulan", teriak gw dan dia hanya terkekeh.


"Lu ikut gw, gak bakal gw biarin orang lain nyentuh elu paham", ucapnya sambil narik gw dari sana. Gw masih mencoba buat memegang tangan Anton tapi Yoga menyeret ku dengan kuat.


"Antoooon, sadar ton", teriak gw udah jauh banget dari dia.


"Lo emang brengsek. Dasar laki laki sialan", teriak gw sambil mencoba mukul dia tapi hasilnya nihil dia malah mengangkatku bak karung beras dan menaruhnya di pundak.


"Lepasin gw sialan", teriak gw yang masih meronta ronta meminta turun.


Gw dimasukan kedalam mobil, disana ada bokir dan susan.


"Kir lu harus tolongin Anton", ucap gw.


"Ini semua gara gara elu tau gak, kalau lu gak minta di bebasin dia gak bakalan celaka begini", ucapnya membuatku terdiam. Benar apa kata Bokir gw lah penyebab semua ini terjadi.


"Jangan salahin wanitaku. Atau lu juga mau berakhir sama seperti Anton", ucap Yoga. Bokir hanya diam bersama dengan keterdiaman gw.


Gw di tarik paksa masuk sebuah vila, gw gak tau sampai kaya gini jadinya. Gw masih kepikiran Anton gimana keadaan dia.


"Jagain bener bener, kalau sampai lecet gw gak segan segan bedah badan kalian semua", bentak Yoga. Jujur gw kehilangan Yoga yang dulu gw kenal.


"Sayang, baik baik ya disini", ucapnya sambil membelai rahangku.


"Lu udah berubah, bukan Yoga gw yang dulu", ucap gw.


"Gw gak akan begini kalau lu gak begini *******", umpatnya sambil gebrak meja. Gw takut beneran. Orang di depan gw ini bukan lagi manusia tapi monster.


Gw nangis sesenggukan gw gak dapat percaya aja sama semua ini kembali lagi terngiang kata kata papa, tentang Yoga dan kelompoknya bukan teman yang baik buat gw.


"Sayang maafin aku, aku gak bermaksud bentak kamu. Kamu diem ya jangan nangis lagi", ucapnya membuatku takut, terkadang dia lembut tapi baru kali ini dia begitu kasar sama gw.


"Jangan sentuh gw *******", teriak gw tapi malah tamparan yang jadi jawaban dari semua ini.


"Yoga udah, lu harus netralin pikiran lu, kasian dia kamu gampar begitu sampai pingsan", ucap Susan yang gw denger. Sebenarnya gw gak pingsan cuma rambut menutupi mukaku dan gw berusaha nahan isakan gw biar gak kedengeran.

__ADS_1


"Urus dia jangan sampai dia lolos lagi", ucapnya lalu gw lihat dari sela rambut rambut gw yang berantakan dia berlalu.


"Kasian juga si Nia kalau begini ya", ucap Bokir.


"Gw juga kasian sama nyawa kita, kalau kita lepasin gw takut kita bernasip sama kaya Anton", ucap Susan lalu duduk di samping Bokir.


"Tuhan, kirimkan aku malaikat untuk menolongku", batinku.


Tak selang beberapa lama Yoga kembali dengan membawa makan dia menghampiriku yang masih duduk di kursi dengan tangan terikat.


"Sayang makan dulu ya, biar aku lepas ikatannya", ucapnya lembut.


"Ini makanan kesukaan kamu. Kamu habisin ya", tambahnya setelah tanganku terlepas.


"Ayo di makan dong, apa perlu aku suapin? Nih aaaak?", Ucapnya sambil menyuapkan makanan kearahku.


"Gak sudi aku", balas ku sambil menepis makanan itu dari hadapanku.


Braaaak. . . .


Suara piring pecah, makanan itu di lempar begitu aja sama dia gw takut takut banget.


"Kenapa? Haaah kenapa lu gak bunuh gw aja sialan? Kenapa?", Teriak gw.


"Karna lu adalah tambang emas buat gw balas dendam ke Noa", ucapnya sambil menyeringai.


"JANGAN PERNAH LU SENTUH DIA!!!", Teriak seseorang dari luar kamar, bisa gw denger itu suara bang Noa.


"O o o, mau berlagak jadi Super Hero?", Ucap Yoga sambil ngejambak rambut gw dan nyeret gw keluar dari kamar. Gak tau lagi gw dengan keadaan gw saat ini baju dan tangan gw punya banyak darah dari Anton muka gw udah jelas lusuh. Dan gw liat ekspresi abang gw yang syok banget liat keadaan gw sekarang.


"Lepasin Nia", ucap abang gw.


"Lepasin Nia? Dia milik gw ngerti", ucap Yoga dingin.


"Sakit *******", teriak gw saat jambakan dari Yoga terasa semakin kuat.


"Gw bilang lepasin Nia, atau lu tanggung akibatnya", ucap Bang Noa yang ternyata gak sendiri.


Disama ada Midam, Raesung, Gon, dan masih banyak lagi. Sekitar sembilan orang.


"Gimana kalau kita duel?", Tanya Yoga.

__ADS_1


"Memang mau main kroyokan? Liat sekeliling lu udah pada jadi mayat", ucap Bang Noa dingin.


Gw natap sekeliling gak ada satupun yang bergerak. Cuma ada bokir yang kini ikut berdiri di samping bang Noa.


"Pengkhianat lu", teriak Yoga.


"Gw capek ngeliat tingkah lu yang makin lama kaya psikopat", ucap Bokir.


Yoga sepertinya naik pitam, dia tak lagi menjambakku tapi malah mengunci leherku dengan lengan kirinya sambil tangan sebelah kanan menodongkan pistol ke kepalaku.


"Jangan ada yang mendekat atau dia bakalan mati", teriak Yoga, gw udah gemetaran antara hidup dan mati gw ada di tangan manusia sialan ini.


"Jika ini mimpi, kumohon lekas bangunkan aku. Tapi jika ini nyata semoga Dewi Fortuna lebih cepat datang dari pada malaikat mautku", batinku terus saja mengoceh sedang aku masih harus terus tersadar akan kejadian ini.


"Minggir", teriak Yoga sambil membawaku pergi dari sana, bang Noa memberikan jalan padaku dan Yoga. Bang Noa terus mengisyaratkanku untuk tetap tenang dan terus sadar.


Setelah sampai di luar vila dan hendak masuk mobil. Ku dengar suara tembakan lagi membuat kunci dari tangan Yoga terlepas gw lihat darah mengalir dari kakinya ternyata bang Noa yang menembak kaki Yoga.


"Nia Lari", teriak Bang Yoga mengisyratkanku untuk lari kearah Midam dan teman temannya. Tapi dasar gw aneh gw malah lari kearah Bang Noa dan meluk dia.


"Bang Noa, hiks . . . Hiks", ucap gw.


Doorrr. . . .


Satu tembakan berhasil menembus pundak bang Noa. Gw makin mengeratkan pelukan kepada bang Noa.


Dooor. . .


"Arrrrghh. . ", Ucap gw tertahan.


"Nia?? Kamu gak papa?", Tanya bang Noa saat menyadari ada tembakan lagi yang tak menembus badannya melainkan tanganku.


"Abang janji ini yang terakhir kamu dengar tembakan", ucapnya lalu setangah berbalik. Dan.....


Door. . .


Bersamaan dengan ambruknya badan bang Noa kearahku.


"Bang, gw mohon sadar. Jangan tinggalin gw", teriak gw.


Tak selang beberapa lama kulihat kedatangan Midam dan yang lain, begitu pula dengan mataku yang kian berat dan gelap.

__ADS_1


__ADS_2